
...,🌹🌹🌹...
Merasa haus, Jackie terbangun dari tidurnya. Bukanya mencari air minum, hal pertama yang di lakukanya adalah menghubungi Ayana.
" Ih, apalagi sih ini?" Cicit Ayana yang kemudian membelalakkan matanya dan mematikan Panggilan. Iya dia menolaknya.
" Lalu Kakak menginap dimana?" Tanyanya yang sedang asik berbincang dengan Gino.
" Di hotel. Kenapa, kau khawatir?" Tebak Gino yang melihat Ayana memainkan bibirnya saat mendengar kata hotel.
" Hei, aku di hotel sendiri tidak dengan wanita-wanita. Kenapa mukamu jadi seperti itu?" Tanya Gino melihat perubahan mimik wajah Ayana.
" Bu... bukan begitu." Lirih Ayana menyahut dan menunduk lesu. membuat Gino tertawa kecil.
Gino merengkuh dan membawa Ayana kedalam dekapannya. " Sini..., jangan berlebihan."
" Bukan begitu, aku hanya sedih saja selama ini aku belum bisa membalas semua kebaikanmu." Jawab Ayana.
" Hei, kau kan adikku. Untuk apa membalasnya? sudah seharusnya aku membantumu. Aku juga bertanggung jawab atas apa yang terjadi padamu dulu. Andai saja dulu aku bisa bersikap tegas pada Lena. Tentu kau juga tidak akan terseret kedalamnya." Ujar Gino dengan memeluk Ayana. Menumpahkan segala rindunya. Mencium kembali aroma tubuh yang lama dirindukannya.
Sikap dewasa dan hangat Gino membuat Ayana sedikit menyesali keputusannya untuk bercerai darinya dahulu. Bila saja dia bukan pecundang kala itu. Tapi jika dia tidak bercerai, mungkin akan lebih banyak keributan yang terjadi. Ah sudahlah lebih baik menahan perasaan demi kebaikan bersama.
" Ya sudah, aku pulang dulu. Dan kau tidurlah ini sudah malam." Gino mengacak-acak rambut Ayana gemas.
Ayana mengangguk. Mereka berpisah dengan lambaian tangan dan saling bertukar senyum. Gino berjalan kembali sembari memeluk dirinya sendiri, mencoba mengingat sentuhan yang tadi baru saja terjadi.
Sedangkan Ayana, dia berjalan kembali memasuki kamar kostnya. Betapa terkejutnya dia kala melihat Jackie berdiri menunggunya di ambang pintu sembari bersedekap dengan wajah garang. " Senang kau peluk- pelukan dengan kakakku? Kenapa kalian tidak melanjutkan hubungan saja berdua?" Ucapnya tegas tanpa basa-basi.
Rupanya Jackie melihat kejadian tadi. Kejadian dimana Ayana dan Gino berpelukan. Tak menjawabnya Ayana lebih memilih nyelonong masuk lalu mendorong Jackie keluar dengan kasar.
" Hei! apa-apaan ini? Jawab dulu aku!!" Seru Jackie menggedor pintu.
" Woy!! Mas!! ini sudah malam jangan berisik!! menganggu anakku saja!!" Tegur seorang penghuni kost lainnya yang terlihat marah.
__ADS_1
" I... iya maaf." Jackie menunduk.
Terpaksa malam ini dia harus kembali ke apartemennya. Dia tak mau menjadi gelandangan dalam semalam. Ingin kerumah Bu Sri, tentu saja dia tak enak hati. Bu Sri tentu sudah tidur.
Melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Entah apa perasaannya saat ini, yang jelas dia sangat, sangat tidak suka melihat adegan pelukan tadi. Dan, belum lagi dengan Ayana yang mengabaikannya dan tak mau menjawabnya.
Sesampainya di apartemen, dia dikejutkan dengan sosok Gino di kamarnya. Kesal bukan main, Jackie lalu keluar kamar dengan membanting pintu keras-keras dan membuat Gino terhenyak kaget.
" Bisa pelan tidak?" Tutur Gino saat keluar dari kamar dan menyusul Jackie.
" Keluar sekarang dari rumahku!" Jackie mengusir Gino.
" Apa? hei bukankah kita bersaudara?" Kata Gino dengan santai.
Jackie berdecih. " Cih!" dia mendekat dengan wajahnya yang kesal dan tak lagi bersahabat. Gino sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya." Kita sudah tidak ada hubungan setelah kau menghancurkan segalanya. Kau menghancurkan perasaanku! merebut milikku!! dan merusak semuanya." Keras Jackie berbicara dengan lantang.
