
...~•~...
...~•~...
...POV Ayana....
Dalam hening sepi ku sendiri mengamati para karyawan yang sedang melayani para pembeli. Mereka berjalan kesana kemari sedangkan aku hanya mengintip dari balik tirai.
Masih terngiang segala ucapannya tadi bagaimana Dia bisa berkata dengan mudahnya bahwa perasaannya masih sama padaku. Bahwa Dia sama sekali belum bisa melupakan dan menghapuskan aku dari dalam hatinya.
Dia Kakak suamiku, dan Dia juga baru punya anak. Seperti itukah Dia yang teramat egois? Aku masih tak habis pikir.
Jemariku masih bertengger di bibirku. Meraba kembali sentuhan yang beberapa tahun lalu pernah berpahala bagiku namun kini menjadi dosa besar untukku.
JEGLEK!
Pintu ruanganku terbuka dengan tiba-tiba tanpa ketukan sebagai awal pembuka. Satu orang saja yang berani melakukannya dan itu adalah suamiku.
"Hai Sayang, sudah kemari. Tidak ada rapat?" Tanyaku padanya dengan melingkarkan tanganku pada lehernya dan memeluknya erat.
Dia mungkin akan merasakan keanehan padaku sekarang. Tapi.... aku ingin menebus dosaku tadi. Dosa yang tak kulakukan tapi aku juga tak berkesempatan untuk menghindari. Dosaku karena bibir Kakakmu yang kembali bersilaturahmi dengan bibirku.
Dia menggeleng dan menghela nafasnya lalu menarik jarak diantara kami. Sebenarnya dia baru mulai akan bicara, tapi aku sudah menyambarnya.
Ini caraku untuk menebus kesalahanku tadi.
Hilangkan jejaknya dengan jejak manismu suamiku.
Aku *****4* bibirnya dengan lembut dan dalam seolah aku sangat kelaparan dalam satu kebutuhan batin ini.
"Sayang kamu kenapa?" Tanyanya setelah terengah karena ulahku.
"Tidak apa-apa, hanya sedang ingin saja." Jawabku dengan memberikan jawaban palsu dan suguhan senyuman pias.
"Kamu aneh." Keluhnya yang kemudian duduk di kursi kerjaku.
__ADS_1
Aku menyusulnya dan dengan sengaja duduk di atas pangkuannya dan lagi lagi *****4* bibirnya. Mengabsen setiap jajaran gigi dan bertukar Saliva dengan hangatnya.
Aroma mint yang menyejukkan ini tak pernah berganti. Aroma yang selalu membuatku candu.
"Em... jangan bilang aneh. Kalau aku aneh kamu apa?" Cetusku. " Bagaimana tadi anak Kak Dita?"
"Keponakanku sangat tampan, Dia begitu menggemaskan. Ini lihatlah aku mengambil fotonya. Datanglah sayang, Bunda menanyakan kehadiranmu. Jagalah perasaannya." Kali ini suamiku berbicara dengan nada memohon.
Aku bisa apa? setelah menghindarinya, nyatanya aku tetap terantuk pada titik masalah yang sama. Harus berpura-pura baik, padahal sedang tidak baik-baik saja.
"Besok sudah di perbolehkan untuk pulang. Bunda dan Ayah mau kita datang kerumah mereka untuk berkunjung dan menginap satu malam."
"Kenapa harus menginap? Kan kita bisa pulang." Kataku yang malas saja jika harus menginap dan bertatap muka lama dengan Kak Gino yang kini ku tahu seperti apa hatinya padaku.
"Sayang, ini kemauan Bunda dan Ayah. Mereka ingin melihat anak anaknya berkumpul. Kenapa kamu keberatan?" Dia berbicara dengan memberikan usapan lembut di kepalaku membuatku hanya bisa mengangguk tanpa ada waktu untuk menggeleng atau sekedar berucap tidak.
"Tidak sayang, bukannya aku keberatan. Hanya saja aku... Kak Dita sudah memberikan cucu dan Diah juga sedang hamil lalu aku?" Ucapku yang mencoba mencari rasa iba darinya.
Dia memelukku dengan hangat lalu mengecup pipiku, menatapku dengan sendu. " Sayang, kami semua sudah mengerti bagaimana keadaanmu. Anak itu rejeki dan jika kita memang belum di percaya lalu bisa apa? Sudahlah kita percayakan kepada yang Mahakuasa saja."
Harus ku akui, semakin hari suamiku ini memang semakin bijak dalam mengambil keputusan. Dia benar-benar telah berubah menjadi lelaki dewasa. Si gigi kelinciku yang manis ini rupanya telah siap seutuhnya untuk menjadi seorang Ayah.
