Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
63. Mirip djavu.


__ADS_3

...🍁🍁🌼🍁🍁...



...🍁🍁🌼🍁🍁...


Jackie menjadi tak tenang setelah beberapa jam kakinya berpijak ditempat tujuan. Nomor istrinya berkali-kali di hubungi tapi tak merespon. Bagaimana mau merespon? bila sang pemilik saja tidak membawa ponselnya.


Saat sedang genting tadi, tak teringat sedikitpun tentang benda pipih milik Ayana itu. Dita hanya fokus menyelamatkan dua nyawa dalam satu tubuh.


"Ada apa?" Tanya Gino yang melihat adiknya tak fokus dalam kegiatan tadi. Jackie lebih banyak memberikan atensinya pada benda pipih kesayangannya dan, sebenarnya itu sangat menggangu Gino. Gino tak enak hati pada rekan yang lain. meskipun mereka tak langsung menegur, tapi tatapan mata dari mereka cukup membuat Gino mengerti.


"Ayana, nomornya tidak bisa kuhubungi sedari kita sampai." Ucapnya sendu.


Gino melepas sepatunya lalu merobohkan tubuhnya ke atas ranjang dia mendengus lalu merogoh kantung celananya. " Ah, aku kira apa. Sebentar biar kuhubungi istriku." Ucapnya.


Jackie melongo. " Hei, kak!" Ucapnya yang lalu menepuk pundak Gino dan ikut berbaring. "Aku bilang istriku tak bisa di hubungi. Apa hubungannya dengan istrimu?"


"Bodoh!" Gino tengkurap dan menjitak kening si bungsu. " Apa kau lupa sewaktu dulu kita pergi ada urusan bisnis, mereka tak bisa di hubungi tapi nyatanya malah sedang menginap di kosan Diyah?"


Jackie terdiam dan menerawang kejadian beberapa bulan lalu. Benar kan kata Gino? Bukankah hal ini seperti terulang kembali? Seperti mimpi yang sudah pernah kita alami di Dunia nyata. Yups! Djavu.


"Ah iya kau benar." Jackie menimpali.


"Ouh! panas!!" Alex datang sambil mengipas wajahnya dengan tangannya.


Cuaca memang sangatlah terik meskipun sudah menjelang sore dan Alex, kulit putihnya berubah memerah karena kepanasan. Agaknya sunscreen Tak begitu mampu meredam hawa panas dan membuat pipinya merona.


"Kalian ini tega sekali meninggalkanku. Aku sendirian tadi ikut bermain dengan mereka. Argh... ! bapak-bapak itu tenaganya sungguh kuat." Alex mengeluh sambil menengguk minuman bersoda.


"Ah segarnya." Ucapnya mengutarakan kelegaan. "Sial! kalian mengacuhkan ku?" Alex mendengus kesal dan menunjuk hidungnya.


Perasaan kesal membuatnya melompat ke ranjang dan menimpa adik dan kakaknya. Dia begitu kesal setelah berceloteh tapi tidak ada satupun yang menggubrisnya. Adik dan Kakaknya sibuk mengotak-atik ponsel mereka.


"Alex, diamlah!" Gino mendorong tubuh Alex agar tak menimpanya.


"Awas ah!" Juga Jackie ikut menyisihkan kakinya yang menimpa perutnya.


"Ah, nasib jomblo." Gumam Alex memandangi langit-langit kamar hotel.


"Apa aku pulang saja ya? perasaanku tidak enak. Tidak biasanya dia seperti ini." Kata Jackie.


"Nanti, tunggulah sebentar biar Dita memeriksanya." Sahut Gino.


Gayung bersambut. Panggilan terhubung dengan Dita.

__ADS_1


Di rumah sakit.


"Ya Hallo?" Sahut Dita yang telah berusaha mengatur nafasnya agar tak terdengar memburu di seberang sana.


"Halo sayang. Sayang kau ada dimana?" Taya Gino.


"Aku sedang mengepel lantai Pak. Tadi ponselnya ada di lantai atas, jadi tak terdengar. Apa ada hal yang penting?" Jawabnya berbohong, jelas-jelas dia sedang berada di ruangan dokter.


Gino terdiam sesaat. Dia berpikir, jika dia langsung bertanya pada Dita mengenai Ayana, sudah pasti Dita akan tersinggung terlepas dari Dita memiliki perasaan atau tidak kepadanya. Gino memikirkan cara lain.


"Hallo Kakak ipar! ini aku JK. Kak, bisa kau hubungi Ayana atau bisa kau datang ke apartemen kami? Aku cemas sedari tadi aku mencoba menghubunginya tapi tak di angkat." Kata Jackie yang sudah menyambar dan meminta tolong dengan caranya.


" Oh soal itu? jangan berlebihan. Istrimu sedang melakukan yoga di rumahku. Ponselnya memang sedari tadi berdering tapi aku juga kan tidak enak bila harus mengangkatnya atau mengganggu meditasi nya." Jawab Dita penuh dengan kebohongan.


" Yoga?" Tanya Jackie dengan intonasi bicara terkesan tidak percaya.


"Iya dia belajar yoga dari YouTube. Jadi kau jangan kuatir. Mungkin dia hanya merasa kesepian saja dirumah sendirian."


"Oh begitu ya? syukurlah kalau begitu." Terdengar dari seberang sana Jackie menghembuskan nafasnya lega.


"Hallo Say...." Kata Gino kembali menyambung percakapan setelah Jackie menyerahkan ponselnya. Tapi.... nihil ternyata Dita dengan cepat sudah menutup panggilan.


Hah? sudah mati...


