
" Apa kau akan melepaskan aku ?? "
" Apa kau sangat ingin aku melepasmu Nona ?? "
" Kau sudah tahu jawabannya !! Kenapa harus bertanya ??!!! " sinis Vio Sabil membereskan alat alat yang tadi ia gunakan dan menatanya kembali di kotak obat .
Sono menyandarkan punggungnya ke sofa setelah Vio selesai dengan lukanya , pria itu memejamkan matanya dan menggeram perlahan . Entah kenapa dia merasakan sakit teramat sangat dengan lukanya .
" Kau kenapa ?? "
" Tidak apa apa , hanya kadang seseorang harus menikmati sedikit kesakitan agar tahu rasa sakit yang pernah ia perbuat pada orang lain "
" Atau mungkin aku terlalu kencang membebat lukanya ?! Kalau begitu biar aku ulangi lagi , aku akan mengendorkan ikatannya "
" Ckk ... sudah aku bilang aku tidak apa apa , kau sudah merawat lukaku dengan benar . Memang begini dari semalam kadang kadang terasa nyeri sekali "
" Ya sudah kita ke rumah sakit saja !! Kapan jadwal kontrolmu ?? "
" Harusnya tiap hari , tapi sejak keluar dari sana aku tidak lagi menginjakkan kakiku di tempat itu " jawab Sono enteng , dia memang tidak terlalu suka dengan bau rumah sakit .
" Ya Tuhan ... pantas saja , berarti dari kemarin baru kali ini lukanya di bersihkan ? "
Sono mengangguk dan menahan tangan lembut Vio yang menariknya agar bangkit , dia tahu Vio ingin membawanya ke rumah sakit untuk kontrol lukanya .
" Aku tidak apa apa , berapa kali aku harus bilang itu padamu Nona ?? "
__ADS_1
" Kenapa kau keras kepala sekali !!! "
Sono malah tersenyum melihat kemarahan Vio , hatinya menghangat ketika tahu wanita cantik di depannya sangat memperhatikan keadaannya . Sono menarik tangan lembut itu hingga tubuh Vio terjatuh di pangkuannya .
Sono mengeratkan tangannya ketika tubuh sintal itu sedikit memberontak agar lepas dari rengkuhannya . Walau harus meringis kesakitan karena tanpa sengaja Vio menyenggol tangan kirinya yang tadi baru saja di balut .
" Lepas .. " lirih Vio .
Berada di atas pangkuan pria itu membuat bulu kuduknya berdiri sempurna , apalagi ketika tanpa sengaja kulitnya bersentuhan dengan dada dan perut liat itu . Logika Vio nyaris saja melayang , ingin sekali lagi ia berada di bawah kendali pria itu .
" Tidak akan "
" Kau tidak akan sanggup menghadapi Daddy dan kedua kakakku , mereka bisa membunuhmu jika tahu kau sudah merusak diriku "
Sejenak mereka saling memandang , dan sejurus kemudian bibir mereka sudah saling bertautan , Vio yang duduk di atas pangkuan Sono benar benar bisa membuat pria di bawahnya menggeram nikmat .
Bibir Vio dengan lincah bermain mengeksplore bibir yang sudah pernah membuatnya menjerit manja itu , menerbangkan dirinya hingga menembus langit ketujuh .
Menyesap dan kadang menggigit lembut bibir pria yang sekarang ada dalam kuasanya . Vio benar benar ingin menunjukkan bahwa dialah pemilik pria di bawahnya .
Dengan tenaga yang masih tersisa Sono mengangkat tubuh sintal itu hingga duduk diatas pangkuannya dengan posisi berhadapan sempurna dengannya .
Diremasnya pinggang langsing itu ketika menahan gejolak jiwa laki lakinya . Sono tahu Vio sengaja memancing sisi iblisnya keluar seperti malam itu . Entah apa maksud gadis itu tapi dengan sekuat tenaga ia menahan kobaran hasratnya .
" Aaaakkhhh .... "
__ADS_1
Sono benar benar di buat gila dengan godaan di atasnya , bibir itu sekarang sedang menggigit gemas daun telinganya setelah dengan seenaknya membasahi setiap jengkal tengkuknya . Area itu adalah titik kelemahannya .
" Balas aku ...." bisik Vio pada pria yang masih memejamkan matanya . Gadis itu mengambil salah satu tangan Sono yang mengepal keras karena sedari tadi harus berjuang menahan hasratnya dan kemudian mengecupnya .
Diletakkannya tangan kekar itu di atas pipinya yang kemerahan hingga tangan yang terkepal keras itu mengendur dan berubah menjadi membelai lembut pipinya .
" Apa yang sedang kau lakukan Nona ?! " lirih Sono .
" Membuatmu tergila gila padaku , jika kau sudah tidak bisa hidup tanpaku maka di saat itu aku akan meninggalkanmu ... rasanya pasti sepadan dengan sakit yang kau buat untukku "
Sono membuka matanya dan menatap lembut gadis yang sudah mencuri perhatiannya sejak awal mereka bertemu . Di belainya lembut bibir yang baru saja membuatnya gila .
" Sakiti aku sepuas hatimu Nona ! Cabik hatiku sesukamu !! Buatlah luka sebanyak yang kau inginkan !! Apapun aku lakukan agar bisa membuatmu bahagia .... "
Sono mencium sayang kening Vio cukup lama , kemudian menautkan dahi mereka setelah mencium sekilas ujung hidung gadis di pangkuannya . Sejenak mereka menikmati bunyi deru nafas masing masing .
" Kau menyebalkan ... "
" Aku tahu "
" Dan aku sangat membencimu !!!! "
Setelah berkata seperti itu Vio turun dari pangkuan Sono dan bergegas pergi dari tempat itu tanpa sekalipun menoleh ke belakang . Tapi Sono tahu ada air mata yang disembunyikan oleh gadis yang baru saja keluar dari apartemennya .
" Aku ijinkan kau membenciku ... tapi sampai matipun aku tidak akan pernah melepasmu "
__ADS_1