Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
47. Bulan madu


__ADS_3


...🍁🌼🌼🍁...


"Kamu tidak berangkat hari ini?" tanya Ayana pada Jackie yang sedang duduk di sofa sembari memangku laptopnya dan matanya fokus melihat monitor nyaris tanpa berkedip.


"Em... em..." Jackie menggeleng. Dia memainkan bibirnya lalu menjilatinya sebelum kembali berbicara. "Aku hanya akan berdiam di rumah saja hari ini," ujarnya santai tanpa penekanan apapun.


Tangannya kemudian menepuk-nepuk sisi kosong di sebelahnya memerintahkan agar istrinya segera mengisi sisi kosong tersebut. Ayana yang paham lantas duduk di samping Jackie.


"Ada apa?" tanya si lelaki bergigi kelinci itu Setelah sesaat mengamati mimik wajah istrinya yang sedikit berbeda dari biasanya.


"Tidak, aku hanya bertanya saja." kilahnya menjawab pertanyaan dari suaminya.


"Oh, aku pikir ada apa," gumam Jackie lalu kembali bekerja.


Ayana, dia menyembunyikan sesuatu dari Jackie. Entah apa itu hanya dia dan Tuhan yang tau. Seperti sedang memikirkan sesuatu, Ayana hanya terdiam dan memainkan rambutnya. Memutar-mutar ujung rambutnya. Diam-diam Jackie mengamati mimik muka Ayana. Kakinya bergerak lalu mentoel paha Ayana. " Ada apa? kau seperti sedang memikirkan sesuatu? Katakanlah," pintanya dengan penuh perhatian.


"Tidak, aku hanya bosan berada di rumah terus. Sayang, apa boleh aku bekerja lagi?" tanyanya dengan tatapan mata yang memohon.


Jackie tersenyum tipis. "Bekerja? Apa uang yang kuberikan padamu kurang?" tanyanya.


Bukan masalah uangnya, hanya saja, selama beberapa bulan Ayana yang sedang dalam masa pemulihan hanya selalu berdiam diri di dalam rumah itu nyaris saja membuatnya kehilangan kewarasan. Dia merasa dirinya sudah tak berguna. Tak bisa melakukan apa-apa seperti dulu. Terbiasa bekerja dan memiliki kesibukan, lalu harus vakum dan menganggur membuat Ayana merasa bosan.


"Bukan, aku hanya ingin memiliki kesibukan. Tidak hanya menganggur seperti ini."


"Kamu kan tidak menganggur, dari tadi sudah mencuci baju, ngepel, membereskan kamar kita. Apa itu bukan pekerjaan?" Jackie balik bertanya.


Iya, Jackie memang benar. Dia tidak salah, tapi, maksud Ayana bukan seperti itu. Bukankah dalam hal ini Ayana harus berterima kasih, karena sang suami mengapresiasi bentuk pekerjaan rumah sama pentingnya dengan pekerjaan yang lain?


"Kalau untuk bekerja, kita tidak bisa sekantor Ay. Kita harus beda kantor," kata Jackie menjelaskan dan di sambut binar kegembiraan dari Ayana. Setidaknya, setelah menyinggung soal pekerjaan, ada niatan dari Jackie untuk memberikan pekerjaan pada istrinya.


"Maksudku tidak harus di kantormu juga," kata Ayana berusaha menjelaskan keinginannya.


"Lalu?"


"Ya, kan bisa aku bekerja di kantor cabang mungkin. Atau juga membuka usaha lain." Ucap Ayana penuh harap.


Ah, benar juga. Dia sudah bosan berbulan-bulan hanya berdiam diri di rumah. Dan sekarang kakinya sudah sembuh. Dari dulu, dia terbiasa bekerja keras dan mandiri. Bila sekarang harus ungkang kaki dan menerima uang, pasti tidak memuaskan baginya. Pikir Jackie.


"Sshhhh....! kantor cabang? Disana terlalu jauh dari rumah. Kasihan kamu bila harus bolak-balik sejauh itu," kata Jackie.


"Huft, Tapi aku bosan," keluh Ayana.


Baiklah, Jackie bukan tipe lelaki yang jika sudah jatuh cinta tidak akan menuruti kemauan wanitanya bukan? Tentu dan pasti dia akan menurutinya. Jackie tersenyum senang, terlihat jelas ada sesuatu yang direncanakannya. Wajahnya seketika berbinar tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya.


"Ay, kamu kan bosan?" tanyanya dengan nada bicara yang terdengar menggelitik di telinga.


"Hem.." Ayana hanya berdehem dan memainkan jari jemari Jackie. Mengusapnya, memilin dan mencubitnya kecil. Terlihat sekali kalau dia sedang kurang kerjaan sampai-sampai tangan suaminya dibuat mainan.


