
...🌼🌼🌼...
Menunggu kepastian, bukanlah hal yang mudah. Ayana bergelut sendiri dengan keraguannya. Dia, hati menolak untuk mempercayainya. Tapi matanya mengajaknya untuk rasional.
Setelah semalaman tidur di sofa, tentu saja Jackie merasa tubuhnya pegal. Tentu saja, panjang sofa tak sebanding dengan panjang tubuhnya. Di tidur meringkuk dalam posisi miring. Membuat lehernya kaku dan juga sedikit pening saat bangun.
Ayana dia yang masih marah setelah melihat kejadian itu memilih untuk tetap bertahan di dalam kamarnya. Dia memilih untuk mengabaikan kewajibannya sebagai seorang istri.
"Bukan anaknya? tapi di ajarkan memanggil Daddy? apa maksudnya?" Lagi lagi hanya itu pertanyaan yang muncul di kepalanya. Dia bahkan melupakan rasa lapar di perutnya dan tak melihat betapa teriknya matahari saat ini.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 Pagi. Dan, dia juga mengabaikan kepentingan suaminya untuk pergi ke kantor.
TOK!
TOK!
TOK!
"Ay, buka!" Seru Jackie di balik pintu kamar.
Satu dua kali, Ayana masih tak menggubrisnya tapi yang terakhir kalinya perkataan Jackie membuatnya berlari dan segera membuka pintu.
"Ay! aku udah jujur sama kamu ya!!" Jackie berteriak di depan pintu kamar dengan suara lantangnya.
"Aku tidak punya hubungan dengan wanita manapun! dan kamu, kamu terus saja menuduhku tanpa bukti! Sekarang, terakhir aku katakan aku tidak berselingkuh!!" Jackie menggedor keras pintu yang tak berdosa tersebut.
"Buka pintunya, atau Ku kabulkan segala tuduhanmu!!" Jackie mengancam, dia benar-benar sangat marah sekarang.
Jackie, merasa tak di hargai dan diabaikan sebagai seorang suami hanya karena kesalahan yang tak dia lakukan sama sekali.
Mendengar perkataan Jackie membuat Ayana spontan berlari lalu membuka pintu kamarnya. Dia sudah pernah gagal menjalani biduk rumah tangga satu kali dan itu sungguh sakit dan membuatnya terguncang. Tak ingin semuanya terulang lagi, Ayana memilih untuk menarik ulur pikirannya sendiri.
"Ya jangan!" Ayana memekik keras sambil menghentakkan kakinya.
Jackie mengabaikan dan menerobos masuk lalu berkacak pinggang. Dia ingin meluapkan kekesalannya sekarang setelah semalaman dia berharap drama Korea akan tayang di rumahnya.
Dimana seorang istri yang marah akan mengendap endap keluar dari kamar lalu menyelimuti suaminya dan menatapnya teduh, lalu ternyata si suami mengetahuinya dan berpura-pura tertidur. Bukankah itu romantis?
Tapi nyatanya?
Ayana yang tertidur pulas karena pengaruh obat membuatnya tak terjaga barang sedetik pun. Rupanya dalam lelap tidurnya semalam, ada suami yang berharap perhatiannya.
"Kau, sudah ya marah seperti ini. Apa yang diributkan lagi? Aku dan Denise tidak punya hubungan apapun. Kami hanya teman, Dia memang begitu orangnya jangankan padaku, pada Dewa juga dia melakukan hal yang sama Ay." Jackie meyakinkan istrinya.
Halah, palingan juga kalian bersekongkol. Ayana menduga bebas dalam hatinya.
__ADS_1
"Tidak ada persekongkolan seperti yang ada di kepalamu!" Jackie menunjuk kepala Ayana dengan telunjuknya.
"Cemburu boleh Ay, tapi bodoh jangan!" Ujar Jackie yang kemudian duduk di tepi ranjang.
"Justru dengan aku yang seperti ini itu tandanya aku tidak bodoh. Aku berfikir kritis untuk mengetahui fakta yang sebenarnya."
