Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
55. Tak ku relakan.


__ADS_3

...🌿🌿🌻🌿🌿...



...🌿🌿🌻🌿🌿...


Apa hakikat dari ikhtiar?


Yups!! benar, tak mudah berputus asa dan mencoba untuk tetap berusaha sekuat tenaga. Begitukan?


Berat dirasa memang jika kita harus memilih diantara sesuatu yang teramat kita kasihi. Seperti saat ini, Ayana hanya terdiam di dalam pikirannya. Tak dapat menentukan, menolak, mengulang atau bahkan memutuskan.


Sendiri dia menyimpan rasa sakitnya.


Sendiri dia berkubang lara.


Sendiri dan sendiri dia menyalahkan dirinya.


Huh, harusnya aku harus lebih tegas lagi dengannya malam itu. Ayana membatin dan bergelut dengan penyesalan yang terlanjur membelitnya sekarang.


Malam itu, malam dimana terakhir kali mereka berhubungan dan tanpa di duga malah membuahkan hasil yang terbukti dari kehamilannya saat ini.


Ayana hanya mampu mengusap lembut kening pria yang kini tengah terlelap di sampingnya dengan peluh di keningnya sisa mereka bercinta.


Bagaimanapun, ini anak kita. Dan kau sangat mengharapkannya, akan seperti apa kamu jika tau yang sebenernya?


Tentu kamu akan bahagia, tapi....


Jika kau tau akan fonis dokter yang sebenarnya, apa kau akan merenggut anakku dari dalam rahimku?


Tidak! Tidak!!


Pikiran Ayana berkeliaran, memikirkan semuanya dari segala sisi yang ada.


Memikirkan kebahagiaan suaminya, mertuanya, dan juga si janin yang belum bernyawa.


Ayana tanpa sadar menitikan air mata, mana kala rasa perih dan teriris kembali hadir saat dia mengingat fonis sang dokter.


...Flashback On....


Jarum infus masih menancap, menetes dengan perlahan sesuai dengan kebutuhan tubuhnya.


Ayana masih terkulai lemas di atas ranjang pasien, saat seorang dokter masuk dan memeriksanya.


Waktu itu, dia sendiri dan Dita masih turun untuk membeli sarapan, begitu katanya saat berpamitan.


"Bagus, keadaan ini sudah cukup baik." Kata dokter yang memeriksa semua tanda vital pada ibu dan juga janin dalam perutnya.


"Apa saya sudah bisa pilang Dok?" Tanyanya dengan suara lemah.


"Bu, meski tadi saya bilang ibu sudah cukup bagus. Bukan berarti ibu bisa segera pulang...." Sang dokter menatap iba kedua manik coklat Ayana, seolah ragu ingin menyampaikan sesuatu.


"Ada apa Dok, mengapa menatapku seperti itu" Tanya Ayana.

__ADS_1


"Bu, sebaiknya kita melakukan pengguguran kandungan sebelum janin ibu membesar. Kehamilan ibu ini sangat beresiko." Kata dokter yang disambut gelengan dan tangis Ayana yang pecah.


Ayana hanya ingin hal sederhana, punya keluarga yang utuh dan bahagia.


Tidak seperti dirinya yang sedari bayi ditinggalkan oleh sang ibu.


Dia berpikir, mengapa hidupnya selalu menjadi permainan yang menyedihkan?


Saat masih bayi di tinggal sang ibu, saat dia beranjak dewasa, sang Ayah meninggalkannya.


Saat menikah secara terpaksa dan mulai mempunyai harapan baru, bayinya, anak pertamanya gugur dan juga meninggalkannya.


Lalu sekarang dia akan ditinggalkan lagi oleh calon anaknya untuk yang kedua kalinya?


Tidak, tidak! sekalipun dia akan mati, Ayana lebih memilih mengorbankan nyawanya sendiri.


"Tidak Dok, aku tidak punya apapun di dalam hidupku." Ayana meraung.


"Hanya anak ini satu-satunya semangatku." Ucapnya dengan suara yang bergetar dan tak teratur.


"Bu, sebaiknya hal ini ibu diskusikan dengan suami dan keluarga ibu. Bagaimanapun juga nyawa ibu lebih penting." Kata sang dokter.


Ayana menatap sang dokter tepat di kedua matanya. Menyelami dan mencari arti dari perkataannya. Begitu mudahnya dia berkata nyawa Ayana lebih penting daripada nyawa janin yang di kandungnya.


Ayana menggeleng kuat dan air matanya sudah membanjiri kedua pipinya, tak rela jika harus berpisah dengan calon bayinya. " Jadi menurut dokter, nyawa anak saya ini tidak penting?" Cecarnya dengan tatapan tajam yang memerah menahan emosi.


"Calon anakku ini juga punya hak untuk hidup!! Aku sudah pernah kehilangan anakku dulu Dok. Tidak tahukah Anda bagaimana rasa sakitnya?" Tandas Ayana.


" Katakan Dok, apa kemungkinan terburuknya?" Ayana meraih tangan dokter kandungan itu, menatapnya penuh iba seolah mengemis kejujuran yang berbuah lara.


