
...πΏπΏπ»πΏπΏ...
...πΏπΏπ»πΏπΏ...
Duduk di satu ruangan berwarna khas putih cerah bersandingkan dengan alat-alat kesehatan yang sama sekali tak dikenalnya. Alex dia duduk sambil mengayun-ayunkan kakinya bersantai menunggu adik sepupunya sedang memeriksa riwayat kesehatannya.
"Abang, kau ini sehat dan bugar, sejauh kita melakukan rekam medis tadi tubuhmu sama sekali tak memiliki penyakit yang berarti. Hanya sekedar kurang istirahat saja. Selebihnya semuanya bagus." Jihan menggumam membacakan hasil rekam medis kakaknya.
"Ayolah Jihan.., bantu abangmu ini. Abang hanya ingin beristirahat selama tiga hari saja di sini." Kata Alex memohon tanpa rasa malu.
Bukankah lebih nyaman jika beristirahat di hotel atau berlibur di suatu tempat yang mewah? ini malah di rumah sakit.
"Hemh... !" Jihan si sepupu hanya bisa mendengus menghela nafasnya. "Bang, apa perusahaanmu sudah bangkrut?" Tanyanya sambil mengerutkan keningnya.
"Ah... anak ini." Alex menaiki ranjang khusus untuk memeriksa pasien. Dia berbaring dan menekuk tangannya menggunakannya sebagai imbuhan bantalan.
"Jihan..., kau tentu sudah tau jika tantemu itu menjodohkan ku dengan Diah." Alex berbicara tanpa menatap wajah Jihan.
"Iya aku tahu. Lalu?" Tanya Jihan yang juga acuh dan tak menatap lawan bicaranya. Tangannya masih sibuk menulis surat rujukan.
"Lalu, lalu. Lalu lintas, lalu Lalang!" Balas Alex kesal karena merasa di acuhkan.
Sontak Jihan tertawa setelah telinganya mendengar nada bicara abangnya yang merajuk. "Iya iya sini Abang cerita Jihan dengarkan dengan khusyuk." Ucap Jihan yang kemudian mendekat tanpa turun dari kursinya. Dia berseluncur menggunakan kursi kerjanya.
"Jihan, aku ini tampan kan?" Tanya Alex yang tatapannya masih tertuju ke langit-langit.
"Iya" jawab Jihan yang sudah mengulum senyumnya melihat ekspresi wajah Abangnya.
"Uang dan jaminan masa depan aku juga punya."
"Ehem...!" Jihan mengangguk tanda setuju " Lalu? apa masalahnya?" Tanya Jihan yang tak tau sumber permasalahan yang menimpa abangnya.
"Masalahnya...., Diah menolakku mentah-mentah kau tau?" Ketusnya seketika nada bicaranya berubah menunjukkan afeksinya.
Tak kuasa lagi menahan gelak tawa yang tertahan sedari tadi setelah melihat wajah abangnya. " Hahahahah!! Akhirnya.... akhirnya..... Eksistensimu punah." Celetuk Jihan sengaja meledek habis-habisan.
"Senang sekali melihatku menderita." Cicit Alex sambil mengerucutkan bibirnya.
Jihan mengusap ekor matanya yang sudah basah karena terlalu banyak tertawa. " baiklah... baiklah. Ada apa gerangan datang kemari dengan kondisi tubuh yang sehat dan segar bugar begini?" Sindir Jihan masih menggoda lelaki yang lebih tua darinya itu.
PLETAK!!
Alex menyentil dahi Jihan, bunyinya sungguh nyaring hingga menyisakan jejak kemerahan di kening putih Jihan. " Abang!! sakit!!" Jihan memekik.
" Makanya yang sopan sama orang tua." Ucap Alex yang kemudian berdiri dan memantas jasnya.
"Aku hanya minta satu ruangan kelas satu saja tidak usah VVIP. Aku butuh perawatan dari si perawat magang itu."
"Tapi kan Abang tidak sakit. Itu tidak baik Abang kasihan kan nanti kalau ada pasien yang benar-benar butuh ruangan?" Naluri dokter Jihan mulai bangkit.
__ADS_1
"Hemh.... " Alex mendengus dan menggeleng perlahan lalu merogoh saku jasnya.
"Ini uang jajanmu!" Ucap Alex dengan suara pelan penuh penekanan dengan jemarinya yang mengulurkan amplop coklat.
Mata Jihan seketika berbinar senang melihat benda berwarna coklat, bahkan hidungnya mulai mengendus.
"Apa bau uang ya?" Tanya Alex yang kemudian menarik lagi amplopnya membuat tangan Jihan yang nyaris sampai pada si amplop harus kecewa.
"Abang!" Cicit Jihan kesal lantaran tangannya meleset mendapatkan amplopnya.
"Bilang dulu Abang Alex yang tampan, yang manis dan baik hati, Jihan adalah adik manis yang penurut akan melaksanakan perintah Abang." Ujar Alex yakin jika adik sepupunya itu.
Bagai anak anjing yang mengibaskan ekornya dan memasang wajah polosnya, Jihan pun sama demi uang saku yang sudah ada di depan mata dia tak sanggup untuk menolaknya. Menurutku ia, dan terjauh lah ia dari derita tanggal tua.
Terimakasih tuhan....
Dengan ini aku bisa check out olshop π€π€. Batin Jihan girang.
"Jihan sediakan kamar yang bersih, juga nanti aku akan meng cover dua pasien yang tidak mampu di kelas tiga. Yang benar-benar tidak mampu, kau pasti bisa membaca mereka kan?"
