
...🌹🌹🌹...
Viewers seratusan tapi yang kasih love ( favorit ) hanya dia insan. Boleh ga Author mengsedih dan berguling-guling sambil nangis?
Aku tuh ya juga capek, kadang juga otak sampe ngebul buat nyusun adegan dan kata. Tapi kalian, dukungannya mana? ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜.
Ingin ku teriak! ingin ku menangis!! tapi air mata....
Ga bakal liat juga kalian Hu hu hu hu!!
Segitu ajalah curcolku. Makasih!
Menarik diri dari hal yang rumit adalah pilihan terbaik kala keadaan semakin menghimpit. Ayana memutuskan memulai hidup baru setelah Gino menceraikanya.
Ayana menginjakkan kakinya di kota gudeg, kota yang terkenal dengan Malioboro dan juga keramahan penduduknya.
Ayana hanya tinggal di kos yang dekat dari kampusnya. Tanpa sepengetahuan keluarga Armanto, Ayana pindah kuliah. Dan biaya awal semua Gino yang mengurusnya. Sungguh sebenarnya hati mereka sudah saling mencinta tapi ada yang lebih berharga dibandingkan cinta yang mereka punya.
Sangat tertutup dan jauh dari endusan orang-orang suruhan Lena. Gino yang berhasil mengumpulkan bukti atas kejahatan Lena lantas menceraikannya.
Gino tak mau lagi semakin terjerat dalam permainan Lena. Diceraikan dan tanpa membawa apapun dari Gino membuat Lena hanya bisa meratapi segala kebodohannya.
3 Tahun berlalu.
" Ah, lelahnya....!" Cicit Ayana sembari merenggangkan otot. Sedari pagi dia membantu Bu Sri membersihkan warung barunya.
Bu Sri adalah wanita sebatang kara yang mandul dan tak memiliki keturunan. Wanita yang diceraikan oleh suaminya karena tak bisa memberikan keturunan. Seolah nasib mempertemukan mereka, Ayana yang tak sengaja tinggal di kos yang dekat dengan tempatnya berjualan soto.
" Ayo Nana, kamu makan dulu. Ini mumpung masih hangat sotonya." Bu Sri meletakkan semangkuk soto di meja makan tempatnya berjualan.
Ayana seketika mendekat dan mencium aroma soto yang semerbak. " Selalu jadi yang terbaik." Ayana mencicipi dengan sendok " Wahhh,, terbaik!" Pujinya lalu mengacungkan jari jempolnya.
" Kamu ini, selalu bisa bikin ibu tersenyum." Bu Sri tersipu malu dan kembali melanjutkan aktivitasnya sementara Ayana melahap semangkuk soto yang menyambutnya dengan gembira.
Di sebuah kota, seorang duda tampan tengah melamun.
__ADS_1
" Bobby, bagaimana dia?" Tanya Gino pada asisten pribadi yang bagaikan ekor yang setia membuntutinya.
" Baik Pak, semuanya baik. Dua hari lagi dia akan wisuda." Jawab Bobby sembari membungkuk sopan di awal kalimatnya.
" Oh, baguslah tak sia-sia aku membayar kuliahnya. Bobby, menurutmu dengan apa aku harus menebus apa yang kulakukan dulu pada Jackie?"
" Ya, kalau bisa dan adik Bapak masih memiliki rasa. Mungkin bapak bisa menyatukan mereka kembali." Jawab Bobby sejujur-jujurnya.
" Tapi, Entah mengapa aku juga masih sangat merindukan Nana. Sikapnya yang tulus dan lemah lembut membuatku sulit melupakannya." Gino kembali menyesap coffee late miliknya.
Astaga bagaimana dia ingin menyatukan sedang dalam hatinya sendiri masih merindui mantan istrinya itu.
Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
" Jackie!!" Seru Bunda menyambut si bungsu dengan senyum yang mengembang sempurna dan tangannya terbuka lebar.
" Bun!" Sahutnya yang kemudian berlari dan memeluk sang Bunda.
" Bunda bangga sama kamu Nak, akhirnya kamu selesai juga. Anak manisnya Bunda." Puji Bunda Winda sembari mengelus punggung kekar Jackie.
Tiga tahun tak pernah pulang sama sekali. Kini sudah banyak perubahan yang terjadi padanya. Karena kejadian itu Jackie menyalurkan kekesalannya dengan cara mentato beberapa bagian kulitnya. Tak lupa juga menindik telinga.
" Astaga! kau menindik telingamu?" Bunda Winda melotot mendesak Jackie. Yang didesak sih hanya nyengir kuda seolah tak memiliki dosa.
