
...~~~...
...Ayana mengerutkan keningnya, Suaminya ini terkesan menyembunyikan si pemanggil darinya....
Siapa yang menghubunginya, mengapa dia terlihat tidak ingin aku mengetahuinya?
Ayana hanya menduga jika Jackie tengah memiliki janji temu dengan klien penting. Tak mau dan tak ini ada sesuatu yang menjadi pemecah diantara keduanya Ayana lebih memilih untuk menenangkan dirinya agar semuanya tak menjadi sesuatu tang merugikan bagi semuanya.
"Sayang, kapan kau akan mengambil cuti? Aku ingin mengunjungi makam si sulung." Ucap Ayana.
Ayolah Jack, Istrimu ini sudah mengatakan keinginannya sejak beberapa bulan yang lalu saat Dia masih terkapar di Rumah sakit. Dan,
sampai sekarang kau sama sekali belum mewujudkannya? Kurang sabar lagi dia sama kamu yang pelupa?
Jackie menepuk keningnya, Dia benar-benar lupa akan hal ini.
Ah, ternyata benar Dia lupa. Aku yakin mungkin karena si sulung bukan anaknya melainkan anakku dengan Kakaknya. Seharusnya Aku menyadari hal ini.
"Tak apa-apa jika kau memang sedang sibuk. Tapi ijinkan aku mengunjungi makamnya sendiri ya?" Ayana meminta ijin, karena baginya akan sangat lama jika menunggu Jacki meluangkan waktunya.
Jackie menggeleng dengan wajahnya yang begitu kikuk. Dia merasa tak enak hati sekarang. "Aniya~~~! Tidak...! Aku yang akan mengantarmu besok. Maafkan aku karena telah menundanya sampai begitu lama. Kau juga tahu kan di saat kita akan berangkat Kak Alex malah terkena masalah. Aku harap kau tidak akan salah paham." Jackie menatap lekat wajah istrinya sambil berharap-harap cemas.
Ayana menyuguhkan senyum manisnya dan memeluk erat tubuh sang suami. "Tidak, aku mengerti. tapi sungguh tak apa jika kau sangat sibuk aku bisa pergi sendiri setelah memeriksa project ini nanti."
"Jangan! Aku tidak memberikan ijin kepadamu. Tidak boleh pergi kemana pun tanpa aku. " Ujat Jackie final tanpa mau ada bantahan.
Ayana hanya mampu tersenyum menahan sikap egoisme dari pasangannya. Jackie yang selalu egois dan menangnya sendiri. Ya~~~ meskipun itu baik, tapi nyatanya terkadang keputusan sepihak akan selalu menekan jiwa yang lemah. Dalam hal ini sisi lemhnya adalah Ayana.
...~~~...
"Fajar, bagaimana apa semuanya sudah siap?" Tanya Jackie pada sang sekretaris pribadi melalui sambungan intercom.
"Sip semua sudah siap Bos!" Ucap Fajar melaporkan hasil kerjanya yang telah rampung.
"Bagus! lalu bunganya?" Tanya Jackie memastikan jika pesanannya 1000 tangkai mawar putih yang telah di rangkai menjadi beberapa buket bunga telah siap memenuhi suatu ruangan untuk memberikan kejutan spesial bagi Ayana.
"Beres, semuanya sedang dalam penataan. Apakah harus mengirim juga beberapa ke umah anda?"
"Emmm.....~ aku rasa itu tidak buruk." Sahut Jackie menggumam. "Kirimkan satu saja untuk nyonya di rumah, sedangkan yang lainya tata di toko barunya."
Sementara di tempat lain.
__ADS_1
Ayana menangis tergugu sendirian di dalam rumahnya. Entah mengapa dia merasa sangat rindu pada si sulung karena sudah berapa tahun sama sekali tak pernah mengunjungi makamnya. Memang doa akan selalu sampai meskipun tanpa bersua. Tapi, adakah yang paham bagaimana rasa lega setelah kita bisa bersambang ke makam mereka yang telah lebih dahulu berpulang? sebagai luapan rindu dan kasih sayang?
Inilah yang Ayana rasakan. Semua makam orang tersayangnya ada di sana. tak mungkin Dia akan melupakannya begitu saja.
Masih berkubang kesedihan, tiba-tiba bel pintu rumahnya berbunyi. Ayana sudah menduga jika itu adalah fajar. Dengan segera Dia mengusap air matanya dan membukakan pintu.
"Selamat siang BU!" Ucap fajar menyapa sang Nyonya muda.
Ayana mengangguk lalu memberikan senyuman ramahnya sebagai balasan. "Siang, ayo segera berangkat!"
"Bu, ini ada pesanan dari Bos. Katanya untuk Ibu." Kata Fajar yang kemudian memberikan buket bunga yang telah di gendongnya.
"Untukku?" Ayana seketika merahnya lalu menciumi bunga tersebut degan begitu senangnya. Hilang sudah kabut gundah yang menggelayutinya seharian ini.
"Iya." Fajar mengangguk dan tersenyum senang.
Tumben sekli Dia mengirimiku bunga? Ada Apa? Apa hanya untuk menutupi kesalahannya yang lain? Walau bagaimanapun juga aku masih ingin tahu siapa yang tadi pagi menghubunginya, Mengapa dia merahasiakannya dariku?
Wanita, ingatannya sangatlah tajam, sekali berdebat dengan wanita, maka semua historial mu akan terbuka. Tak perduli itu adalah cerita dari jaman penjajahan Belanda atau jaman masa kerajaan Majapahit sekalipun.
