Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
52. Kunjungan ibu mertua.


__ADS_3

...🍁🍁🌼🍁🍁...



...🍁🍁🌼🍁🍁...


Dita dengan wajah kusutnya berjalan meninggalkan kamar rawat Ayana. Niatnya hanya untuk mencari sarapan.


Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Belum sempat kakinya memasuki lift, jantungnya sudah di buat berdebar-debar tak beraturan. Rasanya jantungnya akan segera melompat dari tempatnya.


Ting!


Sebuah pesan masuk.


"Astaga! Sial!! kurang ajar 🤬" Dia mengumpat sejadinya mana kala isi pesan telah selesai di bacanya.


📩 : ' Istriku, hari ini mungkin sore hari aku sudah sampai. Apa kau ingin sesuatu?'


"Argh.....! aku ingin kau pulang besok saja!!🤯" Dita mengerang kesal dan memutar balik langkahnya.


📨: 'Aku tidak ingin apa-apa, hanya ingin suamiku sampai di rumah dengan segera dan selamat' Balasnya.


"Huwek.....🤮! Sok imut sekali aku ini?" Dita menggeleng dan bergidik jijik dengan dirinya sendiri yang terkesan berlebihan dalam membalas pesan suaminya.


Tak apa kan berbohong demi manisnya Sebuah hubungan?


📩 : ' Baik, apa kau mau kubawakan sebongkah berlian?' Iseng saja Gino menggoda istrinya.


Tapi balasan Dita sungguh di luar ekspektasi.


📨 : 'Halah, apa itu Sebongkah berlian? baru-baru ini aku sering mendengar jika dftr harga organ tubuh manusia lebih mahal daripada itu.' Dita memutar bola matanya malas dan bersiap kembali ke kamar rawat Ayana.


Di lain tempat.


"Argh....! Astaga...., apakah aku ini telah menikah dengan psyco?" Gino terbengong-bengong membaca isi pesan dari istrinya.


"Kenapa lagi?" Celetuk Alex yang mendengar keluh kesah Gino. Alex berdiri memantaskan dirinya di cermin.


"Kakak iparmu, aku mencandainya bertanya kalau aku pulang mau atau tidak ku bawakan sebongkah berlian. Tapi dia mebalas katanya harga organ tubuh manusia lebih mahal daripada itu." Gino mengadu dengan wajahnya yang setengah takut dan bingung.


Alex tertawa terbahak-bahak sampai-sampai dia meneteskan air mata dan menunduk memegang perutnya. " Hahahaha! Kau baru tau kak? Menurutmu, sedari dulu aku berteman dengannya mengapa aku tidak pernah mendekatinya?" Tanya Alex.


" Mengapa?" Celetuk Gino balik bertanya.


"Karena dia itu menyeramkan, dia itu galaknya minta ampun. Ahhh pokoknya begitu lah. Dia punya julukan di kelas dulu." Ucap Alex membuat Gino semakin penasaran akan masa remaja istrinya.


"Dia punya julukan gadis anti kecoa." Jawab Alex cepat.


Gino hanya melongo dengan mulutnya yang menganga. " Ma... maksudnya?"


"Kalau cewek lain ada kecoa lari terbirit-birit. Kalau Dita.... Kecoa yang lari lihat dia." Alex tertawa geli dan masih merapikan dasinya.


"Iyuh..., aku saja paling anti sama yang namanya kecoa." Gumam Gino berdecih jijik.


" Mana Jackie?" Tanya Gino yang sadar adik kecilnya belum terlihat sedari bangun tidur.


Alex mencibir dan menggidikan kedua bahunya.


Tak lama setelah namanya di sebut, Jackie lalu menampakkan dirinya. Dia datang dengan berpenampilan lusuh tanpa persiapan sedang kedua kakaknya sudah rapi dan tampan.


" Cepatlah bersiap, kita akan pulang." Kata Gino yang sudah sibuk memakai sepatunya.


"Ayo pulang, aku begini saja." Katanya malas.


"Aigo, aigoo....! jorok sekali adikku ini. Ya walaupun tidak rapi tapi seharusnya bersih. Sana mandi!" Alex mendorong bahu Jackie pelan.


"Tidak! aku anti air! dingin sekali airnya!" Kata Jackie beralasan.


"Cek!" Alex berdecak.


"Terserah kau saja, tapi jangan dekat-dekat denganku. Aku malu duduk di sebelah orang yang tak mandi." Alex melirik tak suka sedangkan si sulung hanya bisa menggeleng dan tertawa.


Jackie, dia bukanya berkemas, malah sibuk menyelami pemikirannya sendiri. Masih ada yang tersisa dan mengganjal di otaknya manakala semalam dia melakukan panggilan video call dan setelahnya Ayana kembali tak bisa di hubungi melalui video call tapi mau membalas pesannya. Ada apa? Batinnya gundah.


