Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
80. Rujak bebek.


__ADS_3

...🦢🦢🦢...



...🦢🦢🦢...


" Pagi pak!" Sapa karyawan yang sudah duduk rapi di meja kerjanya masing-masing.


"Pagi!" Balas Jackie sambil menundukkan sedikit kepalanya.


Perangainya berubah semenjak hubungannya dan istrinya membaik. Kini Jackie jauh lebih humble dan murah senyum. Dia mulai bisa bertanggungjawab atas segala pekerjaannya. Jackie kini tak melulu hanya mengandalkan kakak-kakaknya ataupun fajar sang sekretaris.


"Pagi pak!" Ucap fajar yang kemudian mengekor di belakang Jackie. Dia lalu membacakan serentetan agenda harian yang harus di hadiri sang bos.


"Jam 11 kita ada pertemuan dengan perusahaan Picta gunam di restoran Jepang." Kata fajar yang belum selesai membacakan agenda tapi langkah kaki Jackie terhenti saat fajar menyebut restoran Jepang.


Jackie akhir-akhir ini tidak menyukai raw food atau sejenisnya. Entahlah mengapa, baru mencium bau amisnya saja dia sudah muntah-muntah. Tapi, bukankah ini sedikit terlambat? bukankah biasanya hal seperti ini terjadi pada saat trimester pertama?


Entahlah, tapi secara medis hal itu pun masih bisa terjadi dan memiliki peluang yang sama besarnya. Mengingat kehamilan simpatik hanya menimpa kaum laki-laki dan itu tidak berlaku bagi si ibu hamil sendiri.


"Bisa jangan ke restoran Jepang?" Pintanya berharap masih bisa merubah tempat pertemuan.


Fajar menggeleng menjawabnya. Dia tau bosnya akan bicara apa setelah ini. "Kalau tidak bisa, kau saja yang datang. Aku sangat tidak bisa mencium bau amis atau melihat daging segar. Kau tahu itu."


Ya ampun, lagi lagi aku. Kalau Bapak tidak bisa mencium baunya, apalagi aku. Pak asal Bapak tau ya, lidahku ini lebih menyukai sambel terasi dan ayam goreng juga sayur nangka daripada harus memakan makanan yang masih mentah seperti itu. Fajar mengeluh dalam hatinya. Mana berani dia berucap langsung, bisa-bisa, posisinya akan terancam lengser.


" Baik Pak, nanti akan saya usahakan. Semoga Bapak Yamada mau menerima pergantian tempat temu."


"Em.... bagus." Jackie lalu mengangguk dan kembali melangkahkan kakinya menuju ke ruang kerjanya.


Hal pertama kali yang dilihatnya adalah Boneka panda, bunga anggrek dan juga lavender. Pastilah semua itu akan di periksanya secara teliti tanpa ada satu serangga pun yang hinggap di setiap helai dan kuntum bunganya.


"Bunganya?" Tanyanya pada fajar.


"Sudah pak, saya sudah memperkerjakan seorang florist untuk merawat bunga-bunga ini. Ruangan ini jadi lebih bernyawa saat Nyonya meletakkan bunga-bunga ini." Fajar mengakui kepandaian Ayana dalam memilih dan menempatkan bunga dalam satu ruangan.


"Ehem! sudah jelas itu. Kan istri saya." Jackie berbicara dengan bertinggi hati membanggakan istrinya.


Fajar hanya bisa menahan tawanya melihat atasanya yang berlagak dan begitu membanggakan istrinya. Padahal tadinya ruangan yang bernuansa abu-abu itu tidak memiliki nyawa. Dalam artian, ruangan itu tidak memiliki corak sama sekali. untuk furniture pun hanya boleh dipadukan dengan warna monokrom. Tapi sekarang, ada perubahan dengan adanya bunga-bunga yang mengisi ruang dekat jendela dan sebelah sudut meja.


"Em... fajar!" Jackie tiba-tiba memanggil Fajar yang sedang memeriksa jadual.


Atensi fajar teralih dan dia dengan segera mendekat pada sang atasan. " Iya Pak, ada apa?"


"Kamu kan tahu, tentang bagaimana keadaan Istri saya."


"...." Fajar mengangguk paham.


Bagaimana dia bisa lupa, sewaktu menemui dokter kandungan secara diam-diam pun fajar ikut menemani dan tau bagaimana kondisi Ayana sebenarnya. Fajar juga lah yang menemani sang bos ketika menangis tergugu setelah menyadari betapa tinggi egonya.


"Apa menurutmu, aku perlu mengambil cuti panjang untuk menemani istriku? Aku ingin selalu berada di dekatnya."