" Itu sudah masa lalu, dan aku sedang berusaha memperbaikinya sekarang. Tidak bisakah kau bersikap sopan padaku? aku lebih tua darimu!!"
" Memperbaiki? bisa kau memperbaiki sakit hatiku? Huh!!" Berucap kuat dan bersamaan dengan pukulan yang mendarat di rahang Gino.
Tak terelakkan kedua lelaki bertubuh gagah itu kini beradu jotos. Tak ada yang melerai dan tak ada yang mau kalah.
" Ada apa?" Tanya Ayana yang masih lemas dan mengucek matanya sambil berdiri dengan penampilan yang acak-acakan.
Dan, yang berdiri di hadapannya dengan penampilan tak kalah semrawut dengan beberapa luka lecet dan lebam.
" Wa... wajahmu kenapa?" Tanyanya pada Jackie yang justru menariknya menuju kebelakang pelataran parkir di sebuah bangunan kosong.
Jackie menarik paksa Ayana dia mencengkeram kuat pergelangan tangan Ayana hingga memerah dan Ayana meringis menahan sakit. " ini sakit..." Rintihnya.
Tanpa melihatnya, Jackie berbicara dengan afeksi. " Katakan padaku yang sejujurnya, apa kalian masih menjalin hubungan? Belum puas kau menghancurkan rumah tangganya? belum puas kau membuat nama keluarga kami tercoreng?"
__ADS_1
" Bodoh sekali aku masih bertanya padamu. Kau tentu paham mengapa kau ada di perusahaannya?"
Perusahaannya?
Tentu saja Ayana tidak tau. Yang dia tau, dia bisa kuliah dan bekerja paruh waktu kala itu memang atas bantuan Gino yang mengenalkannya pada sahabatnya untuk menerimanya sebagai pelayan Cafe. Tapi selebihnya, tidak.
" Perusahaannya? apa maksudmu?" Ayana tercengang dan menatap Jackie.
" Perusahaan yang ku pimpin sekarang, adalah perusahaan yang dikelolanya sebelum aku datang. Kau... kau bekerja sebagai pelayan juga atas bantuannya, beasiswa kuliahmu, juga kosanmu ini yang kau tempati ini, adalah miliknya!! dia sengaja membelinya agar kau bisa nyaman menempati!!" Ujar Jackie penuh amarah. Pasalnya selama ini dia tidak tinggal diam.
Dia mengamati segala apa yang dilakukan oleh Gino. Itulah yang membuat amarahnya memuncak kala melihat segala bukti yang di kumpulkannya ternyata sangat konkret.
Memang dulu Ayana selalu menolak segala bantuan Gino dia tidak ingin selalu menjadi beban bagi orang lain. Tapi apa buktinya? dia tetaplah lemah tak berdaya tanpa bantuan Gino.
Pantas saja kosan yang di tempatinya memiliki sewa yang lebih miring daripada yang lainnya. Tapi, Bu Sri juga tak pernah bercerita tentang siapa pemilik sebenarnya dari kosan itu.
Apakah selama ini Bu Sri menjadikannya anak angkat juga atas perintah Gino?
Banyak pertanyaan yang berkecamuk dikepala Ayana. Fakta baru terungkap dan itu cukup membuatnya marah.
Inilah nasib orang tak mampu. Mau marah pun aku tak berhak. Bukankah seharusnya aku berucap banyak terimakasih? karena mantan suamiku masih menjamin kesejahteraanku sampai saat ini?.
" Apa?" Ayana terduduk.
Jackie mendekat ke arahnya. Tanpa aba-aba Jackie meluapkan kemarahannya dengan cara yang berbeda.
Jackie mel***t bibir Ayana. Menghisap manis ranum yang lembut dan hangat. Sesuatu yang pernah dirasakannya dulu sewaktu mereka masih duduk di bangku SMA. Ayana, dia ingin menolak, tapi jiwa dan raganya seolah sedang berseteru. Dia diam tanpa banyak perlawanan.
Perlahan ciuman itu semakin dalam dan kian hangat. Jackie menangis disela-sela ciuman.
" Kenapa menangis?" Lirih Ayana berucap sat ciuman selesai dan Jackie memeluknya erat.
" Sebab aku membencimu! sangat membencimu!!" Ujarnya yang kemudian pergi meninggalkan Ayana yang diam mematung.
__ADS_1
Udah ah, Mimi bapereu 🤧🤧.
JK, I love you lah. sikapmu jantan sekali....👍🤭