
...🦢🦢🦢...
*Tak ada hidup tanpa derita, Tak ada cinta tanpa luka. Manusia terlahir untuk terus berjuang, bukan menjadi pecundang. Setiap masalah yang kita hadapi akan menjadi pembuktian diri. Bahwa sebenarnya kita mampu dan mawas diri.
Mimi lita.
...🦢🦢🦢*...
Pelupuk menggembung berisikan air mata, seorang lelaki bertubuh kekar menangis di dalam dekapan ibunya. Jackie dia tak mengira bahwa janjinya untuk memeriksakan kandungan istrinya akan berakhir menyakitkan.
Satu hari setelah kecelakaan, dan saat ini tepat jam 11 alarm Jackie berbunyi. Mengingatkanya akan janji untuk bertemu dan memeriksakan kandungan istrinya kerumah sakit. Tapi malah mereka menepati janji dengan cara yang penuh luka begini.
"Bun, kenapa Istriku belum bangun juga?" Tanyanya dengan wajah sembab menghadap sang Bunda.
"Sabar sayang, kita harus banyak-banyak berdoa. Istrimu akan baik-baik saja." Bunda Winda menenagkan sang putra meski dia sendiri sudah bercucuran air mata.
Dita dan Gino juga sudah berada di sana, mereka datang setelah Jackie mengabarkan tentang peristiwa kecelakaan tersebut. Satu yang membuat janggal, Mengapa saat terjadi kecelakaan juga ada Shaga alias Yogi disana?
Gino terus saja mencurigai keterlibatan Yogi, sedangkan Yogi alias Shaga pun sama dia masih belum sadarkan diri. Tidak ada yang bisa dimintai keterangan, Bu Sri dan si supir taksi sudah hangus terbakar dalam sebuah ledakan.
Kini harapan mereka semua dalam menggali fakta hanyalah Shaga dan Ayana. Mereka masih tidak percaya jika semuanya serba kebetulan. Alex, walaupun dia masih cidera dan dengan penyangga di lehernya, dia tetap datang dan memberikan dukungan moril pada sang adik.
"Sudah, tenangkan dirimu. Kita berdoa meminta kesembuhan untuk istrimu." Kata Alex dengan menepuk perlahan bahu sang adik.
"Auh...!" Keluh Alex merintih saat menggerakkan bahunya.
" Tuan, turunkan perlahan. Jangan lupakan kau juga sedang sakit." Kata Diah yang kemudian memegang tangan Alex dan menurunkannya dengan perlahan.
Bunda Winda melihat semburat kebahagiaan di wajah Alex saat Diah memperhatikannya, bunda Winda merasa usahanya tidak sia-sia. Sementara Ayah Dhani dia hanya bisa diam menunduk fan menyimpan kesedihannya.
"Cucu kita Bun." Lirihnya berbicara tapi cukup jelas di telinga sang istri.
"Ayah, Tuhan lebih menyayanginya daripada kita. Kita harus ikhlas." Ucap Bunda Winda yang sebenarnya hanya berusaha tegar.
Sementara itu, Dita. Dia mengingat semua kejadian. Bagaimana usahanya membantu Ayana setiap kali terjadi masalah. Dan dari setiap kejadian itu, selalulah ada Shaga disana. Seolah Tuhan mengirimkan Shaga sebagai penolong. Dan, kejadian ini merupakan yang terberat dimana kecelakaan itu pun hampir merenggut nyawa keduanya.
"Alex, sebaiknya kau pulang saja. Tubuhmu juga belum terlalu fit." Ucap Dita kepada sang adik ipar.
"Ah, iya Dit. Eh.... Kak." Sahutnya pada sang sahabat. Acap kali Alex melupakan jika Dita telah menjadi Kakak iparnya sekarang.
Dita tak mempermasalahkan itu, hanya saja suaminya yang tak terima. Gino tak mau adiknya melunjak pada istrinya. "Panggilnya yang sopan Lex." Tegurnya pada sang adik.
"Iya Kak, maaf. Namanya juga lupa." Desis Alex.
"Jack, Kakak pulang dulu ya. Maafkan Kakak tidak bisa menemanimu lebih lama. Semoga istrimu lekas sadar." Ucap Alex berpamitan.
"Terimakasih Kak." Jawaban pendek dari Jackie mewakili betapa remuk hatinya saat ini. Dia tak mampu banyak bicara, kesedihan membuatnya bungkam seribu bahasa.
Alex kemudian pulang dengan Diah yang membantunya. Diah memapahnya dengan sangat hati-hati. Selama dalam perjalanan Alex terlihat banyak diam, dia seolah tertelan dalam kesedihan. Wajahnya terlihat murung tanpa gairah apapun.
"Pak, sedari tadi kau terlihat begitu lesu. Ada apa?" Tanya Diah yang membantu menempatkan Alex pada ranjangnya dan menaikkan satu kaki majikannya lalu menutupnya rapat dengan selimut.
"Aku tidak mengira jika akan ada hal buruk yang menimpa adik ipar dan merenggut nyawa calon keponakanku. Baru beberapa hari lalu, Ayana mengirimkan pesan padaku. Dia sudah bisa berjalan-jalan di taman dan akan mengunjungi ku, Lalu sekarang?" Alex menangis menitikan air matanya.