"Airnya memang dingin. Tapi ini hotel berkelas. Apa tanganmu tidak bisa menghidupkan shower-nya? Sudah lengkap dengan pemanas air di dalamnya." Kata Gino yang kali ini ikut bicara. "Tinggal pencet saja apa susahnya?" Gino mengomel.


"Ah, iya iya. Oke aku akan mandi." Ucapnya yang dengan terpaksa melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.


"Perkara mandi saja harus menunggu di omeli. Jackie kau bukan anak kecil lagi!! ingat kau sudah beristri!!" Seru Gino mengomeli menghantar langkah sang adik hingga sampai ke kamar mandi.


"Iya!!" Sahutnya sambil berteriak, tak perduli lagi bila penghuni kamar di samping akan mengeluh bising.


"Iya, istriku itu juga mantan istrimu." Jackie mendumel tak karuan di dalam kamar mandi.


Di dalam kepalanya, sampai saat ini. Jackie sendiri tak habis pikir mengapa dia begitu mencintai Ayana sampai-sampai rela memungut bekas Kakaknya. Bukankah banyak wanita lain di luaran sana?


Jackie memanjakan tubuhnya, bermain air hangat untuk sesaat. Merileksasikan tubuhnya setelah beberapa hari ini begitu keras berusaha juga memeras otaknya.


Dia masih tak paham mengapa perasaannya begitu tidak tenang?

__ADS_1


Hati dan otaknya tak selaras memikirkan suatu kejadian.


"Ah, sudahlah. Mungkin ini hanya perasaanku saja." Gumamnya yang kemudian menyelesaikan ritual mandinya.


...Di lain tempat....


"Ay..., Ay!" Buru buru Dita menghampiri Ayana yang masih duduk di atas ranjangnya.


"Ada apa?" Ayana kaget sampai-sampai buah yang ada di mulutnya terjatuh sebelum masuk ke kerongkongan.


Dita terengah-engah dan menghirup nafasnya dalam-dalam sebelum berbicara. " Mereka akan pulang hari ini."


"Hari ini?" Ayana melotot terkejut juga mulai panik.


"Sekarang?" Tanyanya lagi berharap kepulangan suaminya masih nanti malam.


Dita menggeleng cepat. " Sekarang ini mereka sudah bersiap-siap. Jadi nanti sore sudah sampai." Jawabnya.


"Astaga! aku harus bagaimana lagi Infusnya masih banyak, pasti dokter tak mengijinkanku pulang. Dan juga kalau aku pulang dalam keadaan begini pasti pihak pengamanan apartemen akan mengadu pada suamiku." Kata Ayana dengan wajah cemasnya.


Dita berjalan mondar mandir memikirkan caranya. "Ah sudah kita buat APS saja. Tapi kau sudah baikan?"


"Iya aku sudah baikan, tidak begitu pusing lagi." Jawabnya meski dengan wajahnya yang pucat.


Dita tak yakin, tapi tak ada pilihan lain. Dia juga tak mau terlibat masalah. Dita tak ingin keluarga suaminya ikut menyalahkannya jika nantinya ada sesuatu yang terjadi pada Ayana.


"Baiklah, kau tunggu disini. Aku akan mengurus administrasinya." Kata Dita.


Lama Dita bersitegang dengan pihak rumah sakit. Akhirnya surat APS pin turun. Surat yang menyatakan bahwa Pasien ingin pulang atas kemauannya sendiri dan pihak rumah sakit tidak bertanggungjawab atas apa yang terjadi setelah pasien keluar dari rumah sakit sebab penanganan yang belum maksimal.


Jarum infus sudah tercabut, dan Ayana boleh pulang.


Selama dalam perjalanan, kepala Ayana hanya sibuk memikirkan bagaimana caranya dia bisa menutupi kehamilannya ini dari suaminya.


Ayana hanya tak mau, bila Jackie tau tentang keadaan Ayana yang sesungguhnya maka dia akan merasa bersalah dan kembali terpuruk.


Ayana, secara tidak sadar, selama bertahun-tahun dia selalu berharap yang terbaik untuk Jackie. Selalu meminta agar kebahagiaan selalu melingkupi lelaki yang kini sudah menjadi suaminya ini.


Dan kini, satu kebahagiaannya telah hadir, yaitu sosok malaikat kecil di tengah-tengah mereka.


Ayana tak mau Jackie akan menyesali keputusan dan perbuatannya yang lalu dimana dia memaksakan agar Ayana cepat hamil serta berhenti mengkonsumsi obat pencegah kehamilan.


"Ay, apa kau benar-benar kuat?" Tanya Dita mencemaskan keadaan Ayana.


Ayana mengangguk dan tak lupa senyum manisnya yang terpampang menghiasi sudut bibirnya meski dengan tatapan mata yang sayu.


