
...๐ผ๐ผ๐๐ผ๐ผ...
"A.... a... ah! Shh.... sakit!" Ayana mendesis setengah merintih.
Jangan pikir dia keenakan, dia kesakitan sekaligus menahan geli. Suaminya seketika berhenti menjalankan aktivitas gelapnya. Kurang gelap gimana lagi coba kalau kepalanya saja sudah terjerembab ke dalam himpitan dua paha.
"Kenapa? sakit ya?" Jackie berhenti lalu melihat Ayana yang meringis kesakitan. "Kakimu masih sakit Sayang?"
"Eum~~~" Ayana mengangguk lemah dan matanya fokus menatap pada kakinya.
"Masih sakit dan aku juga masih takut." Katanya mengadu dengan tatapan sendu.
"Maaf ya." Jackie lalu mengusap paha Ayana. Dia tampak menyesal juga sedih dan kecewa secara bersamaan.
"Sayang, yang sakit yang bawah. Kamu usapnya paha."
"A... oh! " Jackie menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Aku juga takut menyenggol kakimu. Alasannya, padahal ya siapa yang tau? Mungkin dia ingin sesuatu yang lain?
"Apa tadi kata dokter?" Jackie mengalihkan topik.
"Tau ah, aku mau Bobo!" Ketus Ayana yang kemudian menutupi seluruh wajahnya dengan selimut.
Masih marah, tentu saja. Penjelasan Jackie pun ditolaknya mentah-mentah. Mana ada istri yang mau mendengarkan suaminya berdalih pasal wanita dan bayaran? Wanita itu sama, susah dimengerti.
"Jangan pedulikan aku Yang!! pedulikan saja wanita-wanita tadi!!"
"Astaga Ay!!" Jackie mengerang tak kalah kesal nya.
Bagaimana tidak kesal, istrinya menuntut penjelasan tapi menampik keterangan. Mau sampai kapan?
"Ay!" Panggil Jackie yang sudah menelusup ke dalam selimut.
"Hemm!" Sahutan yang dingin.
Suasana sungguh tak enak. Suami istri itu tetap saja perang dingin. Tapi sang suami sudah tak tahan. Dengan caranya, Jackie membujuk Ayana. Jackie membuka seluruh bajunya dan hanya menyisakan ****** ***** tanpa sepengetahuan Ayana.
Tangan jahil sudah terulur menyentuh benda kenyal yang menonjol. Ayana menepuk, mencubit, bahkan menggigitnya tapi Jackie sama sekali tak meresponnya.
"Jangan Marah, kau ingat mereka kan? mereka wanita pemandu lagu."
"Iya!"
"Aku menggaji mereka."
"Menggaji? jadi kamu mengontrak bulanan? jadi selama beberapa bulan ini? kamu servis ke mereka?" Ayana mencecarnya.
"Awas tanganmu, awas jangan dekat dekat!! aku jijik!!" Keluhnya lalu memberontak dan mendorong-dorong tubuh Jackie untuk menjauhinya.
"Stop!! jangan ada drama diantara kita! Oke?" Tegas Jackie berbicara dengan afeksi yang nyata. Dia kemudian duduk dan berusaha memberikan penjelasannya.
"Aku sengaja memakai jasa mereka..."
Belum selesai dan sudah di sambar lagi oleh Ayana. " Apa Jack? memakai jasa mereka. Hua....! Hua...!" Ayana menangis sedih dan menutup wajahnya dengan bantal.
"Ish! dengar dulu sampai selesai!!" Bentak Jackie geram. Dia sudah kehabisan akal. Segala cara ditempuh tapi tetap saja Ayana menampiknya.
"Aku meminta mereka untuk bekerja dengan ku bekerja yang benar-benar bekerja bukan bekerja plus-plus seperti yang ada di dalam otak Kotor mu itu." Jackie mengambil jeda dan menghirup oksigen di sekitarnya.
"aku dan mereka bekerja sama. Sengaja memang aku dulu memakai jasa mereka. Aku hanya meminta mereka untuk datang secara bergantian ke kantor tapi tidak ada yang lebih daripada itu. Aku hanya ingin mereka datang, aku ingin membuatmu merasa tidak nyaman. Ya.... itu tapi dulu bukan sekarang." katanya mengungkapkan segala kejujuran tapi.....
