Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
64. Berbagi.


__ADS_3

...🍁🍁🌼🍁🍁...



...🍁🍁🌼🍁🍁...


Acara berlangsung lancar dan baik saat tiba-tiba Gino mendapatkan telepon dari kantornya. Seketika itu pula wajahnya berubah panik. Walaupun langit sudah kian menghitam dia tetap bersikeras untuk pulang kembali ke kantornya.


"Ada apa kak?" Tanya Alex disela-sela mengunyah makanannya.


"Ada masalah di kantorku. Aku harus pulang untuk mengurusnya, untuk yang disini kalian yang handle ya?" Gino bertanya tapi tak ingin ada penolakan sebagai jawabannya. Pertanyaan itu layaknya sebuah perintah bagi kedua adiknya.


"Masalah apa? Apa sangat serius?" Tanya Jackie dengan matanya yang membulat sempurna.


"Eum!" Gino menengguk air putih dari gelasnya dan mengangguk yakin lalu mengusap sisa makanan di bibirnya. " Ada 23 karyawan ku yang keracunan makanan siang tadi di kantin dan mereka baru merasakannya malam ini. Jadi aku harus pulang dan bertanggung jawab mengobati mereka semua sampai sembuh." Ucap Gino menyambung.


"Keracunan makanan? ini aneh sekali. Baru pertama kali ini terjadi." Jackie menggumam.


"Eum, sepertinya ada yang aneh disini." Sambung Alex menimpali.


"Yasudah kalian lanjutkan makannya aku akan berpamitan kepada rekan-rekan yang lain." Kata Gino yang kemudian bangkit berdiri, menepuk beberapa kali pundak Alex perlahan lalu pergi.


...🍁🍁🌼🍁🍁...


Di rumah sakit.


"Jadi begitu Dok?" Tanya Ayana ketika dokter selesai menjabarkan keadaannya yang sesungguhnya.


"Lalu bercak darah itu?" Tanyanya lagi.


Dokter tersenyum. " Untunglah itu hanya sekedar flek saja. Menandakan jika rahimmu sedang dalam masa tidak begitu baik. Intinya, jangan berhubungan intim dahulu. Apalagi terlalu heboh dan banyak gaya. Pakai cara klasik saja dengan tempo perlahan." Ujar sang Dokter menyarankan.


"Baik Dok." Jawab Ayana yang disertai dengan anggukan.


Tapi dalam hatinya, Bagaimana bisa dilakukan dengan gaya klasik? jika suamiku saja sangat liar dan menuntut banyak gaya?


Lalu apa tadi, tempo yang perlahan?


Suamiku itu dok asal kau tau, dia anak hip-hop tau kan sukanya yang bagaimana? Ah entahlah untuk yang satu itu membuatku merasa frustrasi.


" Saya permisi." Kata dokter yang terlihat begitu buru-buru pergi dari ruangan Ayana.


" Buka telingamu, kau dengar tadi? Gaya klasik, tempo perlahan. Tak usah nge-rap segala dan pakai gaya rol depan rol belakang. Jadi begini kan?" Cicit Dita menirukan nasihat Dokter sambil tertawa.


Ah, kau ini banyak bicara.


Bukankah mereka Kakak beradaik itu sama saja. Tak terkendali bila sudah melakukan warming up?


Ayana mendengus kesal dalam hatinya.


" Mana bisa? Sedangkan aku saja merahasiakan keadaanku saat ini. Tau sendirilah mereka itu berubah liar ketika sudah mode On." Kata Ayana.


Eh, mana ku tahu?


Aku sama sekali belum pernah menjajal aksi menegangkan itu Ay.


Paling jauh hal yang kami lakukan hanyalah berpelukan.

__ADS_1


Ouh! sungguh ini akan sangat memalukan bagiku jika mereka tau. Bahkan perasaan kami pun belum tumbuh. Batin Dita membalas perkataan Ayana.


"Ah, iya kau benar." Dita tersenyum kecut.


Malam semakin larut dan Dita entah mengapa dia tidak bisa tidur. Dita sibuk bermain ponselnya melihat drama Korea secara marathon.


"Ah, ngantuk! Tapi sayang lagi seru." Dia menahan rasa kantuknya walaupun dia sudah menguap banyak kali.


