
...🌻🌻🌻...
"Jelaskan padaku, untuk apa semua uang itu?" Jackie mulai mengintrogasi sang istri yang masih berbalut selimut.
Ayana menarik tangan Jackie, membawanya untuk duduk bersama. "Kemarilah." Lembutnya Dia berucap membuat sang suami menurut dan patuh. Memang lelaki itu mahluk keras yang menyukai kelembutan.
"Aku menggunakan uang itu untuk membeli rezeki."
Kening Jackie berkerut indah. Tatapannya mengartikan Di tak memahami sesuatu.
Ayana tersenyum dan mulai menarik nafasnya dalam dalam, Dia ingin menyampaikan sesuatu yang tak terlalu memiliki kaitan erat dengan logika.
"Aku memberikan seluruh uang itu pada satu yayasan yang menampung anak anak terlantar. Mereka yang terbuang dan disiasiakan. Mereka yang terabaikan dan kesakitan."
Menyampaikan hal itu raut wajah Ayana berubah sendu. "Aku sangat ingin memiliki anak, tapi keadaan yang belum berpihak. Jadi setidaknya aku ingin berbagi sesuatu yang bisa bermanfaat bagi mereka." Ayana tersenyum setelahnya.
Jackie begitu terenyuh mendengarkan penuturan sang istri. Ternyata istrinya memiliki pemikiran sebaik ini? Berbagi sesuatu yang bisa mengundang rezeki bahkan sampai berkali kali lipat dalam hidupnya.
"Rezeki itu tak melulu soal hart dan anak, memiliki wanita sebaik kamu pun merupakan rizki terindah buatku." Jackie kemudian membawa Ayana kedalam dekapannya.
Berdua berbalut seimut tebal, berbagi kehangatan membuat keduanya mensyukuri nikmat terindah Tuhan. Nikmat mana lagi yang kau dustakan?
"Perlahan saja, aku tidak menuntutmu lagi untuk segera mempunyai momongan. Kesehatanmu jah lebih penting sayang." Ujar Jackie yang kemudian memberikan kecupan hangat di kening sang istri menyiratkan bahwa Dia begitu menyayangi sepenuh hati.
Berlabuh jauh pada sebuah dermaga rasa yang mengikat erat dalam masa, kini keduanya bisa saling menerima kekurangan masing masing. Jackie dengan sikapnya yang keras kepala dan Ayana dengan segala kebaikannya.
Saling melengkapi degan keikhlasan daan bukan semata-mata karena keterpaksaan.
Satu bulan berlalu, dan kini mereka tengah bernostalgia di rumah besar yang lama. Ayana bahkan menyempatkan untuk mengunjungi dan menginap di gubuknya yang lama, Dia begitu merindu kediaman tempat dimana Dia dahulu dahulu bersama sang Ayah tersayang.
Gubuk itu masih sangat bersih, sebab diam diam jackie meminta pada asisten rumah tangga di rumah besar untuk membersihkan rumah kecil Ayana dan mendiang mertuanya dulu tinggal.
"Terimakasih, sudah mau tetap merawat rumahku ini dengan baik. Ku kira aku kemari hanya kan bisa melihat dari kejauhan saja, Tapi aku tidak menyangka bisa menginap disini." Ujarnya sembari memberikan senyuman terbaiknya.
Ayana dengan manjanya menarik pinggang sang suami lalu memeluknya dengan saling berhadapan. "Jelek, i love you."
Bukannya marah, jackie malah tersenyum senang menerima ungkapan hati meskipun tercantum kata JELEK di depannya.
__ADS_1
"Jelek ya? Tapi sayang kan?" Tanya Jackie dengan senyuman mengembang yang tak dapat dia sembunyikan.
"BANGET!!" yana kemudian mendekap erat dan menghirup maskulin aroma tubuh sang suami. "Tapi, apa kamu tidak bosan mencintaiku? kamu mulai suka sama aku sedari SMA kan?" Ayana menebak.
Jackie menggeleng. Dan Ayana mulai mengerucutkan bibirnya. "Lalu?"
Jackie lalu mulai bercerita sembari memeluk tubuh sang istri.
...Flash Back On. ...
"Nda, dedek ni?" Tanya si bocah kecil berambut hitam pekat dan bermata bulat yang menunjuk seorang bayi yang sedang berada dalam dekapan sang Bunda.
"Iya sayang, ini namanya dedek Ayana." Bunda Winda memberikan pengertian pada buah hatinya yang sedang dalam masa banyak ingin tahu. "Panggil NANA.." Sambung sang Bunda mengajarkan pelafalan dengan sabarnya.
