Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
21. Hero


__ADS_3


Ga tau lagi Weh, gue yang lagi males ngestuck di cerita ini, menunggu banyaknya viewer tiba-tiba tergugah tau ga, cuman gara-gara dia nih.


Entah siapapun kamu, makasih ya dah bikin mood gue balik🀧🀧. Sumpah jadi terkenyut gue... Makasih bet buat lu.


Di cerita ini, agaknya Jackie jadi tambah menyebalkan dan membuat Ayana semakin terpuruk.


Akankah Ayana mundur dan menyerah?


Atau dia tetap tegar?


Dah ga usah berlama-lama kasian Ayana yang di kunci dalam gudang kosong.



...🌹🌹🌹...


" Ah, sudahlah aku tau dia pasti sangat membenciku." Ayana berputus asa.


Benar saja, terdengar derap langkah kaki seseorang yang semakin menjauh dan sayup-sayup hilang ditelan kesunyian yang menandakan orang tersebut kini sudah tak lagi berada di sekitaran.


Gelap, sangat gelap juga pengap di dalam gudang tersebut. Ayana duduk lemas dia merosot, kakinya seolah tak memiliki daya tumpu. Lelah, lapar dan batin yang tertekan. Tak ada hal yang bisa dia lakukan setelah sebelumnya dia memeriksa ponselnya yang juga mati kehabisan daya.


Ayana tersenyum miris. Dia menertawai dirinya sendiri. Inilah akibatnya bila berlagak sok kuat. Menjadikan sosok malaikat yang berubah menjadi iblis. Nyatanya sekarang hanya dirinyalah yang berkewajiban menanggung semua lara.


" Hah, ponselku juga mati." Cicitnya lemah.


Meratapi dan merenungi sudah tak ada gunanya lagi. Meminta tolong? pada siapa? sudah tidak ada manusia lagi disana hanya dia. Gedung yang tadinya berfungsi sebagai storage itu sudah beberapa tahun kosong dan tak terpakai. Dari cerita para satpam yang pernah di dengarnya, banyak kejadian menyeramkan di gedung itu.


Kini lengkaplah sudah. Takut, lapar, lemas, sedih semuanya jadi satu. Tangannya yang lemas mengetuk-ngetuk pintu dengan tenaga yang tersisa. Malam semakin larut, ingin melihat jam tangan pun, dia tak bisa. Sangat gelap.


Suara ketukan bersahutan dengan suara aneh yang serasa berada dekat di samping telinganya. Membuat bulu kuduknya berdiri dan tubuhnya kaku seketika kala sebuah tangan dengan kuku panjang dan berbulu lebat dengan bau yang sulit di definisikan menyentuh jemarinya. Entahlah sosok apa itu, sungguh berbau busuk dan menusuk hidung. Aromanya membuat Ayana mual. Semakin merinding dan kian menegang mana kala dengan tiba-tiba muncul sosok wajah tepat dihadapannya. Meski tempat itu gelap gulita, tetapi sosok itu seperti bisa memiliki cahaya hingga Ayana bisa melihat wajahnya yang dipenuhi darah dan belatung dengan mata besar yang hampir keluar, kedua taring yang panjang dan lidah yang menjulur.


Ayana tumbang setelahnya, dia pingsan.


Di dalam apartemen Jackie.


Berendam air hangat di bathtub setelah melewatkan harinya yang penat. Dia menggoyangkan wine dan menenggaknya. Menikmati setiap tegukan dengan senyum iblis yang terukir.


" Sebentar lagi kau pasti akan membuat keributan. Kau pasti akan meminta tolong teman-temanmu." Jackie bermonolog dan tersenyum miring.


Sepulangnya dari mengunci Ayana di gudang, dengan santainya Jackie masih bisa menikmati harinya. Dia masih mengunjungi sebuah resto western untuk sekedar makan malam. Memanjakan Indra pengecapnya dan juga Indra penglihatannya untuk menikmati indah pemandangan disana. Sementara di tempat lain, wanita yang di kurungnya tengah menahan lapar dan nyeri di bagian perutnya.


Selesai dengan ritual mandinya, Jackie lantas merebahkan tubuhnya di kasur empuk yang nyaman. Dia masih sempatnya membaca majalah dewasa.


Oh astaga Jackie...! tidakkah kau menggunakan otakmu!! Bagaimana jika terjadi sesuatu?


Pagi hari.


Semalaman Jackie gelisah tak menentu dia memikirkan bagaimana keadaan Ayana, adakah yang menolongnya?


Oh, tidak dia tidak akan menjadi pembunuh. Jackie masih bisa berpikir jernih. Masih pukul 4 dini hari dan Jackie bergegas menuju ke gudang yang usang.


