FOR 365

FOR 365
Bon C 1


__ADS_3

Sementara itu di sebuah mansion besar bergaya Eropa di kota Dubay terlihat Sono sedang melihat gambar yang terpampang besar di ruang kerja Gaffar . Anandara sudah tumbuh seperti bayi lainnya . Dua bulan di rawat di rumah sakit berat tubuh Anandara meningkat cukup pesat .


Dengan kebesaran hati Sono menjaga putrinya tanpa Violetta karena sampai saat ini nyatanya wanita itu belum mendapatkan ingatannya kembali .


Mereka menggunakan jasa pengasuh bayi agar bisa merawat Anandara dengan lebih baik . Walau belum mengingat suaminya setidaknya sekarang Vio sudah terbiasa dengan keberadaan Sono dan putrinya .


" Apa kau lelah ?? "


Gaffar bertanya pada Sono yang saat ini sedang masih saja menatap gambar putrinya di ruang kerjanya . Gaffar sangat memahami posisi menantunya yang sulit saat ini .


" Tidak Dad , aku baik baik saja "


" Daddy tahu kau sudah sangat ingin kembali ke kehidupan normalmu seperti dulu . Sebenarnya Daddy ingin sekali kau tetap disini . Kau bisa bekerja membantu Zahid memimpin salah satu perusahaan Al Shamma karena Daddy tahu kau tidak begitu akrab dengan Abbio "


" Jika aku ingin kembali seperti dulu pun aku tetap belum bisa Dad ! Vio masih butuh perawatan disini , dokter bilang dia harus tetap di sisi orang orang yang disayanginya dan itu adalah keluarganya "


Gaffar menghembuskan nafasnya dalam dalam , dia pun sepertinya juga sedang berada dalam dilema .


" Lusa kita akan pulang ke lndonesia ... "


" Maksud Daddy !? "


" Aku mengijinkan kau membawa anak dan istrimu pulang ke lndonesia . Kemarin aku sempat bicara ke psikiater Vio , dia bilang ada sebuah momen ataupun tempat yang bisa memancing kembalinya ingatannya . Dan Daddy rasa lndonesia menyimpan banyak kenangan untuknya "


Sono mengangguk setuju , mungkin Vio bisa mengingat kembali masa lalunya jika melihat tempat tempat yang mempunyai kenangan untuknya .


" Baik , saya akan siapkan semuanya . Saya juga akan konfirmasi pada dokter yang menangani sakit Vio agar memberikan catatan medis hingga Vio bisa dirawat dokter disana "

__ADS_1


Setelah selesai bicara mengenai kepulangannya ke lndonesia Sono keluar ruangan dan menuju kamar putrinya . Putrinya sudah mempunyai kamar sendiri dan tidur bersama pengasuhnya .


Sono melihat pintu ruangan putrinya masih setengah terbuka , itu tandanya pengasuhnya belum ingin beristirahat . Sang pengasuh terlihat sedang membaca sebuah buku sambil menunggu Anandara yang tertidur di box nya .


TOK ... TOKK


Pengasuh itu segera berdiri dan menunduk hormat ketika tahu Sono sedang berdiri di ambang pintu .


" Apa saya mengganggu anda ? Maaf tapi saya hanya ingin melihatnya sebentar sebelum saya istirahat "


" Tidak apa apa tuan "


" Apa dia rewel hari ini ? "


" Tidak , dia minum susunya dengan lahap dan sudah mulai ingin meraih apapun yang ada di depannya . Tuan bisa bekerja dengan tenang "


Kurang lebih dua bulan di negara ini Sono masih bisa menyelesaikan pekerjaannya di Adipraja , walau dia sering mendengarkan Dewa menggerutu saat meeting online karena ketidakhadirannya yang sudah cukup lama di perusahaan Adipraja .


Vio memang masih belum ingat jika Anandara adalah putrinya , tapi akhir akhir ini wanita itu sudah mulai mau berinteraksi dengan Anandara .


Dokter masih terus memantau kesehatannya , karena walau sudah lebih baik tapi mereka belum memastikan ataupun menyatakan kesembuhan Vio seratus persen . Wanita itu masih sering bolak balik ke rumah sakit untuk cek kesehatan .


" Apa dia mengatakan sesuatu ? "


" Tidak tuan "


" Ya sudah , maaf sudah mengganggu anda . Apa Daddy sudah mengatakan soal kepulangan saya ke lndonesia !? "

__ADS_1


" Sudah , tuan Gaffar sudah mencari pengganti saya dan kebetulan di sana saya punya keponakan seorang perawat . Dia yang akan menggantikan saya untuk merawat nona muda Anandara "


" Terima kasih , setidaknya saya tidak bingung mencari pengganti lagi "


Keluar dari kamar putrinya Sono melihat Violetta sedang berada di balkon ruang televisi . Wanita yang duduk di kursi roda itu sedang melihat langit malam yang dipenuhi bintang di atasnya .


" Hai ... apa kau sedang menghitung bintang ?! " sapa Sono pada istrinya , tak pernah lelah ia terus mencoba menjadi dekat lagi dengan ibu dari putrinya .


" Kau pikir aku kurang kerjaan !?.Jangan ganggu aku ... "


" Aku tidak bermaksud mengganggumu Nona , tapi udara malam.tidak baik untuk kesehatanmu . Istirahatlah "


" Tidak usah sok perhatian padaku ! Pantas saja Kak Abbio tidak suka padamu , kau terlalu suka mencampuri urusan orang lain " ketus Vio .


" Kau bukan orang lain , kau Nonaku "


" Tapi kau bukan siapa siapa untukku !!! "


Sono hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman , dia tahu wanita yang sudah ia nikahi sangat keras kepala . Tapi Sono tahu di balik sifat kerasnya Vio punya hati yang lembut dan penyayang .


" Jangan tersenyum !! "


" Kenapa !?? "


" Itu terlihat seperti kau adalah protagonis yang sedang ditindas oleh seorang antagonis . Dan akulah antagonisnya ... kau menyebalkan "


" Dulu ada seorang wanita yang menyukaiku karena tingkahku yang menyebalkan dan dia wanita yang sangat cantik "

__ADS_1


" Cihh ... aku tidak percaya padamu . Mana ada wanita yang menyukai pria yang sudah mempunyai anak tanpa mempunyai istri !! "


" Dia adalah ibu dari putriku Nona .... "


__ADS_2