
...ππΌπΌπ...
...πΊ...
Dua bulan setelah kejadian itu. Keluarga Armanto tengah disibukkan dengan datangannya keluarga terdekat juga keluarga besan dari pihak Dita. Ibaratnya senjata makan tuan. Apa yang Dita usulkan dan apa yang Gino lakukan nyatanya menelan mereka mentah-mentah kedalam sebuah ikatan pernikahan.
Gino, dia lelaki yang mengutamakan keluarga. Dan terlepas dari itu semua, kesalahan yang di lakukanya tergolong sangat fatal Dimata sang Ayah. Tak ada pilihan lain selain menikah. Dita sendiri masih bingung akan kejadian malam itu sebenarnya dia melakukannya atau tidak. Dita sedari dulu adalah gadis tomboi yang tidak sekalipun berpacaran. Telinganya hanya sering mendengar cerita kotor dari teman lelakinya tapi soal pengalaman di lapangan? Gadis itu nol besar. Berbekal informasi dari internet dia terus mencari tau soal pecahnya keperawanan.
Dan saat itu juga dia tertunduk lesu. Dia ingat bagaimana masa kecilnya dulu yang mungkin bisa dibilang hilang keperawanan saat benda vital miliknya pecah keperawanan saat terlalu heboh berlatih karate.
"Sebenarnya aku masih virgin atau tidak? Tapi dulu.... aku juga berdarah dan itu sakit sekali. Apa aku... " Dita menerawang jauh sambil bercemin.
"Ah, pernikahan ini, aku ingin menikah dengan orang yang kucintai, bukan menikah dengan kesepakatan yang ambigu begini." Gumamnya menatap pantulan dirinya sendiri.
"Nak, kamu sudah siap? Calon suamimu sudah menunggu didalam." Kata ibu Dita yang mengusap punggung anaknya.
Bila saja ibu Dita tau jika anaknya dan calon menantunya itu sudah berada dalam satu ranjang sebelum ikrar suci mereka terucap, Dia pasti akan mengamuk lebih heboh daripada besannya. Ibu dan Ayah Dita. adalah sepasang suami istri yang bisa dibilang kolot dan menentang sebuah hubungan tanpa ikatan termasuk pacaran.
" Doakan kami selalu rukun dan bahagia ya Bu. Aku meminta restumu." Kata Dita yang mencium punggung tangan sang ibu.
"Iya nak, ibu selalu berdoa untuk kebahagiaanmu. Semoga ini sekali seumur hidup dan segera berikan ibu cucu." Ujar sang ibu dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Dia wanita paruh baya yang lama menantikan manusia mungil di dalam keluarganya.
Pernikahan berlangsung lancar.
"Bagiamana saksi, sah?" Tanya penghulu kepada seluruh tamu undangan yang hadir.
"SAH!!" Serempak mereka semua menyahut dengan wajah gembira.
Suasana haru terjadi. Dita menangis didalam pelukan sang ibu. Semuanya mengira bila Dita menangis bahagia. Tapi, siapa yang tahu bila si pengantin wanita menangis karena ragu?
Malam hari.
"Nak, ibu pulang ya. Kamu baik-baik nanti sama suami." Pesan sang ibu.
"Iya bu."
"Oh iya nak Gino, tolong jaga dan bimbing Dita ya. Pesan ibu supaya kalian selalu menjaga komunikasi agar tetap akur dan rukun." Ibu Dita.
"Iya, Bu. Saya berjanji akan menjadi suami yang baik baginya. Ibu hati-hati ya." Kata Gino yang terdengar hangat membuat Dita sampai tertegun tak percaya.
Ibu mertua sudah pulang kembali kerumah sebab nenek Dita sedang sakit. Gino lalu merangkul pundak Dita dan berbalik badan.
"Tidak usah dirangkul juga kali Pak!" Protes Dita yang berusaha melepaskan rangkulan suaminya dengan wajah kesal.
"Eh, dengar ya. Ini sudah terhitung sebagai pernikahan ketiga ku. Aku sudah lebih berpengalaman daripada kamu. Sekarang, kamu sudah menjadi istriku harus tunduk dan patuh terhadap suami!" Ceramahnya panjang lebar. Gino lalu berjalan di depan Dita dan menarik tangannya.