Dia berlari menuju gudang yang letaknya memang paling ujung dari yang lainnya. Gudang itu juga sudah sangat tua ketimbang bangunan pabrik. Gudang itu dulunya adalah cikal bakal dari pabrik yang sekarang menjadi besar dan megah. Awal Ayah Dhani merintis usaha adalah di gudang itu. Sempat mengalami kebangkrutan karena peristiwa kebakaran yang menelan 5 orang karyawannya sebagai korban, usahanya sempat mandeg beberapa tahun. Hingga akhirnya kembali bangkit dengan modal yang ada.


Mengingat peristiwa itu, membuat Jackie semakin gusar. Dia ingat bagaimana dulu mereka bertiga, dia, Alex dan juga Gino melakukan uji nyali dan berakhir dengan Alex yang kesurupan. Dan sekarang malah Ayana yang di kunci didalamnya. Sungguh Jackie sedang ketakutan bukan main.

__ADS_1


Sampai di depan pintu, Jackie lalu membukanya dan terasa sangat berat seperti ada yang mengganjal. Dia terus saja mendorongnya dan ternyata itu adalah tubuh Ayana yang pucat pasi dan sangat dingin. Mungkinkah Ayana sudah mati kaku??


Di pegangnya dan diperiksa nadinya, Ayana masih bernafas. Dia sedikit lega. Manakala dia hendak mengangkat tubuh Ayana, ada sesuatu yang aneh terjadi. Jackie merasa ada yang mengawasinya dan benar saja. Sesosok mahluk putih melayang dengan rambut yang menyentuh lantai menghasilkan bunyi seperti sapu lidi yang masih bergesekan dengan lantai dengan aroma pandan yang menyengat dan tawa yang nyaring.


Itu adalah penampakan Mbah kun-Ti.


Astaga! Segera tanpa aba-aba Jackie berlari tunggang langgang meninggalkan tempat tersebut dan membawa Ayana dengan entengnya. Berlari secepat kilat dan membopong sebuah tubuh seolah seringan kapas. Apakah Jackie mendapatkan kekuatan dari Hulk?


I don't know. but he's like a hero. Hahahaha!!


Tancap gas dan membawa Ayana pulang adalah sebuah pilihan terakhir sebab dia juga tak tau dimana alamat Ayana.


Sesampainya di rumah, langsung dia bawa Ayana ke kamarnya dan meletakkannya di ranjang. Tak perduli lagi akan tubuh di wanita yang berdebu mengotori kasur mahalnya.


Tapi yang aneh adalah, Jackie juga ikut meringkuk dan bersembunyi di dalam selimutnya.


Dan, dia tertidur karena ketakutan sampai siang menjelang.


Siang hari.


Jackie terbangun tetapi tubuhnya serasa sangat berat dan kepalanya berdenyut hebat. Tiba-tiba juga dia batuk kering. Tenggorokannya terasa tak enak juga rasa mual yang menyerang.


" Astaga, kenapa tubuhku rasanya begini?" Gumamnya sebelum beranjak bangun. Dia hanya membuka selimutnya dan melirik kesebelahnya dimana Ayana masih berbaring tanpa berganti posisi.


" Oh, si pemalas ini masih tidur." Ucapnya gahar.


" Hei, bangun! ini sudah siang!!" Serunya sembari mengguncang tubuh Ayana.


" Sehhhhh...." Ayana meringis menegang kepalanya.


Mungkin yang dirasakannya jauh lebih hebat dari sekedar apa yang di rasakan oleh Jackie. Saat hendak bangun dan membuka matanya. Dia melirik kesamping dan ada Jackie yang melihatnya dengan bengis.


" Bangun dan cepat pergi kau tak lihat tubuhmu mengotori ranjangku??" Ucapnya sarkas.


Berbicara seperti itu tapi sebelumnya dia bertindak seperti pahlawan padahal dia juga penjahatnya.


" I... iya." Jawab Ayana lirih. Dia kikuk. Bingung juga dia bagaimana bisa ada di tempat yang berbeda padahal sebelumnya dia jelas-jelas terkunci di gudang.


Dia masih berpikir apakah Jackie pahlawannya?


Are you my hero? Batinya sebelum suara bentakan kembali mengugurkan pikiran positifnya.


Apa-apaan melihatku seperti itu? Kau tidak pernah melihat drama atau bagaimana? Seharusnya dialogmu sekarang kan, Aku dimana?


Apa kau yang telah menolongku? Terimakasih sudah menolongku dan bla-bla-bla!


Tapi kau? Cih...! Kau hanya diam saja?


What the hell???? Pikir Jackie yang malah kesal sendiri.