"Aku tidak percaya dengan ucapanmu mana ada maling yang mengaku kalau dirinya maling?"
"Ah sudahlah terserah kamu mau percaya atau tidak terserah padamu!!"
Jackie dengan kesalnya setelah beradu argumentasi dan tidak membuahkan hasil Dia memutuskan untuk pergi meninggalkan apartemen.
saat di memakai pakaian pun untuk bersiap pergi Ayana tidak menghadangnya tidak menghentikannya padahal itu yang ditunggu-tunggu oleh Jackie berharap istrinya akan menghentikan aksinya itu.
Jackie terdiam, berada di dalam mobilnya Yang tengah menyala dia menyalakan musik keras-keras lalu duduk sendiri dan merenung memikirkan cara untuk memperbaiki hubungannya dengan sang istri.
Apa yang dilakukannya saat ini sengaja diunggah dan dijadikan sebagai story dalam suatu aplikasi, bukannya menuai simpati tapi kedua Kakaknya justru membullynya habis-habisan.
ponselnya berdering sesaat setelah dia mengunggah story dalam aplikasinya itu. rupanya panggilan itu berasal dari kakak tertuanya Gino Putra Armanto.
๐ฒ Gino : "hei bro! Kenapa statusmu galau seperti itu?"
๐ฑ Jackie : "tidak apa-apa hanya terlalu banyak urusan di kantor!!"
๐ฒ Gino: " hahaha! Kau kira aku ini anak kecil? dan kau pikir kau bisa membohongiku? Sejak kapan seorang Jackie memikirkan tanggung jawab kantornya? kalau tidak padaku kau pasti akan melemparnya kepada Alex begitu dan begitu seterusnya." Gino mencecar dan menyindir kebiasaan Jackie tepat pada sasaran.
๐ฑ Jackie : "Wah๐ฎ, mulai saat ini aku berjanji mulai saat ini segala urusan kantor ku akan aku urus sendiri aku sudah berkeluarga dan aku harus bisa bertanggung jawab." Jackie mengelak ketika Si kakak sulung menyindir akan kebiasaan buruknya itu yang tidak bertanggung jawab terhadap pekerjaannya sendiri.
๐ฒ Gino: "Wah baguslah kalau begitu aku bisa duduk tenang di rumah bermanja-manja dengan istriku dan pergi berbulan madu. Rupanya adikku ini benar-benar sudah tumbuh dewasa ya?" Gino melirik Dita saat menyebut kata Istri dan berbulan madu. Tapi, yang di lirik melengos begitu saja membuang pandangannya.
๐ฑ Jackie: " lebih baik tidak usah menghubungiku jika hanya menghinaku saja!!" Jackie yang suasana hatinya tidak baik menjadi semakin kesal ketika sindiran itu mendarat di telinganya.
__ADS_1
Masih berbincang dan saling mengolok, satu panggilan kembali terhubung dan itu adalah Alex. dengan terpaksa Jackie lalu menerima panggilan itu menjadikan panggilan berubah menjadi panggilan grup.
๐ฒ Alex: "Ya....! Uri Jackieya!! ada apa? apa kau ada masalah hum?" beruntunglah Jackie memiliki Kakak seperti Alex yang bersifat hangat pengertian perhatian dan rendah hati. setidaknya dengan Alex dia bisa berbicara santai dan mengungkapkan kegundahannya tidak seperti dengan Gino apalagi ketika membahas soal Ayana, tentu itu tidak mungkin akan dia lakukan dengan mantan suami dari istrinya.
๐ฑ Jackie: " Oh Kak, Tidak. aku hanya sedang banyak pikiran saja mengenai pekerjaan." katanya berdalih dan menampik.
๐ฒ Alex: "katakan kau ada di mana sekarang bagaimana kalau kita minum bersama?" Alex menawarkan sesuatu yang menjadi kebiasaan mereka. Lelaki, pusing..... mereka akan lari pada alkohol.
๐ฒ Gino :" Yak!! hey brandal Apa kalian akan minum? kalian tidak menghargaiku awas saja jika kalian berani!!" Gino tidak suka jika adiknya melampiaskan sesuatu kepada hal negatif setidaknya masih banyak cara lain untuk mengurangi beban pikiran.
