
...🌼🌼🌼...
...🌼🌼🌼...
Di sebuah gang yang sepi. Malam hari, jam masih menunjukkan pukul 22 malam dan sudah tidak ada orang yang berlalu lalang mengingat gang itu juga terletak bersebelahan dengan pemakaman umum.
Berjalanlah seorang gadis dengan tergesa-gesa dan mendekap erat tas yang di bawanya. Dia sesekali menengok kebelakang dan mempercepat langkahnya. Dia ketakutan.
Suasana juga tak bersahabat. Lagit mulai meneteskan cadangan airnya. Terjatuh tepat di kulit si gadis yang ketakutan.
" Ah malah gerimis lagi, mana masih jauh." Dia menggumam sambil terus berjalan dengan sandal jepit andalannya.
"Sial, gara-gara mereka para orang kaya itu. Aku harus kehilangan kesempatan untuk menyelesaikan magang ku. gara-gara mereka aku harus berpindah tempat ke kosan yang jauh dari pemukiman itu." Lagi dia mengomel sepanjang jalan.
KRESEK!
Terdengar suara ranting dan daun kering yang terinjak dengan langkah kaki yang teratur dan semakin mendekat.
Diah, di gadis itu kian ketakutan dan menoleh beberapa kali sampai tak memperhatikan jalanan yang ada di depannya.
"Aduh!" Kakinya tersandung batu. Diajatuh dan terkilir dan bersimpuh di jalanan yang masih basah sisa hujan tadi sore.
" Hai Nona cantik!!" Muncullah tiga preman yang tak jelas darimana datangnya. Tapi mereka semua terlihat sedang mabuk dan sengaja mengepung Diah. Membuat diah mati langkah.
Salah satu preman mendekat dan mentoel dagu Diah. " Sendirian aja nih? butuh penghangat tidak? ini cocok dengan suasana yang dingin sekarang." Ucapnya menggoda sambil melintir kumisnya yang. Hemmm
menyebalkan untuk di pandang.
Satu preman berambut gimbal mendekat. " Iya, kita sudah berpengalaman dalam menghangatkan loh. Microwave saja lewat...!" Ujarnya sambil menyeringai menyeramkan.
"Si.. siapa kalian?" Diah ketakutan dan mendadak kakinya melemas seperti bihun. Dia tak bisa bangkit bahkan suaranya pun menjadi sangat pelan karena kehilangan kekuatan untuk sekedar berteriak.
"Kami? Kami adalah para pangeran dari langit. Buahahahah! tidak lihat kami begitu tampan?" Ujar seorang preman dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi menembus awan.
"Ka... kalian mau apa? Apa kalian mau uang? ini ambillah aku hanya punya ini." Diah lalu merogoh saku bajunya dan ada beberapa lembar uang berwarna kemerahan yang sebenarnya itu adalah uang hasil meminjam dari bosnya si pemilik kios buah.
Dari kejauhan seorang wanita paruh baya memantau. " Seharusnya Alex sudah lewat disini." Gumamnya sambil melihat penanda waktu di ponselnya.
" Jangan sentuh atau lakukan apapun sebelum anakku melintas. Sedan putih plat xxxxxxxx sebentar lagi akan sampai. Kalian ulur waktu saja." Ucap si wanita paruh baya.
" Baik Nya, tapi tidak bisa lama-lama kalau terlalu lama kami akan habis di hajar warga." Sahut seorang preman dengan lirihnya berbicara pada earphone yang tersambung pada panggilan suara.
WUZZZ!!
Sebuah sedan melintas dan berhenti di bawah pohon tak jauh dari gang. Si pengemudi yang tampan turun dengan estetik. Menggunakan setelan baju tidur dan rambut yang sudah berantakan. Pasalnya Alex terbangun dari tidurnya karena panggilan dari sang Bunda.
Alex turun dan mengamati sekeliling. "Dimana katanya mobil Bunda mogok?" Desinya seorang diri dengan mata yang memindai kesana kemari.
Di sebrang jalan dari dalam gang yang lain. " Mulai segera mulai buat keributan. Soal warga tenang saja aku sudah booking tempatnya mereka taunya sedang ada syuting mini seri." Ucap Bunda Winda pada preman utusannya.
"Oh, bagus nyonya. Siap!" Jawab si ketua preman.
"Tapi ingat! toel saja jangan belai!" Ucap bunda Winda memperingatkan.
__ADS_1
"Siap!" Jawab si preman.
