Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
51. Makan bersama.


__ADS_3

...🍁🍁🌼🍁🍁...



...🍁🍁🌼🍁🍁...


Ayana, dia yang karena pengaruh obat tengah terlelap membuat Dita merasa gusar. Dia khawatir saja, takut-takut kalau mantan bawahannya ini akan terlelap untuk selamanya.


Berkali-kali Dita terbangun dari duduknya dan memeriksa hembus nafas Ayana. "Oh syukurlah dia masih bernafas." Gumamnya lega lalu mengelus dadanya.


Saat Dita duduk dan hendak memejamkan matanya, dia ingat akan sesuatu. Kemana perginya benda pipih berwarna rose gold miliknya?


"Astaga! ponselku?" Dita clingukan mencari-cari smartphone Android kesayangannya.


"Apa tertinggal di dalam apartemen Pak Jackie? Eh... Pak apaan? aku ini sekarang adalah Kakak iparnya." Dita berbicara seorang diri.


"Sebaiknya aku mencarinya sebelum suamiku menjadi gelisah tak menentu." Pikirannya yang kemudian bergegas pergi sebelum Ayana terbangun.


Dita membelah jalanan kota yang lengang. Tanpa sadar, waktu memang sudah semakin malam dan langit kian menggelap.


Sudah seharian Dita menjaga Ayana. seorang diri.


Sesampainya di apartemen Dita langsung masuk dan mencari ponselnya.


Tak lupa dia juga membawa perbekalan beberapa makanan dari kulkas yang bisa di makanya.


Bukannya tak mau beli, tapi dompetnya tertinggal di apartemennya. Akan butuh waktu yang lumayan lama jika harus kulu-kilir kesana-kemari.


"Tidak ku sangka. Apa yang terlihat indah ternyata begitu mengenaskan dan menyimpan cerita yang rumit." Ucapnya sambil memotong-motong buah apel untuk di bawa.


"Seh...! tapi tadi, saat melihat dia menceritakan tentang suamiku aku merasa tak suka. Ada sesuatu yang mengganjal di hatiku tapi apa itu? apa aku mulai menyukai Pak Gino?"


"Ah entahlah." Dita menggidikan bahunya masa bodoh.


Masih sibuk memotong dan meracau, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Matanya melihat ke ponselnya dan bertepatan dengan itu, ponsel Ayana juga ikut berdering.


"Aish!! matilah aku!! kenapa Kakak beradik ini menelfon secara bersamaan?" Dita memarahi kedua ponsel di hadapannya.


"Ah, biarkan saja sampai mereka lelah. Sebentar lagi aku selesai. Tunggu ya?" Ucapnya dengan nada bicara yang dibuat semanis mungkin tanpa mengangkat panggilan.


...di lain tempat....


"Argh....! Kemana dia ini?" Gino menggumam dengan tatapan mata yang terpusat pada ponselnya.


"Cek...!" Jackie berdecak dan terlihat gusar. Dia juga menunggu istrinya untuk mengangkat panggilan.


"Kenapa? belum di angkat juga?" Tanya Alex yang dengan santainya membawa beberapa botol bir dan meletakkannya di atas meja.


Mereka tidur dalam satu kamar hotel. Tentu saja itu semua atas permintaan Jimmy yang ingin berkumpul menghabiskan waktu bersama Kakak dan adiknya.


" Belum!" Jawab Jackie dan Gino bersamaan.


Mereka berdua pun kemudian menyambar gelas yang sudah diisi bir oleh Alex sebelumnya.


"Astaga! santai saja brother! take it slowly!" Alex menyeringai dan tersenyum tipis. Tentunya dia menertawai adik dan kakaknya yang sedang galau lantaran di acuhkan oleh istrinya.


"Dari tadi, dari semenjak kita turun pesawat, istriku sudah tak mengangkat panggilanku." Kata Gino.


"Sama, tak biasanya juga Ayana mengabaikan ku seperti ini. Apa dia marah?" Jackie menerawang lagi sebelum keberangkatannya tadi.


" Santai saja, kalian baru berpisah beberapa jam dan sudah begini galaunya?" Alex menggeleng tak percaya betapa saudaranya ini telah menjadi budak cinta.


"Diam!" bentak keduanya bersamaan.


"Nanti juga akan ada kabar. Siapa tau mereka sedang..." Alex menggantungkan ucapanya dan tertawa kecil membuat Gino dan Jackie semakin penasaran.