" Alex! kau nasehati adikmu ini. Bagaimana bisa dia malah menindik telinganya, Nanti kalau kita ada pertemuan dengan rekan Ayahmu bagaimana?" Bunda Winda panik juga kecewa melihat tingkah anak bontotnya itu.
" Relax Mom, take it easy. I am too, look at this." Kata Alex yang dengan enteng menunjukkan tindikan di telinganya membuat Bunda Winda syok.
Selama ini Alex terkesan penurut dan tak banyak mau. Baginya putra keduanya adalah sosok anak yang baik dan manis. Tapi ini?
" Allahuakbar!! Kalian!!" Bunda Winda memukuli kedua bujangnya dengan membabi buta tanpa melihat tempat. Sontak saja semua orang melihat kejadian yang menggelikan itu, dua orang bujang bertubuh kekar di seret sang Bunda dengan telinga yang dijewer.
" Auh...! Auh....! Ampun Bun...!" Rengek Alex kesakitan.
" Bunda.... Ampun... ini cuma tindik. Bukan pembunuhan." Ucap Jackie yang kemudian membuat langkah Bunda Winda terhenti dan menatapnya tajam.
" Terserah apa definisinya tapi Bunda tidak suka. Memang hanya Kakak kalian contoh tauladannya. Dan kau Alex, sejak kapan kau mempunyai tindik?"
__ADS_1
" Bunda, Kak Alex yang punya terlebih dahulu..., bukan aku. Aku hanya menirunya karena terlihat keren." Jawaban Jackie menumbalkan Alex.
Bunda Winda yang geram lalu menjewer lagi Alex dan Alex gantian menjewer telinga Jackie " Apa katamu? Dasar tukang cari muka!!" Geram Alex yang kemudian melakukan kakinya mengikuti langkah bunda Winda. Sementara itu si bungsu hanya bisa mengaduh kesakitan.
" Tuhan, aku memang selalu menginginkan anak perempuan tapi setelah kau memberikan aku tiga anak lelaki aku sudah merasa cukup. Tapi sekarang mengapa anakku menindik telinganya seperti perempuan? Aku tak ingin anakku bersikap kewanita-wanitaan." Lirihnya sembari memasuki mobil.
" Bunda, kami tetap jantan kok. Ya kan Jack?" Alex meyakinkan Bundanya dan mengusap lengan Bunda Winda.
" Kalau aku sih yakin Bun, dijamin seratus persen dijamin Ori. Kalau dia, aku tak yakin.." Lagi-lagi Jackie membuat Alex dalam masalah.
" Alex?" Atensi Bunda Winda sepenuhnya tertuju pada Alex sementara si setan jahil di sebelahnya sedang tertawa-tawa licik.
Riuh pertengkaran kecil tanda keakraban terjadi di dalam mobil dan di akhiri dengan pelukan hangat dari ketiganya.
" Tenang Bun, Alex bisa jaga amanah Bunda. Segel Alex masih rapi." Ucap Alex menenagkan sang Bunda.
" Iya Bun, Jackie juga masih ori dan belum tercemar." Sambung Jackie.
Mendengar hal itu membuat Bunda Winda bisa bernafas lega sekarang. Dia tak mau saja anaknya akan melakukan kesalahan yang akan disesali seumur hidupnya. Mereka lalu berbincang hangat hingga sampai ke kediaman keluarga Armanto.
Di kediaman Armanto, malam hari, makan malam.
" Ayah senang melihat pencapaianmu." Puji Ayah Dhani.
" Terimakasih Ayah." Ucap Jackie yang tersenyum setelah mendapat usapan hangat di pucuk kepalanya.
" Minggu depan kita ke Jogja. Kamu Ayah tugaskan kesana untuk mengelola perusahaan kita. Perusahaan itu sudah bagianmu. Kakak kakakmu sudah memiliki bagianya sendiri. Tak ada penolakan, tak ada runding merunding lagi." Kata Ayah Dhani dengan santai tapi tegas.
" Iya Ayah, Jack ikut kata Ayah saja." Jackie menurut.
" Selama kamu belum kesana Ayah sudah meminta orang kepercayaan Ayah untuk mencarikan sekertaris yang berpengalaman untukmu. Agar kau mudah memahami apa-apa yang masih asing bagimu." Tutur Ayah Dhani.
" Iya yah." Jawab Jackie patuh.
" Yang cantik ya Yah, biar JK betah." Ledek Alex sembari terkekeh kecil.
" Kak..." Jackie melotot tak percaya dengan ucapan Alex.
__ADS_1
Jan lupa like, masukkan ke favorit dan juga komentar yang banyak ya... Ya, biar author seneng gitu ðŸ¤ðŸ¤.