
...🐣🐣🐣...
Lampu ruang operasi telah padam. Itu menandakan bahwa tindakan di dalamnya juga telah selesai. Diah tak lagi menjerit atau merintih menahan rasa sakit. Tapi kini dia menangis dalam pelukan sang suami.
"Kamu, kuat..., menangislah jika ingin menangis. Pasti itu sakit sekali kan?" Ucap Alex yang tengah memberikan usapan hangat pada pundak sang istri.
"Sakit sekali." Kata Diah mengadukan rasa yang di alaminya.
"Istriku kuat, istriku hebat." Kata Alex yang terus menguatkan sang istri padahal dia sendiri tengah bercucuran air mata kala melihat bagaimana luka tersebut mendapatkan penanganan tanpa anestesi.
Jackie dan Gino juga Dita, mereka tiba di rumah sakit setelah dua jam mengemudi. Suasana menjadi sangat hening kala Ayah dan Bunda mereka saling berseteru.
"Bagaimana keadaan Diah?" Tanya Dita pada Alex yang tengah duduk di ruang tunggu sementara sang istri masih di pindahkan ke kamar rawat.
"Tidak baik, Dia harus mendapatkan penanganan tanpa Anestesi karena kehamilannya yang masih sangat muda. Juga rumah sakit ini tidak memiliki bius yang bisa di gunakan untuk wanita hamil muda." Kata Alex yang menjelaskan semuanya kepada Kakak dan adiknya.
"Aku berdoa yang terbaik untuknya. Semoga Kak Dita lekas membaik." Ujar Jackie.
Sementara itu di tempat lain.
Ayana yang baru selesai mengunjungi Shaga merasa lebih tenang juga sekaligus khawatir dengan keadaan Shaga yang terlihat lemah di atas kursi roda.
Meskipun begitu, Shaga tetap menunjukkan sisi kuatnya bahwa dia tidak apa-apa dan baik-baik saja. Dia bisa sembuh melalui beberapa tahap terapi, tetapi itupun memakan waktu yang lumayan lama.
"Itu, cinta pertamamu? bukankah lebih tepatnya cinta tak berbalas?" Cetus Reizu yang menunjukkan ketidak sukaannya.
Shaga terkekeh melihat reaksi istrinya. "Kenapa? cemburu?"
"Enak saja! Ya enggaklah, ngapain juga cemburu. Sepertinya dia sama sekali tidak tahu jika kamu mencintainya. Oh, kasihannya cinta sebelah pihak ini." Ucap Reizu yang sengaja menyindir suaminya.
"Em... terserah." Kata Shaga yang tak menggubris perkataan Reizu dan lebih memilih untuk kembali ke mobilnya.
"Eh, mau kemana? pasti ngambek dia." Reizu menggerutu seorang diri.
Ayana memutuskan untuk kembali ke rumahnya setelah puas bertemu dengan Shaga. Setidaknya perasaannya tidak mengambang lagi. Sejujurnya Dia merasa banyak berhutang Budi pada Shaga dan juga sekaligus berhutang nyawa.
Ayana hanya bisa berbalas pesan dengan Jackie untuk memastikan bahwa keadaan Diah baik baik saja. Semuanya menjadi lebih baik kala Jackie membalasnya dan mengatakan jika Diah baik-baik saja.
Di rumah sakit.
"Bunda, tolong maafkan Ayah. Ayah sama sekali tidak ada maksud sampai sejauh ini." Kata Ayah Dhani.
Bunda Winda menatapnya malas. " Tidak ada maksud apanya? Kalau tidak ada maksud kamu tentu tidak akan membuat semuanya menjadi kacau begini kan? dan sekarang, keluarga kita tersangkut kasus ini."
__ADS_1
"Aku akan menyelesaikannya sekarang juga." Kata Ayah Dhani.
Bunda Winda lalu menatapnya tajam. " Lalu untuk Diah? apa kau sudah menerimanya? Dia sudah menikah secara siri dengan putramu."
