
Sunyi suasana, tiada yang terdengar kecuali denting piring dan sendok makan yang saling beradu.
Wajah sendu Lena menarik perhatian, mematik penasaran dari anggota keluarga.
Ayah dan Bunda yang baru saja semalam tiba dari kegiatan bisnis mereka, hanya bisa menerka-nerka.
Nampaknya, menantunya itu sedang gelisah.
" Ada apa, kenapa kau terlihat murung sayang?" Bunda Winda mulai memecah keheningan. " Kemana Gino?" Sambungnya lagi setelah lamat-lamat mengamati keadaan rumah.
" Tidak ada Bun. Tidak tau juga dimana Kak Gino. Sama Alex juga dia ga bilang." Ujar Alex dengan sikap hangatnya mengamati serius mimik wajah kedua wanita yang berada di hadapannya.
Lena tertunduk lesu. " Dia sedang ada trip bisnis Bun, sekitar 3 hari katanya. " Ujarnya dengan lemah lembut.
Ayah Dhani memutar pandangannya ada sesuatu yang juga tak nampak pagi itu. " Kemana Ayana, biasanya jam segini dia sudah sibuk menata baju kalian."
" Aku tidak tau Yah, Sejak kemarin Ayana juga sudah tidak kemari." Kata Lena berdusta.
Padahal perjanjian mereka, segala urusan terkait alasan kepergiannya adalah tanggung jawab Lena. Lena sendiri yang berujar akan mengurusnya dan mencarikan alasan yang logis. Tapi nyatanya ini?
" Anak itu juga sudah tidak masuk kuliah sejak dua hari yang lalu." Alex menimpali lalu menengguk air minumnya. " Aku selesai, Alex berangkat dulu ya Bun, Ayah.." Pamitnya lalu mencium punggung tangan Bunda Winda dan juga Ayah Dhani.
" Hem..." Ayah Dhani hanya berdehem tapi tetap mengusap perlahan bahu sang putra yang terkenal paling hangat sikapnya.
" Iya Sayang, Jangan lupa makan siang pulang! Bunda masak makanan kesukaan mu nanti." Ujar bunda yang memilih menggandeng lengan Alex lalu mengantarnya sampai di teras depan.
Kepergian Bunda Winda, Ayah Dhani kembali mengalihkan atensinya pada Lena. " Apa kalian bertengkar?" Tanyanya serius dengan wajahnya yang tegas.
Lena menengguk ludahnya dengan susah payah. Pasalnya jika Bunda Winda itu manusia lembut, maka ayah Dhani adalah manusia tegas dan keras. Jika satu kesalahan fatal terungkap, maka tamatlah sudah riwayat Lena. Usahanya untuk merauk banyak keuntungan dan menjatuhkan keluarga Armanto akan sia-sia.
Lena menggelengkan kepalanya " Tidak Ayah, kami baik-baik saja. Hanya saja aku merindukannya. Dia sudah dua hari tidak ada kabar."
" Telefon dariku pun tak di angkatnya." Imbuhnya lagi.
Iyuh.... sungguh pencari muka!!
Ayah Dhani terdiam seperti sedang berpikir. Dia memikirkan sebab apa putranya sampai tidak pulang dan tak mau mengangkat panggilan dari istrinya.
Di tempat lain.
Wajah murung terlihat jelas. Gino terdiam dengan wajahnya yang marah. Dia gusar dan gelisah. Buku-buku tangannya memutih lantaran mengepal keras. Ayana yang baru saja selesai menyiapkan makanan untuk mereka sarapan di buatnya bingung. Sedari tadi mood suaminya ini berantakan.
Ingin bertanya tapi dia juga takut sekaligus tak berhak.
" Kak, Makanannya sudah siap. Kita sarapan dulu." Ujarnya menawari.
Gino hanya sedikit bergeser dari duduknya lalu menepuk sofa yang ada di sebelahnya. " Duduklah aku ingin bicara." Katanya dengan nada bicara yang dingin.
Ayana menurut begitu saja. Ayana adalah sosok yang patuh dan tunduk, terlebih kepada suaminya. Banyak nasihat sang Ayah yang di berikan padanya untuk meniru segala perbuatan baik yang almarhumah ibunya yang dulu lakukan. Termasuk bersikap manis, baik dan tunduk terhadap suami.
" Ada apa kak?" Tanyanya dengan suara yang pelan.
Gino menatapnya lalu mengusap kepalanya, perlahan Gino memeluknya. " Maaf, aku telah menghancurkan masa depanmu." Ujarnya lirih.
__ADS_1
" Mungkin kita sebaiknya mengakhiri pernikahan ini sekarang juga."
Bagaikan di sambar petir dan di rajam setelahnya. Tadinya dia tidak ingin menangis, tapi telinganya begitu sakit setelah mendengar pernyataan dari suaminya sendiri. Iya, memang dia tidak pernah menginginkan pernikahan ini. Tapi mengapa begitu sakit ketika akan berpisah? Ada rasa tak rela di dirinya. Ada rasa ingin memiliki selamanya.
