
...๐น๐น๐น...
Jan lupa like ๐
komentar๐ฌ
Dan favorit๐ ya.
itu merupakan obat dan penyemangat kami sebagai penulis. Pembaca yang bijak, tak kan berat hati untuk memberikan dukungan kepada penulisnya.
bukankah saling menghargai itu baik?
Lagi-lagi ponsel Ayana berdering. Dirinya yang masih polos tanpa sehelai benangpun hanya menatap nanar benda pipih yang berada di atas nakas. Sosok lelaki yang juga masih dalam keadaan sama dengannya kini menggeliat karena berisiknya suara dering ponsel tersebut.
" Berisik sekali, Kenapa tidak kau angkat?" Gumam Gino dengan suara seraknya khas bangun tidur.
Ayana masih terdiam dan menatap nanar benda pipih yang kian berbunyi nyaring itu.
" Itu dari Jackie, aku bingung akan bicara apa dengannya. Aku malu, aku takut, aku...." Ayana malah tergugu. Bahunya turun naik dengan suara isakan. Selimut yang membelit tubuhnya sebatas dada.
" Sudah angkat saja, bicaralah seperti biasa denganya. " Kata Gino tanpa membuka matanya dan malah menutup sebagian wajahnya dengan bantal.
" Tapi kak, kau bilang.... Kau...." Ucapan Ayana terhenti dengan tatapan meragu. Dia sangat ingat bagaimana sebelumnya Gino berujar bila dia tidak ingin berbagi istri dan menginginkan miliknya tetap menjadi miliknya seutuhnya.
Secercah harapan indah hadir, Ayana berpikir bahwa mungkin saat ini suaminya ini sudah berubah. Semburat senyum terbit di bibir ranum Ayana. Gino meraih ponsel Ayana lalu menyerahkannya. Tapi tak begitu saja memberikan Gino terlebih dahulu mencium sekilas bibir ranum Ayana. Ayana yang terkejut hanya bisa terdiam meski jantungnya sama sekali tak aman dan seperti akan meledak.
" Bicaralah padanya, katakan jika kau sedang sibuk merawat Ayahmu."
" Lalu, ruangan ini? ini sangat asing baginya. Kamarku tidak seperti ini."
Tangan Gino dengan lembut bergerak menyusuri garis oval rahang istri barunya itu. Tatapan berkabut gairah yang menggebu. Ada has**t di kalbunya.
Gino tertawa lalu mengusap wajahnya frustrasi. " Itu kau cerdas, kau tau kan bagaimana sakitnya jika di bohongi? Jadi akhiri saja hubunganmu denganya."
" Aku ingin, aku juga tak mau terus-terusan membohonginya. Statusku sudah berbeda sekarang." Ayana menatap sendu Gino.
Setelah penyatuan mereka semalam. Gino menjadi sedikit berubah. Ada yang lain dimatanya.
" Hhhh, " Gino mendesah lalu bangkit dari ranjang dan dengan tubuhnya yang masih polos dia mengenakan bajunya dengan setelan celana pendek hitam. Di pungutnya baju-baju Ayana yang tergeletak sembarangan di lantai lalu memakaikannya dengan perlahan. " Baguslah, jika kau sadar kau sekarang telah menjadi istri keduaku." Ucap Gino yang di akhiri dengan senyum simpul yang mengerikan.
Ayana hanya pasrah. Dia diam tak menolak tapi juga tak bereaksi menerima. Dia hanya seperti patung. Kembali Gino duduk tepat di sebelah Ayana lalu memeluknya dengan wajahnya yang terbenam di ceruk leher sang istri kedua.
" Terimakasih untuk semalam, aku tak menyangka jika kau juga akan menikmatinya. Ku kira kau akan memberontak dan lari dariku." Gumam Gino dengan kepala yang masih bersembunyi di leher Ayana.
Geli, sangat geli ketika hembusan nafas itu menerpa kulit leher Ayana memberikan sensasi yang lain. Gelanyar aneh yang kembali bangkit perlahan yang membuat sesuatu yang lain berkedut. Ayana menggeliat dan itu membuat tubuhnya sedikit bergerak menghindar, tapi... Gino masih setia memeluknya.
" Jangan banyak tingkah, aku masih ingin memelukmu." Kata Gino terang-terangan.
__ADS_1
Suasana yang canggung lagi suram itu kemudian berakhir begitu saja kala ponsel Gino berdering. Panggilan video call dari Lena.
Gelagapan raut wajah Gino seketika berubah. Dia panik dan juga tersirat ketakutan.
" Kak Lena menghubungimu. " Kata Ayana sebenarnya yang hanya ingin lepas dari pelukan Gino.
" Biarkan saja. Aku seperti sekarang ini juga karena permintaan bodohnya." Kata Gino.
...๐น๐น๐น...
...POV Gino....
Aroma manis tubuhnya sungguh memabukkan ku. Aku tak menyangka jika bisa secepat ini mengagumi tubuh wanita lain.
Sampai detik ini, aku masih tak paham dengan kemauan istriku yang memintaku untuk menikah dengan wanita lain. Hhhh, apa dia sudah gila?
Dan disini, sekarang aku yang terjebak. Aku mulai menyukai setiap apa yang Ayana lakukan. Dia begitu candu bagiku.
Aku sebagai lelaki, tak munafik, aku bisa merasakan sensasi lain saat bersamanya. Raut wajahnya, tubuhnya, senyumnya, dan juga sesuatu yang sempit di bawah sana yang menjadikanku pengunjung pertama. Oh, sungguh apakah aku termasuk kedalam satu-satunya mahluk bumi yang paling beruntung?