Bukanya tidur, dia lebih memilih untuk pergi ke kantin dan membeli kopi. Ah, inilah anak-anak jaman sekarang. Mereka akan memilih begadang sebagai jawaban dari rasa kantuknya.


" Kopi, aku butuh kopi." Dita berbicara sendiri sedangkan Ayana sudah terlelap karena pengaruh obat.


Dita turun ke lantai bawah lalu mengambil kopi dingin dari showcase. Terlihat ramai orang lalu lalang berlarian. Dita yang penasaran kemudian memutuskan untuk menanyai Diyah yang kebetulan sedang bertugas.


"Diyah!" Serunya memanggil Diyah yang lalu menoleh dan mendekat ke arahnya.


"Ada apa Bu?"


"Ada apa itu kenapa sangat ramai?" Tanya Dita.


"Oh, itu. Keracunan masal Bu dari sebuah perusahaan." Jawab Diyah yang terpotong lantaran temannya sudah berseru memanggilnya untuk bergegas membantu yang lainnya.


"Maaf saya harus pergi!" Ucapnya dengan setengah berteriak dan berlari menjauh.


...🍁🍁🌼🍁🍁...


" Pak, itu mereka semua ada disana." Kata pihak perusahaan yang menyambut kedatangan Gino dan menggiringnya langsung menuju ke IGD.


"Apakah ada yang kritis?" Tanya Gino.


"Belum ada laporan Pak. Untuk sementara keluhan mereka semua sama, muntah, mual dan diare." Ucap si karyawan.


" Belum pak, mungkin sebentar lagi. Maklum pak istrinya sedang hamil dan hari ini dia berencana akan mengunjungi istrinya di kampung tapi malah ada kejadian begini. Saya harap Bapak mau memberi kami sedikit waktu lagi." Kata si karyawan.


Gino mengangguk. " Baiklah, urus semuanya sebaik mungkin. Cover semua biaya yang di butuhkan." Kata Gino lalu berbalik badan dan merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel dan hendak menghubungi istrinya.


Ya, walaupun dihatinya belum ada rasa terhadap Dita, tapi setidaknya mengabari istri adalah penting bagi suami bukan?


Gino menyipitkan matanya mana kala dia lamat-lamat melihat sosok Dita yang berjalan menghilang tertelan pintu lift.


"Dita?" Gino menggumam lalu berinisiatif untuk lari dan mengejar sosok tersebut.


Gino berlari tapi lift sudah naik, dia bergegas menggunakan lift sebelahnya. Beruntunglah dia lift segera naik menyusul kelantai mana tadi Dita menuju. Sambil berlari ponsel Gino terus saja berusaha menghubungi nomor Dita.


"Tidak di angkat, dia bukan tadi ya? Kalau dia, kenapa tidak bilang padaku jika dia sakit?" Gino bermonolog sambil terus melongok satu persatu kaca yang terpasang di pintu setiap kamar rawat inap.


"Ah.... ah.... hah....!" Gino ngos-ngosan setelah berlarian mengejar sosok yang mirip istrinya. " Ah benar itu dia." Ucapnya yakin saat melihat Dita kembali duduk dan menyeruput kopinya.


Tanpa mengetuk pintu dan permisi, Gino langsung masuk begitu saja dan matanya terbelalak saat melihat Ayana yang terbaring lelap di atas ranjang sementara Dita terdiam mematung setelah tertangkap basah.


Mampus sudah!


Akhirnya ketahuan juga kan? Dita mengumpat dalam hati.


" Sayang." Gino berbicara lirih menyebut Dita lalu mendekapnya erat seolah kekhawatirannya terhempas ke lautan luas.


Dita masih terdiam mematung dia bingung dengan perlakuan yang suaminya berikan.

__ADS_1


"Kamu kenapa sudah disini?" Tanya Dita penasaran.


"Oh, syukurlah aku pikir tadi yang sakit itu kamu." Kata Gino yang masih memeluk erat Dita dengan satu tangannya yang mengusap punggung sang istri.


"Yang sakit dan di rawat di bawah," Ucap Gino terhenti karena nafasnya yang belum beraturan. "Karyawan kita yang keracunan masal itu, karyawan kita dari bagian pengemasan." Ucapnya menyelesaikan perkataannya.


"Ini minumlah dulu, sepertinya kamu haus?" Ucap Dita yang menyodorkan kopi yang baru saja dibelinya.


"Ayana kenapa?" Tanya Gino sambil menyeruput kopi pemberian istrinya.