"Ah, apa itu? kau masih sangat lemah." Dita memprotes Ayana.


" Ay, aku harus segera pulang. Suamiku ingin aku membuatkan pecel ayam." Kata Dita dengan gugup mengakhiri percakapan dengan Gino.


"Pulanglah Kak, aku bisa sendiri." Ucap Ayana meyakinkan Dita.


"Baiklah kalau begitu aku akan pulang." kata Dita dengan raut wajah yang penuh dengan kecemasan.


Dita akhirnya pulang dan kini tinggallah Ayana seorang diri. Banyak hal yang harus dilakukan tapi tubuhnya sama sekali tidak mendukung akan hal tersebut, dia masih merasa pusing dan lemas.


ponsel Ayana kembali berdering dan itu dari ibu mertuanya.


"Hai Na!" Suara gembira disebrang sana menyapa Ayana.


"Iya Bun?" Jawabnya dengan sopan.


"Na, Hari ini ayah dan Bunda akan berkunjung ke tempatmu. Kamu ada di rumah kan?" Tanya Bunda Winda.


"Iya Bun, aku di rumah. Silahkan Bun kapanpun kalian ingin kemari, aku justru senang. Bunda mau Nana masakin apa?" Tanya si menantu.


"Tidak usah masak, malam ini kita makan malam diluar saja ya. Sekalian merayakan projects baru yang baru saja goals." Kata si mertua.


"Oh, begitu ya Bun?" Sahutnya.


Bukanya keberatan, tapi Ayana sungguh sedang tidak enak badan dan jujur saja dia takut kalau apa yang di rahasiakannya terbongkar begitu saja dalam hitungan jam.


"Baiklah, aku akan bersiap." Katanya.


Tidak ada pilihan lain bila sudah berurusan dengan orang tua. Ayana yang sedari kecil tidak mempunyai sosok ibu, kini dia telah memilikinya. Walaupun bukan ibu kandung yang melahirkannya, tapi Ayana tetap ingin berbuat baik dan menjaga perasaan mertuanya. sedikit berkorban itu sah sah saja kan?


Setelah dirasanya cukup, akhirnya Panggilan berakhir.


Ayana dengan kepala yang tiba-tiba berdenyut dan tangannya gemetar disertai dengan keringat dingin yang membasahi tubuhnya masih saja berjalan menuju ke kamar mandi untuk membasuh tubuhnya.


"Ah! airnya sangat dingin." Ucapnya. saat mencoba membasuh wajahnya.


Pilihan jatuh pada air hangat, niatnya ingin menghilangkan keringat dingin. Tapi ..., lihatlah betapa bodohnya ibu hamil ini.


Dia malah berendam di dalam bathtub dengan air hangat. Hei Ayana! tidak bisakah kau sedikit pintar? kau sedang sakit, malah berendam.


Selesai mandi, dia merasa tubuhnya lebih segar. Sesaat.


Dan setelahnya dia menggigil kedinginan sampai-sampai menggelung tubuhnya dengan selimut tebal. Giginya gemertak menahan hawa dingin, tapi tubuhnya berkeringat. Ayana yang malang, demi siapa kau menahan rasa sakitmu ini?

__ADS_1


Tak terasa menit demi menit terlewatkan dan Ayana tertidur dalam balutan selimut tebalnya.


Dia sampai tak menyadari kalau suaminya sudah tiba sore tadi.


Lalu dimana mertuanya?


Ponselnya terabaikan menerima beberapa pesan. Rupanya mertuanya sedang mampir di apartemen Gino dan setelahnya baru akan menuju ke apartemen Jackie bersama-sama.


"Ay?" Sapa lembut suara yang begitu akrab ditelinga.


Ayana mengerjapkan matanya, membukanya perlahan dan mengumpulkan kesadaran.


Pertama kali dia mendapati visual dari si gigi kelinci.


"Sayang, sudah pulang?"Tanya Ayana lirih.


Jackie mengangguk lalu tersenyum jahil. Tanpa banyak bicara pria bertubuh kekar berwajah bayi itu langsung menelusup kedalam selimut.


"Ah, aku lelah sekali. Pulang-pulang langsung di sambut dengan sambutan yang meriah begini." Ucapnya dengan tatapan mesum menatap tubuh sang istri yang hanya terlilit handuk.


Ah, iya Ayana sungguh lupa. Karena tadi dia menggigil sampai lupa mengenakan baju. "Jangan mesum! Sebentar lagi Ayah dan Bunda datang." Ucapnya beralasan agar Jackie tak melakukan hal-hal yang memakan waktu dan menguras sedikit tenaganya yang tersisa.


"Ah, masih ada waktu. 20 menit cukup." Katanya dengan sangat antusias.


Aneh, itu yang Ayana rasakan. Tubuhnya serasa baik-baik saja saat Jackie di dekatnya. Bahkan demamnya hilang entah kemana?