"Nah gitu, aku suka dengan istri yang penurut seperti ini. Apa setelah ini kita perlu berbulan madu lagi?" Katanya dengan berbicara tanpa memindahkan bibirnya dari pipiku.
Berbulan madu lagi?
Hhhhh...., tapi rasanya sangat berlebihan sekali jika dalam satu tahun sudah berapa kali kita melakukannya. Ah, tidak aku tidak bisa. Apa kata mertuaku nanti bila mereka tahu kami berbulan madu lagi?
"Tidak, dirumah saja. Jangan pemborosan, kita juga perlu menabung untuk masa depan anak-anak kita nantinya kan?"
"Ah~~~ Soal itu. Sudah ada aku sudah menyisihkannya." Dia mengusap pahaku yang masih duduk di pangkuannya. "Sepertinya kita harus mencoba bayi tabung."
Bayi tabung? Itu adalah pilihan terakhir yang selalu ku hindari. Apakah dia tidak tahu jika dalam prosesnya nanti juga akan menyakitinya? aku tidak mau itu sampai terjadi. Setidaknya biar aku saja yang menanggung semua. Cara alami lebih baik kan?
"Kita tunggu satu bulan lagi. Kalau satu bulan lagi aku belum juga ada tanda-tanda hamil maka aku akan menuruti permintaan mu itu."
"Hemmhh...! baik." Dia menghela nafasnya dalam-dalam. Aku tahu Dia begitu menginginkan seorang anak ditengah-tengah kami. Tapi.... apa yang bisa kulakukan bila dokter saja hanya mengatakan untuk bersabar dan berdoa?
__ADS_1
...~•~...
...POV Author....
Sementara itu di rumah sakit.
"Mas, bantu aku untuk duduk." Dita meraih tangan suaminya yang sedang menimang bayi mungil mereka.
"Sebentar." Jawab Gino yang masih menatap wajah mungil bayinya dan tersenyum senang.
Sebentar? Dita sudah menunggu sampai 20 menit untuk kata sebentar itu. Padahal dia bisa menggunakan satu tangannya yang lain untuk membantu istrinya bergeser. Dita masih terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan tangannya yang masih tertancap jarum infus.
Dia memang melalui persalinan secara normal, tapi juga Dia membutuhkan waktu untuk pulih dan ada sedikit perbedaan sekarang. Gino seratus persen memperhatikan buah cintanya dan mulai terlihat acuh pada Dita.
"Sini aku bantu." Kata Gino kemudian setelah Dita bergerak dengan susah payah dengan sendirinya.
"Tidak usah. aku sudah bisa sendiri." Tolak Dita yang masih bisa tersenyum walaupun sejatinya dia sudah bisa merasakan gelagat yang aneh dari semenjak kepulangan suaminya tadi.
Gino kemudian duduk di samping Dita setelah meletakkan bayinya kedalam box bayi. "Dit, Bagaimana apa masih sakit?"
Dit? Kemana kata sayangmu biasanya pergi mas? Kenapa kamu kembali memanggilku hanya dengan namaku?
"Iya." Jawab Dita yang mulai meraba sesuatu yang tidak seperti biasanya hadir di antara mereka. "Apa yang kamu sembunyikan Mas? wajahmu mengatakan kamu menyimpan sesuatu dariku. Ada apa? apa ada masalah?"
Dia, sudah bisa menebaknya dari wajahku. Apa... begitu terlihat ketika aku mulai menyimpan sesuatu yang lain?
"Tidak ada, hanya saja...." Gino berbicara dengan mengambil sesuatu dari kantung jasnya. Dia menunduk sesaat lalu menengadah dan memberikan senyuman terbaiknya.
Dita mulai menaruh curiga, dari kata dan tindakan abai yang baru saja keluar, Dita hanya bisa menyimaknya saja.
"Aku punya sesuatu untukmu." Gino mengeluarkan sebuah kotak perhiasan yang berisi gelang berlian.
Dia mengambilnya, terlihat indah berkilau dan menjuntai dengan warna bening kebiruan. "Ini untukmu sebagai hadiah karena telah melahirkan keturunanku."
"Mas, sudah menjadi kodrat wanita kan melahirkan itu? Dan aku juga tidak..." Belum selesai Dita bicara Gino sudah memeluknya dengan erat. Menempatkan kepala sang istri dalam dadanya seolah sedang menginterupsi kan padanya untuk Dengarkan detak jantungku!
Emh.... sungguh manis. Tapi, terkadang hal manis itu di sajikan sebagai penutup yang pahit. Bukan apa bukan?
__ADS_1
"Terimalah, sebagai lambang cinta ku padamu. Sebagai hadiah atas perjuanganmu." Imbuhnya tanpa melepas pelukannya.