"Tenang bang, aku sudah lihai dalam hal itu. Kenapa hanya dua? tidak semua saja yang ada di kelas tiga?" Tanya Jihan dengan polosnya.
PLETAK!!
Lagi satu jitakan mendarat di keningnya.
" Kau pikir aku ini orang terkaya di Dunia? Apa menerima uang saku membuatmu menjadi dungu?" Tanya Alex yang tangannya sudah siap meraih amplop coklat di tangan Jihan.
Begitulah mereka jika bertemu. Dan Alex adalah sosok yang bisa hangat dengan siapapun. Apalagi Jihan yang merupakan anak dari tante Merlin.
...πΏπΏπ»πΏπΏ...
"Diah, bersiaplah ada satu panggilan dari Bu Jihan untuk pasien anggrek nomor 14." Kata teman Diah yang merupakan bidan jaga.
"Oh, iya Mbak." Jawab Diah tanpa banyak pertanyaan.
Saat kaki Diah mulai melangkah, terdengar suara tawa khas Mbak Kun. Diah clingukan dan mencari sumber suara. Betapa terkejutnya ia saat mengetahui bila arah suara dari ponsel rekanya.
"Mbak, bisa ganti nada dering tidak? aku hampir saja lari terbirit-birit tadi." Tegurnya dengan sisa wajah kaku ketakutan.
"Oh, maaf. Kalau tidak di pasang begini anakku terus saja ingin bermain ponsel. Dan sayangnya aku sering kelupaan menggantinya saat bekerja." Ucapnya sambil terkikik geli menjelaskan betapa riwehnya keadaannya yang memiliki batita.
Diah tersenyum lalu berlalu membawa jatah makan malam untuk pasien. Ya.... dia bertugas membagikan makanan ke kamar kelas satu.
Diah berhenti di depan ruangan anggrek nomor 14. Dia menarik nafasnya berharap semoga bukan Kakek genit atau nenek bawel lagi yang membutuhkan bantuannya.
Diah menarik nafasnya lalu menghembuskannya.
"Huft...! Semangat!!" Desisnya menyemangati dirinya sendiri.
Mata Diah menyipit berkali kali saat mencocokkan nama pasien yang ada di daftar nama pasien dan di ranjang.
__ADS_1
"Di daftar namanya Putra? di ranjang namanya Anto? Ini salah nama atau atau bagaimana?" Diah bermonolog ria sambil terus mendekat kepada pasien yang tertidur pulas di ranjang.
"Pak, waktunya makan malam dan minum obat Anda." Ucapnya yang dengan telaten meletakkan makanan dan kemudian membenarkan selimut yang menutupi sebagian wajah pasien.
Suasana ruangan yang sepi dan hanya ada mereka berdua memudahkan Alex melancarkan aksinya.
"Pak Alex?" Diah terkejut saat mengetahui siapa yang sedang berbaring.
Alex membuka matanya perlahan tanpa menyahut. wajahnya pun datar tanpa ekspresi atau keterkejutan.
"Bapak sakit apa?" Tanya Diah yang menunjukkan kekhawatirannya.
Aku sakit hati karena kau menolakku. Apa kau tau? Maki Alex dalam batinnya.
"Entahlah hasil lab belum keluar tapi aku sangat lemas dan pusing." Jawab Alex yang terdengar klise.
"Ya sudah makanlah dan minum obatnya lalu beristirahat lah." Kata Diah menganjurkan.
"Temani..." Kata Alex terhenti saat Diah beranjak bangkit.
Diah tersenyum. " Iya memang aku akan menemani bapak sampai obatnya bapak minum."
"Bisa tidak jangan panggil aku Bapak? aku bukan Bapakmu dan juga aku tidak setua itu."
"Tapi itu merupakan sikap profesional saya dalam bekerja. Di luar mungkin kita sudah saling mengenal tapi disini bapak adalah pasien saya. Dan juga saya harus menjaga sikap terhadap calon suami Bu Jihan kan?" Ucap Diah yang sebenarnya memastikan hubungan antara Alex dan Jihan yang terlihat begitu dekat.
Diah mana tahu kalau mereka bersaudara? mengingat Tante Merlin sendiri hidup di lain kota dan jarang pulang untuk berkumpul bersama saudara yang lainnya.
Ah~~~~.
Jangan-jangan dia sengaja menjauh karena salah paham. Karena mengira aku dan Jihan memiliki hubungan lebih?
Ini kesempatan emas. Gumam Alex bersenang hati.
"Ah kau benar. Bisa kau bawakan obatku yang lain? aku meminta tolong padamu." Kata Alex dengan wajah letihnya yang tentunya hanya sebatas berpura-pura.
"Ini obat bapak." Kata Diah dengan polosnya mengambilkan obat Alex yang sudah tersedia di meja.
"Bukan itu. Tapi dokter Jihan. Bisa kau panggilkan dia kemari? ku rasa aku mulai membutuhkan penawarku. Hatiku mulai teracuni jika berjauhan denganya." Ucapnya dengan nada memohon.
Diah dalam sepersekian detik, raut ketidak sukaannya tertangkap jelas di mata Alex dan membuat Alex berbahagia dalam hatinya.
" Baik Pak." Sahut Diah dengan patuhnya.
Diah pergi dan Alex...
Alex, dia kegirangan dan merayakan sesuatu yang dirasanya merupakan awal yang baik. Dia sangat bahagia.
Satu langkah lebih dekat,
Aku tau ternyata kau tak benar-benar menolakku kan? Batin Alex senang.
__ADS_1