"Tapi, katamu waktu itu. Ini hanya sekedar menutupi kebohongan kita? Hanya mencari aman agar orang tua kita tidak jatuh sakit?" Dita mengekor di belakang suaminya.
"Diam atau ku cium?" Ancam Gino yang menghentikan langkahnya. Auranya terasa menyeramkan sekarang. Dita mengkerut lalu menurut.
Cium di tempat ramai begini. Apa dia sudah gila..π. Batin Dita jengkel bukan main.
"Kenapa memangnya kalau ramai? kau istriku!!" Ketus Gino menyahut lalu berjalan semakin cepat meninggalkan bandara.
What the hell? π±
Apa dia paranormal? kenapa bisa tau isi kepalaku? Dita menghentikan langkahnya dan menatap punggung lebar Gino yang kian menjauh dari pandangan.
Di kediaman Armanto.
Alex yang lelah setelah mengurus jalanya akad nikah juga sekaligus resepsi sang Kakak, kini duduk menatap langit malam sendirian di dekat kolam renang. Dia melepaskan segala energi negatifnya dengan self healing menatap cerah langit hitam berbintang.
Sayup-sayup telinganya menangkap lirih suara wanita bersenandung. Suaranya terdengar jelas dalam keheningan, membuat bulu kuduk Alex serempak berdiri.
"Apa itu kunkun?" Gumamnya ketakutan setengah mati. Keringat dingin menyembul sebesar biji jagung.
Takut, tapi juga penasaran. Alex memutuskan mengikuti arah suara yang akhirnya berhenti di kamar pembantu yang lama kosong.
__ADS_1
"Telingaku salah dengar atau bagaimana? kamar inikan kosong sudah dua tahun?" Alex bermonolog lirih dan berfikir akan kemungkinan yang bisa saja terjadi.
Tulah daripada rasa ingin tahunya membuatnya mendapatkan kecelakaan kecil saat dia tiba-tiba menerobos masuk kedalam kamar yang di sangkanya kosong, padahal di dalamnya ada Diah yang sedang menikmati waktu sendirinya untuk perawatan sebelum tidur. Diah memakai masker coklat dengan telinga yang tersumpal earpods dan mulutnya yang bersenandung lirih didalam kamar yang gelap.
"JEDUGH....!"
Kepala Alex terantuk kusen kayu karena rasa takut yang menguasai dirinya membuatnya tak tepat perhitungan saat berbalik badan. Jadilah kusen pintu mendapatkan hentakan dari sang tuan.
"Tuan!!" Seru Diah menyebut Alex yang sudah sempoyongan dan hilang keseimbangan ambruk di dalam kamarnya.
"Astaga!! dia pingsan." Diah mengamati wajah Alex dan menghidupkan lampu kamarnya.
Karena Ayana yang juga menghadiri acara tersebut, Diah juga ikut karena Diah yang bertanggung jawab atas kondisi Ayana. Diah ditempatkan di kamar pembantu yang kebetulan sudah kosong selama dua tahun terakhir.
"Matilah aku!! Kalau Tuan besar tau anaknya pingsan di kamarku... Aduh... bisa-bisa dia melapor pada pihak rumah sakit dan nilai magangku....?" Diah mengacak-acak rambutnya frustasi. Dia bahkan berjalan mondar mandir berjingkatan tak jelas dan malah mengabaikan seonggok tubuh yang terkapar di lantai.
"A....! Mana kepalanya benjol besar sekali... Aduh...." Diah berjongkok mengamati kening Alex yang benjol.
"Ah... tapi lelaki idamanku ini tetap saja tampan meski sudah benjol." Diah mengulum senyumnya dan memulai imajinasinya sambil tersipu-sipu membayangkan jika Alex menjadi suaminya dan menggunakan jas dalam akad nikahnya.
"A~h, manisnya." Diah tersenyum senang dan memeluk tubuhnya sendiri.
