
Ayana tertidur di ranjang empuknya. Lantas dimana suaminya?
Walaupun keadaan sudah semakin menghangat dari waktu ke waktu, tapi Jackie tak mau ambil resiko. Dia tak mau menjadi bodoh dan ceroboh untuk tergesa-gesa dalam kembali mengeratkan hubungannya dengan sang istri.
Walaupun dia di atas ranjang dan sang suami tidur di lantai, tapi....
"Hoamz... !" Ayana menguap dan menggeliat, mengumpulkan kesadarannya dan perlahan membuka matanya. Tapi....ada yang berbeda, tangannya terasa berat.
Jackie, suaminya terlelap dengan menggenggam dan mencium tangan istrinya. Bukannya tidak mau memenuhi kewajibannya, tapi kakinya juga belum pulih benar. Masih menggunakan kruk atau terkadang kursi roda. Ayana hanya tersenyum sebentar mengamati indah mahluk ciptaan Tuhan yang kini menjadi miliknya.
Eh, kaget bukan main saat di amati tiba-tiba membuka matanya, menatapnya sendu dan khas orang bangun tidur dengan wajah bantalnya.
"Sudah bangun?" Tanya Ayana untuk menepis rasa malunya. Dia masih malu dan tersipu mengingat ini pertama kalinya setelah menikah atmosfer diantara mereka terasa bersahabat.
"Em..." Jackie hanya berdehem lalu kembali menggelung kedalam selimutnya tanpa melepaskan genggaman tangan istrinya.
"Jack, tanganku. Lepaskan! aku mau bangun.." Protes Ayana ketika merasakan panggilan alam mulai menyebut namanya.
Sang suami malah menggeliat di dalam selimutnya dan menyahut. "Nanti Ay, aku masih mau peluk." Tolaknya dengan meletakkan tangan istrinya di dadanya lalu mencium pergelangan tangan Ayana.
"Jack, tapi aku kebelet...." Kata Ayana yang mulai meringis menahan sesuatu.
"Ah...!" Jackie berdecak kesal lalu melepaskan tangan Ayana.
Ayana segera bangkit dan mengikat rambutnya asal, lalu menjinjing sebelah roknya yang panjang untuk memudahkannya berjalan. Ayana masih tertatih dan pincang. Jackie tidak membantunya dan hanya diam saja melihat kesibukan sang istri.
Toh Ayana juga tak membutuhkan bantuan. Terlihat cuek tapi sebenarnya Jackie sangat khawatir. Andai saja Ayana bersikap manja dan merengek meminta bantuannya, sudah tentu Jackie akan sangat senang membantunya.
Selesai dengan ritual di kamar mandi, Ayana rupanya sekalian mandi setelah acara pesta semalam dan dia yang kelelahan setelah menangis dalam pelukan sang suami membuatnya lupa untuk mandi.
Ayana melongok dari kamar mandinya, walaupun lukanya belum boleh terkena air, tapi Ayana memiliki caranya sendiri untuk menjaga agar lukanya tetap kering.
"Jack! Hust...!" Bisik Ayana yang melongok dari pintu kamar mandi.
"Apa?" Sewot Jackie menyahut masih dari dalam selimutnya.
"Hei! lihat sini!!" Ayana mendesis. Bukan maksudnya untuk menggoda tapi dia lupa untuk membawa baju ganti tadi lantaran terburu-buru untuk buang hajat.
"Ada apa?" Tanya Jackie yang kemudian membulatkan matanya saat melihat Ayana dengan rambutnya yang Setengah basah dan hanya terlilit handuk putih.
Godaan mana yang akan kau lewatkan Jackie? Sergap saja langsung, mangsa sudah di depan mata! Yah, begitu kira-kira setan berbisik merdu di telinganya. Jackie menahan segala hasrat yang lama tertunda. Jackie tidak mau tindakan bodohnya akan memperlambat kesembuhan sang istri.
"Tolong ambilkan koperku." Pinta Ayana tak enak hati.
"Astaga, kau mau membawa koper kedalam kamar mandi?" Jackie turun dari ranjang dan mendekati sang istri.
"Ambillah saja bajumu, aku akan keluar." Katanya yang kemudian pergi meninggalkan kamarnya.
