Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
60. Nuansa floral.


__ADS_3

...🌿🌿🌼🌿🌿...



...🌿🌿🌼🌿🌿...


"Apa tadi katamu? kamu ngidam?" Ulang Jackie penuh dengan pengharapan. Bahkan harapan itu sampai terpancar dari sorot matanya. Sungguh betapa dia sangat mendambakan sosok malaikat kecil ditengah mereka.


Ayana tersenyum pias, lidahnya seolah kram setelah sebelumnya dia kelepasan dan salah berucap. " Em.... maksudku itu, jika kita sangat menginginkan sesuatu bukankah secara normal kita menyebutnya dengan mengidam? ya walaupun tidak hamil." Katanya yang cukup bisa diterima nalar.


Dan, Jackie mengangguk setelahnya. " Iya kau benar, padahal aku sudah senang sekali jika kau hamil sayang." Katanya yang kemudian menghembuskan nafas beratnya seolah bersamaan dengan itu harapanya juga ikut menguar ke udara.


Ada semburat kesedihan melingkupi wajah Ayana manakala dia menyembunyikan suatu hal yang besar dari suaminya.


Tapi, semua itu dilakukannya juga semata-mata untuk mengurangi risiko terburuk yang mungkin saja bisa terjadi.


Sabar ya Nak. Tinggal satu bulan lagi dan kita akan memberitahukan kehadiranmu kepada Ayah. Ucap Ayana dalam hati sambil tersenyum kecut menatap wajah suaminya yang telah memupuskan asanya.


Tak tega melihat wajah lesu istrinya Setelah membicarakan kehamilan. Jackie kemudian membawa Ayana untuk semakin dekat dengannya.


Membawa sang istri kedalam dekapannya.


Merengkuhnya dan memeluknya erat hingga detak jantung mereka saling terasa satu sama lainnya.


"Jangan terlalu di pikirkan. Aku hanya berharap, bukan memaksakan harus memiliki. Ada atau tidak ada anak, kita akan tetap bersama." Kata Jackie menenangkan.


Ayana sedikit merasa lega setelah mendengarkan ucapan suaminya yang terdengar tulus dan lembut meski dia tak dapat menatap netra sang pembicara.


Hanya nafas sang suami yang bisa dia rasakan berhembus perlahan meniup pucuk kepalanya.


"Terimakasih. I Love you Jack." Kata Ayana lega. Dengan bulir air mata yang menetes begitu saja tanpa aba-aba.


Ayolah Ayana jangan cengeng begini.


Jangan terlalu sensitif, bersyukurlah suamimu benar-benar menerimamu apa adanya.


"I Love you Ay..." Balas Jackie yang kemudian menangkup lalu menciumi bibir Ayana bertubi-tubi, mencurahkan perasaannya yang meluap dan menggebu.


"Eh, kau menangis?" Tanyanya saat bibirnya menyentuh air mata Ayana yang jatuh di pipi.


"Aku terharu, ini momen bahagia kita." Kata Ayana dengan suara lirih dan menahan tangisnya. Entah mengapa saat Jackie bertanya padanya, dia justru semakin ingin menangis meluapkan segalanya.


" Cengeng!" Celetuk Jackie lalu terkikik mencoba merubah suasana hati istrinya agar tak larut dalam suasana haru. " Emh.... rasanya asin Ay. .!" Celetuk Jackie mengomentari air mata istrinya yang tak sengaja masuk kedalam Indra pengecapnya.


Suasana haru luruh seketika saat Jackie tiba-tiba menjadi juri rasa dari air mata Ayana.


"Jangan bercanda, semua air mata juga asin." Ucap Ayana merajuk lalu mencubit gemas pipi Jackie.


"Sudah ayo tidur, ini masih jam 3 pagi." Kata Jackie yang kembali memeluk Ayana.


Jam 3 pagi, hawa dingin mulai menusuk tapi itu tak terlalu berpengaruh kepada dua insan yang sedang berbagi kehangatan.


Aku merasa kau berbeda Ay.


Apa kau menyembunyikan sesuatu?


Terkadang aku juga memergokimu sedang murung seolah sedang berfikir keras sendirian.


Apa yang kau sembunyikan dariku sayang? Batin Jackie dengan tangannya yang mengusap lembut rambut istrinya.


...🌿🌿🌼🌿🌿...


"Bangun sayang." Ucap Jackie yang sudah siap berangkat ke kantor.


Suaminya sudah rapi, tapi Ayana?


Ayana masih tertidur dengan lelapnya, rambutnya begitu acak-acakan dan bajunya kusut tak karuan.


"Jangan di buka!!" Seru Ayana meminta agar tirai kecil di kamar tamu itu tak di buka. " Silau." Imbuhnya lagi berbicara dari dalam selimut.


