FOR 365

FOR 365
110


__ADS_3

" Kau bisa kembali ke hotel , jika dia sudah siap bertemu denganmu aku pasti mengabari . Jangan mempersulit diri sendiri dengan tidur diluar seperti ini . Kau bisa bisa ikut dirawat di sini " kata Gaffar pada Sono yang berkeras untuk tidur di luar kamar putrinya di rawat .


" Saya tidak bisa lagi jauh dari mereka , jangan lagi meminta saya menjauh lagi "


Vio di rawat di sebuah rumah sakit khusus kanker yang terletak di Amerika Serikat . Gaffar memindahkan putrinya ke rumah sakit ini karena memang mempunyai tenaga tenaga handal yang bisa menangani penyakit putrinya .


" Baik tapi aku yakin kau tidak akan baik baik saja jika melihatnya seperti ini . Jadilah kuat jika didepannya , jangan pernah mengasihaninya .... "


" Saya berjanji akan tetap kuat untuk bertahan disisinya "


Sono menyandarkan punggungnya di kursi tunggu yang ada di depan kamar Violetta . Air matanya menetes ketika pertama kalinya kembali mendengar suara wanita yang ia cintai . Dia bisa mendengar suara lemah Violetta yang berbicara dengan Daddynya ataupun dokter yang baru saja memeriksanya .


Dan dia tertegun ketika Gaffar bertanya sesuatu tentang dirinya pada putrinya ...


" Apa kau merindukannya !? "


" Aku merindukannya Dad ... sangat .... " ujar Vio lirih dengan mata yang terpejam , ia ingin mendengar suara pria itu lagi .


Dengan mengumpulkan segenap keberanian dia masuk ke dalam ruang rawat Vio dan menjawab kerinduan gadis itu . Entah kenapa tapi ia benar benar tidak bisa menahan diri lagi untuk bertemu wanita yang ia cintai .


" Aku pun juga sangat merindukanmu ... "

__ADS_1


" Kau .... "


Perlahan Sono melangkah masuk ketika Gaffar menganggukkan kepalanya seakan mengijinkan pria muda itu untuk bertemu putrinya .


" Hai ... " sapa Sono dengan senyum yang ia paksakan agar terlihat tegar di depan wanitanya .


" Berhenti !! Jangan mendekat ... tutup matamu .. aku mohon !! Jangan lihat aku yang seperti ini "


Gaffar akhirnya keluar ruangan untuk memberi waktu pada dua insan itu untuk berbicara dari hati ke hati .


Sono tetap mendekat ke arah ranjang yang ada di tengah ruangan itu , Vio berpaling tak mau melihatnya .


" Hei .. apa yang akan kau sembunyikan ? Mata bening yang membuatku takhluk padamu ? Cintamu yang membuatku tergila gila padamu ? Suara yang hampir setiap malam selalu mengganggu tidurku !? "


" Aku bukan Vio yang dulu lagi , kau bisa melihat dengan jelas semua ini " suara Vio bahkan hampir tidak terdengar .


" Lihat aku ... " lirih Sono pada wanita yang tetap berkeras tidak mau menatapnya . Wanita itu seperti sedang menyembunyikan dirinya dengan menghindari tatapan mata dari pria yang sebenarnya sangat ia rindukan .


" Apa karena rambutmu ? Kulitmu ? Kau pikir aku mencintaimu karena semua hal itu ?! "


Perlahan Sono mencium sayang pucuk kepala Vio yang sudah tidak lagi ditumbuhi oleh rambut .

__ADS_1


" Apa aku boleh bertanya ? Jika saja aku yang mengalami semua hal ini apakah kau akan meninggalkan aku ?? "


Vio tetap saja bungkam , suaranya tercekat karena menahan semua gejolak hatinya . Antara bahagia , lega dan rasa takut jika Sono akan menjauh ketika sadar bahwa dirinya tidak seperti dulu lagi .


" Tidak , kau pun tidak akan pernah meninggalkan aku untuk hal apapun . Jadi aku mohon , percayalah pada cintaku ... cinta kita . Aku tahu mungkin kita belum lama bertemu saat itu tapi cita kita tidak sedangkal itu . Kita hadapi sama sama , biarkan aku ikut merasakan sakitmu ! Berbagilah semua padaku ... aku mencintaimu ... aku sungguh mencintaimu ! Kau terlalu sempurna untukku dan maaf aku belum bisa menjadi yang terbaik untuk kalian ... aku meninggalkan kalian berjuang sendiri disini . Maafkan aku sayang ... maafkan ayah princess " Sono mengecup dan mengelus perut buncit yang tertutup selimut putih itu .


" Aku yang meninggalkanmu ... kau sudah melihat kami , sekarang pergilah ! Hiduplah dengan baik "


" Hidupku ada di sini , kalian adalah hidupku ... " ujar Sono meletakkan kepalanya di perut Vio .


" Dia bergerak ... apa ini sakit !? " panik Sono yang merasakan pergerakan di dalam perut wanitanya .


" Tidak .. dia sangat sehat . Mungkin dia tahu jika ayahnya sudah datang . Kapan kau datang !? "


" Kemarin ... "


" Kenapa harus menunggu lagi untuk bertemu denganku ?? "


" Aku takut kau menolakku "


Dan jawaban itu membuat Vio tersenyum geli , harusnya dia yang takut jika pria itu akan pergi meninggalkannya setelah tahu keadaan dirinya .

__ADS_1


" Tapi aku tidak bisa lari lagi darimu ... "


Dan mereka tersenyum bersama , tanpa mereka sadari ada tangis seorang pria di sana . Tangis seorang ayah yang kembali melihat senyum putrinya .


__ADS_2