Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
79. Pertama kalinya. ( Gino).


__ADS_3

...🦢🦢🦢...


Gino mengulum senyumnya. "Terimakasih, sudah menjaganya untukku. Sebagai gantinya aku akan menurunkan rambut, mata, hidung dan wajah tampan ku ini pada anakmu." Kata Gino mengulang apa yang tadi Dita ucapkan.


" Yak!! Anakku itu anakmu juga!! Kita membuatnya bersama!!"


...🦢🦢🦢...


"Iya, anak kita. Aku harap kita segera bisa memiliki momongan. Aku menantikannya, sangat menantikannya. Usiaku sudah tidak lagi muda." Gino mengutarakan kegundahannya. Tuan Gino yang sebenarnya adalah seorang lelaki yang berjiwa lembut yang hanya menginginkan hal sederhana di dalam hidupnya.


Gino hanya menginginkan memiliki istri yang penurut dan anak yang berbakti. Hanya itu. Cita-citanya teramat sederhana. Tapi, untuk hal sederhana yang bagi sebagian orang sangat mudah untuk memperolehnya, bagi Gino adalah hal tersulit untuk di gapai. Terbukti dia harus menikah cerai beberapa kali.Dia juga harus salah jalan dengan menikahi Ayana.


Dita tau akan kisah Gino dari luaran. Tapi siapa yang tau kisah yang sebenarnya? Yang paling suaminya rasakan?


"Apa kau benar-benar ingin segera memiliki momongan?" Tanya Dita yang tak mau suaminya kembali berkubang dalam kesedihan.


Dita menatap lekat wajah Gino mereka terdiam beberapa saat dan kemudian Dita tersenyum melihatnya. "Baiklah, bagaimana kalau kita coba lagi?"


Gino langsung berbinar. Oh iya jangan lupakan posisi mereka yang masih saling tindih tanpa balutan benang. " Sekarang?" Tanyanya dengan wajah ceria.


Dita merauk wajah Gino dengan gemasnya. Dia begitu mengharapkan kegiatan berpeluh nikmat itu rupanya. " Tidak, tunggu nanti kalau ini sudah tidak sakit lagi."


"Oh aku kira." Celetuk Gino menanggung kecewa.


"Apa kau tidak lelah? kau sangat berkeringat tadi." Ucap Dita dengan tangannya yang mengusap sisa peluh di dahi sang suami yang tersenyum menatapnya.


"Em, ini masih tidak sebanding ya. Aku sudah berpuasa selama berbulan bulan. Untung saja belutku tidak kurus kering karena terlalu lama berpuasa." Celetukannya dengan makna kiasan membuat Dita melongo dan mencibirkan mulutnya karena teringat akan kesalahannya menunda pemenuhan hak sang suami.


Tak menjawabnya, Dita malah terkikik geli di atas dada bidang snag suami. Oh betapa manisnya pemandangan ini. Gino bersyukur karena sekarang dia dipertemukan dengan wanita yang bisa melengkapi sisi kosong di hatinya meskipun untuk sepenuhnya menggeser dan mengusir kenangan masa lalunya dengan Ayana tak semudah membalikkan telapak tangannya.


"Tidak belutmu masih kekar tadi." Cetus Dita tak kalah frontal membuat Gino juga ikut terkikik geli. Pertama kalinya mereka larut dalam suasana hangat. Mereka membuka lembaran baru yang seharusnya memang sedari lama dilakukan.

__ADS_1


Di lain tempat.


Di sebuah ruang yang pendek dan pengap lengkap dengan bau yang tak sedap. Seorang wanita yang tak bisa berdiri tegap dengan tubuh kurus kering tak terurus, dia menatap ke luar jeruji besi.


Wanita yang terkena jerat Pasal 338 dan Pasal 340 KUHP juncto Pasal 53 KUHP tentang percobaan pembunuhan dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. Lena, dia mendekam disana. Pertama masuk ke bui dia sudah mendapatkan banyak sambutan dan hadiah dari penghuni sel yang lama.


Kini Lena tak secantik dulu. Meskipun begitu, dia tak menghentikan niatanya untuk membalaskan dendamnya pada keluarga Armanto. Dia begitu membenci keluarga yang telah merenggut calon suami dan rahimnya. Begitu anggapan Lena. padahal semua yang terjadi pada manusia sudah merupakan bagian lengkap dari sang khalik. Tak ada yang bisa menolak atau menampik.


"Lena! adikmu datang lagi membesuk mu." Ucap sipil yang menjaga sel Lena.


