Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
98. Hunian baru


__ADS_3

...🪴🪴🪴...


"Wih, ada apa bos roman-romanya bahagia sekali anda?" Fajar meledek atasannya sembari meletakkan file di atas meja.


Jackie mengulum senyumnya, matanya tertuju pada bunga anggrek yang masih tertata rapi di sudut mejanya. "Fajar, apa pesanku sudah kau siapkan?"


"50% menuju komplit. Mungkin nanti sore sudah siap. Untuk Toko beserta isinya, satu Minggu lagi selesai." Jawab Fajar dengan kembali memeriksa catatannya.


"Bagus, aku suka. Kapan bisa pindah?"


"Untuk rumahnya sudah siap huni Pak. Semuanya sudah siap, hari ini furniture dan perlengkapannya kami upgrade sesuai dengan kemauan Bapak. Semuanya sudah Ok."


"Ok, bisa kita cek lokasi?"


"Bisa. Mari pak. sambil kesana biar saya hubungi agen property yang bertanggung jawab atas hunian baru bapak. Untuk nama kepemilikan nanti bisa bapak bicarakan langsung pada agen yang mengurusnya."


Jackie mengangguk setelah mendengarkan penjelasan fajar. Mereka menuju ke rumah baru yang di beli Jackie khusus untuk Ayana.


"Kalau boleh tahu, kenapa Bapak tiba-tiba ingin segera berganti rumah?" Tanya Fajar yang penasaran. Pasalnya apartemen Jackie juga merupakan apartemen untuk kalangan kelas atas dengan segala fasilitas dan furniture yang terbaik.


Jackie menuju kelokasi rumah barunya. Dipandu oleh agen property, Jackie berkeliling di setiap sudut mengamati setiap ruangan. Dia tersenyum saat tiba di garasi yang terhubung dengan taman belakang dengan kolam renang yang luas.


Terpancar kilatan bahagia di matanya saat menatap garasi tersebut.


"Bapak senang sekali dengan garasi? apa ini karena bapak mau menambah koleksi mobil pribadi?"


"Mau menambah histori saja di setiap mobilnya." Ujar Jackie sembari menyunggingkan smirik yang mengandung berjuta makna.


"Histori? histori seperti apa?" Fajar menerka dalam gumamnya.


Ouh, Ayolah pria bergigi kelinci ini rupanya sedari pagi masih saja mengimajinasikan sesuatu yang teramat dia dambakan setelah sekian purnama tak pernah menyambangi liang.


Fajar yang notabene masih jomblo, dia tak mengerti arah pemikiran atasannya tentang histori dalam sebuah mobil.


"Tadi Nyonya sudah kau antarkan?" Tanyanya saat selesai memeriksa lokasi rumah barunya.


"Em .." Fajar mengangguk. "Nyonya belanja banyak bahan makanan."


"Apa dia membeli barang bermerek? tas atau sepatu?"


"Tidak, Dia hanya membeli kebutuhan rumah dan dapur saja. Tidak ada paper bag dari store ternama tadi."


"Ah, iya kau benar. Aku karena terlalu sibuk sampai lupa membelikan barang bermerek untuk istriku. Dia juga tak pernah membelinya."


"Fajar, kau kan seorang pria. Menurutmu istriku itu wanita yang seperti apa? selama ini aku merasa dia belum sepenuhnya membuka hatinya untukku."


"Kenapa bapak bisa berkata demikian?" Tanya Fajar.


"Ya, dia sama sekali tak pernah menuntut sesuatu dariku baik itu berupa barang ataupun perhatian. Dia selalu menolerir apa yang kulakukan. Karena hal itu aku jadi meragu."


"Maaf sebelumnya. Saya mohon agar bapak jangan memecat saya." Fajar ragu untuk berbicara.

__ADS_1


"Tidak! katakanlah." Titah Jackie dengan menatap mata fajar dari spion dalam.


"Istri anda itu wanita langka." Ujar fajar.


Jackie mengernyitkan keningnya tapi tetap menaruh perhatian pada perkataan fajar selanjutnya.


"Tidak matre dan santai. Dia tidak suka keributan. Itu pengamatan saya selama mengenal beliau."


"Lalu kalau saya?" Tanya Jackie.


Mana mungkin kan sekretaris akan membuka keaslian watak atasannya yang menyebalkan ini? sudah tentu Fajar memilih jalur aman akan hal ini.


" Woah, kalau bapak si ya jelas, baik, dermawan dan penyabar." Ujar fajar menjilat sang atasan.


"Cih!" Jackie berdecih lalu menepuk kepala bagian belakang fajar. "Katakan yang jujur atau ku pecat!"


"Kalau saya jujur apa bapak bisa menjamin kelangsungan karir saya kedepannya?" Itu adalah artian fajar teramat takut untuk berkata yang sebenarnya.


"Hem!" Jackie menggumam membalasnya.


Fajar dengan ragu-ragu lalu berucap. " Bapak itu pemarah, tidak sabaran dan diktator." Ucap Fajar dengan suara perlahan dan nada bicara mengambang membuat Jackie menepuk keras jok belakang tempat fajar duduk megemudi.


"Katakan yang jujur! Yang keras!" Protesnya lantang.


"Astaga!" Fajar terlonjak kaget dan mengusap-usap dadanya karena terkejut.


"Iya Pak, iya. Bapak itu pemarah dan tidak sabaran, selalu mau menangnya sendiri juga diktaktor.!" Ujar Fajar dengan lantangnya.