Ayana terdiam, permintaan tolong ya di salah artikan sebagai pengusiran. Tapi apa boleh buat? jujur saja sebenarnya dia sendiri pun, belum siap dengan hubungan suami istri mereka. Ayolah, setelah berperang dingin begitu lama dan juga beberapa kali menerima aksi sadis dari laki laki yang kini menjadi suaminya membuat Ayana berfikir ribuan kali.
Meski pengakuan telah terucap,
Meski kejujuran telah terlontar,
Tapi.... tak serta Merta itu semua membangunkan kembali sisi saling percaya diantara mereka.
Ayana berganti baju dan termenung sendirian, memikirkan bagaimana jalan hidupnya. Bagaimana dia yang dulu berteman baik, kemudian pernah menjadi kekasih, dan kemudian kakak ipar sementara, lalu sekarang, menjadi istrinya.
Ayana menertawai pantulan gambar dirinya di cermin.
"Permainan apa lagi sekarang? aku dan dia sudah menikah, dia sudah meminta maaf, dan aku pun juga sudah mengakui segala kesalahanku. Tapi... mengapa aku tak merasakan suatu getaran seperti dulu?" Ayana menerawang,meraba perasaannya sendiri.
Berpakaian sederhana, menggunakan dress rumahan dan riasan tipis, membuatnya terlihat ayu.
"Ay, apa sudah?" Suara yang akrab ditelinganya merambat menyapa Indra pendengaran.
__ADS_1
"Iya!" Sahutnya yang kemudian membuka pintu kamar.
Jackie terlihat terburu-buru dan langsung masuk kedalam kamar mandi saat pintu kamar terbuka.
...πΊπππΊ...
Saat sarapan pagi.
"Pagi!" Sapa Bunda Winda dengan senyuman manis menyapa setiap anggota keluarga.
"Pagi, Bun." Kata Ayana membalas sapaan ibu mertuanya dan kemudian ikut sibuk menyiapkan sarapan pagi.
Ayah Dhani dan juga Alex keluar dari kamar mereka bersamaan. Dan tak lama setelahnya disusul oleh Jackie. Para lelaki sudah duduk manis di meja makan dengan kesibukan mereka masing-masing.
Makanan telah siap, beberapa menu telah tersaji dan mereka sudah duduk di tempatnya masing-masing. Namun, kursi Gino kosong.
"Bun, kemana Gino? apa dia pulang?" Tanya Ayah Dhani.
"Tidak tau, mungkin saja pulang. Tapi mobilnya masih. Ah, biarkan saja, mungkin masih tidur." Kata Bunda Winda menutupi kejadian yang sebenarnya.
"Alex bangunkan Kakakmu ajak dia makan." Perintah si tuan besar.
"Tidak usahlah Ayah, sudah biarkan sekali-kali bangun siang juga tidak apa-apa kan?" Bunda meneleng meminta di iyakan.
Jantungnya sudah berlompatan di dalam sana. Mungkin saja bila bisa tembus pandang, maka akan terlihat seperti sedang naik turun seperti jungkat-jungkit.
Kalau sampai Ayah tau, Gino. masih tidur di kamarnya karena ulahku. Matilah aku, bisa di potong uang perawatanku. Cemas Bunda Winda ketar-ketir.
Mendengar nama Gino disebut, membuat Ayana kembali canggung. Bagaimanapun juga Gino mantan suaminya dan... orang tua mereka sama sekali tidak ada yang tau perihal hubungan mereka. Secara tidak langsung, akan hal ini Ayana selalu merasa bersalah kepada semuanya.
Sadar akan yang dirasakan oleh istrinya, Jackie kemudian mengusap perlahan tangan Ayana yang tersimpan di atas pahanya tepat di bawah meja. Tatapan mereka saling beradu sepersekian detik. Mengalir kehangatan dan rasa nyaman yang membuat Ayana kemudian tersenyum tipis menarik sedikit kurva melengkung di ujung bibirnya.
Jackie hanya mengedip sekali lalu tersenyum manis lalu kembali fokus pada perbincangan antar keluarga.
Di kamar Gino.
Dita terbangun perlahan. Kepalanya masih berdenyut-denyut dan matanya sedikit memburam karena dia belum sepenuhnya membuka matanya.
Gino tengah tertidur di sebelahnya sambil memeluknya erat dengan satu kakinya yang mengunci pergerakan Dita.
Anggapan Gino mungkin Dita adalah bantal guling.