๐ฒ Alex: " A.... ah~~~~ aku lupa masih ada satpam di sini!" Alex meringis menunduk dan tertawa geli. Ya, dia selalu menjuluki Kakak tertuanya ini sebagai satpam. Sebab apapun yang mereka lakukan tugas Kakak pertamanya adalah mengamati dan mengarahkan mereka. Menegur segala kesalahan dan memperbaiki nya. Bagaimana, Gino sudah sangat mirip dengan satpam bukan?
๐ฑ Jackie: " Ya sudah tutup saja aku akan tidur berbicara dengan kalian malah kepalaku ingin meledak rasanya. Bye!!" Jackie menutup Panggilan grup tanpa menunggu persetujuan dari yang lainnya.
Di rumah Gino.
"Kenapa wajahmu tertekuk lesu begitu tidak senang mendapat perintah dari suami?" Tegur Gino pada Dita, wanita itu kini tengah memijat kaki suaminya dengan wajah yang tertekuk lesu.
"Pak! Eh...! suamiku. Maaf ya, Apa kau menikahiku dan membayar ku hanya untuk menjadi tukang pijat seharian ini?" Dita melayangkan protesnya, menumpahkan segala bentuk kekesalannya. Siapa yang tidak kesal, jika dalam sehari ini selepas pulang dari kantor suaminya sudah meminta pijit selama berkali-kali.
Alih-alih segera menjawab, Gino malah tertawa terbahak-bahak suaranya menggema memenuhi ruangan dengan kerasnya. "Eh istriku, buka telingamu! kamu tahu? saat ini apa yang kamu lakukan itu berpahala besar dan juga aku sudah membayar mu mahal."
Dita yang merasa jengah kemudian menghela nafas dalam-dalam, menghembuskannya kasar dan memutar bola matanya malas. Tangannya Kian kuat mencengkeram kaki Gino hingga si empunya kaki meringis kesakitan.
"aduh! aduh...! sakit, kamu benar-benar tidak ikhlas?"Gino mengaduh kesakitan kemudian mengusap-usap kakinya perlahan.
"bukannya aku tidak ikhlas suamiku, tapi Bukankah ini keterlaluan? sudah berkali-kali kamu minta pijit. di kaki lah, di pundak lah, di tangan lah, di leher, di kepala." protes Dita dengan nada bicara yang bersungut-sungut.
bukan Gino namanya kalau dia tidak bisa menanggapi reaksi istrinya dengan santai dan tenang. "Masih untung kamu, aku memintamu untuk memijit bagian yang kau sebutkan tadi. Coba pikirkan, kalau Yang ku minta pijit adalah bagian lain. Kau sudah siap?" Gino terang-terangan menggodanya ya bahasanya menjurus kepada sesuatu hal yang sebenarnya sangat sensitif namun lumrah dilakukan oleh sepasang suami istri.
"hih... hih....he...๐.!" Dita bergidik ngeri mendengarkan ucapan Gino. Ya gadis yang tadinya tomboy itu sejatinya adalah wanita yang benar-benar polos, minim pengalaman mengenai hal percintaan apalagi hubungan ranjang.
Dita yang terganggu dengan ucapan suaminya memilih pergi untuk beristirahat di kamar membawa semua rasa gondoknya.
"Buka internet! belajar yang rajin, kalau kau tidak tahu akan ku beri tahu nama situsnya!" teriak Gino yang sengaja menggoda istrinya. Dia senang saja melihat ekspresi Dita yang malu dengan pipinya yang bersemu merah. Baginya, itu sangat menggemaskan dan tidak menutup kemungkinan hal itu akan menjadi hobi barunya.
Kenapa aku senang sekali mengganggunya? tapi dulu sewaktu dengan Ayana ataupun dengan Lena, aku tidak begini. Dengannya, aku merasa sering tertawa walaupun hanya seorang diri dan dia cemberut menatapku.
Ada apa denganku?
Gino meraba sendiri perasaannya, menelisik lebih dalam tentang apa yang akhir-akhir ini berubah dari dirinya. Sesuatu yang aneh tapi cukup menyenangkan, dan tidak didapati dari istri istrinya sebelumnya.
di dalam kamar, Dita tengah berbalas pesan dengan Ayana.
