
...🌼🌼🌼...
"Dit, kita ke dokter yuk!" Ajak Gino pada istrinya yang duduk berjauhan dengan masker yang masih melekat.
"Kenapa? aku tidak apa-apa. Hanya saja, hawanya setiap melihatmu itu kayak yang... Apasih, susah dijelaskan." Dita menggaruk-garuk kepalanya.
"Aku takut hidungmu ada kelainan. Pokoknya hari ini jam aku istirahat aku akan pulang dan mengantarmu ke dokter THT."
"Harus ya?" Dita sangat enggan untuk keluar dari rumah. " Tapi aku malas tau suamiku. Di luar begitu terik, silau tau...!" Keluhnya padahal dia belum pernah keluar dari rumah semenjak hari dimana dia di panggul oleh suaminya.
"Apasih aneh sekali kamu. Kemarin hidung, terus sekarang mata. Ya sudah kita ke dokter spesialis mata sekalian. Aku takut ada apa-apa dengan penglihatanmu." Kata Gino yang sebenarnya sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya yang menjadi aneh akhir-akhir ini.
"Sini, cium tangan!" Gino mengulurkan tangannya dan kemudian mencium punggung tangan suaminya.
Gino menggeleng melihat Dita yang sudah memakai masker tapi masih menutup hidungnya saat mencium tangan suaminya. " Apa aku sebau itu Dit?"
Dita mengangguk beberapa kali dengan mata membulat tanda dia jujur berpendapat.
"Ah, sudahlah. Pokoknya kita kedokter. Aku lelah ya setiap malam harus tidur di sofa."
"Iya." Sahut Dita sambil membawakan tas kerja Gino.
Selepas menghantarkan Gino, Dita langsung melepaskan maskernya. "Ahh... lega sekali. Kenapa juga hanya merasakan bau jika dekat dengan Dia? Padahal sebelumnya ku akui dia tak memiliki bau meskipun tak mandi berhari-hari. Setiap mencuci baju saja aku sampai bingung untuk memilah baju mana yang kotor."
"Ada apa hidungku ini?" Dita mengucek hidungnya.
...🌼🌼🌼...
"Pak, rapat akan segera di mulai." Ujar Adam sekretaris baru Gino yang baru bekerja selama satu Minggu.
Gino masih fokus pada monitornya, dia sedang memeriksa beberapa file yang baru saja sempat dibukanya. " Hem..!" Sahutnya tanpa melihat Adam.
"5 menit lagi Pak." Kata Adam dengan ragu.
"Hem!" Sahut Gino lagi.
Merasa tidak ada yang akan di sampaikannya lagi, Adam berinisiatif untuk pergi. " kalau begitu saya permisi Pak."
"Siapa yang suruh kamu pergi?" Celetuk Gino membuat kaki adan terkunci pada tempatnya berdiri.
Adam bingung, bosnya ini terkenal tegas, dingin dan tak banyak bicara. "Ada yang bisa saya kerjakan Pak?" Tanyanya.
" Hubungi rumah sakit, buat janji dengan dokter THT dan juga spesialis Mata untuk istri saya. Dan ingatkan saya jam 2 nanti untuk menjemput istri saya." titah Gino.
" Baik Pak,"
Dan beberapa saat kemudian. "Sudah Pak," Ucap Adam yang selesai membuat janji dengan dua dokter spesialis.
"Hem, kamu boleh pergi. Juga sekaligus bawa ini dan buat 5 salinannya lalu serahkan pada saya." Gino menyodorkan sebuah berkas pada Adam.
" Baik Pak." Adam menerimanya dan kemudian pergi.
Huh, benar-benar dingin. Bukan hanya soal cara bicaranya. Tapi juga auranya. Pantas saja sering berganti sekretaris. Gumam Adam.
Beredar kabar memang bahwa Gino sering memecat sekretarisnya karena sikap dinginnya yang tak mengenal toleransi dalam bekerja. Semuanya di tuntut untuk sempurna dan paripurna tanpa cacat sedikitpun.
Tapi, yang sebenarnya adalah dia mengganti sekretaris karena Dita tak mengijinkan suaminya memakai jasa sekretaris wanita. Gino hanya di perbolehkan untuk mempunyai sekretaris pria.
"Tim penjualan, laporkan hasil penjualan produk kita bulan ini." Gino duduk di kursi utama pemimpin rapat.
" Bagus Pak, penjualan meningkat sebanyak 2,5% dari bulan lalu. Sepertinya kita sedang mengalami lonjakan peminat di pasaran." Bagian penjualan melaporkan.