Di rumah sakit.


Hahahaha!


Aku terlalu tinggi berharap. Aku pikir tadi dia menghubungiku karena mencemaskan aku. Hah! tapi nyatanya Ayana yang menjadi topik utama.


Hmmm sudahlah Dita jangan banyak berpikir. Lagian juga kau tidak mencintainya.


Dita menunduk lesu menatap nanar layar ponselnya yang kian meredup dan menghitam.


"Nyonya, Nyonya!!" Sang dokter menyadarkan Dita dari lamunannya.


Dita terkejut " Ah iya Dok." Ucapnya tergugup. " Ba... Bagaimana keadaan adik ipar saya?" Tanyanya mengalihkan segala rasa yang mengganjal di hatinya.


"Dia... sejauh ini masih bisa bertahan. Tapi... Nyonya saya mohon dengan sangat kerjasamanya. Jika Nyonya Ayana lebih memilih keselamatan janinnya maka dia harus lebih berhati-hati. Kandungannya sangat lemah, dia harus bed rest paling tidak sampai trisemester kedua ini terlewatkan." Penjelasan si dokter membuat Dita menggaruk-garuk kepalanya.


"Tunggu Dok, saya belum punya pengalaman hamil jadi saya tidak paham sama sekali apa yang Dokter bicarakan." Tegas Dita memberikan penjelasan akan minimnya pengalamannya dalam bidang kehamilan.


Jadilah sang dokter memilih bahasa awam.


"Ssshhh....!" Dokter mendesis dan menggaruk alisnya dia juga ikut pusing lantaran harus menyusun kata menjadi sederhana dan mudah di mengerti keluarga pasien.

__ADS_1


"Gampangnya, kondisi sang ibu lemah disini. Bila keluarga telah memutuskan untuk berjuang bersama untuk membesarkan si janin sampai dengan masa kelahiran, Maka.... Saya mohon dengan sangat kerjasamanya kepada keluarga pasien terutama suami."


"Untuk?" Lagi Dita masih tidak mengerti.


"Tadi sewaktu pemeriksaan, kami menemukan sisa spe*ma di dalam leher rahim Nyonya Ayana. Sisa spe*ma itu memicu adanya reaksi kontraksi dari otot-otot rahim. Sedangkan yang kita tahu bersama, rahim Nyonya Ayana tidaklah begitu baik. Keputusannya ini pun menurut saya begitu di paksakan." Ucap sang dokter secara gamblang membuat Dita hanya bisa menelan ludahnya perlahan.


Tidak mungkin juga kan Dita akan melayangkan protes untuk melakukan sensor pada sepenggal kata spe*ma?


Statusnya saja sudah Nyonya Gino. Apa kata dunia bila mereka tau bahwa Gino dan Dita sama sekali belum pernah melakukannya?


"Jadi sekarang dia baik-baik saja kan dok? janinnya juga?" Dita bertanya dengan raut wajah yang begitu berharap semuanya akan baik-baik saja.


Sang dokter mengangguk. " Tapi seperti yang saya katakan tadi. Semuanya harus lebih berhati-hati." Begitu dia berpesan.


"Oh, baiklah saya mengerti." Sahut Dita yang pura-pura mengerti padahal hampir setengahnya dia sama sekali tak bisa memahami.


...🍁🍁🌼🍁🍁...


"Kemana pria tadi? Sa... shaga!" Dita mendesis dan berbicara sendiri sambil berjalan menuju ke ruang rawat inap Ayana.


"Hai!" Dita masuk setelah mengetuk pintu. Dia tersenyum simpul bingung bagaimana menyampaikan apa yang dokter tadi katakan sedangkan dia saja tak begitu paham inti dari materi percakapan.


" Hai..!" Lirih Ayana menyahuti dengan tangan lemasnya yang menggantung di udara mencoba melambai pada Dita.


" Bagaimana keadaanmu?" Tanya Dita yang duduk di kursi dekat ranjang lalu mengusap lengan Ayana.


Ayana tersenyum simpul dengan wajahnya yang pucat pasi. " Aku sudah lebih baik." Jawabnya lirih.


"Shaga. Aku kira tadi kau sudah pulang?" Dita bertanya tentunya hanya sekedar basa-basi saja.


Shaga tersenyum. " Tadi sebenarnya sudah mau pulang tapi tiba-tiba suster bilang aku boleh menjenguk karena pasien sudah mulai tersadar kembali." Dia memasukkan tangannya ke saku celana dan menatap Ayana.


"Mumpung sekalian disini kan sekalian membesuk tidak ada salahnya kan?" Imbuhnya dengan santainya.


Dita mengangguk dan Ayana tersenyum simpul melihat Shaga, si penolongnya kali ini. Juga Dita tentunya.


"Eh, apa ini tidak seperti djavu? dan aku rasa sebentar lagi teman kalian yang satu lagi juga akan datang. Siapa namanya? aku lupa." Shaga menunduk melihat lantai seolah sedang berfikir.


Dita dan Ayana terbengong bersama dan saling lempar pandangan. Tak berselang lama suara pintu diketuk terdengar dan menampilkan sosok Diah yang datang dengan seragam yang sama seperti saat pertama Ayana terbaring di sana.


"woah!! See? I think this is a really djavu." Shaga berbicara dengan nada takjubnya sedangkan Ayana dan Dita malah bergidik ngeri dan Diah yang kembali berada di posisi tak mengerti apa-apa. Benar-benar kejadian yang sama terulang dalam hari yang berbeda.


Likenya jangan lupa.


Tinggalkan komentar yang banyak juga ya 😘

__ADS_1


__ADS_2