FOR 365

FOR 365
Bon C 27


__ADS_3

" Kau suka ?? "


Gaffar menggandeng tangan calon istrinya untuk memasuki rumah yang dia beli untuk tempat mereka mengarungi hari tua mereka setelah menikah .


" Ini seperti .... "


" Rumah impianmu dulu , dulu kau pernah mengatakan padaku jika kau ingin rumah kayu sederhana yang ada di tengah perkampungan "



" lni lebih dari sederhana Mas . lni bagus sekali ... "


" Setidaknya ini tidak terlalu mencolok dari rumah rumah lainnya . Dan kita tidak akan terlalu repot jika membersihkan semua ini sendiri karena aku yakin kau tidak akan mau kalau ada maid disini "


" Terserah Mas saja .. "


" Ya Tuhan , aku benar benar bahagia Sri ! Aku bahagia karena Allah telah kembali mempertemukan kita . Walau usia kita sudah tidak muda lagi ... "


" Tapi jalan kita tidak akan semudah yang kamu pikir Mas ! "


" Akan mudah jika kau tetap di sisiku ... "


*

__ADS_1


Dan pada malam harinya mansion disibukkan dengan persiapan penyambutan lamaran resmi dari seorang Gaffar Al Shamma pada Bu Sri . Malam itu akan diadakan acara lamaran dan paginya akan dilanjutkan dengan acara pernikahan .


Acara lamaran itu memang di adakan sederhana tapi Aira tetap ingin acara itu berlangsung dengan khidmat . Bumi yang akan mewakili keluarganya untuk menerima keluarga Al Shamma yang akan datang nanti .


" Yank .... kok kaya tegang gitu ?? Yang dilamar kan ibu bukan kamu !! "


" Aku deg degan Mas ! Aku khawatir kalau acaranya tidak lancar . Kita semua kan tahu putra ... "


" Semua akan lancar , aku sendiri yang akan memastikan itu "


Dan Bumi memegang kata katanya , acara malam itu berlangsung dengan khidmat tanpa satu pun halangan . Abbio yang biasanya berapi api pun terlihat diam walau sangat jelas ada rasa tidak suka di matanya .


Hanya Wicaksono , Viloletta dan Zahid yang terlihat sangat bersemangat mengikuti alur acaranya . Vio sengaja tidak membawa Anandara karena dia berpikir acara itu mungkin akan memakan waktu lama .


" Bumi ... maaf jika putraku masih bersikap kekanak kanakan . Tapi Daddy yakin cepat atau lambat hatinya akan terbuka . lbu kalian adalah orang baik , Daddy yakin Abbio akan melihat hal itu "


" Tidak apa apa Uncle ... maksudku Dad , semua orang pasti akan melewati masa itu . Dulu Bumi juga pernah seperti itu , ya kan Bu ?? Dewa malah pernah menghajar Bumi karenanya . Dan aku harap aku tidak perlu main keras pada saudara baruku itu "


" Mas ... !!." Dewa dan Aira hampir bersamaan mengeluarkan suaranya , mereka tidak enak pada pentolan Adipraja itu .


" Ha ... ha ... dia benar , putraku memang butuh sedikit sentilan di kupingnya . Kau tidak perlu repot repot Nak , Daddy sendiri yang akan ' menyentilnya ' karena dia masih menjadi tanggung jawabku "


Di sisi lain Sono , Vio , Zahid dan Bu Sri sedang sibuk di meja prasmanan . Zahid sepertinya sangat bersemangat mencicipi jajanan yang di buat sendiri.oleh calon ibu barunya itu . Sedang Sono dengan setia mendampingi istrinya untuk sekedar melayani wanita itu mengambil makanan .

__ADS_1


" Biar ibu yang menemaninya , kau bisa duduk bersama mereka " kata Bu Sri yang dari tadi melihat Sono yang sangat setia mendampingi istrinya .


" Tidak Nyonya ... makanan di atas meja ini terlihat lebih menyenangkan "


" Wicak benar , semua terlihat enak ! Dan yang bulat itu apa ? Itu seperti telur tapi kenapa warnanya hitam ?! "


" Itu semur telur , rasanya manis karena campuran kecap kedelai hitam di dalamnya . Jika kau tidak terlalu suka masakan manis maka kau bisa memberinya sambal . Ibu bikin sambal matah dan sambal bawang untuk meramaikan meja ini " kata Bu Sri menunjuk dua piring dengan berisikan masing masing sambal .


" Tidak Bu ... sepertinya rasanya akan mengerikan . Ada banyak cabai disana dan itu pasti akan membakar mulutku "


" Kak Zahid memang dari dulu tidak suka pedas Bu ! Kak Abbio yang biasanya sangat suka pedas "


Dan karena hari sudah malam maka keluarga Al Shamma kemudian undur diri . Kedua keluarga tidak terlalu sibuk untuk acara pernikahan besok karena konsep acaranya yang hanya menyertakan keluarga inti saja .


Gaffar ataupun Bu Sri hanya ingin menikah di masjid dan di akhiri dengan jamuan makan siang bersama keluarga . Lagipula Abbio dan Zahid juga tidak bisa terlalu lama meninggalkan perusahaan .


" Ibu bahagia ?! "


Bu Sri tidak menjawab pertanyaan dari putra keduanya , dia hanya mengangguk dan kemudian memeluk Aira dan Dewa bersamaan .


" Terima kasih sudah menjadi anak anak ibu , kalian yang membuat kebahagiaan ibu sempurna "


" Dan terima kasih karena sudah menjadi benteng yang kuat sekaligus bahu yang lembut tempat kami mengeluh . Ibu adalah ibu terhebat untuk kami "

__ADS_1


__ADS_2