" Lagi, kalian boleh pukul anakku hanya di bagian lengan, paha dan bokong. Jangan sampai mengenai perut, dada atau tulang ekornya. Kalau sampai anakku cidera serius kalian yang akan aku habisi!" Ucap Bunda Winda mewanti-wanti.
" hidung dan bibir bagaimana? apakah hasil operasi plastik?"Tanya si preman.
" Kau pikir anakku berwajah tampan adalah hasil dari operasi bagitu? Wajahnya asli!! semua anggota tubuhnya asli kau tau!! Tapi untuk hidung dan bibir Boleh, tapi jangan sampai giginya lepas!" Lagi sang Bunda mengingatkan.
"Siap Nyonya!" Sahut si preman dan kemudian memulai aksinya.
Tak lama berselang terdengar keributan dan membuat Alex berlari menghampirinya.
"Ayolah Nona cantik." Ucap seorang preman yang mentoel pipi Diah dan di saksikan oleh Alex.
" Sial!! Dasar bajingan kalian!!" Seru Alex sambil berlari dan menghajar ketiga preman.
"Siapa kau berani ikut campur? kau tak tau siapa kami?" Bentak si preman dengan gaharnya.
"Aku tak perduli siapa kalian! Tapi jangan pernah berani kalian sentuh wanitaku!!" Seru Alex tak kalah lantang sambil terus beradu jotos dengan para preman.
Diah dia membeku dan menjadi patung saat ini. Kakinya yang sakit memaksanya untuk bergerak dengan cara merangkak di jalanan tanah yang becek dan basah.
Pertandingan berlangsung seru dimana Alex yang menjadi pahlawan mulai lelah melawan tiga orang sekaligus. Bibir dan hidungnya berdarah dan dia tersungkur setelah perutnya terkena tendangan salah seorang preman.
"Tolong!! Tolong!!" Diah berteriak histeris dan membuat ketiga preman lari terbirit-birit ketika melihat sesosok pria muncul dari dalam gang.
"Ada apa mbak?" Tanya si pria yang tergopoh-gopoh mendekati dan melihat keadaan Alex yang lebam lebam.
Aduh, parah juga si preman. Kalau nyonya tau kira-kira bermasalah tidak ini ya? Tuan muda sampai babak belur begini.
"Kita kerumah sakit." Kata si pria misterius.
"Pak Alex, mana mobilmu?" Tanya Diah yang juga berjalan pincang dan masih membantu memapah Alex.
"Itu, disana." Alex menunjuk mobilnya. "Pak, terimakasih sudah menolong saya. Tapi saya masih kuat untuk kerumah sakit sendirian." Ucap Alex memberikan kode kepada si pria misterius.
"Anda yakin?" Tanyanya memastikan.
Alex mengangguk. " Untuk hal ini biar saya yang atasi. Terimakasih untuk pertolongan Bapak." Ujar Alex berterimakasih.
Alex membuka pintu mobil dan di hadang oleh Diah yang tiba-tiba berdiri di hadapannya." Pak, aku ikut." Ucapnya sambil menangis tersedu.
Alex mengulum senyumnya bercampur dengan rasa sakit di area bibirnya jadi yang terlihat adalah Alex yang sedang menahan rasa sakitnya. Dia senang sebab wanitanya mulai masuk kedalam perangkapnya.
Bunda, Terimakasih.
Tak apa walau bibirku sobek. Batinnya bergemuruh senang.
"Sakit sekali ya? Maaf gara-gara aku kau jadi begini." Diah tertunduk lesu.
Alih-alih bersikap hangat. Kini Alex justru bersikap dingin bukan main. " Awas! minggir!! kau menghalangiku masuk mobil. Cepatlah naik kalau mau ikut." Ucapnya dingin tanpa menatap Diah.
Tadi dia menolongku. Tapi sekarang? dia mengacuhkanku? Tidak tahukah Dia aku sangat merasa bersalah saat ini? Batin Diah merintih perih manakala melihat ekspresi wajah Alex yang mengabaikannya.
" Ba... Baik." Diah tergopoh-gopoh berjalan pincang memutar dan segera duduk di bangku sebelah Alex.
__ADS_1
Alex hanya diam dan sesekali meludah keluar mengeluarkan darah yang mengalir di dalam mulutnya. Dan hidungnya... jangan tanyakan lagi. Dia menolak ketika Diah berusaha untuk mengusapnya dengan tisu. Alex menggunakan satu tangannya untuk menyeka darah dari hidungnya.
" Maafkan aku. Gara-gara aku kau jadi begini Pak." Ucap Diah penuh penyesalan.