" Pak, ini kopi bukan es teh. Pelan-pelan." Protes Dita yang melihat Gino menenggak habis kopinya.


"Aku haus." Jawabnya yang kemudian meletakkan cangkir yang sudah kosong.


"Ayana kenapa?" Ulangnya lagi bertanya.


"Ayana hamil." Ucap Dita yang malas untuk berbohong dan menutupi hal ini lagi.


"Ha.... hamil? hamil katamu?" Reflek Gino berbicara dengan nada suaranya yang tinggi membuat Ayana terbangun dan membuka matanya.


"Pelan-pelan" Dita mendesis memperingatkan agar Gino lebih tenang dan ingat dimana mereka berada sekarang.


"Kak, kau sudah pulang? Apa Jack juga sudah pulang?" Tanya Ayana dengan semburat ketakutan yang menghiasi matanya.


Gino mendekat dan menggeleng. " Belum." Singkat dia menjawabnya.


"Ay, kenapa kamu hamil? ini belum waktunya." Kata Gino yang benar-benar paham akan keadaan Ayana yang sesungguhnya.


Inilah hal sulit bagi Ayana. Dalam kondisi dan situasi ini, dia tidak mau Dita merasa tersisih akan perhatian yang Gino berikan. Bagaimanapun juga mereka pernah berhubungan sebagai suami istri kan?


Ayana harus tau adab dan tata Krama.


"Kak Dita, kau bisa bantu aku untuk menjelaskan hal ini kepada Kakak ipar? aku lelah ingin tidur." Katanya yang sengaja menghindari banyak berbincang dengan mantan suaminya di hadapan istrinya yang sekarang.


"Sayang, ikut aku sebentar." Dita menarik perlahan tangan Gino.


Meskipun tangannya ditarik, tatapan mata Gino untuk beberapa detik tetap tertuju pada mantan istrinya. Dia menyayangkan mengapa Ayana berani mengambil resiko sebesar ini?


Dita menjelaskan semuanya kepada suaminya. Ada rasa rasa sesak yang menemani dengan setia di setiap penuturannya. Rasa tidak rela menceritakan keadaan wanita lain lebih tepatnya mantan istri kepada suaminya sendiri.


"Ini semua sudah keputusan bulat yang di pilih Ayana. Kita tak bisa berbuat apa-apa selain mendukung dan membantunya." Ucap Dita di akhir cerita.


Sungguh tak di duga, dengan serta merta, Gino mendekat lalu memeluknya. " Terimakasih sudah membantunya. Aku tau ini adalah hal sulit bagimu, berhadapan dengan wanita yang menjadi mantan istriku juga sekaligus adik ipar ku. Aku sangat berterimakasih kau mampu menata hatimu sampai sejauh ini. Terimakasih istriku."


CUP!!


Satu kecupan mendarat di kening Dita. Tubuh Dita menegang setiap kata demi kata yang terlontar dari bibir suaminya menuturkan rasa terimakasih yang teramat sangat.


Rasa terimakasih ini bukan untukku. Tapi untuk kerja kerasku karena telah menjaga dan merawat mantan istrinya. Batin Dita memudarkan segala angannya yang meninggi.


"Terimakasih sudah menjadi istri yang baik dan Kakak ipar yang baik." Ucap Gino yang kemudian memeluk Dita dengan hangatnya.


Pelukannya terasa berbeda. Apakah ini tulus? Batin Dita meronta dan menerka-nerka.


"Aku serius dan tulus Dita. Kau istriku sekarang, apalagi yang kau ragukan? Lain kali, berbagilah cerita denganku, semua ceritamu denganku." Kata Gino dengan lembutnya.


"Yak!! Apa yang kau ragukan katamu? Kau lihat, Ayana sudah hamil, sementara aku? aku .... Ups! ah tidak...., tidak.... aku hanya..." Dita tergugup setelah kelepasan bicara. Dia menunduk dan tak berani menatap wajah suaminya.

__ADS_1


"Jadi kau ingin segera memiliki anak?" Gino mengurai pelukannya lalu menangkup wajah Dita yang bersemu kemerahan.


Gino suka sekali melihat istrinya yang salah tingkah begini, mirip jeng kelin katanya.πŸ˜†.Pipinya merah dan matanya membulat dengan bibir yang lancip mengerucut.


__ADS_2