Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
100. aku butuh kejelasan.


__ADS_3


...🌺🌺🌺...


πŸŽŠπŸŽŠπŸŽ‰πŸ™€πŸ˜½πŸ˜½πŸ˜½


La La La, Aku senang sekali.... sampai episode ke 100.


Jarang banget, cie sok sok udah banyak berkarya aja, pake kata jarang banget. Emangnya kapan yak?🀭🀭. Baru juga ini.


Seyuyur-yuyurnya! aku katakan I'm so happy, I'm so excited πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†.


Menyentuh 100 Bab dan belum ada plot twist yang melintir jalur dan keluar alurπŸ‘πŸ‘πŸ‘.


Congratulations πŸ‘πŸ‘πŸŽ‰ for me πŸ˜†πŸ˜†πŸ€­.


Terimakasih pada pembaca yang sudah setia membaca karya receh ini.


Cuma mau tanya nih, sedikit aja.


Kalian team siapa?


a. Jackie ❀️ Ayana.


b. Gino ❀️ Dita.


c. Alex ❀️ Diah.


d. Gue ❀️ min syuga πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†πŸ€£ pen koprol gue.


Jangan lupa komentar, like nya dan juga vote juga masukkan kedalam daftar favorit ya.


Em .. para pembacaku,. tolong tinggalkan like ya setiap selesai membaca, sebagai bentuk apresiasi bagi kami para penulis, agar karya kami bisa tampil di board depan.


Sejujurnya, semakin banyak kalian memberi like, semakin membara juga semangat kami untuk menyajikan bacaan yang berkenan di hati para pembaca. Jadi mari saling menyemangati dan menghargai.


Udah gitu aja, pokoknya makasih banget.


Happy redding!!


...POV Author. ...


Pagi menjelang dan Ayana perlahan dengan sangat hati-hati membuka pintu kamarnya. Pertama yang dia lakukan adalah mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka. Dia melihat suaminya tidur meringkuk dengan bantalan yang tinggi hingga membuat dengkurannya semakin kencang.


...POV Ayana. ...


Kulihat dia tidur di sofa dengan kaki yang melintang menjulur melebihi panjang sofa. Jujur aku kasihan, sepertinya aku menyiksa raja di istananya.

__ADS_1


Semalaman aku begitu pulas tanpa terjaga sedikitpun. Itu semua karena pengaruh obat. Sementara suamiku?


Ah, dia lupa menyalakan obat nyamuk elektrik, pasti tidurnya terganggu.


Tanpa selimut dan tanpa bantal hanya menggunakan handel sofa sebagai bantalan dan itu teramat tinggi, membuat dengkurannya terdengar kian keras.


Tapi, aku... hatiku berbisik bahwa suamiku tak bersalah, hatiku memintaku untuk percaya padanya.


Tapi, otakku selalu memaksaku untuk berfikir secara rasional. Bagaimana bisa, jika tak ada hubungan sampai mengajarkan kepada anaknya untuk memanggil suamiku dengan sebutan Daddy? Ini sangatlah aneh.


Entah kapan dia bangunya, kapan dia berjalan menyusulku, yang jelas sekarang tangan kekarnya sudah melingkar di perutku. Mengunciku agar tak pergi berlari darinya dan kembali mengurung diri di kamar.


"Pagi sayang." Sapanya tanpa menghadapku tapi dia lebih memilih menyembunyikan kepalanya di punggungku. Aku bisa merasakan bibirnya menciumi kulit punggungku. Hemh, itu semua karena potongan bajuku memang terbuka di bagian belakang.


Aku tak menjawabnya dan lebih memilih untuk mengabaikannya lalu kembali mencuci sayuran.


"Kamu masih marah?"


Ku dengar dia bertanya dengan suara beratnya. Jika lelaki yang lain akan lusuh dan bau ketika baru bangun tidur, maka tidak dengan suamiku. Kelemahannya saat tidur hanyalah dengkuran keras.


Sementara yang lainnya?


Harus ku akui dia selalu tampil seksih ketika bangun tidur. Wajahnya begitu polos dan membuatku merasakan ga**ah yang berbeda. Seperti hasrat ingin bercinta di pagi hari.


aku tak menjawabnya dan lebih memilih melanjutkan mengupas jeruk untuk menu sarapan kami. Dia tidak suka jus buah, baginya buah yang di kunyah lebih enak di bandingkan dengan jus buah.


Oh, sungguh aku begitu ingin melakukan kerja kelompok dengannya. Tapi...., dokter bilang kami di larang untuk bersenggama setidaknya selama dua Minggu.


Dua minggu?


Bukankah itu waktu yang lumayan untuk berselingkuh?


Tidak! aku harus mempertahankan rumah tanggaku!


Aku sudah gagal sekali dan tak akan terulang lagi! Pemikiran bodoh darimana kemarin sampai aku ingin melepaskannya?