Jackie mendekat lalu memeluk Ayana. Menghirup manis aroma vanilla yang melekat di tubuh istrinya. "Aku ada pekerjaan, dan kau bisa membantuku. Ada dinas keluar kota." ucapnya.


"Kapan? Benarkah? Lalu kau pasti akan membayar gajiku seperti sebelumnya kan?" pertanyaan yang menggelitik. Lucu saja, sudah dia yang memegang kartu ATM suami, dia juga yang mengatur segala kebutuhan rumah, dan dia juga masih minta gaji? Sedangkan Jackie sudah memberikan anggaran tersendiri bagi Ayana untuk merawat diri dan bersenang-senang.


Jackie menggeleng tak habis pikir mengapa istrinya begitu bersemangat setelah berbicara menyinggung soal gaji yang tak seberapa. Dibandingkan dengan jumlah gajinya, isi di kartu kredit Jackie ratusan kali lipat lebih banyak dari pada itu.


"Iya, tentu aku akan menggajimu. Kau tenang saja," katanya yang setelahnya bangkit dari duduknya dan menuju ke dapur. Merasa keinginannya sudah di penuhi, Ayana berinisiatif untuk bersikap lebih baik lagi pada suaminya. Ya, bersikap baik pada suami itu banyak pahalanya kan?


"Sayang mau apa? aku ambilkan ya?" ujar Ayana dengan berlari kecil menyusul Jackie.


"Ih, Apanih? mau nyogok? atau menjilat?" sindir Jackie tepat sasaran. Dia tau benar akan maksud perbuatan istrinya yang begitu baik dengan tiba-tiba. Padahal, biasanya juga mau apa ambil sendiri.


Ayana meringis memamerkan jajaran giginya, dia nyengir kuda. "Hehehehe, sayang kalau mau menyogok dan menjilat bukan dengan seperti ini. Yang dijilat juga sekarang sudah beda." lirih Ayana berbicara sambil tersipu-sipu dan memelankan suaranya.


Entahlah apa maksudnya, tapi perkataannya barusan seketika membuat Jackie ingin tertawa. Sejurus kemudian keduanya saling tatap dan tertawa geli bersama. Ada yang tau kemana arah pembicaraan mereka?


...🍁🌼🌼🍁...


"Geser dikit, nah..., iya. Itu iya, naik dikit... Pas! Ah," Gino mendesah perlahan dengan mata yang terpejam dan bibir yang menyunggingkan senyuman. Puas? Mungkin.


Merengut dan juga kesal bukan main. Dita sudah berpenampilan mirip dengan mbok tukang pijat. Dia memakai daster, dengan membawa minyak zaitun dan juga handuk kecil yang tersampir di lehernya.

__ADS_1


"Yang ikhlas, kalau disuruh suami." Celetuk Gino tersenyum jahil.


Dita hanya bisa memutar bola matanya malas. "Iya suamiku!!" sahutnya yang tak lupa menekankan kata suami.


Mungkin, bila digambarkan sekarang jari-jarinya sudah mulai keriting seperti cabai merah. Dua jam sudah dia memijit punggung suaminya tanpa jeda atupun iklan.


Ikhlas? Ya kalau menikahnya karena benar-benar cinta, mungkin semuanya akan terasa indah. Tapi ini? menikah dadakan dan alih profesi menjadi tukang pijat. Sebuah lengkungan kurva terbentuk kala Gino menangkap ekspresi wajah Dita yang tengah menye-menye menirukan setiap perkataannya. Lucu, itu yang di lihatnya.


"Kenapa mukanya seperti itu?" tegur Gino dengan sengaja dan seketika Dita terdiam membeku.


Bagaimana dia bisa tau jika aku sedang mencibirnya? Apa dia punya mata di belakang kepalanya? Batin Dita yang kemudian memeriksa kepala bagian belakang Gino yang sedang tidur tengkurap.


"Oh, iya sekalian pijit kepalaku juga. Cepat!" titahnya setelah jari-jemari istrinya menyentuh rambut bagian belakang kepalanya.


Manjanya...., Eits tapi ini bukan manja. Ini lebih kepada memperdaya.


Pijatannya enak juga.


Dia berbakat juga... Gino mengulum senyumnya.


Lelah memijit, akhirnya Dita menemukan ide brilian untuk menghentikan pekerjaannya yang melelahkan itu.


"Em... Suamiku," panggilnya mendayu-dayu di awal membuka suara Setelah sekian lama terdiam.


"Ada apa?" tanya Gino acuh.


Dita menarik nafasnya sebelum menanyakan hal yang mungkin saja bisa menyinggung perasaan suaminya. "Semalam, Ayana mengirim pesan padaku." cetusnya mencuplik omongan.