Lena langsung berbinar mendengar sang adik datang membesuknya. Setidaknya jika adiknya datang maka akan ada yang bisa di berikannya kepada ketua sel tempatnya di kurung jeruji besi dan malam ini, dia bisa terbebas dari pelampiasan nafsu menyimpang sang ketua sel tempatnya meringkuk.


Ironis bukan? dendamnya menggerogotinya. Tapi Lena tetaplah Lena. Dia tetap menyimpan dendam dan berniat membalaskanya meski nyawa sebagai taruhannya. Seperti dayung bersambut.


Lena kembali di pertemukan dengan adik dari mendiang calon suaminya yang meninggal dunia. Seorang adik yang tidak baik. Adik yang sering kabur kaburan lantaran berpegang pada asas kebebasan. Adik dari mendiang calon Lena dulu merupakan penyuka balapan liar dan sering kali mengikuti ajang balap liar juga berjualan barang haram lainnya.


Dulu Lena sangat membenci sosok itu. Sosok yang bernama Marvin. Anak yang putus sekolah karena malas dan menjadi liar karena pergaulan bebas. Marvin mengetahui keberadaan Lena dari istri bosnya yang terjerat kasus perjudian. Meskipun tidak berada dalam satu sel, tapi cukup bagi si nyonya bos untuk tau dimana sel Lena.


Mimi lita*.


"Hei, makanlah!!" Ucap Marvin tanpa ada rasa sopan atau berbicara dengan pelan. Marvin berbicara sambil memakan permen karetnya dan mengacuhkan Lena yang juga hanya menunduk malu di hadapan Marvin.


Lena yang dulu sempat mencaci maki Marvin hanya karena Marvin menemuinya dan meminta uang sebesar 50 ribu untuk makan hari itu. Kini seolah menggadaikan harga dirinya demi membalaskan dendam yang sebenarnya sudah tidak perlu.


"Marvin, ada apa kau datang kemari?" Lena mendongak menatap nanar Marvin.


"Tidak ada. Hanya ingin main saja. Melihat sarang yang dulu juga pernah kuhuni. Bagaimana rasanya? enak?"


Rupanya Marvin hanya datang sekedar untuk menghina balik Lena. Lena tertunduk lesu, bahkan Marvin pun hanya membawakan sebungkus nasi untuknya.


Otak uang sudah kotor, akan susah di bersihkan. Terlebih lagi jiwa Lena yang sudah di gerogoti iri dan dengki tak berujung.

__ADS_1


"Marvin, apa kau mau uang?" Tiba-tiba saja arah pembicaraan berubah.


Marvin yang terkesan acuh nyatanya tetap mendengarkan apa yang Lena katakan.


" Aku memiliki tugas untukmu. Dan aku memiliki uang yang cukup untuk membayarmu."


"Uang?" Marvin menatap wajah Lena.


"Cih!" Marvin berdecih meremehkan Lena." Uang apa? kau bahkan sudah tidak punya apa-apa!! Masa tahananmu masih lama Lena. Masih 11tahun lagi. Dan sekarang kau bicara mengenai uang? kau sudah tidak waras!!"


"Ya sudah kalau kau melewatkan kesempatan ini. Pekerjaan yang ku berikan tidak sulit. Aku hanya ingin kau menabrak seorang wanita. Aku dengar wanita itu sedang mengandung anak dari Jackie Putra Armanto."


"Kau masih menyimpan dendam mu itu?"


"Iya, aku tidak pernah akan bisa melupakannya. Jika aku tak bisa bahagia, maka keluarga itu juga!"


Marvin hanya terdiam mendengar perkataan Lena.


Jackie Putra Armanto? Aku seperti pernah mendengar nama itu. Sangat familiar. Batin Marvin.


" Apa yang kau inginkan?" Tanya Marvin yang menandakan bahwa dia menerima pekerjaan yang Lena suruh.


Lena menyeringai licik. " Aku hanya ingin kau menabrknya sampai mati bila perlu atau kau bisa membuatnya kehilangan bayinya."


Wanita ini sungguh tak bernaluri. Dia melibatkan bayi yang tak berdosa. Marvin masih terdiam.


" Aku ingin pembayaran cash, lunas di muka. Mana!" Tantangnya seraya berdiri merapikan penampilannya.


"Kau bisa mengambilnya di rumah lamaku yang ada di desa xxxxxxx. Itu bernilai 150 juta."


Marvin menganggukkan kepalanya lalu pergi. Mereka berdua adalah dua manusia yang sama liciknya. Siapa nanti yang akan berhasil menipu siapa?

__ADS_1


__ADS_2