Cih! aku tak percaya ini. Aku kalah dengan gundik? tidak, bisa!! Akan ku tunjukkan bagaimana cara kerjaku.


Buat dia kenyang bahkan sampai muntah, agar tak memiliki hasrat di luaran. Bukankah begitu penerapan metodenya? benarkan?


Tapi, sifat laki-laki dia akan tetap bertahan selama dia mau, bukan selama ada upayamu. Jika dia cinta, sekalipun kau diam tanpa upaya dia akan tetap disisimu selamanya.


" A...!" Aku memasukkan sebuah jeruk yang baru ku kupas di mulutnya. Dan dia menurut saja, dia mengunyahnya tanpa melepaskan pelukannya. Bahkan semakin erat.


"Kalau aku tidak marah, berarti aku istrinya yang tidak mencintai suaminya. Istri yang membiarkan suaminya bersama dengan wanita lain di luaran sana." Ketusku berbicara padanya yang mendengarkan ku dengan mulutnya yang sibuk mengunyah.


" A ...!" Lagi aku memasukkan jeruk ke dalam mulutnya. Dan gigi kelincinya sudah mulai bergerak lucu. Harus ku akui suamiku memang sangat tampan bahkan walau belum mandi sekalipun.

__ADS_1


" Aku bingung, harus percaya atau tidak padamu. Dahulu, kau kuliah di luar negeri. Italia, negara yang terkenal dengan kebebasannya. Bahkan dari yang aku tahu disana ada sebuah acara yang mengharuskan untuk bertukar pasangan. Tak perduli itu pasangan yang sudah menikah atau belum. Lalu kau masih lajang, dan...." Mulutku berhenti bicara, aku takut suamiku akan mengamuk karena tersinggung.


"A ...!" Kali ini dia yang menyuapkan jeruk ke mulutku. Aku menerimanya saja meski sebenarnya aku belum mau.


"Tidak semua yang berada di sungai akan hanyut terbawa arus! hilangkan pemikiran primitif seperti itu. Ingat bahwa di sungai besar dengan arus yang besar, di dalamnya juga ada batu besar yang tak bisa bergeser, ada pohon tumbang yang tersangkut, dan ada juga ikan salmon yang suka melawan arah." Ucapnya tepat di sebelah telingaku.


Jujur saja, darahku berdesir ketika nafasnya menderu menyapa kulit leherku. Membuatku merasakan sebuah sengatan dan gelanyar yang sulit di gambarkan.


"A...!" Lagi dia menyuapiku sebagai alat agar aku tak menyela perkataannya.


"Aku sakit hati denganmu, saat disana aku benci dengan wanita! Aku tidak berhubungan atau apapun itu. Dan Denise...."


Suamiku menceritakan semuanya tentang Denise, dari awal atau akhir.


"Dan kau tahu? luka hatiku yang kau buat kala itu mirip seperti gigitan kobra." Ucapnya membuatku tak paham.


Dimana jalurnya dari sakit hari lalu menuju ke gigitan kobra?


"Kobra saat menggigit, menyemburkan bisa, menyemburkan racunnya, memghigit mangsanya. Lalu kau tau apa bahan dasar penawar racun kobra?"


Jujur aku tak begitu paham dengan hal farmasi atau pervaksinan atau apapun itu sebab aku bukan anak medis.


"Yang di gigit Kobra tidak akan bisa bertahan lama. Sementara itu dokter justru membuat penawar racun ular dari racun itu sendiri. Sama seperti luka hatiku, kau yang membuatnya kau juga yang mengobatinya."


"Jadi ..." Ucapnya membalik badanku dan kembali memelukku erat. Mata kami saling beradu pandang. Aku mencari kejujurannya dan dia mencari rasa iba.


" Jadi?" Tanyaku tak mengerti.


"Jadi aku tak mau memberi kesempatan bagimu, atau bagiku untuk membuat luka lagi. Aku ingin berbahagia bersama sampai akhir, sampai kita tua." Ucapnya dengan menyatukan kening kami.


Ouh....,Abang, adek meleleh bang. Begitulah isi hatiku jika dia bisa mendengarnya. Runtuh pertahanan ku setelah mendengarkan kejujurannya.


"Aku mau bukti." Kataku dengan memandang wajah tampan di hadapanku ini.


Tanpa kuduga, dia mengangkat tubuhku dan mendudukanku di atas pantry. Aku menunduk memandangnya dan dia mendongak menatapku.



Begini ekspresi wajahnya kira kira.


" Mau bukti apa? tes DNA anaknya Denise?" Tanyanya.


" Iya, aku butuh itu." Jawabku menantangnya.


"Oh, Ok.... rupanya sejauh ini kau meragukan kesetiaan ku." Katanya yang kemudian merenggangkan pelukannya.


Jujur aku merasakan kebimbangan disini. Aku tahu dia akan tersinggung, tapi aku juga butuh kejelasan. Mana bisa aku percaya begitu saja. Kita tunggu saja apa hasilnya.

__ADS_1


__ADS_2