FOR 365

FOR 365
Bon C 25


__ADS_3

" By kamu sudah siapin semua untuk Anna kan ? Kemarin kemarin aku juga sudah hubungi Kak Zahid agar menyiapkan apartemenku untuk dia "


" Sudah ... sesuai dengan yang dia minta , aku sudah pilihkan fakultas psikologi sosial terbaik untuknya . Bagaimana dengan Kak Abbio dan Kak Zahid , kapan mereka sampai ? Katanya mau datang kesini hari ini "


" Sore ini jika tak ada halangan mereka tiba di Jakarta , kenapa ?! " Vio bertanya karena sepertinya ada sesuatu yang ingin dikatakan suaminya .


" Nggak bisa aku bayangin kalau dua kakakmu itu tahu Daddy mau merid lagi "


" Kami sayang sama Daddy , aku rasa mereka tidak akan keberatan . Aku percaya Daddy bisa memilih yang terbaik untuk dirinya sendiri "


" Bagaimana dengan Anna ?! Lusa dia harus ikut ke Dubay bersama dua kakakmu . Dia harus menyiapkan mentalnya untuk hidup mandiri "


" Kalau cuma hal itu aku rasa dia sudah sangat siap . Anna menolak uang saku yang akan kita kirim tiap bulan untuk hidupnya . Dia malah meminta untuk di carikan pekerjaan part time agar bisa membiayai hidupnya sendiri . Dan Kak Zahid sudah menghandle nya , katanya Anna akan ditempatkan di kafe salah satu temannya "


Setelah selesai berpakaian dan mengenakan dasi dengan bantuan istrinya , perlahan Sono mendorong kursi roda milik istrinya menuju ruang makan . Sono sengaja membangun tangga khusus untuk memudahkan istrinya pergi kemanapun di setiap sudut rumah ini .


" By ... "


" Ya Nona ?? "


" Kapan jadwal aku terapi lagi ?! "

__ADS_1


" Lusa , tidak usah terburu buru sayang ! Cepat atau lambat kamu pasti bisa berjalan lagi . Dokter mengatakan kondisi kakimu memungkinkan untuk berjalan normal lagi . Tapi semua butuh waktu dan perjuangan "


Sampai di ruang makan mereka melihat Anna sedang mendorong Dara menggunakan strollernya . Setiap pagi Anna membiasakan Dara untuk menghirup udara segar di pagi hari sekalian berjemur di bawah matahari pagi untuk mendapatkan vitamin D .


Gadis itu merawat Dara seperti ia merawat putrinya sendiri hingga kadang Vio berat untuk melepaskan Anna sebagai pengasuh putrinya .


" Anna kemarilah , kita makan sama sama dulu . Dara pasti masih berkeringat karena habis berjemur jadi nanti saja dia mandinya "


" Terima kasih Nyonya tapi saya ingin mengganti bajunya dulu , Dara rewel kalau badannya basah karena keringat "


Tapi Vio dan Sono menaruh sendok mereka bersamaan ketika melihat dua orang parubaya datang dari arah pintu rumahnya . Sono langsung berdiri ketika tahu salah satu nyonya besar Adipraja datang mengunjunginya .


" Hai nak maaf kami pagi pagi begini berkunjung ke rumahmu . Dia yang memintaku untuk sekalian mampir kesini , Sri ingin bertemu dengan istrimu dan sekaligus melihat Dara . Sebelum kami melihat rumah yang aku beli kemarin diperkampungan di belakang perumahan kalian ini "


" Rumah ?? "


" Setelah menikah aku ingin tinggal bersamanya , apa itu aneh ?! "


" Di perkampungan !? Bagaimana dengan pekerjaan pekerjaan Daddy ? Suasana di perkampungan sepertinya tidak aman "


Gaffar tertawa mendengar kekhawatiran menantunya ketika dia menyatakan ingin hidup di kampung .

__ADS_1


" Dulu Daddy hidup di kampung , dan disanalah tempat ternyaman yang pernah Daddy rasakan . Tak perlu bodyguard untuk penjagaan karena disana semua orang saling menjaga . Disana semua orang adalah satu keluarga "


" Tidak apa apa , kalau Daddy disana berarti aku bisa tiap hari berkunjung By , ya kan Tante ?? " sahut Vio yang masih duduk di samping Bu Sri , wanita itu tampak tersenyum padanya .


" Panggil dia Mommy sayang "


" lbu ... panggil aku seperti putra putraku memanggilku "


" Ehh .. Ibu.. maaf "


Bu Sri memeluk Violetta dan mengecup pucuk kepala ibu muda itu .


" Tidak apa apa , pelan pelan saja sayang . lbu tahu ini terlalu cepat untuk kalian . Maaf jika kami memutuskan secepat ini " kata Bu Sri mengelus bahu Violetta .


" Bukan kamu , tapi aku yang mengambil keputusan ini Sri "


" Apapun itu , Aku tidak setuju dengan semua ini ... Dia tidak.pantas menggantikan Mommy !!! "


Bu Sri.langsung meraih tangan Gaffar Al Shamma ketika melihat pria itu langsung berdiri dengan tangan terkepal .


" Sudah ... " lirihnya mencoba menenangkan .

__ADS_1


__ADS_2