"Faktanya, tidak ada apa-apa diantara kami. Aku membantunya sebatas memberikan pinjaman uang. Tidak lebih!"
"Pinjaman uang? yakin itu sebuah pinjaman? tanpa sepengetahuan dariku, dan aku juga tak tau akan dikembalikan atau kau memberikannya secara cuma-cuma." Lagi lagi perkataan Ayana terlalu kritis sampai-sampai menyudutkan suaminya.
Jackie berdiri mendekat pada Ayana yang berdiri bersendekap menatapnya nanar. Sungguh ini merupakan sebuah sarapan pagi yang teramat sangat mengenyangkan. Keduanya sampai melupakan jam makan dan rutinitas harian.
"Kenapa kau begitu meragukan suamimu sendiri?"
"Ini caraku berfikir kritis Jack!" Ayana mempertahankan pemikirannya.
" Oke! lalu maumu apa?" Tanya Jackie yang kini berkacak pinggang di depan Ayana dan mengikis jarak mereka.
Ayana terdiam, dalam pertengkaran ini dia sama sekali tidak menangis.
"Aku ingin mempertahankan bahtera ku tanpa ada penumpang gelap di dalamnya."
"Tidak ada penumpang gelap Ay!" Jackie meremas rambutnya frustasi. Dia kehabisan kosa kata untuk menjabarkan semuanya. Bahkan kejujurannya selalu di tampik mentah-mentah.
"Buktikan!" Seru Ayana menantang, meminta pembuktian.
"Tes DNA." Jawab Ayana masih dengan angkuhnya melipat kedua tangannya ke dada dan menatap dingin sang suami tanpa bergeming.
"Tes DNA? Astaga...! Ayana Jasmine!" Jackie memekik keras. "Untuk apa Ay? untuk apa aku susah susah melakukannya? melakukan tes DNA untuk sesuatu yang sama sekali tak berhubungan. Ay tolonglah jangan buat aku malu." Jackie berjalan mondar-mandir.
Dia memikirkan cara untuk mendapatkan sampel dari anak Denise sedangkan untuk memulai misinya saja sudah dapat di bayangkan bagaimana reaksi dari Denise dan Dewa juga istrinya ketika tau inti permasalahan yang Jackie alami.
Jackie akan habis menjadi bulan-bulanan temanya. Tapi... bukankah itu lebih baik daripada harus bertengkar seperti ini setiap hari?
Belum selesai dengan pertengkaran dan masih belum ada solusi. Kembali perdebatan mereka terjeda oleh suara ketukan pintu utama.
"Aku buka pintunya dulu kau berfikir lah!" Kata Ayana yang berjalan menuju ke pintu utama.
Saat di buka, Ayana kembali di kejutkan dengan sebuah bungkusan yang tampak manis seperti kotak bekal. Tercium juga bau harum masakan dari dalam kotak bekal tersebut.
Ayana membawanya masuk lalu melemparkannya ke atas meja makan. Jackie yang baru keluar dari kamar melihatnya dan segera mendekat.
" Jelaskan, apa lagi ini? Katy lagi. Siapa Katy? Dia tau alamat kita, dia tau tentangmu. Siapa Dia? Belum selesai dengan urusan Denise dan sekarang sudah ada lagi Katy?" Ayana mengintrogasi dengan tegas tak ada suara bergetar atau air mata yang tertimbun di pelupuk matanya.
Di kotak bekal tersebut lagi-lagi tertempel sebuah kertas kecil yang bertuliskan.
Jaga makannya ya sayang, i love you
__ADS_1
Jackie, by Katy.
"Ada berapa wanitamu!!" Desak Ayana sambil menghentakkan kakinya dan menatap tajam menghunus kedua manik Jackie.
"Sumpah Ay, tidak ada! Cuma kamu Sayang!"
"Lalu ini apa?" Ayana menunjuk kotak bekal yang tergeletak di meja.
" Ini? ini benda sialan!!" Jackie mengambilnya dan...
PRANK....!!
Suara pecahan kaca dan benda yang saling berbenturan dengan keras, menimbulkan efek berantakan di lantainya.
