FOR 365

FOR 365
Bon C 16


__ADS_3

Ibu Sri terus saja menggerutu karena kejadian pagi itu membuatnya malu . Bertengkar di keramaian taman dengan orang orang yang menatapnya dengan pandangan sinis . Mungkin mereka berpikir dia kegatelan dengan dua pria bule yang entah kenapa saling melempar aura dinginnya .


Dan kini ia sedang di hadapkan dengan putranya yang sedang duduk di depannya untuk minta penjelasan . Bu Sri tahu pasti Dewa mendapatkan laporan keributan itu dari para pengawalnya .


" Jangan memandang lbu seperti itu Wa , memang apa salah ibu ?? Mereka yang ribut kenapa jadi ibu yang di interogasi ?! Ibu itu cuma korban ... korban ya catat itu " jelas Bu Sri yang melihat pandangan Dewa yang sedikit aneh padanya .


" Yang Dewa tahu Tuan Gaffar itu bukan orang sembarangan Bu , dia tidak mungkin melakukan hal hal yang tidak penting dan norak seperti itu tanpa alasan . Dewa yakin ada sesuatu di antara kalian "


" Ya kalau tidak percaya dengan kata kata ibu ya coba saja selidiki sendiri "


" Kak Adam saja tidak bisa membuka masa lalu tuan Gaffar ... apalagi Dewa ! Kan sudah Dewa bilang dia bukan orang sembarangan . Semua informasi tentang dirinya itu tertutup dan terlindungi " gerutu Dewa .


Adam dan Dewa memang sempat saling menelpon ketika mendengar Gaffar yang terlihat dekat dengan lbu Sri , salah satu wanita yang dituakan dan sangat di hormati di keluarga Adipraja .


Mereka mencoba menyelidiki masa lalu mantan mafia itu , tapi hasilnya nihil . Mereka menyelidiki bukan untuk menabuh genderang perang tapi hanya untuk menjaga ibu mereka dari hal hal yang tidak di inginkan .


" Lhahh itu ... kamu bisa bayangin enggak kalau mantan penjual rames punya hubungan dengan mantan mafia . Nggak nyambung banget Wa ! Yang ada juga mantan mafia sama artis seksi ... apa dokter bedah cantik kaya yang di novel novel itu . Ibu udah keriput kaya gini masa iya sih masih mikir cinta cintaan . lbu udah seneng lihat anak cucu ibu bahagia ... titik "


" Ckk ... susah ngomong sama ibu . Dewa itu cuma tidak ingin terjadi apa apa sama ibu . Kalau sampai Ibu lecet dikit aja Dewa bisa di amuk Mbak Aira "


" lbu bisa jaga diri Wa ! Ibu pentung pakai panci arisan kalau bule bule gila itu macem macem sama ibu . Ehh .. Jasmine bukan maksud lbu mengatai Daddy kamu ... aduhh kelepasan " kata Bu Sri sambil menutup mulutnya sendiri .


Jasmine yang sedang menggendong Jero hanya tertawa mendengar debat ibu anak itu . Sampai kapan pun ibu mertuanya tak akan pernah bisa terkalahkan jika menyangkut tentang debat .


Dan Jasmine juga bisa melihat bahwa beberapa hari ini Daddynya semakin dekat dengan ibu mertuanya . Mungkin karena intensitas pertemuan mereka yang semakin sering .


John Effendy menjadi sering berkunjung ke mansion setelah kehadiran Jero , dan karena Bu Sri adalah orang yang humble maka mereka bisa cepat akrab .


*

__ADS_1


Dan di sebuah kamar , seorang pria sangat bahagia karena setelah kemarin ia tidak lagi harus sembunyi sembunyi jika ingin tidur di sisi istrinya . Sono sedang mendekap erat tubuh istrinya penuh kerinduan .


" Kau belum tidur Nona ??! "


Vio hanya menggeleng pelan dan menyurukkan hidung mancungnya di ceruk leher suaminya , Vio menyukai bau khas suaminya .


" By ... "


" By ??? "


" Hubby ... boleh aku panggil kamu dengan sebutan itu !? "


" Boleh banget sayang ... sepertinya itu cukup keren " ujar Sono dengan mengecup pipi istrinya gemas .


" Aku punya sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu .... ini tentang Anna "


" Jika ini tentang rencana rencana konyolmu sebaiknya kita tidur saja , aku tidak ingin mendengarnya " sahut Sono , ia sangat tidak suka jika Vio ingin kembali menjodohkannya dengan pengasuh cantik itu .


" Oooo ... begitu ! Terus kita harus bagaimana sayang !? "


" Aku berencana untuk mengirimnya ke Dubay , di sana banyak universitas bagus . Aku berniat menyekolahkan dia "


" Jauh amat sih , kenapa tidak disini saja ?? "


" Selain sekolah dia juga akan banyak belajar hal lain di sana . Dia bisa belajar berbagai bahasa , dia harus mandiri dan yang utama dia akan belajar menyesuaikan dirinya . Untuk sementara kita yang akan menanggung hidup keluarga Anna sampai dia menjadi sukses nantinya , apa kau keberatan ? "


" Tentu saja tidak , aku malah senang karena kau mengusulkan hal ini . Anna memang pantas mendapat hal itu . Tapi dia akan tinggal di mana !? "


" Aku punya apartemen sendiri di Dubay dan sudah lama tidak aku tinggali . Anna bisa tinggal di sana . Lagi pula ada Kak Abbio dan Kak Zahid yang akan ikut membantu mengawasi dia "

__ADS_1


Sono menghembuskan nafasnya panjang , dia mengeratkan pelukannya pada tubuh istrinya .


" Kenapa By , ada yang kau pikirkan ? "


" Aku percaya jika Zahid ikut menjaga Anna , tapi tidak dengan Abbio ... kau kan tahu sayang sifat kakakmu yang satu itu sangat keras . Dia tidak suka dengan orang asing . Apalagi Anna bukan orang berada . Abbio tidak suka pada orang orang dari kalangan biasa sepertiku sayang "


" Kak Abbio tidak seperti itu , dia pria yang baik "


" Ya ... ya dia sangat baik . Sekarang sebaiknya kita tidur "


" Hanya tidur !? " tanya Vio ambigu yang di sahut kekehan dari suaminya .


" Memang apalagi sayang ? "


" Kau ingin !? "


" Sangat !! Tapi tidak dengan tangan atau mulutmu sayang ... "


" Kita coba pelan pelan , aku rasa tubuhku cukup kuat untuk menahanmu di atasku "


" Tidak usah memaksakan diri sayang ... "


" Tapi aku memang sedang memaksamu , aku menginginkanmu Hubby "


Vio meraih bibir sang suami dan mulai memainkannya , mereka mulai bertukar saliva dengan begitu panasnya . Dan malam ini untuk kedua kalinya mereka menikmati gelora asmara mereka setelah malam penculikan itu .


Dengan sangat lembut Sono membawa istrinya terbang ke langit ketujuh , berkali kali Vio menjerit karena mencapai puncaknya . Walau tidak menggebu gebu seperti malam pertama tapi mereka sangat menikmati malam ini .


" l love you Hubby ... "

__ADS_1


" Aku juga sangat mencintaimu Nona "


__ADS_2