"Tapi Pak, jika Bapak mengambil cuti panjang. Bukankah itu sama saja memberitahu kepada Tuan dan Nyonya besar tentang keaadan istri anda yang sesungguhnya? Yang saya takutkan, jika Nyonya besar sampai tahu, beliau akan mengambil negara Singapura sebagai tempat pengobatan. Dan itu akan membuat anda dan istri anda terpisah cukup jauh dan lama. Apa bapak bisa?"


Benar juga apa yang di katakan oleh Fajar. Dengan dia yang tidak masuk kantor, secara otomatis akan ada dewan direksi yang memberitahukan kepada Ayah Dhani bahwa putranya mulai sering absen.


Tentulah, dimana tempat selalu ada orang yang tak suka dengan kita, dan selalu ada orang yang suka mencari muka. Pun, itu yang ada di lingkup kerja Jackie. Banyak yang ingin menjilat dan mencari muka di hadapan Ayah Dhani.


"Em...." Jackie mengangguk paham. Dia memikirkan sesuatu, Entah apa itu, hanya dia dan Tuhan yang tahu.

__ADS_1


Di sebuah cafe.


" Evan...., bisa kau buatkan aku Americano?" Shaga duduk di dekat jendela mengamati gedung yang tinggi menjulang di seberang cafenya.


" Siap Bos!!" Jawab Evan dan kemudian mulai meracik kopi pesanan bos-nya. " Em bos, tadi kulihat suami dari wanita itu berangkat kerja."


" Lalu?" Shaga menyahuti dengan malasnya. Tangannya saling bertaut lalu menopang dagunya. "Dia mau apapun itu aku tidak perduli. Yang aku perdulikan adalah istrinya. Ayana."


" Ah, bos. Bos itu tampan, mengapa tak mencari wanita lain saja?" Evan sungguh menyayangkan pilihan hati bosnya yang terjerat pada wanita yang sudah bersuami.


"Evan, kalau hati sudah bicara, mulut bisa apa?" Shaga menyahuti sambil tersenyum kecut.


Shaga sendiri menertawai dirinya. Mengapa bisa malah jatuh hati pada wanita yang sudah bersuami? Shaga, sebenarnya juga bukan merupakan dari kalangan biasa bahkan Jackie dan Gino pun tak sebanding dengannya.


Shaga masih memiliki keturunan darah biru. Dia masih memiliki garis keturunan kerajaan. Adanya dia yang sedang duduk di cafe dan berperan sebagai barista, itu semua semata-mata hanya untuk mengisi kekosongan waktunya saja.


"Evan, jangan sampai ratu tau kalau aku menyukai wanita yang sudah bersuami." Kata Shaga.


" Iya Paduka Raja..!" Cetus Evan menyebut gelar Shaga yang baru calon raja belum menjadi raja yang sesungguhnya.


Shaga, dia sebenarnya tak menginginkan kedudukan sebagai seorang raja. Dia hanya ingin hidup bebas seperti rakyat biasa. Tapi siapa yang bisa menukar takdir? Jawabnya adalah tidak ada.


Shaga, Gino dan Jackie. Ketiganya pernah terlibat perseteruan saat masih bersekolah. Biasalah, anak remaja belum bisa mengontrol egonya. Tapi sisa perseteruan itu sampai sekarang masih terasa. Ketiganya masih enggan bertegur sapa.


Di kediaman Jackie.


Orang yang Jackie rekrut sebagai asisten rumah tangga adalah Bu Sri. Sebagai bentuk balas Budi, Jackie meminta Bu Sri untuk tinggal bersama mereka sebagai ibu dari Ayana. Bukan sebagai pembantu atau asisten rumah tangga bahasa kerennya.


"Bu, hari ini agak engap ya?" Ucap Ayana yang sedang berdiri dan mengipas-ngipaskan tangannya di depan wajahnya.


"Iya, tapi tidak begitu panas. Mungkin karena kehamilanmu saja Nduk."


"Ya, kalau ada sih mau." Ibu Sri malu-malu tapi mau.


Jadilah Ayana mengirim pesan Setelah melihat jam menandakan pukul 16:00 itu tandanya tinggal satu jam lagi suaminya akan tiba di rumah.


📩 : Sayang, nanti tolong belikan rujak bebek ya.


Jackie tersenyum melihat pesan masuk dari istrinya.


📨 : rujak 🦆?


Balas Jackie dengan polosnya yang tak tau apa itu rujak bebek. Dia yang dari kecil tak begitu suka makanan rujak bahkan tidak tau nama-nama rujak.