"Jangan pecat saya Pak!" Fajar memohon.


"Berhenti." Kata Jackie tiba-tiba. Fajar sampai panas dingin dibuatnya. Dia begitu takut akan kemungkinan terburuk yang mungkin saja terjadi mengingat atasannya ini adalah sosok pemarah dan bosy.


"Turun!" Kata Jackie pada fajar.


" Ta... tapi pak?"


"Turun kata saya!" Lugas Jackie berbicara dia kemudian membuka seat belt dan turun dengan segera.


Tak ada pilihan lain kecuali menuruti kemauan atasnya yang random ini. Dia yang meminta kejujuran, dia juga yang kepanasan.


Tak banyak bicara lagi, Jackie kemudian mengambil alih kemudi dan meninggalkan fajar yang berdiri di pinggir jalan.


"Argh...! Maunya apa sih bos ini? Tadikan dia yang minta, tapi setelah jujur malah begini." Fajar mengacak rambutnya frustasi.


Fajar menghentak-hentakkan kakinya dengan meluapkan kekesalannya dan ponselnya berbunyi tanda masuknya sebuah pesan.


" Apa lagi ini? M banking?" Fajar mengernyit heran.


Dan di susul pesan lain selanjutnya.


Itu untuk naik taksi dan ucapan terimakasih ku hari ini atas kerja kerasmu. 15 menit saya tunggu di kantor. Isi pesan dari Jackie.

__ADS_1


Fajar menganga membaca pesan dari atasannya. "Apa maunya si bos sih?" gumamnya.


...🧋🧋🧋...


Di apartemen Jackie.


"Ah..., semuanya sudah selesai. Tinggal istirahat sebentar." Ayana berbaring menatap langit-langit ruang tamunya.


"Aku tak menyangka bisa bertahan sejauh ini melewati semuanya bersama si keras kepala itu. Tak pernah terpikirkan sebelumnya bila aku akan menjadi istrinya begini." Ayana mengulum senyumnya.


"Dia ternyata menyukaiku sedari SMA. Hahaha, si gigi kelinci yang manja." Sambungnya lagi dengan terkikik geli mengingat sosok suaminya yang terlihat garang di luar padahal teramat manja jika bersamanya.


"Tadi, Dino si pencuri itu. Ada yang aneh dengannya. Sudah sangat lama semenjak aku menolongnya. Bagaimana bisa dia masih mengingat wajahku?"


Ayana meresapi pertemuannya tadi. Ada yang aneh tadi, bagaimana bisa sudah belasan tahun berlalu dan wajah Ayana pun sudah tak sama seperti dulu, tapi Dino alias Marvin masih bisa mengingatnya? Sedangkan kini mereka bertemu di kota yang berbeda. Bukankah ini sangat aneh?


Pintu terbuka dan Jackie datang. Dia langsung di sambut dengan Ayana yang menghambur lalu memeluknya.


" Udah pulang?" Tanya Ayana sambil memberikan senyuman terbaiknya. "Mau makan dulu apa mau mandi?"


"Eh kenapa, hari ini seneng banget. Ada apa?"


"Ga ada, cuma lagi seneng aja. Em... mau makan dulu apa mandi dulu?"


"Mau makan dulu lah, laper. Mandi kan bisa belakangan. Kamu udah mandi Ay?" Tanya Jackie yang masih memeluk erat wanitanya.


"Belum mandi, belum makan. Kan nungguin kamu Jack. Menunggu suamiku yang tampan dan pemarah ini." Ayana menggoda suaminya.


Hati Jackie meletup-letup mendapatkan pujian dan perlakuan hangat dari istrinya.


"Mana ada aku pemarah Ay?" Jackie menyanggahnya.


Masih ingat beberapa hari lalu saat Ayana cemburu buta menuduhnya bersama Denise? Jackie begitu marah sampai ada kejadian pelemparan gelas.


"Terus yang buat gelas berterbangan kemarin siapa?" Tandas Ayana masih dengan memeluk tubuh Jackie. Tangannya mulai terampil melucuti jas, dan dasi suaminya.


"Apa? ya itukan karena aku emosi." Ucapnya membela diri.


"Iya, tapi jangan begitu lain kali. Tidak bagus, apalagi menyakiti dirimu sendiri. Sudah lama aku tidak melihatmu begitu, kupikir sudah hilang kebiasaanmu. Ternyata belum." Ayana menatap lekat kedua manik Jackie.


"Aku hanya tidak mau, kebiasaanmu itu nanti menurun pada anak-anakmu." Ayana menarik perlahan tangan Jackie dan membawanya duduk di meja makan.


"Dah, sekarang kita makan. Mau pakai apa?" Tanyanya kemudian.


"Apa ya? itu pakai sate ayam saja." Jackie menunjuk jajaran sate yang berbaris rapi seolah sedang memanggilnya untuk segera di santap.


"Malam ini jadikan?" Tanya Jackie penuh pengharapan akan sesuatu yang dinantikannya seharian ini.


"Apa?" Jawab Ayana yang malah balik bertanya seolah lupa.


Jackie langsung menghentikan gerak giginya yang mengunyah makanan. Matanya membulat menatap tak percaya pada istrinya. Kenapa begitu? Apa sangat tidak penting, sampai-sampai baru terucap tadi pagi malam harinya sudah lupa?

__ADS_1


__ADS_2