
...🌹🌹🌹🌹...
Sikap Gino yang berubah 360 drajat membuat Lena semakin kesal padanya dan siapa sangka jika Lena adalah seorang psikopat kejam.
Hari ini, dia bermulut manis dan mengajak Ayana untuk makan siang di suatu restoran.
Ayana yang tak mau kecurigaan yang selama ini terpendam terkuak begitu saja, dia mengiyakan ajakan Lena tanpa memberitahu Gino.
Dia juga tau suaminya itu kini tengah sangat-sangat sibuk dengan peluncuran produk baru.
Sudah dua Minggu, Gino tak pulang ataupun bersikap hangat pada Lena. Dia terkesan mengacuhkan istri tuanya itu. Lena yang semakin kesal nampaknya sudah mulai ingin memulai permainan gilanya.
Dia ajaknya Ayana untuk makan di sebuah resto mewah. Ayana hanya berpikir jika mungkin ada sesuatu yang akan di bubuhkan pada makanannya. Mengingat seharian perasaannya tidak enak sama sekali.
Dia hanya makan sedikit setiap porsi yang di pesan.
Tapi, dugaannya salah besar. Bukan itu yang akan dia lakukan, tapi di ujung bukit yang terjal yang di pilih Lena sebagai tempat untuk mengeksekusi Ayana.
" Kak, kenapa kita kemari?" Ayana mengamati sekitar. Terlihat langit gelap dan ujung perbukitan dengan cahaya remang, redup dari pantulan lampu mobil yang masih menyala.
" Kenapa? kau tak suka ku ajak kemari?" Lena menelengkan kepalanya " Disini pemandangannya bagus, kau nanti juga akan suka." Lena memutar ban kursi rodanya hingga sampai di tepi bukit.
" Kak, jangan terlalu ke pinggir." Ayana menasehati Lena.
Mereka bertiga, Lena datang dengan seorang sopir yang mengantarnya. Sopir yang masih asing bagi Ayana. Tapi Ayana tak berfikiran buruk dia hanya berjaga-jaga sewajarnya saja tak mengira jika istri tertua dari suaminya ini adalah wanita gila.
" Kenapa memangnya? aku suka. Kemarilah, ini aman. Kau bisa melihat lampu-lampu kota yang indah dari sini. Mereka berwarna-warni." Lena menunjuk ke arah dimana padatnya rumah penduduk berhiaskan lampu lampu seperti bintang di langit malam.
Ayana mendekat dengan ragu, langkahnya sempat terputus putus. Tapi tiba-tiba tubuhnya serasa melayang dan terbang begitu saja hingga akhirnya menjuntai menggantung di sebuah akar pepohonan dengan bibirnya yang merintih melenguh kesakitan.
Laki-laki yang berperan menjadi sopir, dia bukan sopir, tapi hanya lelaki bayaran untuk mengeksekusi Ayana.
" To... tolong...!" Ayana meringis kesakitan. bukan di bagian lain, tapi sakit yang luar biasa di rasakanya di area perutnya. Gelap dan tak dapat melihat namun dia dapat merasakan sesuatu yang kental dan hangat mulai keluar dari sekitaran pahanya.
Tidak ada sahutan. Sungguh bahkan Ayana tidak tau siapa yang melemparnya dari atas sana. Hanya saja sekarang dia mendengar jeritan dari wanita yang 5adi mengajaknya makan.
" To...long!" Suara teriakan Lena.
Terdengar keributan dari atas sana. Dan kemudian ada seberkas sinar yang menerangi Ayana. Ayana sungguh senang, dan nampaklah Lena dengan lampu flash miliknya.
" Na, Apa Kau masih bisa bertahan?" Ucapnya berpura-pura kesakitan.
Lena yang merencanakan semua ini, merencanakan seolah olah kejadian ini adalah perampokan. Dan si sopir juga kini tengah sibuk melukai dirinya sendiri demi mendalami peran dan juga bayaran yang besar tentunya.
