Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
99. Hanya kemungkinan besar (Alex)


__ADS_3

...~~~...


...POV Ayana....


Rupanya seharian ini dia begitu mendambakan sesuatu. Hahahaha! jujur aku menertawainya dalam hatiku. Begini ternyata ekspresi wajahnya ketika menahan amarah?


Suamiku si gigi kelinci kini menunduk lesu dengan afeksi yang terlihat jelas dari matanya. Belum selesai dengan makanya tapi dia sudah menenggak air putih banyak banyak.


Dari artikel yang aku baca, tak baik melakukan HB saat dalam kondisi kenyang. Kenapa? jelas saja ketika kamu kekenyangan maka kerja otakmu akan fokus pada sistem pencernaan, bukan sistem reproduksi. HB akan semakin menggelora jika kamu sedang dalam kondisi cukup tenaga. Tidak lapar dan tidak kekenyangan.


"Sudah makanya?" Aku sengaja menggodanya dengan segera meminta piringnya dan membereskannya.


Terlihat sekali dia begitu kesal dan memasuki kamar sambil membanting pintu. Jujur saja, aku juga merindukan sentuhanmu sayang. Tubuh kekarmu, menyentuh tegas garis rahangmu, dan ya satu yang paling kusukai bahu lebarmu yang di padukan dengan tengkukmu.


Aku suka bermain disana, menyentuhnya perlahan dengan bibirku dan aku lebih suka lagi melihatmu menggeliat menahan sengatan yang kubuat.


Aku menyusulnya dan mengurungkan niatku untuk membereskan meja makan. Aku yakin, setelah ini kita akan kelaparan.


Aku menyusulnya, saat ku memasuki kamar telingaku menangkap suara gemericik air dari kamar mandi. Dia berdiri dengan membelakangi kaca pembatas tapi dalam buram siluet tubuhnya masih terlihat jelas.


Tak perlu berlama-lama, agaknya aku harus memadamkan api kemarahan yang bertengger di atas kepalanya. Aku masuk begitu saja lalu memeluknya dari belakang.


Kutunjukkan bakatku dan membuatnya menggeliat menahan sengatan dari setiap sentuhan.


" Masih marah?" Bisikku di telinganya. Dia diam tak menjawab pertanyaanku. Tapi aku tau dia menyukai sentuhan ku.


Di tengkuk itu aku bermain, di tengkuk itu aku membuat tanda kepemilikan.


Tanganku pun tak bisa diam, dia mulai mengusap sesuatu yang menonjol menuntut pelepasan. Selama berhari-hari dia berpuasa dan kini saatnya berbuka.


Tiba-tiba saja dia membalikkan tubuhku sehingga kami saling berhadapan. Roti sobek yang kurindukan. Harus dan sangat ku akui, di saat begini suamiku sangatlah Errrr!


"Sengaja menggodaku ya?" Tanyanya dengan senyum manisnya.


Aku membalasnya dengan mengangguk lalu mulai mengecup singkat bibirnya. Sengaja kulakukan itu agar dia lebih menyukainya.


"Sayang, coba lihat ke bawah." Kataku sambil mengerling menggodanya.


Dia menurut lalu menundukkan kepalanya. "Wah, kamu memakai baju haram Sayang?" Tanyanya seolah tak percaya.

__ADS_1


Ku angguki saja. Apa salahnya memanjakan suami, ya kan?


...~~~...


...POV Author....


Dua insan tengah bergerumul bergelung dalam selimut yang sama. Keduanya masih terengah-engah dengan peluh yang tersisa membasahi setiap lekuk tubuhnya.


"Terimakasih." Kata Jackie yang kemudian mengecup kening Ayana dengan sayangnya. "Uangnya ambil sendiri di dompet." Imbuhnya lagi dengan berbisik di telinga Ayana.


Ayana mendelik lalu memukul dada Jackie. " Ini mulutnya, ngawur aja!" Protesnya sambil meremas gemas mulut sang suami.


"Ha-ha-ha, habisnya pakai baju haram segala." Cicit Jackie mengomentari performa Ayana di saat penyatuan tadi. "Kapan kau membelinya?"


"Tadi, kenapa?" Ayana.


"Tidak, aku suka. Besok pakai lagi ya." Jackie.


"Besok libur." Tolak Ayana.


"Libur?"


"Eoh? satu Minggu dua kali?" Jackie terkejut. Dia sudah sangat berapi-api tapi dipaksa padam begitu saja.


Ayana Tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah suaminya. "Menurut sajalah dengan kata-kata Dokter. Dia sudah tau kan yang terbaik untuk pasiennya?"


"Hem" Sahut Jackie hanya bergumam ria dan di susul hangat peluknya.


...~~~~...


Di lain tempat, dua orang sedang berdiskusi sekedar untuk menentukan dimana tempat mereka akan menghabiskan malam berdua.


"Mau kemana Di?" Tanya Alex pada calon istrinya yang berselisih usia 14 tahun darinya.


Diah terlihat beranjak dari duduknya lalu mengikat asal rambutnya. "Mau ambil minum Tuan." Ucapnya sambil memutar bola matanya jengah.


