
...πΌπΌπΌ...
Setelah selesai dengan drama per-intilan, Dita kembali memulai drama ngidamnya.
Disebuah ruang tunggu rumah sakit bersalin, Dita da Gino memeriksakan kandungannya. Ini merupakan hal yang teramat membahagiakan bagi keduanya. Dita dan Gino begitu antusias menyambut anggota baru di tengah keluarga kecil mereka.
"Huft....!" Dita menghela nafasnya sebelum memijakkan kakinya di ruang periksa.
Gino yang berada di sebelahnya segera tanggap dan memberikan usapan hangat di punggung wanita yang tengah nervous tingkat tinggi tersebut. Ini merupakan pengalaman pertama baginya dimana di dalam tubuhnya menghasilkan mahluk hidup lain.
Dalam masa seperti ini keduanya hanya bisa saling bercanda untuk mengurai rasa gugupnya.
"Kenapa takut?"
Dita mengangguk perlahan lalu memainkan bibirnya.
"Tenang sayang, tidak akan di apa-apain kok, cuma di periksa."
"Tapi aku takut jarum suntik.Waktu suntik ** pra nikah saja aku sangat takut."
"Ini periksa kandungan bukan mau operasi bedah" Jawab Gino bercanda.
"ish...! Pokoknya kamu ikut masuk ya, awas kalau kamu di sini dan g mau masuk." Dita menunjukkan wajah kesalnya.
"Iya, iya aku masuk. Kamu perasaan semenjak hamil jadi cinta mati sama aku. Baru sadar ya kalau punya suami ganteng?" Kata gino yang terdengar narsis.
Meluangkan waktu untuk mengantar istri kini menjadi hal pokok yang harus Gino taati. Itu aturan utama agar jatah dinas malam berjala lancar tanpa hambatan. Tak mengenal istilah Harpitnas atau apapun itu, keduanya teramat Pro dalam memainkannya secara epic.
Tiba giliran keduanya memasuki ruangan setelah namanya di panggil. Ruangan yang dingin semakin membuat Dita bertambah gugup. Dia berpegangan erat tangan Gino yang menggandengnya.
Tapi tiba-tiba pegangannya terlepas kala melihat sang dokter. Seorang Dokter laki-laki yang berparas tampan. Meskipun tengah memakai masker berlapis, nyatanya hal tersebut sama sekali tidak bisa mengurangi kadar ketampanan si Dokter.
Terlihat jelas mata Dita berbinar kala memandang sang Dokter.
"Mau ku colok matamu jika terus saja melihat dengan cara seperti itu?" Gino berbisik di telinga sang Istri.
Dit hanya membalas teguran sang suami dengan senyuman. Dia menyipit sambil tersenyum cerah dibalik maskernya.
"Dengan Nyonya Dita Armanto?" Tanya sang Dokter dengan suaranya yang lembut nan merdu.
"Iya Dok, Saya."
"Kehamilan yang keberapa Ibu?"
"Pertama Dok." Jawab DIT yang sudah lebih bisa mengontrol matanya.
__ADS_1
"Oh, Pertama ya Gin?"
Gino tertegun kala sang dokter mengenalinya. Aneh saja baginya, sebab ini kali pertama mereka mengunjungi rumah sakit bersalin tersebut. " Siapa ya?" Tanyanya dengan wajah heran.
"Aku Qulbi, kita teman sebangku sewaktu SMP. Ingat tidak?"
"Oh, Qulbi?" Gino sudah kembali ingat dan kemudian tersenyum senang berjabatan tangan.
"Iya. Kamu baru mau satu ini?" Tanyanya lagi seolah tidak percaya.
Kini Dita hanya bisa menjadi pendengar yang setia bagi kedua pria yang nyatanya adalah teman lama. Beberapa saat keduanya sempat asik sendiri dan mengabaikan si pasien yang sesungguhnya.
"Iya Bi, baru mau satu ini. kamu sudah berapa?"
"Alhamdulillah, sudah 3. istri 1." Ucapnya berkelakar ria.
"Wah, hebat ya. Pasti anak-anakmu cantik dan tampan." Ucap gino memuji. "Aku juga Alhamdulillah, anak baru mau 1 tapi istri udah 3." Ujar Gino dengan sombongnya.
Apakah ini yang disebut merendah untuk meroket?
"Bangga..... Bangga....!" Ketus Dita yang melirik tajam suaminya.
Balasannya, Gino hanya tertawa, begitupun juga dengan Qulbi.
Sesi pemeriksaan kandungan berjalan dengan santai dan tak ada lagi ketegangan.
"Sudah 7 minggu. Bagus semuanya sehat, Ibu dan Janin juga sehat. Oh iya Gin, ini pesan saya ya sebagai Dokter tolong jangan terlalu sering berhubungan dulu ya. Paling tidak sampai tri semester kedua." Kata Qulbi.
"Maksimal ya?" Qulbi tersenyum dan menatap Gino penuh arti. Gino pun tersenyum membalasnya lalu mengangguk.
"Maksimal dua kali satu minggu. ini untuk mengurangi kontraksi janin di usia dini ya Bu.
Dita mengangguk dengan polosnya di hadapan kedua pria yang otaknya mulai mengembara.
...~...
Selepas dari memeriksakan kandungan, keduanya langsung menuju ke kediaman Alex. Gino sama sekali belum mengetahui perihal kepergian Diah.