Reflek Dira menendang kuat Gino hingga jatuh tersungkur ke lantai dengan hidung yang membentur lantai. Hidung Gino mengucur darah segar karena mimisan. "Auh! sakit tau!" bentak Gino yang belum sadar jika hidungnya berdarah.
"Ki... kita tidur sekamar? Kamu... kamu ngapain tidak pakai baju?" Dita melotot menatap Gino.
"Aduh, kepalaku!" Gino mengeluhkan kepalanya yang berdenyut. "Hei! Yak!! Kau juga tak pakai baju!!" seru Gino menunjuk Dita yang tak pakai baju dan hanya menggunakan bra saja juga gaunnya yang tersangkut setengah dada.
"Pak, hidungmu." Terkejut melihat hidung Gino yang meneteskan darah, Dita langsung melompat turun dengan niatan ingin menolong dan menghentikan darah dari hidung atasanya.
Namun, malangnya....
Kaki Dita terbelit gaunnya yang merosot dan itu membuatnya jatuh menubruk tubuh Gino. Jangan lupakan juga hidung Dita yang terantuk kening Gino dan membuatnya juga berdarah.
"Auh! hidungku!!" Dita meringis kesakitan memegang hidungnya yang mulai meneteskan darah.
Gino terkapar hanya bisa diam merasakan beberapa benda menonjol menindihnya. Beberapa tahun vakum, tak mengurangi tingkat kepekaannya terhadap benda kenyal milik wanita. Gino, antara sakit dan juga gelanyar aneh dia sampai sulit membedakannya.
Keduanya saling tumpang tindih di lantai kamar yang super berantakan.
"Gino! Dita! kalian?" Pekik sang Bunda yang terlonjak kaget berdiri di ambang pintu.
Tidak hanya bunda tapi semua anggota keluar dan semuanya termasuk mbok Ijah.
"Rapikan keadaan kalian dan temui Ayah diruang kerja!!" Geram sang Ayah berbicara dengan nada tegas.
"Matilah aku!!" Gino mendesis tepat di samping telinga Dita membuat Dita menunduk pasrah.
"Kenapa bisa begini? ha~~~~ aku malu sekali sumpah. Apa mereka juga melihat dadaku?" Cicit Dita yang masih menempel di dada bidang Gino tanpa berani mengangkat atau menggeser sedikit tubuhnya.
__ADS_1
"Tentu saja." Desis Gino tak kalah kesal.
"Semuanya! Bubar....!!" Seru Ayah Dhani yang berjalan meninggalkan kamar si sulung dengan bersungut-sungut dan tangannya mengepal geram.
"Ayo " Jackie merangkul pundak Ayana dan memapahnya untuk meninggalkan kamar Gino.
Kenapa masih terasa nyeri saat melihatnya bersama wanita lain? Apakah aku masih sangat mencintainya? Batin Ayana dalam hati.
Ayana mengangguk dan pergi seolah tak melihat apapun. Tapi...., jauh di lubuk hatinya, dia masih meraba rasa sakit yang tersisa.
Jackie kembali ke kamarnya bersama dengan Ayana. Begitu pula dengan Alex yang juga kembali masuk kedalam kamarnya. Hanya bunda yang masih berada di dapur untuk membuatkan teh hangat siapa tau bisa meredam sedikit emosi sang suami.
"Nyonya, saya jadi merasa berdosa." Kata mbok Ijah menyesali perbuatannya. Dia ingat bagaimana semalam majikannya menipunya. "Saya kira pil semalam untuk Mas Jackie dan mbak Ayana. Tapi nyonya malah memberikannya untuk mas Gino."
"Mbok, tidak apa-apa. Mbok tenang saja, lagian juga mbok tau kan mereka sendiri yang bilang sudah mantap untuk menikah. Saya hanya melancarkan saja dengan mempercepat prosesnya Mbok. Sudah mbok tenang saja." Kata Bunda Winda meyakinkan pembantunya buang lugu.
"Benarkah Nyonya?"
"Iya, kalau untuk Ayana dan Jackie, ada sih obatnya Mbok biar cepat hamil. Tapi nanti saja kalau Ayana kakinya sudah sembuh." Lirih Bunda Winda berbicara sembari mengaduk teh buatannya.
Di ruang kerja Ayah Dhani.
