
Jangan kenapa lagi sih? ada apa? salah apalagi aku? Batin Gino yang menghentikan langkahnya. Dia berdiri mematung di hadapan istrinya.
"Ada apa?" Tanya Gino dengan lembutnya.
"Mau ikut...." Kata Dita dengan matanya yang membulat sempurna seperti mata kucing persia. Dia mengiba dan menunjukkan wajah melasnya.
"Boleh ya? ya.... ya...? ya...?" Dita menarik-narik ujung lengan sang suami.
Gino sungguh gemas dan tak kuasa menahannya. Dia lalu mencubit gemas hidung Dita. "Iya, aku tunggu di bawah ya. Jangan pakai heels." Ucapnya memberikan ultimatum.
"Siap!" Dita mengacungkan jempolnya dan tersenyum lebar.
Gino terdiam menatap punggung sang istri yang menghilang di balik pintu kamarnya. " Ah, aku harus siap-siap. Sepertinya akan ada drama di kantor nanti." Gumamnya yang kemudian pergi menuju ke basemen.
Gino pikir dengan waktu 20 menit dia menunggu, Dita akan tampil memukau, tapi kenyataannya.
"Ya ampun istriku? kamu ngapain pakai bajuku?" Tanya Gino yang tak habis pikir dengan ulah sang istri.
Dita acuh padanya dan memasuki mobil begitu saja mengabaikan Gino yang masih ternganga membukakan pintu untuknya.
CEKLEK!
Bunyi seat belt yang terpasang.
"Kamu ngapain pakai kausku? kita mau ke kantor loh sayang. Bajumu kan banyak yang bagus."
"Ga tau lah, aku maunya baju ini kok. Cium deh, wangi kan?" Dita memamerkan baju yang di pakainya.
Gino menurut dan mengendus kaus hitam kebesaran miliknya yang melekat di tubuh sang istri. " Sayang, inikan yang tergantung di dekat keranjang baju kan? Bukanya ini belum di cuci, baunya saja masih bau parfum ku." Ucapnya setelah mengingat bahwa baju itu masih sekali di pakainya kemarin.
"Ya kenapa? aku suka kok baunya." Ucap Dita.
" Suka?" Gino mulai melajukan mobilnya perlahan dan meninggalkan area parkir. "Tapi tadi barusan kamu bilang jengkel lihat aku? gimana sih?"
Gino, yang belum pernah menangani apa itu ngidam, dan apa itu mood swing karena gangguan hormonal saat hamil, kali ini benar-benar kelabakan. Dia tak mengerti apa kemauan istrinya.
"Kenapa sih? mukanya kayak ga rela gitu aku ikut? Atau jangan-jangan kamu punya em... em... di kantor ya? sekretaris baru?" Dita mulai mengeluarkan tuduhan tak berdasar. Oh, sungguh ibu hamil yang rewel.
Gino menghela nafasnya. " Ya ampun istriku! kamu ini pikirannya curigaan terus."
__ADS_1
"Ya, bagaimana ya? aku kan butuh kepastian untuk meyakinkan diriku sendiri. Kamu masih kan bekerja sama dengan Bu Dona? si janda gatel yang kaya raya itu."
Mulai nih, mulai... ibu ibu hamil mulai bikin rusuh nih, mulai mematik api keributan. Kita lihat seberapa sabar Bapak Gino Putra Armanto menghadapi sikap istrinya yang mudah berubah ini.
"Hust! mulutnya, yang sopan ah kalau ngomong, di dengerin anak kita ini." Gino tak suka dengan gaya bicara istrinya yang sudah sama seperti emak-emak rumpi.
"Ah, dia belum punya telinga." Kata Dita. "Pokoknya aku mau bukti, aku mau ikutin kamu kemanapun kamu pergi, dan juga... Hape mana Hape?" Dita menyodorkan tangannya.
"Astaga mau apa lagi pake Hape aku?" Keluh Gino tak mengerti.
Dita tak menjawabnya tapi tetap menyodorkan tangannya dan mendelik menatap Gino. Yang di tatap akhirnya mengkerut juga dan menurut patuh. " Ini."
"Kenapa mau di buka? mau di Operasi? Butuh obeng atau apa gitu?" Gino mencandai Dita yang tengah berusaha membuka sandi di ponselnya.
" Ga bisa." Keluhnya yang kemudian Gino menempelkan jari jempolnya dan layar sukses menyala.
" Udah tuh, sana di operasi siapa tau butuh pembedahan." Kata Gino kesal.
"Ini Hape bukan pasien yang mau di bedah." Celetuk Dita yang sudah fokus mengotak-atik benda pipih di tangannya.