๐ฉ Dita: sedang apa Aku dengar tadi suamimu pusing mengenai pekerjaan Apa benar begitu?
๐ฉ Dita: Apa kamu sudah lupa? kepalamu habis terbentur sesuatu atau bagaimana? kita sekarang ini saudara ipar, kakak beradik. Tentu saja aku tahu. tadi waktu aku memijat suamiku mereka sedang bertelepon.
๐จ Ayana: Oh begitu rupanya Aku hanya sedang marah dengan dia.
๐ฉ Dita: kalian marahan? sering sekali kalian bertengkar. Apa itu merupakan hobi kalian yang sama?
๐ฉ Dita: sudahlah jangan terus bermusuhan walaupun aku tahu mungkin perasaanmu masih belum ada.
๐จ Ayana: Kak Dita Aku ingin bertanya sesuatu denganmu. Aku harap kau menjawabnya dengan jujur. (sebenarnya lama Ayana memendam rasa keingintahuannya ini dia hanya ingin tahu apakah mantan suaminya sudah menceritakan semuanya tentang masa lalunya bersama pada istrinya)
๐ฉ Dita: tentu silahkan tanyakan apa yang kau mau.
๐จ Ayana: Apakah Kak Gina sudah berterus terang padamu tentang hubungan ku yang dulu dengannya?
๐ฉ Dita: Iya dia sudah menceritakannya dan bagiku semuanya hanya urusan masa lalu di antara kalian. Tidak ada yang perlu dibahas lagi, kita hanya perlu menyembunyikannya rapat-rapat bukan? aku juga berpikir tidak enak rasanya jika hal ini kembali terbuka aku mengkhawatirkan keadaan ayah dan ibu.
Dita membalas pesan dengan isi tersebut, bukan berarti dia begitu legowo menerima segala apa yang terjadi antara suaminya dengan mantan istrinya yang merupakan adik iparnya itu. Sungguh rumit sebenarnya hubungan mereka tetapi apa boleh buat? semua itu sudah jalannya takdir. Dita hanya ingin menjalaninya seperti air mengalir di sungai yang tenang tanpa ombak, tanpa gejolak.
๐จ Ayana: ah Iya Kau benar terima kasih sudah mau berbesar hati menerima kisah masa lalu kami yang rumit ini. Aku harap kedepannya kita akan selalu menjalin hubungan baik.
Sebenarnya masih ada rasa canggung bagi Ayana untuk mengungkapkan hal seperti ini dia terkesan berlapang dada padahal sebenarnya hatinya tengah menciut saat ini. Ayana belum sepenuhnya bisa melupakan sosok Gino yang sangat perhatian dan bisa mengayominya pernah menyandang status sebagai suami.
Berbeda jauh dengan Jackie saat ini yang apa-apa marah, apa-apa terbawa emosi. Perbandingan seperti itu lumrah berada dalam pikiran manusia Karena manusia selalu menimbang pada dua sisi. Baik dan buruk, benar dan salah. Yah... hal seperti itu lumrah kita dapati.
Tengah malam.
Tengah malam lelaki bergigi kelinci dengan badan berotot juga bertato tapi tidak bisa menghilangkan wajah imutnya itu kembali menginjak rumahnya, dia pulang dengan keadaan lusuh.
tidak masuk ke dalam kamar tapi Jacky berbaring di sofa. mendengar ada suara pergerakan manusia di ruang tamu Ayana memilih untuk bangun dan memeriksanya.
ada ketenangan kala sosok yang dilihat itu rupanya suaminya sendiri, yang tengah terbaring dengan tangannya yang berada di atas matanya sepertinya dia sedang berusaha untuk memejamkan matanya.
masih dengan rasa kesal yang membuncah Ayana memilih kembali untuk masuk ke dalam kamarnya tapi langkahnya terhenti ketika suara Jackie menggema di udara.
"kemari dan lihat ini jika kau masih akan terus marah maka aku yang akan pergi dari rumah ini!" kata Jackie yang terdengar datar tapi cukup mengerikan. diiringi dengan suara rendahnya yang bergema merambat di dinding-dinding hingga sampai pada telinga Ayana.
