
...πππ...
Gino terkekeh, berat tubuh Dita bukanlah apa-apa bagi bahu kekarnya. " Hahahaha! lain kali jangan ceroboh! Lihat Bra mu tersangkut di sweater rajutmu!"
"Apa?" Dita memekik dan meraba bagian belakangnya. Wajahnya menjadi layu dan memerah.
Rupanya suaminya tidak berbohong. Dia benar-benar akan malu jika Gino tak membawanya pulang. Bahkan dia bisa viral di media sosial dengan hastag, Bra salah tempat. Ouh betapa malunya Dita.
"Besok lagi yang lebih estetik ya? jangan begini, membuatku malu saja. Bagaimana kalau masuk ke media massa? Istri Gino Putra Armanto dengan fashion terbaru. Lalu di muatnya gambarmu dengan bra yang tersangkut di pantatmu ini." Kata Gino dengan tangan jahilnya yang menepuk-nepuk bokong Dita layaknya anak kecil yang melawan saat di suruh pulang.
"Apapun Masalahnya, jangan kabur! Ini rumah tangga, Ada masalah, selesaikan dirumah. Jangan dibawa kemana-mana karena hanya akan menambah bumbu pertikaian. Dengar?" Gino mengangkat dagu Dita yang tertunduk.
Dita mengangkat wajahnya. " Habisnya kamu juga pergi kan tadi?"
" Oke, aku akan Jujur, tapi kamu tidak boleh marah." Gino berjalan menjauhi Dita lalu menghempaskan bokongnya di sofa dan memijit kakinya.
Dita mengikutinya meski dengan amarah yang belum mereda.
"Aku tadinya pergi untuk menenangkan diri. Kau sudah terlanjur tau kan, aku dan Ayana adalah mantan suami istri?" Tanya Gino pada Dita yang mendapatkan anggukan.
"Saat melihatnya begitu kehilangan. Memoriku kembali pada saat dimana kami kehilangan anak kami. Saat dimana dia meminta cerai. Tapi, aku ingin menjaga perasaanmu sebagai istriku." Gino menatap Dita, menunggu reaksi dari sang istri.
"Aku tak ingin kau cemburu." Ucap Gino selanjutnya.
"Cemburu?" Ulang Dita memungkiri kemungkinan yang bisa saja terjadi. Niat si suami adalah menjaga perasaan si istri.
"Iya, aku tidak mau kau nantinya mencurigaiku masih memiliki rasa pada adik iparku sendiri. Aku tidak mau hal itu terjadi Ta. Jadi aku memilih untuk menyembunyikan kesedihanku."
"Menyembunyikan kesedihan? Apa itu artinya..."
"Artinya aku bersedih karena teringat akan bayi kami dulu. Bukan karena aku masih mencintai Ayana." Ucap Gino sejujur jujurnya. Dia sampai mengangkat kedua jarinya tanda berjanji.
"Oh," Sahut Dita yang kemudian memutar bola matanya malas dan berlalu menuju ke dapur.
" Kenapa hanya Oh? Kau ini ya!"
Gino merasa geram karena Dita meremehkannya dan bahkan tidak sedikit pun memiliki rasa cemburu terhadapnya.
Dita membuka kulkas dan seketika dia menutup hidungnya lalu berlari ke wastafel. Dita memuntahkan cairan bening, tak ada makanan yang di muntahkan, tapi dia sungguh mual.
"Huek! Pak! Apa yang kau simpan itu?" Dita berkumur lalu mencuci mulutnya.
"Dit kamu Kenapa?" Gino mendekat lalu memberikan tisu dan Dita masih menatapnya dengan tajam.
__ADS_1
"Kamu simpan apa di dalam kulkas?" Ulangnya dengan nada marah.
"Apa? apasih? ya biasa kan, buah, sayuran daging, dan bumbu. Memangnya kenapa sih?" Gino memeriksa kulkas. Baginya tak ada yang aneh, semuanya masih normal dan sama seperti biasanya. Bahkan tak ada bau yang menyengat atau membuat mual.
" Lebay Ah!" Gino mendekat untuk cuci tangan. Tapi Dita mendorongnya untuk menjauh.
" Jangan dekat-dekat ya, Kamu bau!" Ucap Dita dengan menutup hidungnya.
"Bau apa lagi sih? Tadi katanya kulkas yang bau, sekarang aku? kamu itu yang hidungnya kadaluarsa!!" Gino mencibir kesal lalu mencuci tangannya.
"Ih... ih.... bau ih....!" Dita menggidikan kedua bahunya dan berlari kecil menuju ke kamarnya.
" Dasar aneh!" Gino memilih acuh dan kembali mencuci tangannya.
...πΌπΌπΌ...
Malam harinya.
"Dit...! Dita ...! Makan yuk!" Gino berseru di depan pintu kamar. Pasalnya sedari tadi Dita mengunci pintunya bahkan terpaksa Gino mandi dan mengenakan pakaian yang baru kering tanpa di setrika.