Gino menggeleng dan menggaruk satu alisnya. " Anteng udah dapet mainan baru?" Ledeknya.
"Astaga! kamu suka lihat beginian?" Dita mendelik mengomentari jejak yang di temukannya.
"Kenapa? ga usah naif ya. Lihat itu lebelnya 18+ dan usiaku sudah 30an lebih sekarang. Jadi itu sudah lumrah. Lagian kan walaupun ada kamu tapi kita hanya melakukannya sekali saja." Ucap Gino.
Dita terdiam menyimak. Lalu sesaat kemudian tangannya menjulur ke tempat yang tidak semestinya. Tangannya mengusap sesuatu yang mengkerut di antara dua paha.
"Apa, benar-benar tersiksa kalau jarang melakukannya?" Tanyanya dengan suara rendah dan serak membuat Gino seketika menepikan mobilnya.
Mendapatkan usapan hangat di zona merah membuatnya hilang fokus. Dia menikmati beberapa detik dan beberapa detik lagi dia mulai tersadar.
"Dita Andini, kamu kesurupan atau bagaimana? aneh sekali." Gumam Gino setelahnya.
" Hahahaha!" Dita tertawa terbahak-bahak.
"Shitt!! bener kesurupan nih anak." Ucap Gino yang kemudian menyalakan rekaman ayat kursi MP3.
"Apasih, ga mempan kali ah." Dita meminta kembali ponsel Gino dan Gino melongo di buatnya.
__ADS_1
Dalam kesempatan ini, Dita benar-benar menjadi dirinya sendiri. Fakta bahwa ia tengah mengandung memberikannya semangat baru untuk yakin dan mantap menata masa depan bersama Gino demi si buah hati. Tapi .. dia masih saja meragukan perasaan Gino yang pernah ada untuk Ayana. Apakah masih ada? ataukah sudah berganti dengan dirinya sepenuhnya?
"Mulai sekarang, tidak boleh lagi menonton yang seperti ini." Ucap Dita tegas.
"Kenapa sih Dit, itu hanya alat pembantu menuntaskan sesuatu yang menyumbat."
" Tidak boleh, kamu melihat tubuh wanita lain? Sini ku congkel matamu!" Dita menghardik dengan galaknya. Pertama kali Dita menunjukkan sikapnya yang overprotektif pada sang suami.
Alih-alih membenci, Gino justru suka. Ini merupakan awal yang baik, setidaknya hubungan mereka tidak akan terasa hambar lagi.
"Ih, serem ah. Iya enggak, ya asalkan Kamunya juga pro sih. Tapi kalau enggak ya..., mau gimana lagi?" Celetuk Gino menggoda istrinya.
Tak terasa mereka telah sampai di lobby lounge perusahaan Gino. Gino turun dan membukakan pintu, siapa sangka Dita yang turun langsung menggandeng lengan suaminya.
Gino melihatnya dan mengulum senyumnya. Dia sangat suka akan perubahan sikap istrinya.
"Pagi Pak!" Sapa satpam.
"Iya pagi..." Sahut Gino yang kemudian melangkah masuk.
Selama berjalan memasuki gedung, Dita terus menutup hidungnya hingga mereka sampai di lift dan Dita dengan segera menghambur memeluk tubuh suaminya. Gino terperanjat kaget bukan main.
"Hemmh... segar..." Ucap Dita yang menghirup dalam-dalam aroma parfum yang melekat di baju kerja suaminya. Lebih tepatnya di bagian dada dekat dengan ketiak.
"Hahahaha, Sayang. Kamu bilang kemarin aku bau, terus sekarang?" Ucap Gino mengoreksi perkataan istrinya beberapa hari lalu.
"Sekarang aku suka. Kenapa? ga suka? ga boleh?" Cicit Dita dengan bibir mengerucut.
"Boleh iya boleh, sini." Gino kemudian mendekap sang istri dan menelusupkannya di dalam jasnya dan dekat dengan ketiaknya.
"Kamu ngefans apa gimana sama ketek aku?" Celetuk Gino asal tapi malah mendapatkan anggukan dari Dita. Gino tak perduli lagi jika nantinya baju yang di kenakanya akan kusut karena ulah sang istri.
Pertama kalinya setelah sekian lama hubungan Mera mulai menemukan rasanya, tak lagi hambar dan dingin. Kini keduanya sudah mulai sedikit lebih terbuka.
"Besok, pokoknya aku mau kamu menetapkan peraturan baru, khususnya bagi yang perempuan." Ketus Dita berbicara hanya berdua dengan Gino ketika jam istirahat.
"Peraturan apa lagi sih?"
Mumet, mumet deh punya istri ngidam yang super rewel.
__ADS_1