Ayana menuruti kemauan Jackie dia tidak mau saja jika terdengar keributan di malam hari dari unit apartemennya dia tidak mau mengganggu para tetangga ataupun penghuni yang lain.
"lihat ini dan berpikir lah!" ketuk Jacky berbicara lalu menyodorkan sebuah microchip kepada Ayana ya Ayana tahu apa yang harus dilakukan dia memasangnya lalu memutar gambar yang ada pada Microchip.
Setelah mengamati beberapa waktu kini Ayana tertunduk malu. Ya, dia sangat malu, rupanya asumsinya tidak sejalan dengan kenyataan dan fakta yang berada di lapangan. dalam video tersebut terlihat dan Terdengar sangat jelas apa percakapan mereka. Ketiga wanita itu justru berkeluh kesah dengan keadaan ekonominya dan mereka sempat berucap terima kasih, karena Jacky telah membantunya secara tidak langsung. Jacky berperan besar dalam keadaan mereka yang lebih baik saat ini mereka tidak lagi menjadi wanita penjaja.
__ADS_1
Keadaan ekonomi mereka sangat terbantu dan mereka mendapatkan pekerjaan yang lebih terhormat daripada menjadi pemandu lagu plus-plus.
"Maaf." Lirih kata maaf terucap dan suasana menjadi sangat canggung berselimutkan aura dingin.
"Kau kemana tadi๐ค?" Tanya Ayana.
"menurutmu aku kemana? untuk mendapatkan bukti ini aku kembali ke perusahaan menemui penanggung jawab ruang kontrol yang mengamati seluruh sisi CCTV yang ada di kantor kau tau๐?" nada bicara Jacky terdengar kesal kesal yang bukan main mungkin saat ini dia ingin meninju sesuatu?
Ayana menjadi tak enak hati dia kemudian duduk mendekat pada Jackie dengan posisi kepala yang berada tepat di sampingnya. Jackie masih berbaring mencoba menghilangkan rasa kesal yang menumpuk memenuhi dadanya.
"Maaf, sekarang Jangan marah lagi ya? kalau lapar? aku akan membuatkan sesuatu, kamu pasti lapar. Kamu belum makan kan? kan? kan๐?" Ayana memasang wajah imut dan mengerlingkan matanya beberapa kali mencoba menggoda sang suami berharap suasana hatinya cepat terganti dengan suasana hati yang lebih baik.
"Cih! dasar penggoda๐!!" Jackie berdecih. "cepat buatkan aku makanan aku lapar!" titahnya yang terdengar kasar.
Tak perduli dengan nada bicara lagi Ayana kini merasakan perasaannya jauh lebih baik setelah mengetahui yang sebenarnya meskipun ada rasa malu karena salah menuduh tapi dia memilih untuk menyingkirkan gengsinya itu dan memilih untuk mendekati suami dengan caranya yang manis.
Makanan sudah siap, Ayana tidak memasak. Tapi, hanya menghangatkan makanan instan di microwave. Tak lupa minumannya pun sudah ia sajikan dan meletakkannya perlahan di atas meja lalu membangunkan Jackie dengan sangat hati-hati. Caranya membangunkan cukup unik, dia memijat kaki Jackie dan tak lupa wajah bahagianya terpasang wajah ceria itu kini kembali hadir. Ayana tersenyum manis sambil memijat kaki Jackie.
"Sayang bangun makanan sudah siap kau mau aku suapi hemโบ๏ธ?" kata Ayana dengan nada bicara manja yang terdengar begitu menggelitik di telinga.
cih! sok imut sekali dia. Setelah tadi marah-marah tidak jelas menuduh ku yang macam-macam dan sekarang memasang wajah imutnya itu? tapi kenapa aku begitu menyukainya aku tidak bisa menolak daya tarik itu๐ซ.
"Aku bisa makan sendiri aku tidak lumpuh atau cacat๐ค!" ketus Jacky dengan kesalnya. Dia masih marah bagaimanapun juga, tadi tuduhan Ayana itu tidak tepat sasaran dan membuatnya merasa sangat tersinggung. Secara tidak langsung Ayana meragukan kesetiaan suaminya.
