Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
86. kotak


__ADS_3


...🥀🥀🥀...


Nampak jelas punggung wanita yang bergetar dan terisak turun naik bersamaan dengan suara tangisnya yang tertahan. Diah, dia menangis setelah malam panjang yang di laluinya. Dia begitu hancur dan remuk bagai serpihan puing yang terhempas ombak lautan.


Alex, dia seolah tuli dan tanpa dosa. Dia begitu menikmati tidurnya. Terlelap dengan dengkuran halus yang menjadi senada dan seirama. Alex, justru sangat senang dengan apa yang telah di lakukanya. Benar, cinta itu buta dan pasangan itu layaknya dua sisi koin yang berbeda. Saling melengkapi dan mengisi. Jadi, yang satu tertawa maka yang satu akan mengimbangi dengan tangisnya.


Alex menggeliat dan merenggangkan otot-ototnya. Dia bahkan menguap lebar sebelum akhirnya terduduk dan mengusap perlahan bahu Diah.


"Jangan menangis!" Ujar Alex dengan tenang dan santai, seolah apa yang terjadi semalam Bukankah apa-apa. Bukanlah suatu dosa atau perbuatan yang tercela.


Diah tak menggubrisnya dan hanya terus menangis sambil memeluk lututnya. Dia begitu sedih, apa yang selama ini di jaganya nyatanya dirampas secara paksa oleh lelaki yang sempat akan di jodohkan dengannya.


"Kenapa kau begitu jahat?" Lirihnya menggumam dengan suara yang tercekat. Dia begitu sulit berbicara, semua terasa begitu pahit baginya. Diah seakan memutar tayangan lawas dari sesuatu di masa kecilnya.


"Aku.... aku tidak mau menjadi pembunuh, tolong jangan perlakukan aku seperti ibuku. Aku... aku tidak mau membunuh!" Kata Diah masih dengan menunduk dan memeluk lututnya.


Membunuh? Apa dia akan senekat itu? Dia benar-benar akan melakukan pembunuhan? Alex menghentikan pergerakan tangannya, ada sedikit gelanyar rasa takut yang mulai merambat menguasainya.


Tanpa Alex minta, bibir Diah mulai berkicau menceritakan masa pahitnya. Masa dimana kejadian buruk itu terekam dikepalanya.


"Ayahku pemabuk dan penjudi, dia juga selalu melakukan kekerasan seperti kau tadi. Ibuku menjadi pembunuh karena ingin terbebas dari jeratan Ayahku. Dan kau.... kau kenapa seperti Ayahku juga?" Diah mengangkat wajahnya dan menatap tajam Alex tanpa berkedip.


Kini suasana berubah menjadi tegang, atmosfer tenang perlahan mulai tenggelam di telan hawa ngeri yang membanjiri. Tergeletak sebuah botol kecil sebagai pajangan di atas nakas. Diah meraihnya dan kemudian memecahkannya lalu menodongkannya tepat di hadapan Alex.


"Ini, inikan yang kau mau? Kau mau sisi burukku bangkit? Kau mau aku menjadi pembunuh kan?" Ujar Diah dengan suara lantang dan bergetar, dia masih bercucuran air mata.


Penampilannya sungguh berantakan. Dia bahkan masih bertelanjang bulat ketika berdiri. Alex hanya bisa mematung dan linglung.


"Jangan! Jangan lakukan itu Di. Di... aku melakukan ini karena mencintaimu! aku kehabisan akal untuk menaklukkan hatimu. Tolong Di..., jangan nekat!" Alex ketakutan sekarang setelah melihat ujung beling menggores pergelangan tangannya sendiri.


"Kau mencintaiku? Oh, Kau sungguh pandai berbohong Tuan. Aku ini hanya si miskin yang kau jadikan mainan. Kau mengejarku karena hanya aku yang menolakmu. Kau merasa terhina dan tertantang bukan? hanya itu kan? Dan itu bukan Cinta Tuan Alex, itu bukan Cinta!!" Diah meraung.


"Di, ku mohon percayalah aku mencintaimu! Tidak pernah sebelumnya aku meniduri wanita. Aku benar-benar suka padamu Di..."


"Kau bohong! Kau juga mengatakan hal yang sama dengan Ayahku yang bajingan itu. Ayahku selalu mengatakan cinta walaupun pada akhirnya dia menyiksa ibuku untuk melayani nafsu bejatnya! Kau pun sama!!" Diah sungguh frustrasi dengan keadaan ini.


Alex menggeleng beberapa kali, tidak! dia bukan seperti apa yang Diah yang tuduhkan. Alex benar dan jujur soal perasaannya.

__ADS_1


"Aku lelah!! Selamat tinggal!!" Ucap Diah yang kemudian ingin memotong urat nadinya.


Untungnya Alex dengan sigap bisa menghentikan aksi nekat Diah. Dia menampik botol yang berujung runcing tersebut dan kemudian menubruk tubuh Diah hingga mereka berdua terjatuh kembali di ranjang.


"Jangan, jangan lakukan itu Di. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan calon istri dan calon anakku. Di... aku mohon... dengan sangat padamu Di... jangan seperti ini. Alex mengguncang kedua lengan Diah yang menatap kosong langit-langit kamar.


"Tidak ada yang membuatku bertahan. Semuanya kejam!" Ucap Diah penuh nada putus asa.


"Aku akan menikahimu, dan menanggung semua hidupmu! tolong! tolong mengertilah! kau harus hidup untuk anak-anakmu nanti!!" Alex berseru berteriak di samping telinga Diah. Tapi Diah tetap menatap hampa.