"A -Y - A - N -A." Lagi Bunda Winda mengulang sebab si bungsu agak kesulitan dalam pengucapan.
"Ai... Ai... Dedek Ai..." Panggilnya girang. Jackie begitu senang dengan kehadiran Ayana.
Entah sejak kapan rasa itu ada, tapi kehadiran Ayana di tengah-tengah keluarga Armanto sebagai anak angkat nyatanya bisa memberikan kebahagiaan lebih.
Banyak drama yang Jackie suguhkan dari semenjak kedua orang tuanya mengangkat anak Ayana. Dari Dia yang mulai tak membolehkan Ayana untuk pulang ke rumahnya sendiri, dari Dia yang selalu ingin dekat dan bahkan selalu tidur siang berdua.
Seiring mereka yang tumbuh besar bersama dan salah satu pihak mulai mengagumi, muncullah sebuah rasa yang semkin melekat dalam jiwa. Sebuah rasa yang terkadang membuat jackie hampir gila lantaran harus menunggu terlalu lama.
Dan di saat menginjak SMA, rasa itu kian kuat dan hebat yang membuat Jackie pham, ternyata sayangnya bukan sekedar kakak adikan, melainkan ingin menjaga Ayana sampai maut memisahkan.
Itulah sebabnya Dia begitu frustasi dan hancur saat Ayana mengkhianatinya bersama orang terdekatnya.
...Flash back off. ...
"Em.... Aku sudah yakin sedari dulu jika memang kau ini jodohku dan aku tak tau kapan semua itu bermula." Tukas Jackie kemudian.
"hhhh.... Padahal kamu tahu sayang, Dulu di mataku, lelaki paling baik, hangat dan jug manis itu hanyalah kak Alex."
Jackie tak heran lagi, sebab istrinya ini jika sedang marah suka sekali membandingkan dirinya dengan sang kakak.
'Udah tahu!" Ketusnya Jackie berbicara.
__ADS_1
Terlihat sekali raut tidak suka dari wajahnya lalu sebuah kecupan di dada singgah membuatnya kegelian dan tertawa.
"Sekarang semuanya sudah berganti, aku tau dan yakin jika kamu memanglah orang yang Tuhan ciptakan untuk selalu melengkapi ku. Terbukti ku mampu menjaga hatiku dengan sangat baik. Hanya saja terkadang aku yang egois dan menuntutmu untuk tampil sempura padahal aku tahu kamu bukanlah Dewa."
Lega.
Itulah yang dirasakan oleh Jackie saat mendengar istri tersayang muai mengakui tentang dirinya.
Di tanah makam anak Ayana yang pertama yaitu si sulung.
Gino menyempatkan dirinya untuk datang berkunjung, juga sekaligus untuk bekerja. Ada urusan bisnis yang membuatnya wajib kembali ke kampung halamannya.
tentunya Dia juga membawa Dita bersamanya. Ibu hamil itu sungguh tak ingin lepas sedetik pun dari suaminya.
Agaknya kini dia telah menjadi tim IKUT yang selalu memantau pergerakan suaminya.
"Lelah?" Tanya Gino pada Dita yang tengah duduk bersandar pada lengannya.
Dita menggeleng.
"Aku senang kita bisa pulang kampung." Ucapnya yang seperti tak punya rasa lelah sama sekali meskipun sedang hamil muda.
"Kamarmu bagus ya Mas?"
Dita memindai pemandangan sekitar dari kamar Gino yang berada di lantai 2.
"Itu ada gubuk, punya siapa?" Tanyanya yang menunjuk pada atap gubug yang berdiri mungil di tengah lahan perkebunan sayuran.
Setelah sempat menerima pesan dari Ayana, kini Gino sangat berhati-hati dalam menyebutkan sesuatu yang berkaitan dengan Ayana. Dia tak ingi istrinya salah menilai.
"Itu adalah rumah kecil milik tukang kebun kami." Jawabnya membelokkan keterangan. Sebenarnya bisa langsung sebut saja RUMAH LAMA AYANA, tapi sepertinya itu bukanlah pilihan bagus dan hanya akan menimbulkan perpecahan saja.
"Ayo kita kesana! Aku sangat suka sasana rumah di desa."
"Kesana?"
"Kenapa begitu, merayu?" Celetuknya masih dengan nada kesal.
__ADS_1
"Tidak!" Ayana menggeleng dengan raut datar. "Aku hanya sedang memeriksa separuh hatiku yang ku titipkan disini apakah baik baik saja?"Ayana menengadah dan kemudian kembali menempelkan telinganya di ada sang suami.