"aku pijat ya kamu pasti lelah๐?" Ayana menawarkan sesuatu yang tidak mendapatkan jawaban atau respon dari suaminya suaminya kini tengah fokus memakan apa yang tadi dia sajikan.
tanpa menunggu persetujuan Ayana lalu memijat Jackie tidak ada penolakan tapi juga tidak ada sambutan jika bersikap dingin padanya.
sampai pada malam hari yang kian menuju dini hari keduanya kini tengah berbaring di ranjang. Jackie masih bersikap acuh tapi.....
Ayana yang menggeliat, Iya dia bertingkah seperti ulat bulu dia terus saja mendekati Jackie dengan caranya. Mengusap-usap lengannya, mengusap dadanya mengusap pipinya dan sesekali dia menciumi wajah suaminya.
Tak pelak akhirnya Jackie pun sebagai lelaki normal tergoda. dan....
Terjadilah penyatuan. Tanpa kemarahan, dengan suasana remang, berbagi kelembutan dan kemesraan.
Apa yang seharusnya kini sudah jadi semestinya. Jackie dan Ayana melakukan malam pertama setelah 6 bulan menikah. Oh, terlalu lama bagi lelaki berpuasa.
Di kamar Alex.
"Apa mereka sudah baikan?" Alex menggumam sembari menatap langit-langit kamarnya.
Anak tengah itu tadi ikut sibuk mengumpulkan bukti untuk menyudahi kemarahan adik iparnya. Dengan Alex sajalah Jackie berani mengadu dan meminta pertolongan. Selebihnya? tidak ada yang tau kecuali Alex. Beruntung sekali bukan? Jackie memiliki kakak seperti Alex?
"Ah~~~ aku lelah sekali. Andai aku punya istri, pasti sudah ada yang menyambut, lalu memijatku, membuatkan minum, inilah, itulah, Argh....!!" Alex mengerang kesal tak berkesudahan.
Alex dia hanya bisa mendamba tanpa berani menggambarkan rupa.
Alex yang pernah gagal berkali-kali dalam memilih wanita sebagai calonya, kini lebih santai di luarnya tapi dalamnya?
Alex begitu ingin segera ingin menemukan jodohnya.
"Aku lupa, besok ada kencan buta. Semoga saja wanita yang di calonkan oleh Tante Agustina adalah wanita kriteriaku." Alex berharap dalam sayup-sayup rasa kantuk.
...๐ผ๐ผ๐ผ...
"Kamu tidak kerja Yang?" Tanya Ayana pada Jackie, sedangkan fokusnya tertuju pada nasi goreng yang tengah di masaknya.
Jackie yang masih bermalas-malasan di sofa menikmati acara kartun anak-anak menjawabnya. " Tidak ay, hari ini aku khusus buat kamu aku ingin kita ada Us time. Aku ingin Quality Time Kita tetap terjaga dengan baik."
Ayana duduk di sebelah Jackie dan meletakkan nasi goreng buatannya. Jackie mengendusnya dan langsung menyantapnya.
"Hati-hati panas Sayang." Kata Ayana khawatir. Nasi goreng itu masih mengepul dan Jackie tidak sabaran langsung memakannya.
Jackie suka dengan perhatian kecil yang istrinya berikan, Hanya secuil tapi bermakna dalam.
"Sudah besar, tapi sukanya kartun." Ayana menggerutu lalu hendak memindahkan chenel TV tapi di larang oleh Jackie.
"Jangan! lagi seru!! Lagian bagus kan? sekalian latihan nanti kalau punya anak biar tidak berebut acara tayang." Katanya dengan mulut yang penuh dengan makanan.
Anak ya?
Tapi aku belum siap....
Author : " Belum siap kenapa sih Ay? suami kaya, bertanggungjawab, sayang sama kamu, kurang apalagi?"
Ayana: " Thor, aku masih takut. Takut kejadian yang dulu terulang. Juga aku masih ragu atas perasaanku sendiri.
Author: " Ragu? Eh tapi kalian kan udah anu anu? "
Ayana: " Thor, jangan bilang suamiku. Aku, mau anu- anu itu karena takut dosa."
Author:" Oh begitu? aku boleh bilang sesuatu ga?"
Ayana: " Apa Thor?"
Author: " Ayana!! Apa yang kamu lakukan itu JA-HAD!!!"
__ADS_1
Tau ah ga ngerti lagi sama Ayana. Harapannya masih Gino melulu ๐.