"Be... benarkah? Jadi aku kemarin menikahkan putraku yang telah beristri?"
"Iya.. lalu apa kau senang?" Sindir Bunda Winda yang melirik sang suami yang terlihat menunduk lesu.
"Bun, tidak... bukan begitu.. sumpah aku tidak mengira jika semuanya akan begini. Ok, aku minta maaf dan aku akan menerima dia sebagai menantu di keluarga kita." Kata Ayah Dhani.
"Aku rasa kau harus mengatakannya secara langsung." Celetuk Bunda Winda..
Dengan perasaan yang bercampur aduk, akhirnya Ayah Dhani memutuskan untuk menemui Diah di kamarnya. Diah sedang memiringkan tubuhnya sebab luka itu mengenai punggungnya.
"Ayah?" Celetuk Alex saat melihat ayahnya mulai melangkah masuk.
"Iya Nak. Bagaimana keadaan istrimu?" Tanyanya.
istri? apa ini berarti Ayah sudah mengetahui semuanya? Bunda... apa Bunda yang...
"Aku baik om." Jawab Diah dengan wajahnya yang pucat.
"Jangan panggil Om. Panggil saja Ayah. Mulai sekarang, kamu juga adalah anakku. Kamu menantuku." Kata Ayah Dhani dengan menepuk perlahan pundak Diah.
Alex hanya bisa tersenyum lega melihatnya. Sedangkan istrinya yang kecil itu hanya bisa menangis tanpa suara karena terlalu. bahagia. Akhirnya dia mendapatkan keluarga yang utuh, akhirnya dia di terima oleh keluarga suaminya.
"Dia sedang tidak enak badan Ayah. Jadi dia memutuskan untuk beristirahat di rumah." Kata Jackie yang memberikan keterangan palsu semata-mata demi menjaga perasaan Kakak iparnya.
Di tempat yang lain, di sebuah apartemen.
"Hhh... aku sudah tidak sabar untuk memulai semuanya. Rupanya tidak buruk juga, menjadi simpanan pengacara." Gumam Lena sambil memainkan rambutnya.
"Sayang, aku berangkat dulu ya. Ingat jangan keluar kemanapun. Istriku itu sangat galak." Kata si pengacara yang menjadikan Lena simpanan.
"Tenang saja honey! Aku akan mematuhimu." Ucap Lena yang memulai permainannya.
Tak menuruti perkataan dari si pengacara, Lena segera keluar meninggalkan apartemen saat si pengacara pulang ke rumahnya. Berbekal informasi dari pengacaranya dulu yang sedikit di Pancing untuk mengatakan tentang alamat dan juga data lengkap dari keluarga Armanto kini. Lena langsung memantau tergetnya.
Seperti seolah sudah di restui oleh alam semesta, Saat Lena tengah melintas, saat itu juga dia berpapasan dengan Ayana.
"Kamu, bisa bisanya kamu lebih enak hidupnya daripada aku, dasar gadis tengik." Umpatnya saat melihat Ayana yang berpenampilan lebih darinya. Memang iri hati ga ada obatnya.
"Gino, dimana kamu sayang?" Gumam Lena dengan menyalakan rokoknya.
__ADS_1
Memantau dan terus memantau, hingga pada tengah malam Jackie pulang di antarkan oleh Gino. Seperti sasaran empuk, Lena kemudian beralih membuntuti Gino.
Tak ada yang terjadi di saat pertama hari penelusurannya. Hingga di hari ketiga, Lena mulai memainkan aksinya dengan memasukkan seekor ular kobra ke dalam pekarangan rumah Jackie.
Rupanya Lena ingin bermain bersih dan menggunakan kecelakaan sebagai tamengnya. Tapi...., ternyata Marvin juga telah mendengar kabar keluarnya Lena dari penjara. Marvin menjadi kelabakan bukan main.