Selama dalam perjalanan, Dita hanya mengemil saja tanpa berhenti. Tapi Gino sama sekali tak merasa keberatan akan hal tersebut meski sekarang aroma di mobil kesayangannya sudah tak jelas baunya. semu ada, dari pizza, burger, boba, asinan, kripik dsb.
Beberapa bulan hidup bersama Dita membuat Gino menyadari bagaimana karakter dan sikap baik istrinya. Meskipun terkesan tegas dan acuh, juga keras kepala, tapi Dita selalu bisa menjadi penasehat yang baik bagi Gino.
"Makan terus, ga kenyang?" Gino mengusap perut rata Dita.
"Belum Ayah, masih lapar." Ucap Dita yang menirukan gaya bicara anak kecil. "Kan belum makan nasi Mas." Sambungnya dengan suara normal.
Hati Gino menghangat kala Dita bersuara layaknya anak kecil. 3 kali menikah nyatanya tak membuatnya banyak memiliki pengalaman di dunia kehamilan. Apa yang harus di lakukan? Lalu bagaimana menghadapi persalinan nantinya, Gino masih sangat nihil akan hal tersebut.
__ADS_1
Tak terasa lama mereka berbincang kecil menghantarkan mereka sampai di depan sebuh gedung besar tempt Alex tinggal.
"Ada apa? kenapa sangat heboh di telepon?" Tanya Gino yang baru sampai.
"Emm....., Aku ada masalah Kak." Ucapnya yang sedikit malu sebab ada Dita di sana.
Dita yang paham akan hal itu kemudian menyambar percakapan mereka. "Malah apa? kenapa malu ada aku? Aku ini Kakakmu sekarang, bicaralah."
Untuk sesaat Alex masih terdiam, hingga akhirnya Dia mengumpulkan keberanian untuk membuka dan mengakui semua kebodohannya.
Alex mengatakan semuanya, tak ada selaan, ataupun celaan dari Dita. Dia hanya diam menyimak segala apa yang kakak adik ini bicarakan.
Gino pun sama sekali tak menghakimi. Dia sadar akan sesuatu, jika degan keadaan Alex yang lajang dan membuat kekacauan saja bisa sampai membuat Bunda sangat marah, maka apa kabar Dia yang menikah secara diam-diam dengan Ayana di masa lalu? Selan itu dia juga menjaga perasaan istrinya yang tengah hamil muda.
"Lalu, apa rencanamu" Tanya Gino engan wajah serius.
"Entahlah Kak, kepalaku mau pecah sekarang. Masalah ini Ayah memutuskan untuk aku segera menerima perjodohan dengan Tata." Alex meremas rambutnya frustasi, sungguh dia terlihat sangat berantakan.
"ini sekedar saranku, Kau jangan menerima perjodohan itu. Tunggu selama satu tahun. Dalam satu tahun ini kita akan bersama-sama mencari keberadaan Diah." Gino bersandar di sofa dan menatap teduh adiknya.
Gino menghela nafasnya sebelum melanjutkan perkataannya. "Jika ada kesalahan fatal, cukup ku saja yang melakukannya, adik-adikku jangan."
Dita langsung menaruh atensi pada suaminya. Satu sisi yang selama ini belum pernah terungkap adalah, Sisi dewasa Gino yang selalu tersamarkan oleh sisinya yang manja.
"Diah itu hanya sebatang kar, itu yang Tante Agustin bilang padaku dulu. Melihat kondisinya yang seperti itu bisa di tebak, dia sebenarnya masih berada tak jauh dari kita."
"Tapi dia membawa uang Kak,"
"Benar, tapi kau apa tahu jika pergi di saat meragukan kondisi fisik sedang tidak memungkinkan itu adalah pilihan buruk? Dia bukan seorang gadis bodoh yang mau mengorbankan dirinya."
"Maksud Kakak?" Sungguh alex sangat polos dalam hal menganalisa perempuan.
"Dia saat ini pasi sedang menunggu perkembangan fisiknya. Apakah hamil atau tidak. Tapi seandainya pun dia hamil, Dia tidak akan mau menyakiti dirinya sendiri ataupun bayinya. Jadi kita tunggu saja sambil mencarinya satu tahun ini."
Alex terdiam dan mengangguk paham.
Kemana kamu Di?
...~~~~...
Seiring bertambahnya usia, maka bertambah juga pemahaman manusia dalam mengenal dunia, begitupun dengan kedua insan yang tengah berada di atas peraduannya kini. Dita berbaring dan menatap lekat wajah suaminya yang teduh, masih sibuk dengan pekerjaannya. Tapi tangannya masih sempat mengusap lembut perut sang istri.
"Kenapa belum tidur?"' Tanya Gino yang sekilas melihat Dita yang tengah menatapnya dengan mengulum senyumnya.
"Sedang menatap malaikat." Ucapnya sembari tersenyum manis. "Kenap aku baru sadar jika aku sudah menikahi mahluk tampan di bumi ini? Tertutup apa mataku saat bertahun tahun bekerja denganmu dan sama sekali tidak pernah melihat sisi tampanmu?"
"Ahh...., Ayo tidur...!" Gino kemudian menutup laptopnya dan ikut berbaring di sebelah Dita lalu membawa Dita masuk kedalam Dekapannya.
__ADS_1
"Setelah memuji begini pasti ada maunya. Kamu mau apa sayang?" Tanyanya yang di iringi sebuah kecupan sayang di kening.
Mohon LIKE dan klik π, Jangan lupa Ramaikan komentar ya. Ingat DUKUNGANMU adalah MOOD BOOSTER ku!