" Sedang apa? bisa kau lanjutkan ucapanmu itu? atau aku akan menggulungmu ke dalam selimut." Ancam Gino pada adiknya yang kalah tinggi dengannya itu.


" Iya, iya. Ya mungkin mereka sedang asik bersama berondong." Ucapnya asal dan mendapatkan sorot tajam langsung.


"Hei! jangan membuatku mengubahmu menjadi lebih pendek lagi ya!" Ancam Gino berapi-api.


" Kak, ayo kita ke pojok sana. Lumayanlah tak ada samsak kau pun jadi." Kata Jackie yang syarat akan makna kiasan.


" Hahahaha! tenanglah. Itu mungkin saja. Istri kalian itu cantik dan berduit. berondong mana yang menolak?" Tambah lagi Alex menabur bumbu kemarahan adik dan kakaknya.


" Kau!!" Geram Gino yang lalu melempar Alex dengan bantal.


...Sementara itu di rumah sakit....


Dita kembali dan untungnya Ayana belum terbangun.


Entah kebetulan atau memang sudah direncanakan. Saat Dita sampai, sudah ada seseorang yang berdiri di depan pintu kamar rawat Ayana.


Pria berkulit pucat yang tak asing bagi Dita. Dia sering melihatnya di sebuah Cafe depan kantornya.


" Kamu?" Tanya Dita yang kian mendekat sambil membawa segala kebutuhannya.

__ADS_1


Si pria berkulit putih itu mengangguk lalu tersenyum ramah. " Aku... Oh! perkenalkan namaku Shaga!" Katanya yang memulai perkenalan dengan awal yang baik.


"Kamu barista di Cafe depan kantor xxxxxxx kan?" Tebak Dita yakin.


Shaga mengangguk dan menyertakan senyuman manisnya.


"Kenapa berdiri disini?" Tanyanya yang aneh saja baginya mengapa si barista ini berdiri di depan kamar rawat dik iparnya.


Shaga menjawab. " Ah, tadi aku kemari untuk menjenguk salah satu pelayanku yang sakit dan tidak sengaja saat melintas di depan pintu ini aku melihat dia." katanya Pelan yang menunjuk kamar rawat Ayana dengan dagunya.


"Oh, begitu. Apa kau mengenalnya?" Tanya Dita sengaja mencari informasi guna melenyapkan rasa ingin tahunya.


Shaga tersenyum. " Iya aku mengenalnya, dia dulu bekerja di kantor depan cafe kan? Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya. Apa dia sudah berhenti bekerja?"


"Tentu, dia wajib berhenti bekerja di kantor suaminya sendiri. Begitupun aku. Oh iya perkenalkan aku Dita Kakak iparnya Ayana."


Raut wajah Shaga berubah seketika Dita menyinggung soal kata adik dan kakak ipar.


Dia sudah menikah 😭😭? Jauh dalam hatinya Shaga bersedih karena peluangnya telah lenyap.


" Apa kau tidak ingin masuk dan menjenguknya dari dekat?" Dita memberikan tawaran.


" Iya..." Shaga meringis malu tapi juga ragu.


Akhirnya mereka berdua masuk dan menyapa Ayana.


" Aduh aduh... ibu hamil baru bangun. Eh ini ada yang ingin mengunjungimu." Kata Dita sembari berjalan dan menggeserkan sedikit tubuhnya agar Shaga yang berada di belakangnya terlihat.


" Shaga?" Ayana langsung menyapanya meski dengan suara yang lemah.


" Hai!" Shaga melambaikan tangannya dengan senyuman manisnya.


" Kau sakit apa?" Tanya Shaga langsung pada intinya. Tatapannya teduh dan teralihkan dari wajah pucat Ayana.


Ayana tersenyum meski dengan bibirnya yang pucat. " Aku... em... biasa lah awal hamil. Belum ada pengalaman, apa sedikit paniknya bukan main." Jawab Ayana berbohong.


Shaga hanya mengangguk.


" Bagaimana kabarmu? apa kau masih bekerja di cafe itu?" Tanya Ayana berbasa-basi.


" Hem, tentu. Aku tidak tau kalau kau sakit dan dirawat disini. Kalau aku tau pasti aku akan membawakan beberapa makanan untukmu."


" Ah, tidak usah repot-repot." Ayana menolak secara halus.