Diah hanya terdiam dan kembali menangis. Dia begitu takut jika nantinya setelah menikah sikap Alex akan sama dengan sikap mendiang Ayahnya. Diah tak menyukai kekerasan dalam rumah tangga. Diah lebih menyukai ketenangan.


"Apa salahku padamu Tuan?"


"Tidak, kau tidak bersalah. Hanya saja aku sudah terlalu dibutakan cinta olehmu. Maafkan aku. Aku berjanji akan segera menikahimu." Kata Alex yang kemudian mengecup kening Diah.


Kecupan lembut tanpa taburan kekerasan dan paksaan. Diah memejamkan mata dan mencoba meresapi apa yang diterimanya. Dia merasakan debaran yang berbeda dari semalam. Dia merasa Alex begitu tenang dan lembut padanya. Tak seperti semalam yang semuanya serba liar dan brutal.


Diah hanya bisa menangis tergugu, sementara Alex bergegas pergi. Entah kemana tujuannya.


...🥀🥀🥀...


"Mau makan apa? biar aku yang masak ya." Ayana mengusap air matanya. Dia kembali teringat akan sosok Bu Sri yang belum lama berada di dalam rumahnya, menjadi teman bicara sekaligus orang yang banyak memberikan nasihat untuknya.


"Kita masak bersama. Aku juga masih ingin berada terus dan terus di dekatmu." Jackie memeluk tubuh Ayana dari belakang.


Ayana tersenyum kecil lalu mengecup pipi Jackie. " Terimakasih sudah mau memafkanku."


Jackie menatap sendu sang istri lalu balas mengecup pipinya. "Kau tidak bersalah sayang, jadi jangan meminta maaf atau merasa bersalah lagi. Jangan bicarakan ini lagi. Aku tidak ingin melihatmu selalu begini."


"Hem... Terimakasih." Sahut Ayana lirih lalu mengecup punggung tangan Jackie.


Bukan soal kuat atau lemah, bukan pola soal salah tau benar. Keduanya saling melengkapi mengisi kekurangan, kekosongan dan kelemahan satu sama lain.


Ayana yang dua kali kehilangan bayinya mulai seeing melamun. Selesai makan malam pun, dia segera menuju kamarnya tanpa banyak bercengkrama dengan suaminya. Dia seolah kehilangan semangat hidupnya. Padahal dari kejadian ini, semuanya memilki sisi plus dan minusnya.


Plus bagi nyawa Ayana dan minus bagi bayi dan rahimnya. Semenjak dari kejadian tersebut, Jackie sama sekali belum menjelaskan tentang keadaan Ayana yang sebenarnya. Jackie masih diam dan bungkam. Dia tak tega bila harus kembali melihat istrinya menelan pahitnya keadaan.


"Sayang, Apa kata dokter?" Ayana bertanya sambil meminum obatnya. Dia duduk di tepi ranjang dan menatap nanar sang suami dan menuntut penjelasan.

__ADS_1


Jackie menatap teduh wajah pucat sang istri.



"Em..., Dokter bilang kita harus lebih bersabar dan menunda punya momongan dulu. Yah, itung-itung kita bulan madu lagi." Ucap Jackie yang berupaya membesarkan hati Ayana.


"Tapi, aku tetap bisa hamil kan?"


Jackie mengangguk dan kemudian memeluk Ayana membawanya kedalam dekapannya. Berusaha menularkan hawa nyaman, Jackie mengusap Surai sang istri.


"Iya, kau tetap bisa hamil Sayang. Bersabarlah, Apa kau sudah tak sabar untuk mengembangkan benihku?" Pertanyaan jebakan yang menggelitik.


Ayana tersipu, dia merona dan menatap sayu sang suami. Berbagi ketenangan dan kehangatan, inilah yang Ayana perlukan. Dukungan dan dorongan dari orang terdekatnya.


Pagi harinya.


"Sayang, bangun." Ayana membangunkan Jackie dengan menciumi bibir suaminya.


Faktanya, di jam pagi pria sungguh begitu menginginkan hubungan ****. Tapi, wanita akan nyaman berhubungan di saat malam yang membuatnya merasa lebih rileks dan nyaman.


"Kau sudah membangunkannya sayang, lihatlah karena ciumanmu dia sudah mengeras." Jackie menatap ke bawah dan tepat meyasar pada benda tumpul dan berotot.


"Bukan yang itu, kalau yang itu.... aku rasa dia sudah bersahutan dari semenjak ayam jago berkokok jam 3 pagi tadi. Yah..., walaupun disini tidak ada suara ayam jago." Ayana menepuk-nepuk perut Jackie dengan gemas.


Terdengar suara ketukan pintu beberapa kali dan berhenti setelah berapa saat. "Siapa itu pagi-pagi begini? Apa kau memesan sesuatu? atau Fajar mengantarkan sesuatu?"


"Tidak ada sesuatu dari sesuatu yang kau katakan itu sayang. Tidak semuanya." Jackie meringkuk membelakangi Ayana.


Sementara Ayana dia langsung bangun dan membukakan pintu utama.


"Sayang!!" Ayana berseru memanggil Jackie. Dia berteriak lantang memekakkan telinga.


"Jackie Putra Armanto!!" Lagi Ayana berteriak keras memanggil Jackie.


Jika dia sudah memanggil dengan nama lengkap. Itu berarti ada suatu yang salah.


"Ada apa?" Jackie berlarian menghampiri Ayana yang sudah memerah padam. Ada sebuah kotak yang di pegang Ayana.


"Bisa kau jelaskan ini?" Ayana memberikan kotak yang di pegangnya dengan kasar.

__ADS_1


__ADS_2