" Kak, apa kau sadar dengan ucapanmu? Apa kau sengaja mempermainkan aku si miskin ini?" Ayana menangis lalu mengurai pelukannya. Ayana tak rela, sungguh dia tak rela. Dia yang mengakhiri cintanya dan melepaskan Jackie, menjauhkan diri dari keluarga Armanto demi kesepakatan mereka, lalu sekarang Gino ingin membuangnya sementara ayahnya masih butuh banyak biaya.
" Tidak begitu, aku rasa kita telah dijebak." Kata Gino menatap nanar Ayana.
"Di jebak?" Ulang Ayana tak paham. Emosinya sesaat mulai turun kala mendengar kata jebak.
Apa hal Yangs sebenarnya terjadi?
" Kau ingat tentang rencana pernikahan kita ini kan? Dimana Lena berkata akan menutup rapat-rapat hal ini dari keluarga ku?"
Ayana mengangguk dengan tatapan bingung. " Iya. lalu? "
" Baru saja Ayah menghubungiku, dia menanyai dimana keberadaan ku dan sedang apa aku. Katanya aku menghilang sudah dua hari ini dan itu membuat Lena sedih. Kau sendiri dengar kan kemarin baru saja aku berkomunikasi dengannya. Lantas mengapa dia mengadukan yang bukan-bukan sementara aku sendiri disini denganmu juga atas permintaannya yang tidak masuk akal." Ujar Gino penuh afeksi dengan penekanan emosi di setiap katanya. Dia marah, dia geram.
Ayana terpaku. " Lalu, apa yang dia katakan tentangku, jika tentangmu saja uang suaminya seperti itu?" Ayana sungguh tak habis pikir. Mengapa bisa semuanya menjadi runyam seperti ini.
" Jangan marah dulu, kita cari informasi dahulu. Siapa tau hanya kesalahpahaman?" Ayana berusaha meredam Gino yang tengah terbakar emosi. Bisa-bisanya istrinya yang menyuruhnya melakukan semua hal gila ini, tapi dia juga yang mengadukannya.
Mereka terdiam beberapa saat lalu mencoba memikirkan apa yang sesungguhnya terjadi. Mereka menghubungi Lena menayakan kebenarannya. Tapi jawaban Lena sungguh mencengangkan.
' Aku tidak berkata apapun kepada Ayah, sungguh. Saat kami sedang makan bersama, aku memang kurang enak badan tapi Ayah menangkap lain. Perihal yang Ayah tanyakan padamu Alex mungkin lebih tau sayang. " Kata Lena memutar balikkan fakta dan sekarang Alex adalah tersangka utamanya.
" Aku tidak berbohong padamu Sayang. Untuk apa? Bahkan pernikahan kalian pun aku yang mendukungnya. Lalu mengapa aku yang menghancurkannya?"
Ayana dan Gino hanya bisa terdiam dan saling tatap. Sedari tadi Ayana hanya diam menyimak panggilan yang di loud speaker tersebut.
" Kita menghubungi orang yang salah." Kata Ayana.
" bagaimana bisa? Bukankah masuk akal saja tadi penjelasannya jika dia sedang tidak enak badan?" Gino membela Lena.
" Cih! " Kini aku tau siapa istrimu itu. " Coba ingat-ingat lagi, ada kesalahan fatal apa yang pernah kau lakukan padanya kak?"
Gino terdiam menatap bimbang Istri keduanya. Dia menuntut penjelasan.
" Tadi, dari nada suaranya. Aku mendengar dia mengatakan bila dia tidak berbohong. Itu adalah bentuk upayanya untuk melindungi dirinya. Untuk mencari sudut aman dalam situasi ini. " Kata Ayana.
" Lalu apanya yang salah? " Gino masih tidak mengerti.
Ayana sesaat tertawa remeh dan menggelengkan kepalanya. " Kak, kau masih belum paham juga? Sedari tadi perbincangan kalian. Sama sekali kau tidak pernah menyebutkan kata pembohong atau menyudutkannya. Tapi dia berulang ulang kali bersumpah dan berkata jika dia tidak berbohong. Kau tau, hanya pembohong yang akan bicara seperti itu. Jika dia tidak berbohong, dia akan mengulang fakta bukan pembelaan diri. "
" Maksudmu, dia maling teriak maling?" Tandas Gino memastikan.
Ayana mengangguk yakin dengan tersenyum tipis. Tatapan matanya menyiratkan sesuatu hal yang lain.
" Lalu, jika dia benar berbohong. Apa yang sebenarnya dia inginkan? dan, untuk apa dia mengadu domba keluargaku?"
" Mengadu domba?" Ayana kini tertawa. Dia tertawa lalu menitikkan air matanya.
" Hei, kau kenapa?" Gino mengguncang bahu Ayana.
" Iya, dia mengadu domba kalian dan aku disini sebagai umpan dan korban. Entah apa yang dia inginkan, tapi dari yang ku lihat dia menginginkan kalian hancur. Kau punya salah apa dengannya Kak?"