Suasana tegang saat Ayah mengamuk sejadi-jadinya.
"Kalian ini tau aturan tidak!" Bentaknya dan menggebrak meja.
Dita mengkerut dan bersembunyi di balik bahu lebar Gino. Dia takut melihat sendiri kemarahan sang atasan yang selama ini menjadi legenda di kantor pusat.
"Maaf Ayah, kami tidak sengaja." Jawab Gino yang terkesan berani.
"Tidak sengaja? tidak sengaja apanya?? kalian ini sudah besar dan tidur bersama kalian bilang tidak sengaja?" Ayah Dhani melonggarkan dasinya.
"Ma... maaf Pak." Lirih Dita berbicara dengan suaranya yang bergetar. Dia malu juga takut. Tak pernah seumur hidupnya mengalami hal seperti ini.
Keduanya berdiri dengan hidung yang tersumpal tisu. Dita dan Gino mimisan. Bukankah ini hal manis? desah senang bersama?
"Katakan pada Ayah sejauh mana hubungan kalian? jawab dengan jujur!"
Dita ingin membuka suara tapi Gino segera mencegahnya dengan berbicara lantang. "Kami sudah berencana akan menikah Ayah. Hanya saja waktunya belum tepat untuk kami membicarakan hal ini."
Ayah Dhani sedikit menurun nada bicaranya. Dia duduk dan menyesap teh buatan istrinya. " Benarkah? buktikan! buktikan kalau kalian memang serius!!" Dia menghardik dengan melirik tajam si anak sulung.
"Benar Ayah, Kakak memang sudah serius dan akan menikah dengan Dita. Iya kan Nak?" Bunda menimpali dan mengedipkan satu matanya mengkode anak sulungnya agar mengikuti permainannya.
"Kapan? kapan itu? apa setelah Dita hamil? Gino!! kamu ini duda! Ayah yakin kamu sudah berpengalaman soal hubungan intim. Kamu sudah banyak memiliki trik. Ayah tidak senang saja jika anak Ayah melakukan hal licik dalam menjalani suatu hubungan."
"Ha.... hal licik? Alis Dita menukik dan hampir bertaut dia memicing tak paham.
"Apa sebutan yang pas untuk lelaki yang sudah berpengalaman dan berhubungan dengan wanita tapi tidak mengikatnya jika bukan hal licik namanya? mencari keuntungan sepihak."
"Gino tidak berbuat begitu Ayah." Tolak Gino tak ingin tersudut.
" Tidak ingin begitu, tapi kamu sudah begitu!!"
"Kami hanya tidur bersama." Gino membela diri.
"Tidur bersama? hanya...? Oh~~~~ Anakku sudah pandai menggurui Ayahnya. Tidur bersama, dua orang dewasa tidur bersama dalam satu kamar.. oh bukan satu ranjang. Lelaki dan perempuan dengan tempat yang begitu acak-acakan dan tidak melakukan apapun? Ayah tidak percaya kamu sepolos itu." Ayah Dhani memandang remeh.
"Jika kamu masih sayang padaku dan Bundamu, menikahlah denganya secepatnya!! Aku tidak mau ada kisah hamil di luar nikah. Atau jika kamu tetap menolak, akhiri saja hubungan kalian." Final ucapan sang Ayah yang di akhiri dengan kepergiannya meninggalkan dua anak manusia di ruang kerja.
Gino terduduk selepas kepergian Ayahnya. Dia memikirkan segala imbasnya jika putus atau terus.
"Bagaimana Pak? sumpah aku sangat malu sekarang." Dita merengek dan pipinya basah dengan air mata.
"Bisa diam tidak? Aku juga bingung, entah apa yang kita lakukan semalam tapi aku hanya mengingatnya seperti serpihan yang terpotong-potong seperti mimpi yang terputus-putus. Aku hanya merasa gerah laku membuka bajuku. Setelahnya aku tidak mengingat apapun."
"Aku pun sama aku hanya ingat tubuhku basah dengan keringat lalu aku membuka bagaina tas gaunku dan Setelahnya, sama sekali tidak ada yang utuh hanya seperti kilasan-kilasan." Ujar Dita menimpali.
"Mari kita menikah." Kata Gino tiba-tiba.
__ADS_1
Dita melongo tak percaya.
"Haruskah?" Dita menganga " Tap... tapi aku...." Gugupnya.