FOR 365

FOR 365
88


__ADS_3

Berkali kali Sono menelan salivanya kasar melihat pemandangan di depannya . Saat ini dia duduk di sofa di sisi ranjang tidur tempat mereka kemarin memadu kasih .


Sedang Vio tepat di depannya sedang berdiri membungkuk membelakanginya karena sedang mencari wadah untuk kue kuenya dalam sebuah nakas kecil . Membuat kaos oversize yang dipakai menjadi sedikit terangkat ke atas dan memperlihatkan dua bongkahan padat yang terlihat hanya memakai kain segitiga berenda warna hitam .


Vio sedikit memicingkan matanya ketika melihat Sono sedang mengatur nafasnya , wajah pria itu terlihat memerah .


" Kau sedang sakit ? Ada masalah dengan luka di lenganmu !? "


" Tidak , mungkin hanya perlu di ganti saja perbannya "


Setelah meletakkan kue kue yang sudah ditata dalam sebuah wadah , Vio masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil kotak obatnya .


" Sini .... "


Sono mendekatkan lengannya agar Vio bisa lebih mudah untuk mengganti perbannya . Dalam diam dia merawat luka itu , sedang Sono tak hentinya menatap gadis di sampingnya .


" Jangan menatapku !! "


" Kau cantik "


" Aku tahu , tapi jangan tatap aku seperti itu . Kau seperti akan menelanku "


Sono terkekeh mendengar kata kata absurd gadis disampingnya , dia memang tidak dapat menyembunyikan rasa kagumnya pada kecantikan dan kemolekan tubuh Vio .


" Kau menang taruhan dengan Daddyku , kenapa tidak kau manfaatkan untuk mengikatku , bukankah kau bisa meminta Daddy untuk memaksaku agar mau menikahimu "


" Kau mau seperti itu !? "


Violetta tak menjawabnya ia merapikan kotak obatnya setelah selesai merawat luka di lengan Sono . Setelah membuang kain kasa bekas luka dan membersihkan tangannya Vio kembali duduk di samping Sono . Dia mengambil dan memakan kue yang tadi di bawa oleh pria di sampingnya .


" Kuenya enak , apa kau beli di bawah ?! "

__ADS_1


" lya , tadi sebelum masuk hotel aku melihat toko toko kue diseberang hotel . Dan aku ingat kamu ... "


Sono mengambil kue yang ada di depannya , dari cara makan Vio kue itu sepertinya enak sekali . Tapi betapa terkejutnya dia ketika Vio menggeser piring kue itu .


" Ckk ... itu punyaku !! Kau yang memberikan kue itu padaku , jadi jangan coba coba memintanya kembali !! "


" Ya Tuhan ... aku hanya ingin mengambilnya satu , bukan semua "


" Tidak boleh !! "


Bukannya marah Sono malah tergelak karena merasa gemas dengan tingkah Violetta . Diraihnya tangan kanan gadis itu , dan dimakannya kue yang sudah tergigit beberapa bagian oleh Vio .


" Akkhh ... curang !!! " pekik Vio kaget sambil memukul lengan Sono .


" Pantas saja aku tidak boleh memintanya , sangat manis "


" Hisshh ... jangan setengah setengah jika memberi sesuatu pada seorang wanita dan jika sudah diberikan maka jangan memintanya kembali "


" Apanya !? "


" Sudah aku berikan hatiku padamu , dan aku tidak akan pernah memintanya kembali "


" Gombal !!! "


Vio hanya diam ketika Sono meraih tangannya dan mengecupnya berkali kali . Dibawanya tangan lentik itu ke dada bidangnya .


" Kau bisa merasakan itu !? Hatiku berdetak sangat kencang ketika berada di sisimu . Kau tahu apa artinya !?.Aku sudah setengah gila memikirkanmu "


Tak bisa dipungkiri jiwa Vio pun bergejolak ketika tangannya dikecup dan di bawa ke dada bidang pria disampingnya . Sampai akhirnya ia beranikan diri untuk naik dipangkuan Sono dengan posisi saling berhadapan .


" Apa yang kau lakukan Nona ... "

__ADS_1


" Hanya ingin membuat ini berdetak lebih kencang " tunjuk Vio sambil menekan dada bidang itu dengan telunjuk tangannya .


" Jangan membuat ini semakin sulit untukku , aku sudah berjanji pada Daddymu agar bisa menjagamu "


" Tidak akan aku buat ini menjadi sulit , tenang saja ... "


Vio mengambil dua tangan Sono agar berada di kedua sisi pinggangnya , kaos oversize itu sudah ia singkap ke atas hingga dua tangan Sono bisa menyentuh kain segitiga model tali samping itu .


" Touch me ... "


" Turun ... " kata Sono dengan suara datar , jujur saja godaan ini terlalu indah untuknya . Dia takut sisi iblisnya kembali menguasai dirinya .


" Tidak mau ... belum waktunya "


Bibir Vio mulai merayap di leher dan tengkuk Sono hingga dua tangan kekar itu meremat gemas sedikit keras kulit mulus seputih porselen itu . Ingin sekali Sono melepas tali kain segitiga itu agar bisa kembali menikmati surga dunia . Tapi sekuat hati ia menahan semua itu .


" Arrghhh ... jangan menggodaku Nona "


Vio semakin berani dengan sedikit menggoyangkan pinggulnya yang tepat ada diatas senjata tersembunyi Sono .


" Jantungmu berpacu lebih cepat sayang , dan aku tahu kau sudah sangat menginginkannya " kata Vio sambil melirik ke area bawah Sono .


" Kau nakal ... "


Tapi ketika baru saja ia ingin ******* bibir kemerahan itu sudut matanya bisa melihat pintu kamar Vio terbuka dan ada orang disana .


" Kalian sepertinya memang harus segera Daddy nikahkan secepatnya ... siang siang begini sempat sempatnya kalian seperti ini "


Dengan wajah tersipu Vio turun dari pangkuan Sono , tapi sebelum turun gadis itu membisikkan sesuatu pada pria itu dan kemudian tersenyum sangat manis .


" Kena kau ... "

__ADS_1


" Kau !! "


__ADS_2