__ADS_1
" Apa kau pernah berselingkuh atau menyakiti hatinya? Atau kau pernah melupakan janjimu padanya?" Ayana memberondong suaminya dengan pertanyaan.
Gino terdiam dan kakinya melemas. Dia menatap Ayana sedih.
" Iya, aku punya kesalahan fatal padanya. Karena kesalahan itu juga lah yang menyebabkan kami menikah. Dulu, tidak sengaja aku menabrak dia dan calon suaminya. Calon suaminya meninggal dunia dan dia lumpuh. Kejadian itu terjadi saat aku bersama dengan Alex. Aku menghilangkan beberapa bukti, waktu itu dia belum tersadar. Banyak uang yang kugelontorkan untuk menutup mulut para saksi dan menghilangkan bukti lalu mengubahnya sebagai kecelakaan tunggal. " Gino menghela nafasnya dan melanjutkan lagi ceritanya.
" Aku bersembunyi lalu merencanakan untuk menikahinya sebagai bentuk pertanggungjawaban terhadap apa yang terjadi padanya. Atau jangan-jangan dia kembali ingat siapa dirinya dan kejadian kala itu?" Tutur Gino.
Kini tak hanya Gino, bahkan kepala Ayana pun berdenyut. Dia tak menyangka akan terbawa arus dalam kisah yang rumit seperti ini.
" Jadi dia hilang ingatan saat kalian menikah?" Tanya Ayana kali ini membuka suara.
Gino mengangguk.
" Astaga!! Kenapa harus aku yang jadi umpan disini? Kau tau aku sudah putus dan mengakhiri hubunganku dengan Jackie. Jangan sampai Kak Lena tau akan hubunganku dengan Jackie atau. dia kan kembali mengadu domba kalian." Ayana menatap Gino.
" Dan kau akan mengambil keputusan seperti apa?"
Gino menggeleng.
" Aku tidak tau, aku hanya tidak mau mendekam di jeruji besi. Na... Kau paham bagaimana posisiku sekarang? Sekarang kau tau alasannya mengapa aku menuruti kemauannya untuk memaksamu menikah denganku. Sepanjang sisa usiaku aku selalu merasa bersalah padanya dan aku merasa wajib menuruti setiap kemauannya." Gino menunduk dan menitikkan air matanya.
Ayana seketika memeluk Gino. Memberikan kekuatan pada suaminya itu. " Kita hadapi ini bersama walaupun kita bukan suami istri resmi. Jangan bersedih, kini bukan hanya kau pemerannya, tapi aku juga. Lebih berhati-hati dengan istrimu." Ucap Ayana lirih.
" Aku kira dengan pernikahan kami. Dengan usahaku untuk selalu membahagiakan dia. Dia akan lupa akan kejadian silam itu."
" Hati dan isi kepala manusia itu berbeda-beda. Aku mengerti posisimu sekarang Kak."
" Mengapa kau begitu baik? Bukanya seharusnya kau meninggalkanku setelah tau posisiku?" Gino menatap nanar Ayana dengan matanya yang basah.
Ayana tersenyum. Sikap manisnya sedikit memberikan kesejukan pada Gino yang panas. " Bukan begitu sikap suami istri. Kita harus saling terbuka dan melengkapi." Ujar Ayana.
" Tapi kau hanya istri siri. "
" Apapun itu, tetaplah istri. Dan kumohon jangan tinggalkan aku setelah aku meninggalkan semuanya untukmu. Aku takut jika benihmu sudah mulai bereaksi di dalam sini." Ayana menunduk dan mengusap lembut perutnya.
Luluh sudah Gino. Inilah sikap asli wanita yang hendak di jadikannya mainan. Wanita yang akan dimanfaatkan sebagai penghasil keturunan tanpa pengakuan Nyatanya adalah wanita yang berhati mulia. Wanita yang berpikiran terbuka dan tegas dalam mengambil keputusan.
"Boleh aku memelukmu? " Tanya Gino.
Ayana mengangguk.
Gino memeluknya. Memeluk Ayana memberikan ketenangan dan kenyamanan tersendiri baginya. Kenyamanan dan kehangatan yang belum pernah dia rasakan dengan Lena.
" Apa kau sudah kecanduan memelukku?" Ayana mencairkan suasana dan mendongak menatap Gino.
" Hahahaha, kau ini. Katanya tadi kau istriku, boleh kan aku memeluk istri sendiri?" Jawab Gino membuat dada Ayana berdesir.
" Hemmm, peluklah aku jika itu membuatku lebih tenang. " Jawabnya yang kemudian lagi memeluk erat Gino.
Runtuh sudah kecanggungan mereka setelah beberapa hari mereka menetap dalam satu atap. Bahkan kegiatan suami istri yang membuat Gino ketagihan pun acap kali mereka lakukan. Disisi Ayana dia melakukannya sebagai bentuk kepatuhan terhadap suami. Dan Gino, dia melakukannya karena kecanduan akan suguhan yang Ayana berikan.
Yolong tinggalkan like, komentar dan vote ya.
__ADS_1
Follow juga akun author.