" Cepat pulang sana! menggangguku saja!" Usir Jackie yang menunjuk pintu keluar dengan dagunya.


Ayana segera bangkit meski sempoyongan. Dia menunduk untuk mengucapkan terimakasih dan bertepatan dengan itu darah segar keluar dari hidungnya.


" Terimakasih Pak. Saya pamit." Ucapnya lembut.


Bukan lembut, lebih tepatnya lemah karena tak bertenaga. Dia masih lemas sedari kemarin dan kemarinya, dia belum makan.

__ADS_1


" Hei! kau mimisan?" Kata Jackie yang melihat darah dari hidung Ayana.


Kau mengkhawatirkan keadaanku? Batin Ayana senang. Ayana tetap diam di tempatnya dan dengan segera menutup hidungnya dengan tangannya.


" Pakai tisu ini, jangan sampai darahmu mengotori lantaiku!! Aku tak suka!!" Ketus Jackie tanpa perasaan. Dia lebih memikirkan lantainya dan tak peduli sebab apa Ayana sampai mimisan.


Ayana menggeleng perlahan. " Tidak usah, Aku bisa memakai ikat rambutku. Saya permisi." Ucapnya sendu.


Sakit sekali Manakala dahulu dia adalah orang yang paling perduli terhadapmu, berubah menjadi dia yang paling abai. Ayana menutup hidungnya dengan ikat rambutnya dan sesekali mengelapnya dengan lengan baju panjangnya. Dia keluar begitu saja meninggalkan kamar Jackie.


Menatap punggung kecil dan tubuh ramping yang perlahan-lahan menghilang di balik pintu, menyisakan ruang hampa di hati Jackie.


" Apa aku begitu keterlaluan?" Gumamnya yang kembali berbaring dan menatap langit-langit kamarnya.


" Oh astaga, tubuhku sakit semua!!" serunya menggerutu.


...🍁🍁🍁...


Ayana menangis sepanjang jalan menuju kosan miliknya. Ada rasa yang begitu memilukan untuknya. Dia tak habis pikir dengan segala sikap buruk Jackie padanya.


Sampai di kosan.


" Astaghfirullah!!" Pekik Bu Sri yang melihat noda darah di lengan baju Ayana dan juga darah yang mengering di bagain hidung.


" Kamu kenapa Nduk?" Tanyanya panik. Dia menarik Ayana untuk duduk dan memberikan air minum.


Ayana tersenyum pias. " Tidak apa-apa Bu. Nana hanya kelelahan, semalam lembur sampai pagi." Bohongnya.


Bu Sri menangkap sesuatu yang aneh. Baju Ayana terlihat kusut dan sangat kotor. " Lembur dimana, bajumu sampai kotor begini?" Tangan Bu Sri mengusapnya berusaha membersihkan noda yang membandel itu.


Lagi-lagi Ayana memberikan senyum palsunya. " Bu, Nana tidak apa-apa ini hanya karena tak sengaja bergesekan dengan tembok gudang. Nana kemarin memeriksa persediaan bahan baku di gudang Bu. Jadi kotor begini." Katanya yang santun, dia ingin Bu Sri tak lagi curiga padanya.


" Owalah.." Bu Sri percaya saja.


"Maaf ya Bu, kita tidak jadi jalan-jalan, Ayana kurang enak badan." Jawabnya lesu.


Bu Sri menatap dalam mata Ayana. " Apa yang kau lihat tadi malam? Aku merasakan aura yang aneh. Kemari ikut ibu." Ucapnya lembut dan membawa Ayana masuk ke kamar kostnya.


Lagi Bu Sri membawakan air sumur untuk Ayana dalam sebuah baskom kecil.


Bu Sri memejamkan matanya lalu membaca doa-doa. Ayana kembali jatuh pingsan sat Bu Sri membacakan doa. Dengan caranya, Bu Sri mengusir hantu yang menempel pada Ayana. Dia mengusap wajah, kepala, tangan dan kaki Ayana dengan air yang telah di doakan.


Ajaibnya Ayana terbangun setelahnya.


" Bagaimana sudah enteng?" tanyanya tanpa basa-basi.


" Eoh? apa Bu?"


" Apa sudah merasa baikan?" Tanyanya lagi.


" Em, tidak selemas sebelumnya. Pundakku juga tak begitu berat. Apa aku...?"


Bu Sri mengangguk dan tersenyum. " Sudah, jangan di sebut nanti mereka besar kepala. Lupakan saja dan minum ini. Lalu mandilah juga dengan air ini." Bu Sri memberikan air yang tadi dia doakan.


Astaga, ini yang baru namanya the real Hero. Bukan Hero abal-abal macam si Jack!! Huft!!


__ADS_1


__ADS_2