Istri sah ku memintaku bahkan memaksaku untuk memadunya.
Terlihat sekali raut kekecewaan dan penyesalan yang lekat di wajah Ayan kala adikku Jackie menghubunginya di pagi yang cerah ini. Tidak saja merusak suasana tapi juga membuyarkan kehangatan ku dan dia. Sungguh pengacau yang menyebalkan!
Aku tau bagaimana perasaanya sekarang. Dia kecewa pada dirinya sendiri lantaran telah menghianati cintanya. Aku juga tidak buta, aku bisa melihat bagaimana semenjak Jackie kuliah, mereka sangatlah dekat. Bahkan di lingkungan kampus, santer terdengar rumor jika mereka berpacaran dari semenjak istriku ini masuk ke universitas itu.
Dia mengurai tanganku yang melingkar di pinggangnya lalu berdiri kala ponselku berdering dengan nama Lena yang tertera.
" Cih! Biarkan saja kataku. Dan kau mau kemana?" Aku mencekal tangannya. Dia melihatku dengan tatapan sendunya. Tatapan kesedihan yang sulit ku artikan.
Dia tersenyum sebelum berbicara. " Lepaskan, aku hanya ingin ke kamar mandi." Katanya.
Masih aku memegang pergelangan tangannya. " Kau bisa berjalan?" Entahlah aku kasihan saja melihatnya sesekali menahan nyeri.
" Bisa. " Angguknya dengan perlahan.
Kubiarkan dia membersihkan dirinya. Jujur saja saat tatapan mata kami saling beradu aku tidak menyukainya. Di dalam matanya aku hanya melihat kekecewaan yang teramat dalam dan ketidak relaan. Tapi tak apa, ini hanya soal waktu saja.
Dengan Ayana aku merasa istimewa, aku yang pertama. Tak perduli dia rela atau tidak, tapi aku justru semakin tertantang untuk menaklukkan hati wanita kecilku.
Dan untuk istriku Lena. Lamanya kita menikah, mengapa tetap saja tak mampu mengubah perasaan ku?
Aku masih saja tak mencintaimu. Aku menikahimu hanya karena kejadian itu yang membuatku harus bertanggungjawab sampai akhir hidupku.
Aku memutuskan untuk pergi menemui istri pertamaku sebelum istri keduaku keluar dari kamar mandi. Ada hal penting yang harus kubicarakan dengannya setelah sebuah pesan masuk ke ponselku. Sebuah pesan yang sungguh membuatku geram dan merasa di permainkan.
...๐น๐น๐น...
...POV Author....
Pernikahan antara Gino dan Lena terjadi hanya karena Gino yang masih dalam tahap belajar mengemudi dahulu tanpa sengaja menabrak motor yang Lena dan calon suaminya kendarai. Nasib nahas hinggap dan kecelakaan terjadi menyebabkan calon suami Lena meninggal di tempat.
__ADS_1
Kecelakaan yang parah yang membuat Lena harus mengalami pengangkatan rahim dan juga lumpuh dalam beberapa tahun.
Dendam, itulah dasar utama pernikahan mereka. Tak pernah ada cinta meskipun Gino lama mencobanya, Lena masih saja keras hati. Gino tidak bodoh, dia bisa merasakan setiap gerak-gerik istrinya yang menatapnya tak suka atau melayaninya dengan suka rela.
Di sudut lain bumi.
" Kenapa dia tidak mengangkat panggilanku?" Jackie menggaruk pelipisnya dengan satu jarinya. Dia bingung dengan perubahan sikap Ayana.
" Apa dia sakit? Oh, aku hubungi saja Bunda." Inisiatif Jackie lalu menuntun jarinya untuk bertanya kepada sang Bunda.
Perbincangan terjadi dan cukup membuat Jackie kini duduk merenung di kamarnya.
" Dia sudah pergi?" Gumamnya.
Lagi dia menghubungi Ayana. Dia tidak patah semangat.
' Hallo! ' Kali ini mendapatkan jawaban dan seketika membuat Jackie tersenyum senang.
' Ay, kamu pindah ke kampung? Lalu bagaimana kuliahmu?' Tanya Jackie.
Ya, alasan Ayana adalah akan kembali ke kampung halamannya untuk hidup tenang bersama sang Ayah. Mencari ketenangan dan udara bersih untuk kesehatan jantung ayahnya.
' Mungkin nanti jika ayah sudah lebih baik aku akan melanjutkan kembali kuliahku Kak.' Jawab Ayana.
' Oh ....' Jackie ber oh ria.
' Tapi, setelah ini...' Ayana terdiam beberapa saat.
'aku ingin kita putus saja ' Ujarnya dengan suara yang tertahan.
' Ke... kenapa?' Jackie tergagap.
' Aku tidak pantas untukmu. Carilah yang lebih baik dariku.' ~ Ayana.
' Ay....' ~ Jackie gusar.
' Kak, aku sadar diri. Kemauanmu sudah ku turuti.' ~ Ayana.
Kemauan Jackie dimana Dia ingin menjalin hubungan sebelum keberangkatannya.
' Aku rasa aku sudah menuruti keinginanmu. Aku mohon mengertilah.'
Bagaikan petir di siang hari. Tak ada mendung, tak ada gerimis, badai terjadi begitu saja membuat hati Jackie porak poranda.
TUT......!!!
Panggilan terhenti sepihak dan dua insan di belahan bumi berbeda sedang menangis sedih meratapi berakhirnya hubungan mereka.
Ayana yang menahan tangisnya. gambar by Google ya.
__ADS_1