Pandangan Gino seketika tertuju padanya. Gino bangkit dan menatapnya dalam. "Pesan apa?" tanya Gino dengan keingintahuannya.


"Sebentar." jawab Dita yang kemudian berlari menuju ke kamar dan mengambil ponselnya.


Ah...


Akhirnya πŸ˜ƒ jari jemariku bisa terlepas dari. belenggunya. Ahh leganya...Dita menghembuskan nafasnya dalam-dalam, menatap jari jemarinya lalu mengibas-ibaskannya. Mengusir rasa lelah yang sedari tadi tertumpuk seperti pakaian kotor.


Dita mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Dia berlari kecil dan memberikannya kepada Gino. "Ini, bacalah sendiri." Ujarnya percaya diri. Dia merasa tak akan ada masalah bila dia menunjukkan pesan dari mantan istri dari suaminya itu. Ahhh, Dita kau begitu polos soal hubungan asmara.


"A... apa?" Suara Dita yang tergugup terlihat begitu kentara. Matanya berlarian ke kanan dan kiri menatap manik coklat suaminya.


"Apa maksudmu dengan kau tak mempermasalahkan hubunganku dengannya di masa lalu?" tanya Gino yang suaranya sudah naik dua oktaf.


Apanya yang salah? bukankah seharusnya dia senang bila istrinya berkata menerima Gino dengan apa adanya? Bukanya malah marah marah begini kan?


"Ya, apa masalahnya jika aku menjawab begitu Pak?" Pengaruh suasana tegang membawa Dita kembali ke panggilan lama antara sekretaris dan atasan.


"Tentu ini masalah besar!! Dengan kamu yang menjawab begini Ayana akan mencurigai kita. Diawal kita menikah, kita sudah bertujuan untuk membuat mereka semua yakin kalau aku sudah bisa melupakan hubunganku dengannya bukan?" cecar Gino berapi-api.


"I... iya." Dita mulai terbata-bata setelah menyadari sesuatu yang lain. Kesalahannya yang tak disengaja.


Gino meremas rambutnya frustasi. "Dita! kamu ini sekarang adalah istriku! Sekarang kamu pikir dengan logika, mana ada wanita yang mau menerima masa lalu suaminya dengan begitu mudahnya bila berhubungan dengan mantan?!" tekannya dengan emosi.


"Ah, aku tak sangka kau begitu naif!" Gino memijat pangkal hidungnya.


"Memangnya iya ya?" tanya Dita dengan wajah polosnya.


"Aastaga!!! Tidak bisakah kau membalasnya dengan berpura-pura cemburu? Jika begini dia akan tau kalau kamu tidak mempunyai perasaan padaku!!" Lagi lagi Gino menjadi emosional sampai-sampai dia berbicara dengan urat leher yang hampir keluar.


"O~~~~! Begitu?" Dita mengangguk-angguk mengerti.


"Tapi kenapa kalian harus mempunyai hubungan yang rumit sih? kalau Bapak masih cinta ya sudah, rebut!" katanya dengan entengnya.


"Rebut, rebut dengkulmu!!" sahut Gino marah.


"Aku dulu sudah pernah merebutnya dari adikku sendiri. Sekarang untuk menebusnya aku harus mau mengalah," kata Gino yang terhenti kala dia menunduk lesu dan nada bicaranya melemah. "Aku tidak mau mengulang kesalahan yang sama, apalagi sampai menghancurkan hubungan persaudaraan." katanya seolah sedang menyesali segala apa yang sedang terjadi.


Dita ikut larut terbawa emosi. Dia kini paham apa alasan suaminya sampai mau mengorbankan perasaannya sendiri. "Kamu adalah Kakak yang baik Pak." kata Dita lalu mengusap punggung Gino.


Gino melayangkan lirikan tajamnya pada Dita. " Eh iya ampun SUAMIKU!!" ucapnya sambil meringis ngeri.


"Tapi, membohongi diri sendiri itu juga tidak baik," kata Dita yang sebenarnya menyinggung soal pernikahan mereka.

__ADS_1


"Aku tidak membohongi diriku, pernikahan kita bukan suatu kebohongan. Biarkan saja kita jalani seperti air yang mengalir. Untuk itu, tak bisakah kau berpura-pura mencemburuiku?" bentaknya tiba-tiba membuat Dita terlonjak.


"Iya, iya. Begitu saja marah." Dita mendengus kesal lalu kembali merebut ponselnya dari genggaman Gino.


"Senyum!" Sekarang gantian Dita yang menarik dua sudut bibir suaminya hingga terlihat sedang tersenyum. Dita berinisiatif untuk mengajak Gino berpose mesra dan menjadikannya story di aplikasi hijau. Gino menuruti bagai kerbau yang ditusuk hidungnya.