Hanya saja dia sungguh malas dan lemas untuk melayani suaminya. Harus beralasan apa lagi sekarang? Sedangkan sesuatu yang berbentuk silindris sudah mulai menegang membuat celana bahan yang Jackie kenakan menjadi sesak.


"Tubuhmu basah, kau banyak berkeringat?" Kata Jackie yang tangannya tak bisa diam mengusap setiap centi tubuh sang istri.


"Iya, ini metode baru untuk menurunkan berat badan." Jawab Ayana asal.


"Em..., kalau begitu kita tambah lagi. Berhubungan intim itu juga banyak membakar kalori." Kata Jackie yang tergambar sekali kemana arah pembicaraannya.


"Apa kau tidak lelah?" Tanya Ayana mengalihkan ha***t sang suami. Ayana tau, mengulur waktu dan mengajak bicara akan membuat fokus terpecah dan akhirnya benda silindris itu akan kembali layu seiring waktu.


"Lelah, tentu saja. Tapi sekarang aku sudah menemukan penawarnya." Jawab Jackie yang kemudian mengarahkan tangan istrinya pada benda yang berotot di bawah sana.


Ayana hanya terkikik geli. " Astaga! sedari kapan ini?" Tanyanya heran. " Cepat sekali kau memompanya?"Celetuknya iseng.


"Sejak melihat kaki mulusmu dan juga punggungmu yang tak tertutup itu." Jawab Jackie.


"Aku kangen." Imbuhnya lagi lalu mengecup bibir istrinya.


Ayana membelo dan pipinya memerah seketika. Walaupun sudah acap kali melakukannya, tapi sifat asli wanita iyalah akan tersipu saat berhadapan dengan kata-kata manis.


Tidak ada yang tidak meleleh ketika di hadapkan dengan kelembutan, hangat dan manis di bibir.


Ayana hanya tersipu dan mengecup bibir Jackie. "Pintar merayu sekarang." Sindirnya.


Jackie menggeleng. "Aku tidak merayu, tapi ini jujur." Ucapnya polos yang kemudian kembali di hadiahi kecupan singkat dari sang istri.


Tangannya mulai merayap dan Ayana sudah kehabisan akal untuk menolak. Membelai lembut dengan bibir yang mengabsen tiap jengkal kulit si wanita.


Ting tung!


Bel berbunyi. Ayana dengan seketika meraup bibir Jackie dan menghentikan kegiatannya. Menajamkan pendengarannya dengan seksama. Itu Bunda. Pasti itu Bunda." Tebaknya.


"Ah, Bunda....! kenapa tidak agak nanti saja." Keluh Jackie yang kemudian segera bangun dan beranjak meninggalkan tempat peraduannya.


Sedangkan Ayana perlahan bangun dan mulai memakai bajunya.


"Hai...!" Seru Bunda antusias lalu memeluk putra kesayangannya dan mengusap hangat punggungnya. Betapa ia sangat merindukan anak bungsunya itu.


"Bunda." Sapa Jackie ya walaupun pikirannya kini terbagi antara senang dan sedih karena kegiatan yang tertunda.


"Lelah sekali ya? lesu begitu?" Kata Bunda.


"Kita kali Bun, yang kurang tepat." Celetuk Ayah Dhani yang matanya melirik celana sang anak.


Bunda mengikuti arah pandang sang suami dan juga tertawa terbahak-bahak setelahnya.


"Apa? apanya yang lucu?" Jackie mencabik kesal.


"Hahahha! lihat celanamu Sayang kau belum menutupnya." Tegur sang Bunda sambil tertawa dan menutup mulutnya.


"Aish...!" Jackie menunduk dan mendapati barang bukti. Betapa malunya dia.


Dia berlari dengan segera menuju ke kamarnya dengan tergesa. Mengejutkan Ayana yang masih berias.


" Ada apa?" Ayana terlonjak kaget saat pintu terbuka dengan tiba-tiba.


"Aish!! malunya aku." Kata Jackie.


" Iya ada apa?" Ulang Ayana bertanya.


" Lihat ini? Bunda dan Ayah melihatnya." Adu Jackie dengan wajah yang memerah.


"Ouh..., ini?" Ayana sengaja menggoda suaminya. " Tidak apa-apa kan, memang benar tadi misi kita tertunda." Ucapnya begitu lembut berbisik di telinga Jackie dan mengerlingkan matanya menggoda.

__ADS_1


"Argh....! kau juga..., kau sengaja menggodaku? sudah tau tak ada waktu..." Katanya mengerang frustrasi dan kemudian meninggalkan Ayana yang tertawa terbahak-bahak dan menuju ke kamar mandi.


Beruntunglah Ayana, kunjungan ibu mertuanya kini menyelamatkannya dari terkaman suami.


__ADS_2