Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
54. Kebersamaan 2.


__ADS_3

...🍁🍁🌼🍁🍁...



...🍁🍁🌼🍁🍁...


"Aku pulang!!" Seru Gino membuka pintu dan melangkahkan kakinya memijak lantai rumahnya.


"Kok sepi?" Gumamnya keheranan melihat rumahnya yang sepi tak ada yang menyahut sapaannya tadi.


Gino memeriksa dapur, tapi tak di dapatinnya Dita disana. Berkeliling rumah memindai dan mencari tetap saja tidak menemukannya. Gino kemudian memilih memasuki kamarnya dan benar saja, ada suara gemericik air dari kamar mandi.


Dia lalu tersenyum lega, mengerti jika istrinya yang dadakan itu sedang mandi. Gino yang lelah, memilih untuk langsung berbaring di atas ranjang. Dia tanpa suara dan hati-hati meletakkan koper dan tasnya di samping ranjang dan itu tidak terlihat jika dari kamar mandi.


Suasana kamar memang sudah remang, karena bersiap untuk pergi, Dita sengaja sudah menutup tirai yang ada. Tak mau saja dia bila harus mengulang lagi pekerjaannya setelah pulang dari jamuan makan.


Gino, yang sedang lelah itu kemudian memasukkan kakinya kedalam selimut dan jadilah dia yang berbaju putih menyatu dengan seprei. Dia ber cosplay ria.


Gino hanya diam menatap langit-langit kamarnya memikirkan semua yang pernah di laluinya termasuk kebodohannya saat menikah dengan Ayana.


Tapi....


Semenit kemudian,


Seseorang berkaki jenjang hanya mengenakan handuk keluar begitu saja dari kamar mandi seolah sedang memamerkan indah gemulai tubuhnya tanpa balutan apapun. Dita malah menyalakan musik dari ponselnya dan berjoget sesukanya dengan iringan lagu favoritnya.


Wah, Gino. Ini konser gratis, pemandangan indah atau apa?


Terserah apapun itu tapi yang jelas kau menjadi merah padam sekarang. Antara malu atau mau.


Mau ngapain ya?


Handuk yang semula melilit tubuhnya itu, rupanya cukup gesit mengikuti gerak tari si pemakainya hingga jatuh tergeletak di lantai.


Oh Astaga Gino, apakah pernah kau melihat pertunjukan seperti ini sekali saja dalam hidupmu?


Gino menggeleng menahan senyumnya juga menahan sesuatu yang mulai berdenyut di bawah sana.


"I know you Will find me


Save me from the sad


Because of my life


Always loving you 🎢🎢🎢 "


Bagitulah Dita menyanyikan lagu kesukaannya sambil berjoget asal tapi ya... berhubung dan terhubung dia tidak mengenakan sehelai benang pun, jadi tarian apapun itu jadi lebih menarik mata.

__ADS_1


Fokus dengan dunianya, membuat Dita sama sekali tak menyadari keberadaan suaminya. Tapi sang suami sangat sadar dan tengah menikmati pertunjukkannya.


Dita berjongkok dan mulai mengambil pakaian da**mnya. Gino mendengus kesal menghela nafasnya perlahan seakan tak rela bila pertunjukan akan segera usai. Masih dengan berjoget di depan cermin sembari mengeringkan rambutnya, Dita lamat-lamat mengamati sesuatu yang ada di atas ranjang.


Tubuhnya menegang dan matanya terbelalak, dia menenggak ludahnya kasar.


"Aaaaa......!! Hantu.....!" Teriaknya yang kemudian berjingkat-jingkat ketakutan dan menutup wajahnya.


Gino yang menyadari hal itu malah tertawa terpingkal-pingkal. Suara tawa Gino yang menggelegar menggema memenuhi ruangan membuat Dita menajamkan pendengarannya. Perlahan dia mengangkat wajahnya yang semula tertutup oleh tangannya.


"Pak?" Celetuknya saat melihat Gino dan sadar kalau itu bukan hantu melainkan adalah suaminya.


Gino masih saja Tertawa dan tak menggubris Dita yang memanggilnya. Lucu saja bagi Gino melihat ekspresi wajah Dita yang seperti itu. Ketakutan tidak jelas.


"Kau keterlaluan!!" Serunya dalam suara yang bergetar. Dia menangis karena ketakutan. Bahunya sudah turun-naik dan pipinya basah.


Gino tertegun dan berhenti tertawa. Dia terkejut saat tiba-tiba reaksi Dita berubah. Gino seketika bangkit dan mendekati Dita dengan membawa jasnya yang tadinya hanya tergeletak di lantai.


Dengan jas hitamnya, Gino kemudian menutupi tubuh istrinya lalu memeluknya. Tangannya terulur mengusap punggung Dita berusaha untuk menenangkannya dan satu tangannya lagi menghidupkan lampu utama.


Suasana menjadi lebih terang sekarang dan Gino dapat melihat dengan jelas wajah Dita yang ketakutan. Begitupun dengan Dita dia dapat melihat wajah orang yang menyebalkan itu yang baru saja menakutinya.


"Kamu takut apa?" Tanya Gino tanpa dosa.


"Takut apa, takut apa!" Dita mencabik kesal dan menatap tajam suaminya.


"Pfftt......! Kamu takut hantu? tapi kata Alex kecoa saja kamu tak takut?" Tanya Gino. dengan wajahnya yang meledek istrinya.