Misi pertamanya gagal, dimana Jackie yang ternyata memergoki ular tersebut sedang bersembunyi di balik kulkas yang dengan segera membinasakan ular tersebut. Lena berdecak kesal atas kegagalan misinya. Hal ini membuatnya memutar otak untuk merencanakan hal buruk lainnya.
Hingga tepat di hari ketujuh setelah keluarnya ia dari penjara, Marvin sengaja menemuinya.
"Ma... marvin?" Celetuk Lena yang tertegun melihat Marvin berdiri di belakangnya.
"Iya ini aku." Kata Marvin dengan santainya.
"Sialan! kau berani-beraninya menemuiku setelah menjual rumahku!"
"Rumahmu? apa aku tidak salah dengar? Itu rumah kak Alvin dan aku saudara satu satunya yang memiliki pertalian darah dengannya. Jadi, aku lebih berhak daripada kamu!"
"Cih!" Lena berdecih dan menatap nyalang Marvin. Seseorang yang teramat di bencinya dan ingin disingkirkannya dari dulu agar dia lebih leluasa menikmati harta Alvin. "Kau sudah menjualnya kan? itu berarti kita tidak ada urusan lagi." Kata Lena.
"Ada, tentu ada. Kau ingin melenyapkan Gino kan? Aku bisa membantumu dan itu juga sangat mudah bagiku." Kata Marvin dengan gayanya yang santai.
Lena masih tak mengendus kecurigaan dari Marvin. Dia masih belum bisa menebak cara pandang Marvin ataupun pola pikirnya. Marvin tiba-tiba masuk dan duduk dengan santainya di dalam mobil Lena. Lena yang merasakan tidak punya pilihan selain mengikuti alur permainan yang Marvin suguhkan hanya meng iyakan saja.
"Ok, lalu apa yang kamu minta sebagai imbalannya?" Tanya Lena.
Marvin menggeleng. "Tidak ada, bisa membuat mereka menderita saja sudah lebih dari cukup bagiku." Kata Marvin dan di angguki oleh Lena.
"Marvin kita mau kemana?" Tanya Lena.
"Ke tempat seseorang yang mempunyai racun yang sangat ampuh." Jawab Marvin yang sudah mengemudi dengan menggunakan masker sedangkan Lena tidak.
"Racun? kenapa aku tidak berfikir untuk itu?" Gumam Lena yang terdengar begitu jelas di telinga Marvin hingga Marvin menyeringai menyeramkan.
"Iya, racun. Kita akan menggunakan racun yang cukup di semprotkan seperti ini, maka sasaran akan mati dalam beberapa menit." Ujarnya yang dibarengi dengan menyemprotkan sesuatu tepat di hadapan wajah Lena.
Benar saja, dalam hitungan menit, Lena langsung lemas tak sadarkan diri. Marvin dengan segera mengemudikan mobilnya menuju ke suatu kawasan yang di kelilingi oleh tebing yang curam dan lautan lepas sebagai tepian.
Mobil melaju dengan kencang, tapi sebelum itu dia sudah memindahkan tubuh Lena ke bangku kemudi, Dia membersihkan segala jejak yang ada, dia mengelap semuanya menggunakan tisu basah. Rupanya Marvin telah merencanakan semuanya bahkan sarung tangan pun telah di bawanya.
Tak ada jejak ataupun apapun itu, Untuk memastikan kematian Lena, Marvin kembali menyemprotkan racun tersebut tepat di depan hidung Lena. Jika Lena sudah mati, bagaimana bisa dia menginjak pedal gas?
Bisa, Marvin meletakkan sebuah batu yang sudah dia persiapkan di bangku belakang. Mobil meluncur dan terbang bebas menghempas bebatuan karang.
__ADS_1
Marvin berjalan dengan mengulum senyumnya yang mengerikan. "Seharusnya dari dulu aku membunuhmu. Kamu adalah sumber dari masalahku." Kata Marvin yang berjalan tanpa arah di tengah malam yang berkabut.
Asap mengepul membumbung tinggi dari ledakan kebakaran mobil yang Lena kendarai.