
" Ra ... ini kopinya kok enggak dibikin bikin sih , tadi katanya mau ke dapur mau bikinin kopi .. gimana sih ! "
" Ya kan kita kasih kesempatan mereka bicara dulu Bu , kalau suasana udah adem.baru kita kesana . Nggak sabar buat milih ya !? "
" Apa sih Ra !! lbu itu khawatir sama suamimu dan Dewa , kita kan enggak tahu itu aki aki kalau marah pada kayak apa "
" Mereka bisa jaga diri Bu ! Lhohh Ibu bikin apa ? " tanya Aira yang melihat ibunya menggoreng sesuatu .
" lni tadi ibu beli tahu di abang sayur yang kebetulan lewat depan mansion . Tadi pagi lbu bikin tahu aci , ini sekarang ibu goreng .. lumayan buat nemenin kopi yang kamu bikin "
Tak lama suara Dewa muncul dan berjalan ke arah mereka . Dan Bu Sri langsung berlari menuju ke arah putranya , wanita itu memegang pundak Dewa dan sedikit memutar badan putranya .
" Wa ... kamu baik baik saja kan ?? "
" Dari tadi kan Dewa baik Bu ! Katanya mau bikin kopi ... ditungguin sampai lebaran kuda enggak sampai sampai " gerutu Dewa .
" Dah sana duluan nanti Embak sama lbu nyusul kesana "
Aira dapat merasakan suasana yang terlalu hening ketika dia dan ibunya datang membawa kopi dan camilan yang baru saja di buat ibunya . Tapi dia yakin suaminya dapat mengendalikan situasi ini .
" lbu sudah ada disini , dan sesuai yang kami bicarakan tadi maka semua keputusan akan kita serahkan pada ibu . Bumi rasa lbu sudah tahu dengan maksud mereka datang kemari . Baik uncle John ataupun uncle Gaffar punya niat baik kepada ibu . Sekarang kami.ingin mendengarkan pendapat lbu mengenai hal ini . Sekali lagi Bumi katakan ... bahwa semua keputusan benar benar ada di tangan lbu tanpa paksaan siapapun . Apapun yang akan ibu utarakan kami akan menerimanya " kata Bumi panjang lebar .
Sepertinya putra pertama Adipraja itu berhasil menenangkan dua pesaing yang ingin mendapatkan mertuanya .
" Baik lbu akan berbicara , dan maaf jika apa yang aku bicarakan akan menyinggung salah satu dari kalian . Sungguh aku sangat berterimakasih untuk perhatian yang kalian beri untukku . Untuk yang pertama aku ingin bicara dengan Mas John . Akhir akhir ini kita sering bertemu dan perlahan mungkin kita nyaman dengan kebersamaan kita . Tapi aku mohon jangan kau putuskan kebersamaan ini karena kesukaan dan perasaan. Aku rasa dengan kita berteman selama ini akan lebih baik daripada mengedepankan perasaan yang lebih . Kita akan tetap menjadi orang tua untuk Dewa dan Jasmine , tetap akan menjadi kakek nenek untuk cucu kita Jero . Tapi hanya sebatas itu ... tidak lebih "
__ADS_1
John terlihat menghembuskan nafasnya kasar , tapi pria itu masih terlihat tenang walaupun lamarannya ditolak secara halus oleh Bu Sri .
" Dan untukmu Al Shamma ... "
" Apa ini tahu aci ?? "
" Kita bicara soal tahu nanti saja , sekarang aku ingin bicara dulu padamu !! "
Gaffar tak terlalu memperhatikan apa yang Bu Sri katakan , ia malah mengambil satu tahu aci yang ada didepannya .
" Kau selalu membuat acinya terlalu asin , tapi tenang saja .. aku tetap suka ! "
" Apa !!!! "
Dikunyahnya pelan tahu itu dengan sedikit mengernyitkan dahinya .
" lni tidak asin ... lidahmu yang bermasalah !! "
" Bukan lidahku yang bermasalah tapi kemampuanmu yang berkurang Sri .. akui saja itu "
" Kau sedang menghinaku Al Shamma !! "
Gaffar hanya tersenyum menghadapi kemarahan dari wanita di depannya . Dia sengaja memancing Bu Sri untuk bicara tentang hal lain karena dia tak ingin mendengar penolakan meluncur dari bibir mantan tunangannya itu .
" Sama sekali tidak , kau ingat ??! Tahu ini selalu kau buat untuk lauk makan siangku ketika aku pertama kali mulai bekerja . Waktu itu kita bertekad untuk hidup susah bersama . Kau tidak ingin aku mengandalkan harta kedua orang tuaku hingga aku putuskan untuk mengadu nasib di negeri orang "
__ADS_1
" Jangan teruskan ... "
" Maaf jika aku sudah membawa hatimu bersamaku . Aku tahu kau pasti berpikir aku sudah melupakanmu ... tapi tidak . Hatimu selalu bersamaku dan aku tidak akan pernah bisa mengembalikannya padamu "
Bumi , Aira dan Dewa saling berpandangan ketika pria parubaya itu mengeluarkan sesuatu dari sakunya . Gaffar mengeluarkan sebuah sapu tangan kecil berwarna putih , ada sulaman berbentuk hati berwarna merah di pojok kain itu .
" Dulu kau buat ini khusus untukku , kau bilang ini adalah hatimu dan kau memintaku untuk menyimpan ini karena selama saputangan ini bersamaku maka hatimu masih ada padaku "
" Tua bangka ... itu hanya cerita lama "
" Tapi ini nyawaku Sri , tiga puluh tahun aku bisa bertahan hanya karena ini . Kau yang membuatku merasa hidup walau aku sudah lama mati . Hanya kau yang membuatku bisa bertahan ketika aku sudah ingin menyerah .. "
" Kembalikan itu ... "
" Aku tahu ini mungkin sudah sangat terlambat . Tapi aku mohon ... ijinkan aku kembali untuk menjagamu . Kita akan duduk dan bercerita tentang semua hal yang sudah kita lalui . Dan kau masih suka membuat lemper ?? Sepertinya akan enak jika kita bicara ditemani sepiring lemper buatanmu "
" Aku tidak mau ... kau pria tua menyebalkan !!! "
" Aku tidak peduli , mau tidak mau kita akan menikah secepatnya . Apa kalian keberatan dengan hal itu !?? " kata Gaffar dengan menatap tiga orang yang juga juga sedang menatapnya , tiga orang yang tidak menduga bahwa Gaffar akan senekat itu .
Dan entah kenapa Dewa Bumi dsn Aira menggeleng bersamaan ketika menjawab pertanyaan Gaffar .
" Pantas saja dia jadi saingan papa Alfian ... " lirih Aira pada suaminya .
" Dewa rasa ia sepadan dengan ibu yang galak Mbak .. " lirih Dewa pada kakaknya , dan Bumi hanya tersenyum lebar mendengar dengan jelas bisikan dari istri dan adik iparnya .
__ADS_1