"Yang terburuk....., Ibu tidak akan selamat." Katanya dengan tatapan mata sayu menahan haru. Berat rasanya bila harus mengutarakan hal pahit dengan pasien atau keluarganya.


Ayana tertawa getir lalu mengusap perutnya. " Demi anakku, aku rela." Ucapnya yang kemudian dia tersenyum begitu manis dan mengusap perutnya dengan sayang.


Sang Dokter mengangguk beberapa kali dan mendengus membuang nafasnya perlahan, tanda jika dia juga sebenarnya tengah berberat hati dalam situasi ini.


...Flashback off....


Tangan kekar dan berotot itu menindih perutnya, perut yang kini sudah berisi calon anaknya. Dengan sangat hati-hati, Ayana memindahkan tangan Jackie.


"Jangan di tindih, kasihan dia." Lirih Ayana bermonolog berbicara dengan tangan suaminya yang kemudian mengangkatnya dan menciumnya.


Di tatapnya wajah damai yang masih terlelap itu. "Apa yang kau mimpikan suamiku?" Ayana berbicara tanpa suara.


Dia menatap lekat wajah yang terlihat damai dan sempurna berada di hadapannya, terlihat tampan dan menawan meski dengan mulutnya yang sedikit terbuka dan mengeluarkan dengkuran halus.


Tangan Ayana terulur mengusap rambut Jackie yang terlihat berantakan dan dia berbicara dalam hatinya. Dulu aku pernah mengecewakanmu, menghianatimu, dan membuatmu terluka dalam. Ayana tersenyum getir saat mengingatnya.


Dan sekarang, aku akan menebusnya. Aku ingin memberikanmu kebahagiaan, meskipun dengan nyawa aku harus membayarnya. Lirihnya kemudian mengecup hidung suaminya.


Jackie menggeliat dan setengah membuka matanya. "Kau belum tidur?"


Diraihnya ponsel yang tergeletak diatas nakas dan melihat jam. " Ini sudah jam dua dini hari Sayang. Ayo tidur! Cepat ayo...!" Kata Jackie dengan suara beratnya yang kemudian di susul dengan kecupan-kecupan sayang yang mendarat di wajah istrinya.

__ADS_1


"Iya..." Sahut Ayana yang kemudian masuk kedalam dekapan hangat Jackie.


Nyaman, hangat dan tenang itu yang dia rasakan.


Dia tak tau akan seperti apa ujung dari kisah hidupnya.


Dia tak tau akan bagaimana bentuk pengorbanannya.


Nikmatilah saja untuk saat ini. Itu yang mulai dia tanamkan di kepalanya.


...🌿🌿🌻🌿🌿...


"Sayang, kamu tidak makan?" Tanya Jackie saat melihat istrinya hanya memakan buah buahan yang sudah terpotong dan sudah menjadi salad buah.


"Ini, aku makan kan?" Ayana mengangkat mangkuknya dan menunjukkannya kepada suaminya.


"Ya, maksudku makan nasi. Karbohidrat itu penting." Kata Jackie mengoreksi maksud pertanyaannya.


Ayana terkik " Bagiku, selama rahang dan gigiku bekerja sama mengunyah, entah itu buah atau sayur." Ayana berhenti bicara dan menelan buah yang ada di kerongkongannya.


"Bagiku itu tetap makan Suamiku." Ucapnya penuh penekanan seolah menasehati Jackie.


"Makanlah dengan baik Eoh...!" Jackie mengusap pipi istrinya. "Aku sudah bekerja keras agar kau bisa makan dengan baik." Katanya yang kemudian menyendokkan nasi dan lauk pada piring yang baru dan memberikannya pada Ayana.


"Jaga kesehatan, makanlah dengan baik agar kau cepat hamil." Jackie lalu tersenyum setelah menyodorkan sepiring makanan ke hadapan Ayana.


Ayana hanya terdiam menatap nasi yang tersaji di hadapannya dengan ekspresi datar.


"Aku sudah tak sabar untuk memiliki Jackie junior." Sambungnya penuh pengharapan.


Andai kau tau sudah ada Jackie junior disini. Kau pasti sangat senang.


Tapi aku masih ingin merahasiakan ini sampai kandunganku tak bisa untuk di gugurkan.


Bertahanlah Nak, tiga bulan lagi baru akan kuberitahukan kepada Ayahmu kalau kau sudah ada disini.


Ayana menunduk berbicara dari hati kehati dengan si jabang bayi.


...Mengapa raut wajahnya berubah begitu? Apa aku salah mengatakan sesuatu?...


Ah~~~~ Nampaknya dia belum siap untuk hal itu. Jackie terdiam sesat mengamati wajah Ayana.


"Cha!! Ayo!! aku akan makan dengan baik. Lihat ini!" Ayana lalu tersenyum bersemangat dan mulai melahap makanan yang Jackie ambilkan untuknya.


Sungguh dia tak mau mengecewakan suaminya.


Pertanyaan yang unfaedah muncul nih.


Menurut kalian apa karakter dari protagonis tokoh utama wanita disini?


Tak ada pilihan ganda. Tulis saja pendapat kalian di kolom komentar.


Karakter tokoh utama menunjukkan jalan cerita.

__ADS_1


__ADS_2