Sesaat laju kemudian Alex ikut berdiri. " Aku saja lah. Kamu duduk saja. Kasihan kan bayi kita kalau Kamunya kelelahan?"


"Astaga! Bapak Alex Putra Armanto, kan sudah kukatakan dari kemarin. Aku hanya mengatakan kemungkinan terbesarnya bahwa aku ini bisa hamil bulan ini. Tapi hal itu tidak menjamin bahwa aku akan benar-benar hamil kan? masih ada sedikit peluang untuk tidak hamil." Diah mengaskan tapi yang diceramahi nya sudah menjadi tuli dan malah kembali kepadanya sambil membawakan segelas air lalu menyodorkannya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Iya aku tau, Kamu juga jangan marah-marah. Kita tinggal menunggu hari kan? Beberapa hari lagi kita sudah sah. Jika ada kemungkinan tidak, maka masih bisa melakukan remedial kan?" Kata Alex yang berbicara dengan senyum miring dan alis yang di naik turunkan menggoda Calon istrinya.


Diah hanya terdiam lalu menenggak air minumnya dengan cepat sampai tandas. Jimmy tertawa terbahak-bahak melihatnya. "Ini gelasnya bocor atau bagaimana?" Celotehnya yang kemudian meminta gelasnya lalu meletakkannya di atas meja.


Bahkan hanya sekedar meletakkan gelas saja, Alex tak mengijinkan. Diah sama sekali tak menduga jika hal semanis ini akan menghampirinya. Diah, yang sedari kecil selalu melihat adegan kekerasan yang menimpa almarhum ibunya kini bersyukur dan tersenyum senang.


Apa yang Dia takutkan sedari dulu dengan pemikiran bahwa mungkin saja dia akan bernasib malang, sama seperti mendiang sang ibu, membuatnya terlalu selektif dalam urusan pria. Itulah mengapa keraguan terbesarnya adalah ketika Alex mendekatinya. Bukankah pria yang banyak uang itu identik dengan memiliki banyak simpanan?


Tapi siapa sangka, kekhawatirannya berganti dengan rasa bahagia yang masih urung di luapkanya. Diah masih menahan diri lantaran hubungan mereka yang belum sah dimata agama.


Walaupun sejak malam itu semuanya sudah jauh berbeda. Rasa tak percaya dirinya perlahan terkikis dan lenyap di telan badai perhatian yang Alex berikan. Perhatian yang begitu besar dan meluap, menelan segala keraguan.


Melihat tawa dari calon suaminya, perlahan hati Diah menghangat sebenarnya dia sudah sangat ingin menghambur dan mencari kehangatan di dalam dekapan sang calon suami. Mendekap erat dan berbagi kerisauan.


Tapi tidak, Diah memilih untuk menahan diri sampai hari pernikahan itu benar-benar terjadi.


"Bocor!" Ucapnya jengkel.


"Kenapa tidak segera tidur dari tadi?" Tanya Alex dengan lembutnya pada Diah yang masih cemberut.


"Tau Ah! Gimana mau tidur sih bapak calon suami, lihat sedari tadi anda itu menempel seperti stiker bocil ep ep. Terus bagaimana cara saya untuk tidur?" Ucap Diah penuh afeksi kekesalan yang sebenarnya berbanding terbalik dengan has*at hatinya yang ingin di sayang dan suka di perlakukan seperti sekarang ini.


Bukanya marah atau tersinggung dengan perkataan calon istrinya, Alex lagi-lagi mengulum senyumnya dan semakin mendekap erat meskipun tak ada balasan sama sekali dari si perempuan. Diah hanya diam dan pasrah.


"Kamu marah-marah teyus, jadi gemush, pengen peyuk." Cicit Alex yang berbicara dengan nada manja dan jujur saja saat melihat Alex berbicara seperti itu Diah sangat ingin mengecup ranum bibir calon suaminya itu.



Ah, tidak Di... jangan sekarang. Ya meskipun dia sangat menggoda dengan menunjukkan wajahnya yang begitu menggemaskan. Usianya berapa sih? Kenapa kelakuannya unyu-unyu kiyowo begini?


Ada rasa menggebu di dalam dadanya, tapi semua itu masih di pendamnya dalam-dalam.


"Huek!" Celetuk Diah menirukan orang yang merasakan mual. Hal itu ditunjukannya agar Alex tersindir dan menghentikan aksinya yang sok imut.


Tapi tidak reaksi Alex Malah sebaliknya. "Kenapa? Eoh..., kamu mual? Udah mulai ngidam atau bagaimana sayang? Wah...., aku akan jadi Ayah....!" Ucap Alex berseru merayakan sesuatu yang belum tentu.


"Astaghfirullah....! Belum loh, belum..." Diah menyentak sambil mengelus dadanya kesal.


Sebegitu senangnya dia menyambut sesuatu yang belum jelas kapan datangnya. Lalu nanti jika kami sudah menikah dan ternyata aku tidak segera hamil bagaimana?

__ADS_1


__ADS_2