Jackie menggeleng dan tersenyum. Bagaimana sisi aneh istrinya baru nampak kali ini?

__ADS_1


Bukankah dahulu Ayana adalah sosok yang sangat rajin bangun pagi?


Em... inilah pengaruh perubahan hormon pada ibu hamil. kemauannya apa sungguh sulit ditebak.


"Kenapa~~~?" Jackie berbicara dengan suara yang mengayun. Dia lalu mendekat dan menepuk-nepuk tepat di bokong sang istri yang berbalut selimut.


"Silau sayang silau. Mana kacamata hitammu?" Ayana mengulurkan tangannya dan Jackie hanya menurut dengan memberikan kaca mata hitamnya yang selalu berada di dalam tas kerjanya.


Dan inilah dia istrinya yang belum mandi atau menyisir rambutnya tapi sudah memakai kacamata hitamnya.


"Pft....! Kamu mau berlagak jadi artis?" Tanya Jackie dengan mencibir dan dua alisnya terangkat naik seolah meledek.


"Aish!" Ayana mendesis. "Dia bangkit lalu berdiri di atas ranjang dan merentangkan kedua tangannya seperti bayi yang minta di gendong.


Jackie mengulum senyumnya dan menuruti setiap kemauan istrinya tanpa banyak bertanya.


"Pagi!" Sapa Ayana lalu mengecup bibir Jackie tanpa permisi. Mudah saja baginya melakukan itu sebab dia sedang berada dalam gendongan Jackie layaknya bayi koala.


" Pagi!" Jackie membalasnya dua kali lipat.


"Wah, ciumanku berbunga." Celetuk Ayana.


"Ya, sebab aku tau kau suka sesuatu yang berbunga kan? apalagi uang." Kata Jackie sambil terkikik geli mengingat kebiasaan istrinya.


Ayana hanya tersenyum lalu memeluk kian erat dengan kedua tangannya yang merangkul leher Jackie, menikmati masa-masa kebersamaan mereka. Sebab, Ayana sendiri tak tau kapan saat perpisahan itu akan tiba.


"Cepat mandi dan kita ku antar kau pulang." Ucap Jackie.


Ayana menggeleng " No, no, no!" Katanya lalu turun dari gendongan Jackie setelah berada tepat di depan pintu kamar untuk keluar. " Aku ikut ke kantor." Katanya tanpa tertawa.


"Hah! apa?" Jackie sampai melongo di buatnya. " Kau akan ikut ke kantor begini?tidak mandi?" Jackie terheran sejadinya.


Ayana menggeleng. " Emm~~~!" Ayana meraih sisir lalu mengikat rambutnya asal dan memakai parfumnya.


"Bagiamana? aku sudah harum kan? mereka juga tidak ada yang akan peduli aku mandi atau tidak. Aku hanya akan ke ruanganmu sebentar."


"Tapi sayang, setidaknya cuci muka." Protes Jackie.


" Oh Oke, tapi kau ikut aku ke wastafel." Katanya menarik tangan suaminya.


Di meja makan.


"Nduk, apa kamu sakit mata? kenapa pagi-pagi sudah pakai kacamata hitam?" Tanya Bu Sri dengan polosnya sambil meracik soto buatannya di dapur.


Jackie yang sudah duduk manis di meja makan, sayup-sayup mendengar pertanyaan Bu Sri lalu menjawabnya. "Tidak tau itu Bu, dia aneh." Celetuk Jackie yang menyambar dari tempat duduknya.


"Silau Bu, aku lagi malas dandan dan mandi." Kata Ayana jujur.


"Biasa, ibu hamil memang begitu katanya. Yah...., walaupun ibu tidak pernah hamil. Tapi ibu cukup kenyang mendengarkan cerita tentang kehamilan teman dan keluarga ibu dulu." Bisik Bu Sri pelan.


"Ayana tau ini normal kan?" Tanyanya untuk meyakinkan dirinya sendiri.


Bu Sri hanya menjawab dengan anggukan.


Sarapan pagi puns selesai dan kali ini Jackie sudah bisa mengatur naf*u makannya. Dia ingat hari ini ada meeting di sebuah restoran hotel bersama dengan kliennya sekalian makan siang jadi, dia harus menyisakan ruang di perutnya.


Sesampainya di kantor.


"Pagi Pak Jackie! pagi Bu!!" Sapa dan sambut para karyawan silih berganti. Mereka menunduk dan memberikan hormat kepada atasannya juga istri atasannya.


"Pagi!" Sahut Ayana dengan tersenyum lebar.


" Kau lihat itu sayang, mereka tidak ada yang bertanya apa aku sudah mandi atau belum. Aku benar kan?" Tandasnya meminta pengakuan dan di sambut anggukan dari suaminya meski dalam hati Jackie ingin tertawa.