" Kak, tolong. Perutku sakit...!" Ayana mengerang menahan sakit yang luar biasa. Keringat dingin sudah membasahi keningnya. Tangannya mencengkeram kuat akar pepohonan besar tempat dimana dirinya tersangkut.
" Tunggu, bertahanlah!" Teriak Lena. yang kemudian menghilang beserta lampu flasnya.
Lena bangkit dan berdiri lalu mendekati si sopir abal-abal.
PLAK...!
__ADS_1
Plak!!
" Dasar tolol!! Apa ini sesuai dengan rencana kita? Aku hanya memintamu untuk sedikit mendorongnya agar dia jatuh tertelungkup." Lena geram.
" Tapi kata Nona harus sampai keguguran." Jawab Si sopir.
" Bodoh! apa kau tidak paham bagaimana caranya menyiksa mangsa?" Lena mencengkeram kerah baju si sopir. " Kalau begini, kita tidak jadi bermain-main." Lena menyalakan rokoknya, menyesapnya dan mengepulkan asap nya ke udara.
" Apa kau tau, aku ingin melihatnya kesakitan, lagi dan lagi hingga akhirnya dia kehilangan bayi, dan juga rahimnya. Aku ingin dia sama sepertiku." Lena mengepulkan asap rokok ke udara.
Si sopir yang sebenarnya kasihan mendengar rintihan Ayana hanya bisa terdiam dan menunduk.
" Kasihan nona Ayana Non." Ucap si sopir ragu.
PLAK!!
Satu tamparan mendarat lagi.
" Banyak omong!" Lena melempar puntung rokoknya jauh-jauh. Lalu berbalik dan menghajar si sopir.
si sopir tak membalas sebab dia tau apa penyebabnya.
" Lukamu kurang banyak, dalami peranmu ku tambah bayaranmu 30 persen." Ujar Lena disertai dengan tinjuan yang mendarat di sudut bibir si sopir.
Selesai dengan menghajar sopir, Lena kemudian kembali berakting seolah mereka adalah korban.
Ayana sudah pingsan di bawah sana dan si sopir juga yang mengangkatnya.
Lena lalu berbisik di telinga si sopir dan mereka melesat menuju ke rumah sakit.
...🌹🌹🌹...
" Bagaimana bisa!" Gino mengamuk dan meninju tembok tepat di sebelah di sopir Lena.
" Mas, bukan salahnya. Kami hanya sedang berjalan-jalan setelah makan, siapa sangka jika di tempat itu adalah tempat yang rawan begal. Kami di serang begitu saja. Ponsel dan uangku juga raib." Lena mengusap punggung Gino, mencoba meredam amarahnya.
Gino mengamuk sungguh mengamuk, bayinya dinyatakan tak dapat terselamatkan. Bayi yang beberapa hari lalu menambah kebahagiaannya, menambah kesenangannya malam ini pergi begitu saja.
Beruntung Ayana masih tertolong.
" Seharusnya kau berterima kasih dengan dia. Dia yang melawan para begal itu dan akhirnya mereka kabur. Jika tidak?" Ucapan Lena terhenti seolah dia trauma akan. kejadian barusan.
" Sudahlah, maafkan aku. Aku terlalu panik." Gino menurunkan nada bicaranya dan mengusap lembut Surai Lena. " Biarkan polisi yang akan mengusut kasus ini."
Lena mengurai pelukannya. " Kau serius?" Ucapanya terjeda seolah berpikir akan sesuatu. " Jika kau melibatkan polisi, maka status pernikahanmu akan terungkap, keluarga akan tau. Papa dan juga jantungnya... Kau harus mempertimbangkan segala sisinya."
Ucapan Lena tak sepenuhnya salah. Dia memang benar, jika melibatkan polisi maka mereka akan bertemu dengan Ayana yang baru saja keguguran bayinya dan darimana Ayana bisa hamil? Tidak itu semua akan semakin menambah beban pikiran Ayana, itu yang ada di kepala Gino. Dia hanya tidak mau wanitanya tersakiti dan terbebani lagi.
" Bagaimana kalian bisa bersama?" Tanya Gino Setelah duduk di kursi tunggu.