Dita keluar dari kamar mandi dengan penampilan berantakan dan juga wajahnya yang pucat juga langkahnya yang terlihat gontai dan lemas.
Gino yang melihatnya seketika mendekat dan berniat membantunya. Dia takut kalau Dita sakit. " Kamu sakit?" Tanyanya cemas.
"Apalagi sih Dit? mandi ya jelas udah lah. Lihat nih ya, gara-gara kamu pake segala kunci pintu aku jadi pake baju kucel begini."
"Lagian, punya tangan kenapa tidak di pakai untuk menyetrika? Aku lelah tau! badanku pegal-pegal dan perutku kram dari tadi."
"Kram? dari kapan?"
"Dari kamu yang menjadikanku karung beras!" Ketua Dita kesal.
Mata Dita menangkap sajian makanan di meja. " Kamu masak atau beli Pak?"
"Jangan panggil Pak! Panggil apa gitu? Ini aku pesan tadi."
Dita memutar bola matanya malas. Dia harus meralat panggilannya pada suaminya. " Mas ku sayang, Huek!" Tiba-tiba Dita kembali merasa mual. "Mas, ini makanan kamu beli apa masak?" Ulangnya.
Gino tersenyum lalu mendekat. " Ini beli." Jawabnya sambil tersenyum.
" Astaga!! Mas, kamu ini mandinya bersih tidak sih? bau banget tau!" Dita pergi dan duduk di sofa.
Merasa tersinggung dengan perkataan istrinya, Gino mengerang kesal dan pergi ke kamarnya. Beberapa menit berlalu, Dia keluar dari kamar dengan rambut setengah basah dan masih tercium aroma body wash. Membuat Dita bangkit dan mengikutinya dari belakang.
" Hemh....!" Dita menghirup aroma tubuh Gino dalam-dalam. "Begini kan aku suka." Katanya terdengar manja seperti anak kecil sedang berbicara.
__ADS_1
Gino tertawa lalu mengusap pucuk kepala Dita. " Ayo makan." Dia menarikkan sebuah bangku untuk Dita duduk.
"Aku mau masakan kamu Suamiku!" Ucapnya manja.
PLETAK!!
Gino menyentil dahi Dita.
"Sok-sokan manja. Biasanya juga apa-apa masuk!" Gino menggeleng.
" Ga mau masakin ya udah. Aku juga ga begitu lapar. Sana makan aja sendiri." Dita merajuk dan kembali duduk di sofa lalu menyalakan TV.
Gino akhirnya mengalah dan menanyakan menu apa yang istrinya mau. "Kamu mau makan apa?" Serunya yang sudah memegang pan dan spatula.
Dita tersenyum lebar dan secerah mentari. Mendung hitam di wajahnya sudah gilang ditelan keceriaan.
" Mau telur mata sapi yang setengah matang 3!" Ucapnya dengan nada senang.
Gino melongo tak percaya, biasanya Dita paling anti sama telur setengah matang kesukaannya. Dita akan selalu berkata. Memangnya tidak amis?
Tapi sekarang? dia minta 3?
" Oke, oke. 3 yang penting kamu mau menemaniku makan." Gumam Gino yang kemudian membuatkan telur mata sapi pesanan istrinya.
Telur sudah matang dan mereka asyik makan. Dita makan dengan begitu lahapnya meski hanya dengan telur mata sapi dan kecap.
"Makasih ya!" Ucapnya pada Gino saat mereka membereskan meja makan bersama.
" Untuk?" Gino keheranan. Dia tak mengerti pasalnya seharian ini mereka sangat Moody's. Sebentar bertengkar, lalu akur, lalu bertengkar lagi dan sekarang akur lagi.
" Telur mata sapinya." Jawab Dita dengan ceria.
Gino hanya mengusuk pucuk kepala Dita lalu mengulum senyumnya.
Saat malam hari dan mereka sudah bersiap untuk pergi tidur. Perdebatan kembali terjadi.
" Mas, kamu tidur di tempat lain ah! Sumpah ga betah aku sama bau tubuhmu. Huek!" Dita menutup hidungnya.
" Astaga! Dita!! Kamu ya, berani usir suami? Bau...! bau...! bau apasih? Masa iya aku harus mandi lagi malam-malam?" Gino ikut tersulut dan juga dia mengendus bau tubuhnya yang tidak bau, dia justru wangi.
" Dita, aku wangi ya. Nih cium kalau tidak percaya." Gino mendekat hendak menempelkan hidung Dita pada ketiaknya tapi gagal karena Dita berlari menghindar.
" Huek! sumpah. Mas, kamu bau!" Seru Dita yang kemudian membuka pintu kamar dan keluar.
" Bau apasih?" Gino kesal bukan main. Dia mengabaikan Dita yang terduduk di sofa dan sudah terpasang masker di mulutnya.
__ADS_1