" Apa kau ingat kupon undian berhadiah itu?" Tanya Shaga Dan Ayana mengangguk.


" Maksudnya?" Ayana mengerutkan keningnya.


" Biasa permainan orang dalam. Akua kan meminta pada bosku agar menyisihkan satu untukmu."


" Tidak usah, itu licik namanya." Ayana menolaknya lagi.


" Tidak apa bosku orangnya sangat baik dia tidak akan marah." Klise sekali alasan Shaga.


Tentu tidak akan marah, kerena cafe berserta isinya itu adalah miliknya. Memangnya siapa yang akan menegurnya sekalipun cafe itu di berikan kepada Ayana?


"Hem, terserahmu saja. kau bisa menghubungiku kalau hadiahku sudah keluar." Kata Ayana yang rupanya sangat berharap mendapatkan hadiah undian.


Sebenarnya, Shaga sudah mempunyai nomermu Ayana, hanya saja dia menunggu waktu yang pas. Dan sekarang, kau malah menyerahkan diri, tentu saja Shaga sangat senang. Ini merupakan lampu hijau baginya. Setelah ini dia sudah boleh menghubungi Ayana kapan pun itu.


" Ay." Seru Dita yang sedari tadi terdiam karena sibuk membalas pesan dan memeriksa Panggilan yang tak terjawab.


" Apa Kak?" Tanya Ayana.


" Lihat ini." Ucap dita yang lalu bangkit dan menunjukkan ponsel Ayana.


Ayana terkejut Samapi menutup mulutnya." 50?" Serunya.


" Bagaimana ini?" Mereka saling tatap seolah bermusyawarah melalui tatapan mata.


Shaga merasa canggung kemudian undur diri setelah dirasanya cukup berbasa-basi.


" Ay, aku harus menjenguk temanku dulu. Kamu lekas sembuh ya." Kata Shaga.


" Iya. Terimakasih sudah menjengukku." Balas Ayana yang kemudian dia bersalaman dengan Shaga.


Pertama kalinya, dalam sejarah hidup Shaga dia menyentuh dan bersalaman langsung dengan wanita incaranya. Shaga ingin berkeliling taman sambil bernyanyi lagu India rasanya.


...🍁🍁🌼🍁🍁 ...


" Bagaimana ini? aku harus menjawab apa?" Dita gemetaran saat ponselnya tiba-tiba berdering.


" Sini kak cepat kita tata seperti berada di kamar saja." Tutur Ayana yang meminta Dita untuk menarik ranjangnya dan menempatkan di dekat tirai agar tak terlihat beberapa peralatan rumah sakit yang ada.


"Huft...! Ini be.... rat." Keluhanya setelah menata tempat tidur Ayana hingga mepet kejendela.


Bersamaan dengan itu seorang perawat masuk untuk memeriksa selang infus Ayana. Dan siapa sangka orang itu adalah Diah.

__ADS_1


" Diah?" Ayana dan Dita bersamaan.


Diah dia memasang ekspresi wajah yang begitu terkejut saat namanya disebut.


" Ibu?" gumamnya yang memanggil Ayana dengan sebutan ibu.


"cepat kemari Bantu Aku ada tugas untukmu." kata Ayana dengan suara memburu.


"Apakah Alex sudah pernah masuk ke kamarmu sebelumnya?" tanya Ayana yang mengundang decak heran dari Dita dan juga dia dengan secara bersamaan.


Diah menggeleng yang mengartikan bahwa tidak pernah sama sekali Alex memasuki kamar kosnya.


" Huft! baguslah. sekarang kau cukup bantu aku dan turuti semua perkataanku. Sebentar lagi suamiku akan menelpon lagi lewat video call dan kau harus berpura-pura kalau kita sedang berada di kamarmu."


"Baik.." Meski ragu Diah tetap mengiyakan. Dia tak enak hati untuk menolak permintaan kecil dari mantan majikan ini.


Dan benar saja setelah Ayana selesai mengungkapkan permintaannya ponselnya kembali berdering dan itu dari Jackie.


Ayana segera mengangkat panggilan itu dan dia berpura-pura sedang berada di dalam kamar Diah. betapa terkejutnya Jacky kalau melihat istrinya itu berada di tempat yang asing.


Tak hanya Jackie, Gino pun juga ikut dalam video call tersebut karena mendengar lirih suara Dita juga ada di dalam video itu.