Lena mendekat dengan kursi rodanya. " Apa kau tidak tau?" Tanyanya seolah suci.
Gino melihatnya heran. " Tidak."
__ADS_1
" Aku sudah membuat janji dengan Ayana seminggu yang lalu, dan aku memintanya untuk meminta ijin padamu. Dia bilang kau mengijinkan. Lalu mengapa kau tak tau?"
Gino terdiam dengan raut kecewa bercampur marah.
Jackpots!!
Banyak keunggulan yang di dapat Lena. Dia tau benar bagaimana karakter Gino yang tak suka jika istrinya pergi tanpa seijin darinya.
" Kau pulanglah, dan beristirahat di hotel. Jangan kembali kerumah besar sebelum wajah dan lukamu pulih. Aku tak ingin Ayah dan Bunda curiga. Kau mengerti?" Gino kembali mengusap pucuk kepala Lena.
Lena mengangguk dan tersenyum. " Iya aku paham."
Memangnya siapa juga yang akan pulang kerumah? membosankan!! Decih Lena dalam hati.
...🌹🌹🌹🌹...
" Berhenti!" Kata Lena menginterupsi agar si sopir menepi.
" Iya Nona." Si sopir menuruti.
Bukan di hotel atau penginapan, tetapi Lena meminta si sopir untuk menepi di sebuah pagar pembatas yang berada di tepi laut. Jalanan lengang dan Lena dengan segera turun lalu menghancurkan isi tasnya, menumbuk isi di dalam tasnya sampai lebur sembari tertawa-tawa. Sungguh mengerikan, dia seperti psikopat yang benar-benar mirip dengan yang ada di TV.
Setelah hancur, dia memasukan beberapa batu kedalam tasnya yang sudah koyak. Tas mahal bermerk itu sungguh malang tak berbentuk sekarang. Di bakarnya nomor ponsel dan juga memory ponselnya untuk menghilangkan jejak. lalu menumbuknya halus lagi dan melemparkannya ke dalam laut yang berombak besar.
Lena berjalan lalu melepas kedua sarung tangannya. Sungguh tak ada sidik jarinya yang tertinggal. Rupanya dia sudah merencanakan hal ini dengan matang.
" Antarkan aku ke hotel, uangmu kau bisa mengambilnya di dasboard dalam mobil ini." Kata Lena membuat si sopir tercengang.
Di dashboard dalam? itu artinya pembayaran cash dan dia harus membongkar dasboard mobil?
" Setelah kau ambil uangnya, maka rapikan lagi, jangan sampai mengundang kecurigaan. Dan kau pergi sejauh mungkin setelah itu. Aku tidak mau melihatmu lagi." Kata Lena dingin.
Si sopir bergidik ngeri, rupanya kali ini bis wanitanya sungguh menyeramkan. Tak sebanding dengan wajahnya yang ayu dan sendu.
Di dalam hotel.
Sudah malam tetapi Lena malah memotong kecil-kecil sarung tangan miliknya yang baru saja di pakainya tadi, Kecil dan sangat kecil lalu dia membuangnya kedalam closet.
" Seharusnya tidak to the point seperti ini. Aku ingin melihatmu lebih frustrasi dan menderita lagi Gino. Dasar supir bodoh!!!" Lena mengumpat sembari meremas rambutnya. Dia frustrasi misinya tak berjalan mulus.
Di ruang rawat rumah sakit.
Gino menatap tajam Ayana seolah dia begitu membenci Ayana. Dia marah sebab Ayana tak meminta ijin darinya. Tapi, tak bisa bohong. Air matanya juga jatuh bebas.
Dia menangisi kepergian calon anaknya.
Diciumnya tangan Ayana berkali-kali, seakan memohon agar istrinya lekas sadar.
" Maafkan Ayah yang gagal menjagamu Nak. maafkan Ayah." Lirih Gino sembari menunduk meneteskan air mata kesedihan.
Mas ganteng jangan mewek, Mimi jadi ikut syedih...
__ADS_1