" Bagus, kalau begitu dari tim produksi naikan jumlah produksi kalian 10% di atas jumlah penjualan." Kata Gino.
Perwakilan tim produksi. " Tapi pak, 10% itu merupakan angka yang tinggi. Apakah pasaran produk kita akan stabil selama beberapa bulan kedepan?"
__ADS_1
Bagian Humas " Dari hasil selidik kami di lapangan, kemungkinan itu ada, sebab produk kita sedang di gemari masyarakat untuk acara-acara pernikahan dan sebagainya. Dan untuk bulan ini sampai dua bulan kedepan, kami sudah menelusuri bahwa banyak EO yang kebanjiran pesanan. Itu juga akan berpengaruh pada produk kita. Masyarakat tengah konsumtif saat ini."
" Bagus, saya rasa semuanya sudah mengerti akan evaluasi hari ini dan apa tugas kalian. Jadi rapat saya tutup." Ujar Gino menutup rapat yang selesai tepat pukul 12:00.
Semuanya meninggalkan ruang rapat setelah Gino meninggalkannya terlebih dahulu. Dan Adam, dia mengekor di belakang bosnya.
"Antarkan makan siang saya ke ruangan saja. Masih ada yang harus saya kerjakan." Kata Gino.
" Baik Pak!" Adam segera meluncur ke restoran dimana menjadi langganan bosnya.
Di dalam ruangannya.
" Aduh, leherku...!" Gino memijit lehernya yang kaku karena berhari-hari tidur di sofa dengan posisi yang tak bagus.
TOK!
TOK!
TOK!
Suara ketukan pintu.
" Masuk!!" Gino menyahut tanpa menoleh dia masih memijit lehernya sendiri.
Terdengar derap langkah kaki yang semakin mendekat lalu sebuah tangan terulur memijit lehernya.
" Capek ya?" Tanya si wanita yang memijit leher Gino.
" Hem!" sahutnya. " Tumben?" Tandasnya menelisik.
Tak biasanya, istrinya ini menghampiri ke kantor lalu berlaku manis begini.
"Ih, kok gitu sih? harusnya kan seneng gitu, istrinya Dateng terus mijitin. Ini malah dibilang tumben." Dita berbicara dengan ketusnya.
"Ya aneh, tadi pagi bilang bau, tapi sekarang? kenapa datang ke kantor? apa, ada apa?"
" Tidak ada apa-apa, cuma mau lihat kamu aja Mas." Jawab Dita yang berusaha untuk jujur.
" Tidak yakin sih Mas, aku juga merasa ada yang aneh sama diri aku. Tadi tuh ya, tiba-tiba aku pengen buah yang apa tuh namanya yang ada di Dieng, yang pohonnya mirip pepaya, tapi dalamnya seperti markisa. Apasih lupa namanya."
"Apa ada buah seperti itu?" Gino malah balik bertanya.
" Ih, ada loh. Sini deh.." Dita menarik tangan Gino lalu mengajaknya untuk duduk di sofa dan dia lalu membuka kembali laman pencarian.
" Ini Carica. tuh kan ada. coba baca." Dita memberikan ponselnya dan Gino menerimanya.
" Terus apa? pasti ada maunya iya kan?" Gino menebak perangai Dita yang tersipu-sipu sambil memijit lehernya.
" Hehehehe, enggak sih. Hanya saja tadi tiba-tiba aku membayangkan kita kesana terus metik sendiri lalu makan buahnya di bawah pohonya. Sepertinya enak kan?"
"Hemh, periksakan dulu kesehatan mata dan hidungmu baru kita rencanakan yang lain." Kata Gino yang kemudian mulai kembali duduk di kursi kebesarannya dengan cueknya.
" Ish..., menyebalkan!" Desis Dita.
" Aku dengar!!" Sahut Gino tanpa melihat yang istri yang cemberut.
Makan siang pun datang, Gino yang tak tau jika istrinya akan datang, dia hanya memesan satu porsi dan ketika minta tambah porsi, Adam sudah berada dalam perjalanan kembali ke kantor.
" Ini Pak, makanannya saya letakkan di meja." Kata Adam.
" Adam, tolong kamu taruh di meja bapak saja. Saya ga kuat sama bau bawangnya." Dita kembali memakai masker dan menutup hidungnya.
"Ah, Ibu. Seperti sedang ngidam saja jadi sensitif dengan bebauan." Ucap Adam asal yang hanya mendapatkan lirikan dari Gino.
