
" Berhenti !!! Dia tidak akan bermalam di sini ... Aku sudah menyiapkan kamar hotel untukmu . Siang tadi Daddy menelponku , dia mengabarkan kedatangannya ! Bukan apa apa tapi kamar tamu belum di bersihkan dan belum layak untuk ditinggali . Kau akan di antar supir ... "
Dewa langsung menghampiri ibunya untuk salam takzim kemudian merengkuh Jasmine ke dalam pelukannya . Dikecupnya sayang kening istrinya .
" Sudah malam sayang , kenapa belum tidur ? Dokter bilang kamu tidak boleh terlalu lelah ataupun kurang tidur "
Pemandangan itu membentuk senyum sinis di bibir Jasmine , ternyata sampai saat ini pun Dewa masih terlihat membencinya . Pria itu masih ingin pamer kemesraan padanya .
" Aku tidak keberatan jika kamarnya belum di bersihkan , tadi lbu juga bilang terlalu berbahaya jika aku ada di luar malam malam begini " kata Astika dengan mata dibuat semelas mungkin memandang lbu Sri . Dia tahu Ibu Sri adalah wanita berhati lembut .
" Sudahlah Wa , sudah malam begini kasihan Nak Asti kalau harus capek capek pergi ke hotel "
" Dia tidak akan menolaknya Bu " kata Dewa menatap tajam kakak iparnya itu .
Dewa hanya tidak mau mengambil resiko dengan membiarkan wanita seperti Astika berada 24 jam di dekat istrinya yang sedang hamil besar .
" Baik aku akan ke hotel , tapi kau yang akan mengantarku . Aku tidak kenal dengan supirmu bisa saja nanti mereka berniat jahat padaku !! "
" Kau ... !!! "
" D sudah , ngalah ya sayang " bisik Jasmine pada Dewa yang baru saja ingin meledak kemarahannya .
" Kamu antar Kakak dulu sebentar ya , jangan lama lama "
" Ya sudah , kamu langsung tidur saja jangan nunggu aku pulang ya "
" He em "
Dewa membawa sendiri mobilnya , dia sengaja tidak membawa supir karena dia ingin bicara dengan Astika .
" Sebegitu bencinya kami sama aku tuan Dewa ? Dan sebegitu cintanya kamu pada adikku , wanita yang sebelumnya kau benci sepenuh hati . Kadang aku tidak mengerti dengan kalian para kaum laki laki . Hanya karena tubuh indahnya kau bisa bertekuk lutut di bawahnya "
Dewa tampak mengatur nafasnya , dia tahu akan seperti ini . Dia pasti harus menahan emosi jika berbicara dengan wanita yang dulu nyaris saja menjadi istrinya itu .
" Setidaknya kami tidak buta , kami tahu mana yang busuk dan mana yang tidak ! "
__ADS_1
" Cihh .. busuk !? Bukannya kalian yang berhati busuk hahh !! Tidak usah khawatir aku sudah memperbaiki hubunganku dengan Reyhan . Aku tidak minat lagi denganmu !!! Aku kesini hanya ingin menemani Jeje di masa persalinannya " sinis Astika
" Terserah ... tapi aku tetap tidak suka jika kau berada di dekatnya "
Akhirnya mereka berhenti di depan sebuah hotel , tapi Dewa tampak tidak bergeming dari duduknya . Pria itu tetap menatap lurus ke arah depan .
" Kamar 204 , ambil kuncinya di resepsionis atas namamu "
" Kau tidak mengantarku !? "
" Kau bukan wanita buta yang harus aku tuntun kan ? Kau bisa menemukan kamarmu sendiri "
" Setidaknya bawa koperku !! Aku lelah .. '
" Kau lihat pria itu , dia yang akan membantumu sampai ke kamar " ujar Dewa sambil menunjuk seorang pria bertubuh besar yang sudah berdiri di samping mobilnya . Pria itu sepertinya adalah seorang pegawai hotel .
" Kau benar benar menyebalkan !! "
BRAAKKK ...
" Kita lihat nanti Dewa Adipraja .. kau atau aku yang akan terpuruk !! "
Tak berapa lama Astika sampai di kamarnya , matanya terus saja memandang pria yang membantunya membawakan kopernya .
" Tolong jangan pergi dulu , pindahkan sofa itu kesana . Mengganggu pandanganku jika disitu "
Pria muda itu tampak mengernyitkan dahinya tapi ia tetap melakukan permintaan wanita di depannya . Mungkin pria itu berpikir akan mendapat tips lumayan banyak jika ia berhasil memindahkan semua sofa itu .
Sedang Astika ke kamar mandi untuk mengganti bajunya . Dia keluar dengan hanya mengenakan lingerie transparan yang sangat seksi .
Pria yang sudah berkeringat itu hanya mampu menelan salivanya kasar , ia masih berusaha dalam batasannya .
" Duduklah ... "
Astika meminta pria itu duduk di atas sofa dan dia berdiri di depannya .
__ADS_1
" Ada yang bisa saya bantu lagi nyonya !? "
" Cium aku "
" Maaf ??!!! " pria itu tampak kaget tapi juga tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya .Tubuh didepannya terlalu indah untuk di lewatkan .
Astika melemparkan beberapa lembar uang berwarna merah .
" Buat tanda di sekitar dada dan leherku , tidak perlu kujelaskan pasti kau sudah mengerti "
" Saya mengerti tapi ... "
Astika langsung duduk dipangkuan pria itu hingga dadanya tepat berada di wajah pria itu .
" Mulailah .... "
Tampaknya pria itu bukanlah pria bodoh , ia memperlakukan Astika dengan penuh kelembutan hingga Astika hanyut dalam permainannya .
Bibir mereka sudah bertaut dengan panasnya , dan dua tangan pria itu terus saja bermain di dua bukit yang sudah sepenuhnya polos sempurna .
" Euugghh ... kau aarrgghh "
Pria itu benar benar membuat tanda di seluruh lekuk tubuhnya dan Astika tak mampu menolak sentuhan yang membuatnya melayang ke langit ketujuh itu .
Hingga ketika pria itu menghentikan aksinya dan menatap kain segitiga yang masih menutup area bawah wanita di bawahnya .
" Kenapa berhenti !!?? "
Bukannya menjawab pria itu membelai kulit yang masih terbungkus rapi kain segitiga berenda hitam .
" Tugas saya tidak sampai di area ini nyonya "
Astika membuka penutup terakhirnya sendiri dan dia membuka lebar kedua kakinya .
" Sekarang itu menjadi tugasmu ... aku naikkan bayaranmu "
__ADS_1
" Sesuai permintaan anda Nyonya " jawab pria itu tersenyum lebar .