" Fajar, emang bisa bebek di rujak? bukanya rujak itu hanya buah ya?" Jackie bertanya pada Fajar yang tengah merapikan meja kerjanya.


Fajar tertawa kecil. " Ya Memang dari buah yang di bebek." Jawab fajar.


" Apa bisa buah di bebek? bebek ya bebek lah, di goreng atau di bakar ya enak. kalau di bumbu rujak? bukanya aneh ya. Bebek itu kan hewan unggas."


" Hadeh..." Fajar menggeleng lalu menunjukkan hasil pencariannya dari internet. " Ini Bapak."


" Tampilannya sama sekali tidak menarik, apa ini seperti muntahan." Oloknya setelah melihat gambar rujak bebek.


" Tapi enak kok pak." Jawab Fajar yang sebenarnya ingin menjelaskan tapi Jackie sudah terlebih dahulu mencibir jadi fajar mengurungkan niatnya.


📨 : Tidak usah di jelaskan, aku sudah tahu sekarang. Baiklah akan ku Carikan. Jackie mengirim pesan lalu membereskan perlengkapan kerjanya.


Seseorang di luar ruangan segera lari terbirit-birit meninggalkan meja kerjanya tepat setelah jam kerja berhenti. Fajar, dia orangnya. Dia sudah tidak tahan lagi dengan perutnya. Sebenarnya fajar akan mengalami diare Setelah memakan makanan dengan daging mentah.

__ADS_1


" Fa..!" Jackie memanggil sang sekretaris yang sudah kabur duluan.


Sampainya di rumah.


" Ay!" Jackie menenteng sebuah plastik besar berisikan buah buahan segar dan juga pesanan sang istri.


Ayana langsung menyambut dengan bahagia dan dia lebih bahagia lagi saat menatap bungkusan plastik di tangan sang suami.


" Ada?" Tanya Ayana.


" Ada." Jackie mengangguk.


Tanpa mandi dan membersihkan dirinya, Jackie langsung memeluk Ayana yang sudah bersiap menyantap rujak bebek.


" Apa enak?" Tanya Jackie dengan wajah penasaran. Dia bertanya pada dua wanita yang tengah duduk di sofa.


Bu Sri mengangguk dan Ayana juga mengangguk dengan begitu antusias. Menandakan apa yang di santapnya benar-benar nikmat.


" Cobalah A.....!" Ayana memberikan satu suapan.


"Wah enak!" Ujar Jackie kagum.


" Enak lah." Kata Ayana yang kemudian kembali melahapnya.


Jackie lalu mengambil satu cup rujak dan memakannya.


Tengah malam, Ayana sudah terlelap dan Jackie buang baru saja selesai memeriksa persentase penjualan mulai clingukan mencari makanan.


SENG...!


SENG!!


Terdengar suara mesin blender menyala malam hari. Membuat Ayana kembali terbangun. Dilihatnya di dapur, seseorang tanpa mengenakan pakaian dan hanya menggunakan celana pendek tengah membuat sesuatu.


"Ay!" Seru Jackie menyapa Ayana yang mendekatinya.


" Sayang kau membuat sesuatu?" Ayana bingung melihat dapur yang berantakan.


" Aku membuat rujak bebek."


" Rujak bebek, iya. Karena sekarang sudah modern jadi aku memblendernya kasar. Tapi tetap enak kok." Kata Jackie menjelaskan keonaran yang di buatnya.


Penasaran Ayana lalu ikut mencobanya.


" Buih...! Sayang jangan di makan, rasanya aneh." Ayana melepeh rujak buatan suaminya.


Tapi sang suami melahapnya dengan sangat nikmat. " Ini enak, aku membuatnya dengan bumbu cabai, gula pasir, sedikit cuka dapur dan garam sama brown sugar. Enak loh." Jackie memamerkan.


" Sayang, itu terlalu masam. cukanya terlalu banyak! dan bumbunya juga bukan itu." Ayana merebut mangkuk rujak blender buatan Jackie.


" Tapi aku masih bisa memakannya ay." Jackie meminta lagi dengan paksa.


lihat siapa tadi yang hilang rujak itu mirip dengan muntahan? Sekarang lihat betapa dia menggilainya.


" Kalau sakit perut bagaimana?" Ayana mencemaskan keadaan suaminya.


" Tidak! kalau sakit ya kan ada alasan untuk seharian di rumah denganmu!" Kata Jackie sambil terkikik dan mengedipkan satu matanya.


" Nak, jangan tiru sikap genit ayahmu ya." Ayana memperingati janin di dalam perutnya yang tak tau apa-apa.

__ADS_1


__ADS_2