Kotak bekal yang Jackie lemparkan menghantam kitchen set dan juga gelas-gelas yang menggantung di pantry membuatnya hancur berantakan dan serpihan beling yang berserakan.
" Kau tidak percaya padaku kan?" Geramnya sambil mengepalkan tangannya.
Ayana masih tertegun melihat kekacauan yang suaminya ciptakan barusan. Wajahnya memucat ketakutan. Inilah sifat Jackie yang tak bersalah lalu selalu di tuduh maka iya akan mengabulkan tuduhan tersebut. Ayana ingat itulah kebiasaan buruk yang Jackie miliki.
Dahulu pernah dia di tuduh merusakkan laptop milik Alex, padahal bukan dia pelakunya. Mereka bertengkar hebat lalu karena kesalnya, amarah memuncak, Jackie menghancur leburkan laptop milik kakaknya yang sebenarnya tidak rusak terlalu parah dan masih bisa di perbaiki sampai ***** tak berbentuk.
"Baik!" Jackie mengangguk-anggukkan kepalanya dengan urat-urat leher yang terlihat mencuat mewakili afeksinya yang tinggi.
"Tidak...! Iya stop!! Iya iya aku akan percaya padamu. Aku akan mencoba untuk mempercayainya. Jangan lakukan sesuatu yang berbahaya lagi." Kata Ayana yang menghentikan langkah kaki Jackie yang hampir saja menginjak serpihan gelas di lantai.
"Benar kau akan percaya padaku?" Kata Jackie yang kini nada suaranya mulai kembali seperti semula.
Ayana mengangguk lalu memeluk suaminya.
"Aku tak pernah berkhianat denganmu Ay. Aku jujur, aku tak melakukan yang kau tuduhkan. Hatiku sakit saat orang yang paling kucintai justru meragukan kesetiaan ku." Ucap Jackie.
Bukankah seharusnya keduanya saling mendukung dan mencari tahu siapa yang berusaha untuk mengadu domba? bukan malah saling tuding dan masuk kedalam jebakan musuhnya.
Maafkan aku yang terlalu egois. Kamu bukanlah orang yang mudah mendapatkan tuduhan. Tapi bila tuduhan itu terus melekat, maka kamu pun akan semakin ********** hingga melebur menjadi satu. Sikap keras kepalamu seperti inilah yang membuatmu sulit tumbang. Maafkan aku yang melupakan sifatmu ini. Seharusnya aku percaya. Batin Ayana dengan memeluk erat sang suami.
"Kalau aku bilang tidak ya berarti tidak. Apa kau tuli?" Celetuk Jackie yang rupanya masih dongkol.
" Iya..." Ayana memilih mengalah demi rumah tangganya. Sikap lelakinya memang seperti itu, keras kepala dan teguh pendirian.
Jika dia di tuduh sedang dia tidak melakukan, dia akan bersikeras menjelaskan dengan jujur. Tapi jika tuduhan itu terus saja mengintai, maka dia akan melakukannya secara nyata dan terang terangan. Ibaratnya, terlanjur basah, ya sudah mandi sekali. Itulah Jackie. Tak bisa main tuduh dengannya kalau tidak ingin hancur semuanya.
"Kalau aku bilang A ya A. Bukan B!" Ketus Jackie lagi yang masih sangat marah. Bahkan dada mereka yang saling melekat dalam sebuah pelukan pun, bisa merasakan debaran jantung yang kencang.
" Iya sudah, kita baikan. " Ayana melerai pelukannya dan mengusap lembut dada sang suami. " Jangan ngamuk lagi. Kita cari tau siapa si Katy dan apa hubunganmu dengan Denise."
"Jangan sebut Denise! aku sudah bilang kan, kami tidak ada apa-apa!!" Jackie mengulang dengan tegas dan lantang menunjukkan bahwa memang tak ada apapun diantara mereka dan itu terlihat jelas dari sorot matanya.
__ADS_1
" Iya... iya maaf. Salah sebut..." Ayana meralat perkataannya.