"Heh!" Alex yang masih berbaring langsung menoyor kepala Diah sampai Diah terduduk dari posisi jongkoknya.
Diah terbengong melihat Alex yang sudah sadar dan meringis memegangi keningnya yang benjol.
"Oh, Tuan? sudah sadar?" Diah gugup.
"Menurutmu?" Alih-alih menjawab pertanyaan, Alex malah justru balik bertanya. Dia kesal bukan main setelah merasa dirinya dipermainkan oleh perawat adik iparnya itu.
"Kamu sengaja mengerjaiku? Apa tadi, sengaja mau jadi kunkun?" Alex melotot. "Di dalam kamar kosong, nyanyi-nyanyi, lampu dimatikan, memakai masker!" Ketus Alex yang kemudian duduk dan menatap tajam Diah.
"Ma... maaf." Diah terbata-bata.
"Em... tuan aku kompres ya biar tidak bengkak." Kata Diah menilik benjolan di kening Alex.
Alex masih meradang, bagaimana tidak. Jantungnya hampir saja copot saat melihat penampakan Diah yang sedang bercosplay menjadi kunkun?
"Tenang tuan, aku ada salep dan juga spray penghilang nyeri. Pakai ini saja, besok pagi sudah pasti sembuh. Ini tidak parah, kamu mungkin tadi pingsan hanya karena terkejut." Kata Diah dengan nada bicaranya yang tenang.
Alex hanya diam menyimak dan mengamati wajah mungil yang terlihat cantik setelah maskernya terlepas ini.
Kalau di perhatikan dari dekat, dia cantik juga. Batin Alex.
Di kamar Jackie.
"Kamu sudah mandi?" Tanya Jackie pada Ayana yang tengah memakai krim malamnya.
"Iya." Singkat padat dan jelas jawabannya. Padahal Jackie menunggu pertanyaan lain yang mungkin saja tersedia untuknya. Tapi Zero...! Tak ada pertanyaan setelahnya.
Jackie menghela nafasnya berat lalu menuju ke kamar mandi. Di bawah guyuran shower dia merenung dan berfikir. Akan sampai kapan hubungan mereka membeku seperti ini?
Sudah hampir setengah tahun terlewati tanpa ada kegiatan yang berarti. Bahkan tidur pun masih terpisah ranjang.
"Apa lebih baik aku menceraikannya saja? Bukanya jika aku mengikat dan memaksakan kehendaknya itu juga tidak baik untuk hubungan kami?" Jackie termenung menimbang segala pikiran yang bersarang di benaknya.
Keluar dari kamar mandi Jackie sudah berganti baju. Dia sejenak mengerikan rambutnya dan duduk di lantai untuk mencari kasur lantai dan juga perlengkapan tidurnya.
"Ay, kamu tau dimana kasur lantai yang aku pakai kemarin?" Tanyanya.
"Tidak." Ayana menggeleng tapi wajahnya sangat datar.
"Apa dibereskan sama Bunda ya? bantal dan juga selimutnya juga tidak ada?" Jackie bermonolog dan menggaruk kepalanya yang tak gatal mencari kesana kemari di setiap sudut kamar seperti anak kecil yang kehilangan mainannya.
Ayana menatapnya datar. "Kemarilah!" Tangannya menepuk sisi sebelahnya tempatnya berbaring.
Jackie terdiam mematung tak bisa diutarakan, pria bungsu dari keluarga Armanto itu kini sebenarnya sedang kegirangan.
"Kemari...!" Lagi Ayana mengulangnya. "Kamu tidak mau?"
__ADS_1
" Mau~~~~!" Cepat-cepat Jackie menaiki ranjang lalu mengecup kening Ayana. Terlihat sekali Pria bergigi kelinci itu sangat kesenangan.
"Kasur dan juga selimutnya aku yang meminta Mbok Ijah untuk membereskannya." Kata Ayana.
"Kamu?" Jackie tak mengerti. " Mengapa begitu?"π€
Ayana berbalik badan, dia tak mau Jackie melihatnya saat ini. Pipinya sudah memerah seperti tomat busuk asal dia tau." Aku merasa, setelah 5 bulan kau mengurusku dengan baik, tak ada yang bisa kuragukan lagi dari ucapanmu." Katanya pelan.