Ayana terus saja masuk mengikuti kemana langkah kaki suaminya berjalan. Dengan tangan yang saling terkait bergandengan, keduanya berjalan beriringan.


Sesampainya di dalam kantor.


"Mau apa ikut?" Tanya Jackie yang sudah duduk dan di sambut beberapa berkas di mejanya yang sudah di persiapkan oleh sekretaris barunya.


"Maaf pak, ini harus bapak dahulukan agar bisa langsung ditangani oleh bagian produksi." Ucap fajar menyodorkan sebuah berkas.

__ADS_1


"Oke." Jackie mengangguk.


"Kamu sekretaris baru?" Tanya Ayana sambil duduk di sofa.


"Em, iya Bu. Perkenalkan saya fajar." Ucap fajar menyapa istri dari atasannya.


"Fajar, tolong belikan aku bunga lavender dan juga anggrek bulan yang berwarna putih ya. Sekarang." Kata Ayana tiba-tiba.


"Sekarang?" Jackie dan fajar bersamaan.


"Iya." Ayana mengangguk dengan santainya. " Ruangan ini begitu hampa dan tak ada coraknya. Sayang ada satu tumbuhan itu bagus untuk meningkatkan kadar oksigen di dalam ruangan. kau tau?" Ucapnya.


"Iya terserahmu saja." Jackie kembali fokus memeriksa berkas-berkas. " Fajar, belikan nyonyamu ini apa yang dia mau dan juga bunga yang terbaik." Kata Jackie memerintah.


" Siap pak!" Fajar segera bergegas memenuhi perintah atasannya.


Setengah jam berlalu dan Ayana sudah mulai bosan.


"Sayang apa aku bisa membantu mengerjakan sesuatu?"


"Kenapa, kau mulai bosan?"


Ayana mengangguk. Jackie lalu melambaikan tangannya meminta Ayana untuk mendekat kepadanya. Ketika Ayana mendekat Jackie lalu menarik Ayana dan menempatkannya di atas pangkuannya. " Bacakan untukku." Ucapnya memberi perintah.


Ayana menurut saja, tidak tau tapi dia merasa begitu senang saat mendapatkan perlakuan hangat dari ayah si jabang bayi.


Kau ingin selalu dekat dengan Ayahmu? Batinya bertanya kepada si janin.


Suara ketukan pintu terdengar dan adegan pangku memangku bubar seketika.


" Maaf Bu. ini bunganya." Kata fajar.


" Bagus, ini berkasnya cepat berikan kepada bagian produksi." Jackie menyodorkan dokumen kepada fajar.


Ayana tersenyum senang saat melihat bunga yang di mintanya sudah datang. Bunga Lavender dia letakkan di dekat jendela.



"Kau senang sekali, memangnya tahu apa filosofis dari bunga ini?" Tanya Jackie sambil memeluk Ayana dari belakang.


"Tau!" Ayana mengangguk yakin. "Lavender memiliki arti pengabdian, kesetiaan dan cinta abadi jika dilihat dari bahasa cinta modern. selain itu, bunga ini juga bisa meningkatkan suasana hati dengan aroma khas yang dihasilkannya. sehingga bisa menambah keromantisan antara kau dan aku." Kata Ayana dengan senangnya.


" Lalu dia? apa maknanya?" Tanya Jackie lagi setelah mengekor dan ikut menaruh bunga anggrek bulan di tepian meja kerjanya.



"Dia, Anggrek. Dia memiliki makna sebagai bunga yang mampu menyampaikan perasaan cinta dan kasih sayang. Bunga anggrek menjadi simbol cinta, keindahan, kekuatan dan juga kemewahan." Kata Ayana.


"Sekarang ruanganku bernuansa floral. Tapi aku suka, ini lebih baik daripada yang tadi." Kata Jackie.


"Dan dia, kau tidak bertanya tentang dia?" Tanya Ayana.


"Tidak, aku tau dia siapa." Kata Jackie.


"Siapa?" Tanya Ayana.


"Dia pengawasku. Iyakan? Dia selalu mengingatkanku akan dirimu."



"Kau benar sekali, pintar sekali suamiku ini." Ayana mencubit gemas pipi Jackie lalu memeluknya erat.


Sayang,


jika nanti saat itu tiba, kuharap kau tetap merawat apa yang aku berikan ini. Ini symbol cintaku padamu.


Cinta yang lama hadir tapi baru kumengerti akhir akhir ini.


Cinta yang seharusnya kusadari sedari dulu.


Jan lupa tinggalkan like dan komentar ya gaishhh!

__ADS_1


Votenya juga jangan lupa.


Dah ah, cukup dua bab hari ini. Author qgi ga enak badan.


__ADS_2