"Sebenarnya Bapak sedang membangun apa di kawasan pertokoan begini Jar?"
"Em....," Fajar menggigit bibir bawahnya. Dia merasa takut kelepasan. "Sebuah kerja sama untuk membuat sebuah outlet kecil Bu."
"Em... nanti saja akan saya presentasikan langsung dengan ibu setelah kita sampai di lapangan. Disana sudah ada beberapa pekerja yang menunggu kita."
"Maksudmu meeting?" Tanya Aya meralat keterangan Fajar yang terkesan berbelit belit.
Ayana seketika menjadi panik. Bagaimana tidak, Dia saat ini hanya mengenakan tiedie. Dia pikir hanya meninjU Proyek saja da setelahnya akan kembali pulang. Sebab dia juga sedang tidak dalam mood bagus hari ini apalagi setelah tadi pagi.
"Jar, serius meeting?" Ayana melihat kembali penampilannya. Bahkan dia hanya memakai sandal slop rumahan dan juga makeup yang tipis ala kadarnya.
"Putar balik" Titahnya yang terdengar tegas dan membuat fajar sedikit terlonjak kaget.
"Kenapa Bu? apa ada sesuatu yang tertinggal?" Fajar kebingungan.
"Lihat pakaianku? Aku pikir hanya tinjauan lokasi dan pulang. Tapi mengapa harus meeting segala?"
Bersamaan dengan itu, sebuah pesan masuk di ponsel fajar yang memberitahukan bahwa semuanya sudah siap menunggu kedatangan Ayana.
"Maaf Bu, tidak bisa. Sudah ada tamu penting yang menunggu kita. Bos bilang, tamu ini paling anti dengan keterlambatan. Dan jika sampai kita terlambat, maka kemungkinan kita akan kehilangan vendor yang paling besar."
"Tapi jika penampilanku seperti ini maka itu juga akan mengubah pemikirannya Fajar, Aku akan dinilai tidak menghargai klien."
__ADS_1
"Tidak Bu, pemikiran ibu itu keterbalikan dari klien kita ini. Beberapa kali kita rapat bersama dan dia hanya mengenakan pakaian casual." Ucap Fajar yang sebenarnya sedang membahas sosok Jackie yang sedang ingin memberikan kejutan pada istrinya.
"Iyakah?" Kening Ayana berkerut indah.
...~~~~ ...
Selama dalam perjalanan, Ayana hanya berharap harap cemas. Dia sama sekali tak yakin dengan penampilannya sendiri. Dia begitu tak percaya diri.
Sampailah di depan sebuah bangunan pertokoan yang begitu bersih dan rapi berjajar. Jauh dari kata belum rampung atau sedang dalam tahap pembangunan. Ayana kebingungan melihat ke sekitar. Mataya memindai seluruh bangunan.
"Jar, dimana proyeknya Bapak? Bukankah ini sudah tak ada gedung yang di bangun? Lalu saya diminta datang untuk melihat apa?"
"Sudahlah Bu, ayo kita segera menemui klien kita dulu. Waktu kita semakin tipis." Ucap fajar yang kemudian menunjuk dengan tangannya meminta agar Ayana segera berjalan menyusul langkah lebarnya.
Ketika masuk, Ayana di sambut dengan buket bunga yang begitu banyaknya. Bahkan ada papan bunga di dalam toko yang begitu besar itu dan lebih bisa di katakan sebagai mini market.
Papan ucapan bertuliskan SELAMAT DATANG BU AYANA.
Ini apa? klien seperti apa yang menyamabutku sampai sebegini hebohnya? dan mawar ini sama dengan yang Fajar bawa?
"Cepat Bu, ikuti saya. Klien sudah menunggu di ruangan atas." Lagi-lagi Fajar berjalan di depannya sebagai penunjuk arah.
Ayana hanya bisa berjalan d belakangnya tanpa banyak bertanya lagi. Sampai di ruangan atas, Fajar membukakan pintu dan tak ikut masuk. Ayana menjadi sangat kebingungan.
Saat kaki ayana melangkah masuk, tiba-tiba pintu tertutup dan ruangan menjadi sangat gelap. Disaat itu juga Ayana merasakan ada tangan kekar yang melilit pinggangnya. Satu hal yang tak membuatnya berteriak histeris tapi malah tertawa terbahak-bahak.
"Sayang, ini kamu? ngapain?" Celetuknya sambil tertawa.
Ayana dapat mencium wangi parfum sang suami dan bisa merasakan bagaimana pria itu berusaha bertahan di tengah-tengah siksaan serbuk sari.
Benar saja, seketika itu Jackie menyalakan lampu dimana seluruh ruangan di hiasi dengan mawar putih. Tapi malangnya, si pria tampannya ini sama sekali tak merasakan kenyamanan. Demi membuatkan kejutan untuk sang wanitanya, di rela tersiksa.
"Wah, bagusnya.....!" Ayana berdecak kagum mengamati seluk beluk rungan barunya.
"Kamu yang buat semua ini?"
"Enggak, tapi florist. Aku bayar saja." Jawab Jackie dengan songongnya.
Ayana memutar bola matanya malas. "Ya, tau! maksudku apa kamu yang merencanakan semua kejutan ini?" Tanyanya meyakinkan.
"Lalu apa kamu pikir Fajar? Kan suamimu cuma aku Ay!"
"Makasih sayang." Ujar Ayana yang kemudian menghambur dan memeluk suaminya dengan sayangnya. Dia teramat bahagia sampai-sampai menitikkan air matanya. Air mata kebahagiaan setelah setengah harian berburuk sangka.
__ADS_1