"Sekarang berdiri!" Dita menginterupsi agar Gino berdiri berdampingan dengannya.


"Berdiri!" Dita menuntun Gino untuk berdiri disampingnya.


Dita dengan luesnya memeluk erat pinggang Gino."Kamu yang pegang ponselnya."Suruhnya kemudian.


Lagi-lagi Gino menurut saja. "Kamu yang ambil gambar dan iya, cium pipiku!" pintanya tanpa rasa canggung. Gino yang suasana hatinya sedang tidak baik hanya menuruti ide Dita dengan setengah hati. Mengulang dan mengulang sampai beberapa kali hingga tanpa sadar ciuman di pipi itu terulang beberapa kali.


"Ah, senyumnya terlihat sangat terpaksa." Dita mengomentari hasil fotonya.


"Ayo ulang lagi," ujarnya.


Tiba-tiba Gino menariknya dan membuatnya terjerembab ke dalam pangkuannya. Dita berada di atas pangkuan Gino dan Gino memeluknya erat. Jantung Dita berdegup dengan ritme yang tak semestinya. Dia merasakan letupan yang lain. Ada rasa yang berdesir aneh dalam dirinya.


"Begini?" tanyanya tepat di samping telinga Gino.


"Iya, kau cukup perlihatkan saja bagian belakang kepalaku. Walaupun wajahku tak terlihat aku yakin aku masih terlihat tampan." Jawabnya tanpa melihat wajah Dita yang sudah memerah.


Huft....! Hawanya jadi panas sekali! Dita menggumam dalam hati.


Gino memeluk tubuh mungil Dita dengan eratnya dan meletakkan janggutnya di ceruk leher Dita hingga pipi mereka saling menempel.


Merinding disko Dita dibuatnya sampai berkali kali Dita menengguk ludahnya perlahan. Dan.... suaminya malah mengulum senyumnya. Yah, beginilah gambarannya jika master beradu dengan amatiran.


...🍁🍁🌼🍁🍁...



Di sebuah pantai di Kuta Bali.


Mengembuskan nafasnya perlahan seraya membuang beberapa asa yang masih singgah dalam jiwanya. "Harusnya, sedari dulu aku membuang jauh-jauh asa ku ini," gumam seseorang wanita berparas cantik dengan kaki jenjang dan tubuh bertato juga memiliki tindikan.


"Jack! kenapa sangat sulit bagiku untuk melupakanmu? Apa kabarmu?" lirihnya bertanya pada deburan ombak di hamparan pantai nan luas.


...🍁🍁🌼🍁🍁...


Selesai bersiap-siap, Ayana yang hanya tau jika kepergian mereka ke Bali hanyalah sebatas urusan kerja begitu antusias. Tapi, setibanya di hotel.


"Em, aku baru ingat jika kita kemari bukankah seharusnya banyak membawa berkas ataupun keperluan kita untuk presentasi? lalu dimana semua bahannya?" tanya Ayana yang baru menyadari sesuatu pada Jackie yang berdiri di hadapannya sambil tertawa mendengarkan celotehanya.


"Presentasinya kita mulai sekarang," Kata Jackie dengan senyum menggodanya dan bibirnya sudah bergerak aktif menciumi leher istrinya.


Ayana memekik heran. "Hei!! kita kemari untuk kerja kan sayang?"


Jackie tak menggubrisnya dan terus melancarkan aksinya menciumi leher Ayana silih berganti di kanan dan kiri. "Pekerjaan kita disini adalah membuatkan cucu untuk ayah dan Bunda. Bukankah itu pekerjaan yang mulia dan mahal?" seloroh Jackie tanpa beban mengatakannya.


"Jadi ini bulan madu?" Ayana membulatkan matanya.


Jackie terkekeh geli. "Iya sayang!" ujarnya yang kemudian melahap rakus bibir Ayana dengan lembut tanpa paksaan.


Bulan madu?


Dan aku tanpa persiapan apapun?


Bulu ku belum ku cukur...😭. Sumpah aku sangat malu.


Bukankah bulan madu seharusnya memeiliki banyak persiapan sebelum di mulai?


Author : "Kenapa mesti malu sih, Bukanya udah biasa anu-anu sama suamimu?"


Ayana : "Ya, walaupun begitu seharusnya aku ada persiapan secara matang kan? mana aku tidak membawa dalaman yang serasi."


Author : " Buat apa dalaman yang serasi kalau akhirnya dilempar sembarangan?"


Ayana : " Ah, intinya aku malu!!"

__ADS_1


Author : " Terserah πŸ˜’."


__ADS_2