Dan akhirnya peserta terakhir yang ikut bergabung adalah Alex Setelah dia mendengar Ayana menyebut nama Diah.


Akhirnya mereka banyak berbincang di dalam panggilan video itu hingga hampir 1 jam. Tidak ada kecurigaan karena Ayana Dita dan Diah saling beradu akting dengan sangat baik.


Panggilan video call itu akhirnya selesai, banyak pertanyaan yang bertumpuk dari Jacky maupun Gino. Tetapi, dengan lihainya Dita bisa memberikan penjelasan yang cukup logis dan masuk akal hingga suami mereka akhirnya percaya begitu saja.


"Ada apa Bu mengapa kita tadi harus berbohong?" tanya Diah dengan rasa penasarannya yang teramat tinggi.


"sudahlah kau jangan banyak bicara aku akan membayarmu ekstra untuk hal ini janji rahasiakan ini dan diam jangan bilang hal ini sekalipun kepada Alex." kata Dita yang berucap dengan nada bicara yang tegas membuat diah menurut begitu saja.


Tak mau ambil pusing, Diah hanya menurut dan patuh. Baginya, selagi ada uang tambahan itu adalah hal baik bukan?


Malam hari mereka habiskan untuk makan bersama.


"Ay, aku tidak pernah menyangka jika kita akan menjadi saudara ipar begini." Kata Dita.


" Iya, sama aku juga. Seumur-umur dalam hidupku tak pernah merasakan kasih sayang seorang Kakak. Apa aku boleh menganggapmu sebagai Kakakku?" Tanyanya polos.


" Hei! apa itu? bukankah sekarang kau ini memang adikku? kita sudah menjadi saudara." Kata Dita.


"Maksudku Kakak yang benar-benar Kakak. Bukan kakak ipar." Ralat Ayana.


"Iya. Anggap aku kakakmu dan selalu bilang padaku jika kau punya masalah." Ucap Dita dengan tulus.


Terimakasih Kak Dita.


Aku sadar, ternyata begini seharusnya hubungan kita.


Apa yang kurasakan pada kak Gino rupanya juga hanya sebatas rasa sayang kepada seorang Kakak tidak lebih.


" Hei! jangan melamun dan cepat habiskan makanmu. Kau harus menjaga kesehatan demi janinmu." Kata Dita yang tangannya sudah siap menyuapi Ayana.


"Terimakasih banyak Kak sudah peduli padaku " Kata Ayana.


Senang saja Dita bersikap baik.


Dita dia hanya memiliki Kakak, baginya ini pengalaman baru mengasuh seorang adik.


" Kakak juga makan yang banyak. Tenagamu banyak terkuras tadi saat menggendongku." Kata Ayana yang kemudian mereka saling tatap dan tertawa bersama setelahnya.


...🍁🍁🌼🍁🍁...


" Bagaimana, sudah lega?" Tanya Alex dengan nada bicara sedikit menyindir.


Tak ada jawaban.


" Dasar budak cinta. Baru begitu saja sudah kelabakan. Memangnya mau kemana istri kalian itu? kalau tidak ada masalah seharusnya kalian tenang saja." Ujar Alex berbicara remeh.


" Ku doakan kau terkena azab. Kau akan menjadi suami yang sangat bucin lebih daripada kami!" Ketus Gino berbicara dengan nada kesal.


"Oh tentu tidak. Diah nanti Yanga kan memohon mohon padaku. " Sanggahnya penuh percaya diri.


" Cih!" Jackie berdecih sambil berdiri membawa piring makanya. " Rasakan saja, kau nanti akan menjilat ludahmu sendiri!!" Kata Jackie yang terdengar menyumpahi.


"Bukankah kau yang sudah menjilat ludahmu sendiri? iya kan?" Ucap Alex seolah mengingatkan kesalahan Jackie.


"Ah, sudahlah sebaiknya kita rayakan saja kemenangan kita ini. Ini tender besar aku harap kedepannya nanti kita akan semakin baik dengan kinerja tim yang maksimal." Ucap Gino yang kemudian mulai menyantap makanannya.


" Hem!" Alex mengangguk dan menikmati makanan yang tersaji.


Acara makan malam yang sederhana yang nyatanya mampu mengeratkan ikatan diantara mereka semua.


Ada yang sedikit aneh pada saat video call tadi.


Tapi apa ya? Jackie menlisik.

__ADS_1


__ADS_2