"Tuh kan kumat!" Celetuk Gino. "Adam bawa kemari dan kamu boleh pergi."
" Mas, kamu kan alergi bawang putih. Jangan di makan sih itu bau banget bawangnya sumpah." Dita mulai berkomentar.
__ADS_1
Gino mengabaikan komentar istrinya dan memilih untuk menikmati makan siangnya. " Masakan mana yang tidak mengandung bawang? Alergi atau tidak, aku akan tetap memakannya."
" Ih, awas aja kalau garuk-garuk setelah ini." Dita mendesis dan memutar bola matanya malas.
"Saya permisi Pak, Bu." Ucap Adam.
" Iya..!" Sahut keduanya bersamaan.
Setelah mendengarkan kata ngidam dari Adam membuat Gino berpikir apa sikap aneh Dita itu di karenakan dia yang tengah hamil? Atau memang ada masalah kesehatan yang lain?
...🌼🌼🌼...
Di rumah sakit.
" Kak Gino! siapa yang sakit?" Tanya Jihan si sepupu yang kebetulan sedang bertugas.
"Ini, mengantarkan Kakak iparmu. Sepertinya dia ada masalah dengan hidungnya."
Dita hanya diam menyimak.
"Kenapa memangnya Kak?" Tanya Jihan pada Dita.
" Tidak tahu, sih jadi gampang mencium bau Ji. jadi menyengat gitu. Padahal kata Mas Gino tidak berbau. Jujur sih aku takut juga kalau kalau ini merupakan suatu indikasi dari si virus baru itu."
"Em, iya. Lebih baik berjaga-jaga. Sebaiknya memang segera di periksakan dan jangan pandang remeh. Juga sebaiknya jangan hamil dulu di musim pandemi ini Kak. Tingkat rentan yang tinggi sangat berpengaruh pada ibu dan janinnya."
"Iya ji." Jawab Dita yang sekilas melirik suaminya yang hanya diam menyimak percakapan antara dia dan sepupunya.
Setelah bertemu dengan dokter spesialis THT dan dokter mata, keduanya menyatakan kondisi Dita baik-baik saja dan tak ada yang aneh.
"Aneh Dok, kenapa semuanya normal. Padahal dia berhari-hari mengusir saya karena bagi dia saya ini sangat bau. Terutama saat malam hari menjelang tidur dan pagi hari saat bangun." Kata Gino.
Si dokter tertawa terbahak-bahak. " Jadi ini penyebabnya sampai kalian kemari?" Tanyanya sambil tertawa.
Gino dan Dita terbengong dengan respon si dokter yang menertawakan keduanya.
" Kalian salah tempat, harusnya kalian menemui Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi. Bukan ke saya Spesialis Telinga Hidung dan Tenggorokan. Kalian ini aneh." Dokter melanjutkan tawanya.
"Maksudnya ke Dokter Obgyn?" Ulang Gino.
" Iya, ini hanya dugaan saya saja. Tapi kalian bisa memastikannya melalui pemeriksaan mandiri di rumah. Beli saja nanti alat untuk mengecek kehamilan. Nanti setelah itu kalian bisa datang lagi dan menemui Dokter Juan SpOG jika memang hasil tesnya positif." Ucap si Dokter yang malah membuat keduanya seperti orang dungu.
Malam harinya.
"Dit, tes sekarang saja aku sungguh penasaran." Kata Gino yang sudah kesekian kali meminta hal itu
"Tapi ini tertera, baik dilakukan saat pagi hari." Jawab Dita.
" Sekarang saja ya, sumpah aku jadi gelisah begini. Ayolah..."Gino memohon.
"Ok, tapi kalau belum? bagaimana?" Dita tau bahwa Gino sudah sangat menginginkan.
" Coba lagi." Jawab Gino dengan tersenyum jahil.
" Maunya!" Dita kemudian pergi masuk kedalam kamar mandi.
Dengan jantung berdebar kencang, Dita berkali-kali menarik dan membuang nafasnya gusar.
Hasil keluar dan dia keluar dengan wajah yang tertekuk lesu.
" Bagaimana?" Tanya Gino dengan wajah yang penuh pengharapan.
Dita tiba-tiba menangis tersedu-sedu dan memeluk Gino. Gino dibuat bingung olehnya.
"Kenapa? ada apa?" Tanya Gino.
"Kamu akan jadi Ayah." Jawab Dita.
__ADS_1
"Serius?" Gino mengguncang kedua bahu Dita. Dia begitu bahagia dan menciumi seluruh wajah istrinya.
?