"Jadi, malam ini kita resmi berbaikan? Kita akan tidur dalam satu ranjang begini selamanya? Eoh??"π
Jackie merasakan letupan-letupan kecil memenuhi dadanya. Dia sangat bahagia.
Ayana mengangguk.
Sudah itu lebih dari cukup bagi Jackie. Membuatnya merasa sedang menaiki wahana histeria yang memacu adrenalainya.
"Terimakasih." Jackie mengecup rambut Ayana. "Berjanjilah padaku, dimasa depan... walaupun kita nantinya bertengkar sehebat apapun, jangan pernah tidur terpisah." Katanya penuh pengharapan.
Ayana mengangguk. "Dan, kamu....., berjanjilah padaku untuk bersikap lebih dewasa dan tidak mudah mendengarkan satu pengaduan tanpa melihat alsan pasti dari kedua sisinya."
"Hem...., Cup!" Jackie mencium leher Ayana. "Aku berjanji." Katanya yang terdengar lembut dan tulus.
Di kamar pengantin baru.
"Pak, aku tidur dimana?" Dita sudah berdiri dan siap dengan bantal dan juga selimut yang di bawanya. Selimut tipis berbahan kain katun dari sang ibu.
"Di ranjang!" Sahut Gino datar dan cuek dengan fokus mata yang tertuju pada layar laptop.
" π² Di ranjang? Pak, kan kita hanya menikah bohongan " Tolak Dita.
" Bohongan?" Gino melepaskan kaca matanya lalu menutup laptopnya mengakhiri pekerjaannya.
"Apa kau lihat ada yang palsu tadi?" Tanyanya tegas dan wajahnya yang serius.
Dita menggeleng beberapa kali.
"Penghulu asli, saksi asli, akad asli, lalu apa pantas pernikahan kita disebut sebagai pernikahan bohongan?"
Dita menggeleng lagi. dia takut, atasannya ini jika sudah dalam mode serius maka akan tampak menyeramkan juga seksi dalam waktu yang bersamaan.
"Kemari!" Jari telunjuk Gino bergerak maju mundur menginterupsi agar Dita mendekat kepadanya.
"Iya." Lesu Dita menjawab dan berjalan menunduk lalu duduk di sebelah Gino.
"Apa kamu takut menikah denganku?"
Dita terdiam dan menunduk.
"Aku... aku hanya tidak menyangka saja bila dengan caraku yang hanya main-main memberikan solusi malah akan menjebak ku kedalam situasi ini." Dita lesu mengutarakan pikirannya.
"Itulah rahasia Tuhan. Mana bisa kita tau akan jadi apa dalam satu menit kedepan." Kata Gino dengan santainya yang kemudian mulai berbaring dan menatap langit-langit kamar.
"Lucu juga bila di pikir-pikir, kamu tiba-tiba menjadi istriku."
"Aku.... aku sejujurnya belum siap. Juga aku tidak memiliki perasaan kepadamu Pak."
"Jangan panggil aku pak, aku bukan Bapakmu!"
"Emmm lalu?"
" Hanya ada tiga pilihan. Sayang, Suamiku, atau Hubby."
"Suamiku saja." Pilih Dita yang malas memanggil dengan Panggilan romantis.
Tapi bukankah sebutan suamiku agak sedikit norak?
"Perasaan ya?" Gino mendekat pada Dita lalu merebahkan Dita perlahan sampai Dita berbaring dengan wajah kakunya.
"Ini bukan seperti drama. Realistis saja lah, jika kita sering bersama, maka ikatan dan rasa akan tumbuh dengan sendirinya. Benar kata ibumu tadi. Jaga komunikasi." Gino mematikan lampu tidur.
__ADS_1
"Sekarang tidurlah istriku! ini sudah malam aku mengantuk. Aku juga belum akan memakaimu, aku masih terlalu lelah untuk itu." Kata Gino yang kemudian berusaha untuk memejamkan matanya.
"Huft...! aman." Dita menggumam lalu memejamkan matanya.