"Baguslah kalau kau sadar semua luka ini gara-gara kau!" Ketus Alex berbicara.
Diah menerawang. Seingat dia, dulu Alex begitu hangat dan manis. Tapi mengapa sekarang dia begitu dingin dan masam? Ah, sudah seperti rasa minuman saja.
"Sini biar aku bersihkan." Ucap Diah mencoba sekali lagi.
"Tidak usah! tanganku belum patah aku masih bisa melakukannya sendiri." Lagi dan selalu ketus menjawabnya.
Diah menatap dalam Alex penuh arti. Alex sebenarnya tau jika Diah sedang menatapnya tapi sia sebisa mungkin menahan diri untuk tidak menyerah dan seketika melunak begitu saja. Mungkin Diah ini adalah tipe wanita yang suka mengejar daripada di kejar.
Oke, baiklah. Maka dari itu Alex sengaja membuatnya berhutang Budi. Dengan begitu secara tidak langsung akan mengikat keduanya dan meningkatkan intensitas bertemu.
"Tapi aku mau! sudahlah jangan menolak, fokus saja pada kemudimu!" Ucap Diah memerintah.
Alex berdecih. " Cih!" dia lalu menepikan mobilnya. " Berani kau memerintahku? Aku ini jauh lebih tua darimu!! Apa kau lupa kau juga sudah pernah membuatku jauh lebih sakit dan menderita daripada ini!" Sengaja Alex mengungkit semuanya agar Diah semakin merasa bersalah.
"A... Apa maksudmu?" Tanya Diah dengan polosnya. Dia sama sekali tak mengerti arah pembicaraan Alex.
"Turun!!" Bentak Alex tanpa melihat Diah.
Diah menggeleng cepat. "Tidak! aku tidak mau turun disini."
Alex mengulurkan tangannya menengadah. " Ya sudah berikan aku ganti rugi sebagai biaya pengobatan."
Diah seperti tersudut. Ganti rugi? ganti rugi macam apa yang dia minta? sedangkan bila mengungkit masalah uang, Diah sama sekali tak punya. Hanya tiga lembar uang merah, itupun hasil meminjam dari bosnya.
"Aku tidak punya uang." Jawab Diah dengan lesu.
Alex terkekeh dan meludah sebelum berbicara untuk mengeluarkan darah dari mulutnya. "Aku tidak mau ada hutang Budi diantara kita. Jadi kau harus membayarku." Ucapnya yang terdengar licik.
"Tapi dengan apa?" Diah semakin lesu dan nada bicaranya semakin melemah dia tak punya sandaran atau bahkan penolong. Dia sebatang kara, pekerjaan pun tidak terjamin.
Alex kembali melajukan mobilnya." Dasar miskin!" Cetusnya menyayat hati Diah. " Kau bisa membayarnya dengan jasamu. Mulai malam ini kau harus merawatku sampai sembuh!! kau bertanggungjawab atas luka-luka di tubuhku ini kau tau?" Ucap Alex terkesan memaksa.
*Baiklah, kuturuti saja. Aku tidak punya pilihan. Uang pun aku tak punya. Setidaknya jika aku merawatnya beberapa hari maka makanku akan terjamin, juga dengan tempat tinggal.
...🌼🌼🌼*...
"Ini di rumah siapa?" Tanya Diah dengan mata yang memindai setiap sudut ruangan.
Alex terkekeh-kekeh. " kau pikir aku penyusup? Tentu saja ini rumahku! mulai sekarang, sampai aku sembuh kau harus tetap berada di rumah ini. Merawatmu sampai sembuh juga membersihkan rumah ini."
"Tapi itu tak adil. Dokter bilang tadi lukamu tidak begitu parah." Gumam Diah membela diri.
Alex tertawa terbahak-bahak, suaranya menggema memenuhi ruangan. " Hei gadis kecil! buka telingamu!" Alex duduk dengan angkuhnya.
"Lukaku memang tak begitu parah. Tapi wajahku butuh perawatan mahal, berkali-kali lipat lebih mahal daripada tagihan rumah sakit tadi kau tahu?" Alex lalu berdiri di samping Diah dan berbicara." Besok juga aku harus bertemu klien penting. Karena kejadian ini aku menundanya setidaknya sampai lukaku kering."
"Apa kau bisa menghitung berapa jumlah kerugianku selama aku menunda pertemuan penting itu?" Ucapnya kemudian berlalu meninggalkan Diah di ruang tamu.
DEGH!!
__ADS_1
Mengapa aku selalu merasakan sakit setiap kali dia mengungkit soal materi?