"Yak! beda itu berbeda!! Kecoa tidak pernah bisa menghilang atau masuk dalam mimpi!!" Jawabnya sangar.


"Ya, jangan marah. Masa suami baru pulang sudah marah-marah." Cicit Gino yang ingin meredam amarah Dita.


Sesaat kemudian Dita terdiam seakan mengingat sesuatu.


"Sedari kapan kamu disana?" Tanyanya penuh selidik.


"Dari tadi. Dari awal kamu keluar dari kamar mandi, bernyanyi lalu berjoget-joget, semuanya aku lihat." Jawab Gino dengan entengnya seolah itu bukan apa-apa.


Dita yang kesal kemudian mencengkeram kuat kerah baju kemeja Gino dan menatapnya tajam.


" Kamu TE....... GA........!!" Ucapnya penuh penekanan dan di ikuti dengan " Hua.....! Hua......! Aku ternoda lagi....! Aku sudah tidak suci....!" Tangisnya mendramatisir keadaan.


"Cih!" Gino berdecih. "Apanya yang ternoda?" Gino menyentil kening Dita.


"Eh, tidak ada yang ternoda jika yang melakukannya suamimu sendiri. Dan juga dengar, punyamu itu kecil..." Ucap Gino menatap kearah dada Dita. Yang sebenarnya, dia hanya ingin menghentikan tangis Dita yang berlebihan.


Mujarab, tangisnya langsung berhenti. Namun, sejurus kemudian.....

__ADS_1


"Hua..... Hua.... kau menghinaku? Ini ke....jam! Ini body shaming." Cetusnya dengan suara yang semakin kencang.


"Jahat!" Dita berbalik badan dan membuang pandangannya menghindari Gino. Tapi tetap saja Gino malah mengulum senyumnya dan kemudian menepuk-nepuk kepala Dita layaknya sang Kakak yang menenangkan adiknya.


"Sudah, cepat pakai bajumu. Aku akan mandi." Kata Gino dengan berbisik di telinga Dita. Membuat Dita menunduk dan melihat penampilannya. Astaga, dia sampai lupa belum memakai baju. Semua karena perdebatan itu.


...🍁🍁🌼🍁🍁...


"Em... Jackie, Gino." Panggil Bunda Winda mengalihkan atensi keduanya.


"Ya Bun?" Gino dan Jackie menoleh bersamaan Setelah sebelumnya sibuk dengan pasangannya masing-masing.


Juga atensi Ayana dan Dita yang tertuju pada ibu mertuanya.


"Apa belum ada kabar baik dari kalian?" Tanya bunda Winda serius mengharapkan sesuatu agar segera hadir dan menjadi pelengkap mereka.


"Kabar soal apa Bun?" Jackie justru kembali bertanya de bodohnya. Dan kemudian mendapatkan tatapan mata dari Gino.


"Cucu." Kata Bunda Winda yang sukses membuat kedua menantunya tersedak dan batuk.


Ayana dan Dita saling pandang, sementara Gino tetap dengan wajah datarnya dan si bungsu yang terlihat salah tingkah.


"Oh, Ayolah Bun. Mereka belum lama, dan juga Ayana baru sembuh. Tentu Jackie masih sangat hati-hati dalam menebar benih." Kata Alex dengan santainya.


"Tapi bunda sangat ingin." Kata Bunda Winda menunjukkan ekspresi wajah yang begitu mendamba. "Kamu, kamu diam saja! sampai saat ini pun kamu belum ada perkembangan. Jadi kapan tanggal pernikahan kalian?" Tandasnya bertanya tanpa rasa risih di hadapan calon menantunya yang hanya tersenyum kikuk tanpa banyak bisa berbuat apa-apa.


Diah hanya bisa menelan ludahnya perlahan. Bagaimana keluarga yang dia kira begitu anggun, berwibawa, nyatanya di dalamnya bobrok begini, membicarakan hal hal yang menjurus di atas meja makan. Sangat ironi.


"Ka... kami.. " Diah hendak menjawabnya, tak enak hati dia sedari tadi hanya diam dan menyimak pembicaraan mereka.


Belum sempat banyak berkata-kata, Alex sudah menyambarnya dengan cepat dan bersemangat. "Bun, Diah menolak perjodohan ini. Jadi ku rasa ini adalah waktu yang pas bagiku untuk berbicara jujur. Kami tidak akan melanjutkan perjodohan ini. Jadi tolong, Jangan singgung soal ini lagi."


Diah, dia terbengong mendengar pernyataan dari Alex. Dia tidak mengerti, baru beberapa saat yang lalu Alex begitu menginginkannya, tapi sekarang? Diah, dia dibuang begitu saja.


"Aku tau kau tidak enak untuk berkata jujur. Disini aku membantumu untuk meringankan beban di hatimu. Bagaimana sudah lega?" Tanya Alex yang tersenyum manis tapi membuat hati Diah teriris.


Tadi aku begitu menolaknya, begitu tidak menginginkan perjodohan ini.


Tapi....


Sekarang aku merasakan kehampaan dalam hatiku saat dia mengatakan menyerah pada perjodohan ini.


Aku kenapa?


Bukankah seharusnya aku lega? karena tak lagi berusaha untuk menghindarinya? Tapi mengapa aku merasa kecewa? Diah terdiam dalam senyumnya.


Tersenyum manis di atas hati yang teriris,

__ADS_1


Sungguh ini adalah fakta yang ironis.


__ADS_2