
Dengan hati lapang John Effendy dapat menerima semua keputusan yang Sri buat untuknya . Dia tak akan memaksakan kehendaknya agar bisa bersanding dengan wanita yang menurutnya sangat sederhana dan penuh kasih itu .
Dan saat ini Gaffar dan Bu Sri sedang duduk bersama di taman yang berada di pinggir kolam renang samping mansion . Perdebatan mereka yang tak ada ujungnya membuat Aira meminta mereka untuk bicara empat mata .
Aira berharap jika mereka sudah berbicara dari hati ke hati maka mereka bisa menemukan satu titik temu akan di bawa kemana hubungan mereka nanti .
" Sri ... "
" Heeemmm ... "
" Ckk ... bicaralah ! Jangan diam seperti ini "
Dari pertama duduk di kursi taman Sri memang sudah bungkam dan Gaffar menjadi sangat tidak nyaman . Karena dia lebih menyukai jika mantan tunangannya itu berdebat ataupun memarahinya .
" Memang apa yang harus dibicarakan ?? Mau tidak mau bukankah aku harus menuruti semua kata katamu tuan Al Shamma ?!! "
Gaffar menghembuskan nafasnya kasar , ia memang sangat memiliki kembali wanita di sampingnya . Tapi tidak dengan rasa keterpaksaan . Walau belum mau menyebut namanya Gaffar bisa merasakan masih ada sedikit cinta di hati Bu Sri untuknya .
" Apa tidak ada ruang lagi di hatimu yang bisa menerimaku walau hanya untuk sekedar menjadi teman hidupmu Sri ? Benar benar menjadi teman seperti dulu . Aku masih bisa memperbaiki atap rumah kita yang bocor nantinya , aku masih bisa berkebun agar halaman rumah kita berwarna hijau , aku bisa memanjat atap ketika antena televisi kita ambruk tertiup angin besar dan aku bisa membantumu mengangkat jemuran jika tiba tiba hujan ketika kau sedang memasak .... aku bisa lakukan semua itu untuk kita "
__ADS_1
" Dan atap rumah kita akan semakin bocor ketika kau memanjat atap untuk memperbaikinya . Kau sadarkan badanmu itu sebesar gorila ? Berkebun apanya !! Dulu kau selalu menjatuhkan pot bunga yang aku punya dan layar televisi yang ada di rumah akan menjadi semakin tidak jelas gambarnya ketika kau otak atik antenanya !! Cari alasan lain yang lebih bisa aku terima ... "
" Aku kaya Sri .... "
Dan kata kata itu langsung mendapat hadiah pukulan keras di lengannya . Dan mantan mafia itu terbahak dengan keras . Dia suka melihat wajah Bu Sri yang merah karena kemarahannya padanya .
Gaffar merindukan ini semua ! Suara , senyuman , omelan , cubitan bahkan pukulan dari wanita yang sampai saat ini masih merajai hatinya .
" Kau tidak keberatan kan jika besok kita menikah !? "
" Besok ? Secepat itu !? "
" Ya memang harus secepat itu Sri ... Apa menurutmu tiga puluh tahun bukan waktu yang lama untuk menunggu !!? Tiga puluh tahun aku berada di antara hidup dan mati .. "
" Ya .. aku tahu . Aku sudah memberi tahu mereka agar datang ke sini besok "
" Putrimu sudah sembuh ?? Aku dengar dia sedang sakit "
" Sembilan puluh sembilan persen sembuh , dia masih dalam masa pemulihan . Violetta masih melakukan terapi karrna separuh tubuhnya masih belum bisa di gerakkan "
__ADS_1
" Bagaimana jika salah satu dari mereka tidak menyukaiku "
" Jika mereka mencintaiku maka mereka pasti mengijinkan aku . Dan jika kau masih mencintaiku maka kau akan bertahan di sisiku apapun yang akan terjadi ke depannya "
" Aku belum menyetujui tentang pernikahan ini .... "
" Aku tidak butuh persetujuanmu Sri ... "
" Kau tidak berubah Mas Ar ... "
Gaffar langsung melihat ke arah Bu Sri ketika untuk pertama kali ia mendengar wanita itu kembali mau menyebut namanya .
" Apa Sri !?? Ulangi kata katamu ... "
" Kau pikir ini sepak bola ada siaran ulang ?? "
" Terima kasih ... hanya kau yang memanggilku dengan sebutan itu , kependekan dari namaku , Aras ! "
Pria bertubuh besar itu meraih tangan wanita di sampingnya , dan ia menggenggamnya dengan erat .
__ADS_1
" Kau ingin meremukkan tanganku !!?? Hissshhhh.... "
Bu Sri menatap tajam mantan tunangannya itu ketika pria itu malah membawa tangannya untuk dikecup . Dan bukannya takut pria itu malah terkekeh .