Baginya, Ayana tetaplah adiknya entah itu dia menikah atau tidak dengan adik kandungnya. Banyak kenangan yang tercipta diantara mereka. Sebab diantara kedua saudaranya, sikap hangat Alex lah yang paling bisa membuat Ayana nyaman dan tak sadar sering berbagi keluh kesahnya.
Alex mengusap bulir air matanya yang jatuh. Dia begitu sedih dan terpukul. Jika dia saja begini, bagaimana dengan Gino yang mantan suami dan Jackie yang masih berstatus suami resmi?
__ADS_1
Bagi Diah, untuk ukuran kakak ipar, Alex begitu berlebihan meratapi musibah yang menimpa adik iparnya. Baginya ini terlihat janggal dan berlebihan.
"Mungkin bagimu ini sangatlah berlebihan. Tapi bagiku, dia sudah seperti adik kandungku sendiri Di. Sedari dia bayi aku yang sering menggendong dan mengasuhnya. Dia anak yang manis dan penurut. Hanya saja nasibnya yang tak begitu baik." Alex mengusap wajahnya.
"Dia kehilangan ibunya dari semenjak membuka mata melihat dunia. Dia sering di titipkan jika Ayahnya sedang bekerja. Dia sering di bully di sekolahnya karena dia miskin dan menumpang pada keluarga kami. Jackie yang melindunginya di sekolah, dan Jackie sampai rela menyamakan tahun mereka kuliah."
"Tanpa menikah dengan Jackie pun, dia akan tetap kulindungi sebagai adik Perempuanku satu-satunya. Aku menyayanginya." Alex tergugu mengutarakan semua Isi hatinya.
Kini Diah Paham, mengapa ketiga bersaudara itu sangat menyayangi dan mengistimewakan Ayana. Ternyata kisah masa lalu Ayana begitu pedih. Terlahir dan berpisah dengan ibunya, hidup menumpang dengan keluarga majikannya, menjadi bahan bully-an karena kemiskinannya. Tanpa Diah sadari, bulir beningnya pun ikut menetes.
"Sudah, jangan menangis. Nyonya Ayana akan baik-baik saja sebab dia wanita yang baik dan berhati lembut. Jangan menangis Pak, ingat lukamu." Ucap Diah dengan lembutnya.
Ada rasa sesal disini, ada sesuatu yang Diah buang dan lewatkan begitu saja. Kini dia sadar tentang Alex dan bagaimana keluarganya. Meskipun kaya raya, namun tak serta Merta mereka menetapkan harta sebagai syarat mutlak untuk bahagia.
Terbukti dari apa yang Alex ceritakan padanya. Status Jackie dan Ayana sangat berparak, si lelaki kaya dan si miskin anak tukang kebunnya. Apa yang di takutkan Diah kini telah menemukan sendiri jawabannya. Diah yang takut dan merasa tak pantas untuk Alex, kini tersadar bahwa apa yang di takutkan manusia itu tak semuanya akan terjadi dan berbuah buruk.
Terkadang, kita tersadar akan sesuatu setelah melihat musibah yang menimpa orang lain. Dan itulah Diah yang merefleksikan apa yang terjadi pada Ayana untuk mengungkap fakta kebenaran akan keluarga Armanto.
"Akh..... Ssshhh.....!" Alex mendesis merintih menahan rasa sakit di dadanya sebab dia tidak bisa mengontrol kesedihan dan tangisnya.
Nafasnya menjadi terengah-engah sedangkan akibat dari retaknya tulang rusuknya saja dia sudah kesakitan untuk bernafas normal dan ini dia malah menangis tersedu.
" Pak, sudahlah... Diam... diam ya. Jaga nafasmu, bernafaslah dengan perlahan-lahan." Diah membantu Alex berbaring dan mengusap-usap lembut pundak Alex untuk menenangkannya.
Beberapa menit berlalu, Alex sudah bisa mengatur nafasnya. Dia bernafas dengan teratur dan terdengar dengkuran halus dari bibirnya.
Mengapa aku merasa sangat menyesal setelah menolak dia? Kini aku menyadari sesuatu, keluarganya walaupun kaya, tapi sangat berbeda. Seharusnya aku menyadari hal ini lebih awal. Kalau keluarganya memandang apapun dari harta, sudah tentu ibunya tak akan menemui ku untuk menjodohkan aku dengan anaknya. Sekarang aku tinggal meratapi kebodohanku sendiri.
Diah memikirkan semuanya dan hanya bisa tertunduk lesu meratapi nasibnya.
"Ay, bangunlah Sayang. Bangun," Perlahan Jackie mengusap tangan pucat yang sudah tertancap jarum infus.
"Jackie, jangan paksakan dia. Berikan dia ruang, biarkan dia tersadar dengan sendirinya." Kata Bunda Winda mengusap punggung sang putra yang menangis tergugu menangkup tangan sang istri yang tak sadarkan diri.
"Tapi Bun, dia sudah dua hari tertidur. Dia sudah dua hari tidak berbicara denganku..." Beginilah sakit yang dirasakannya sekarang, Dahulu semua sakit ini Ayana menghadapinya sendirian. Disaat Jackie membencinya karena termakan hasutan.
Bunda Winda mengerti akan derita sang anak. Dia memutuskan memberikan ruang lebih banyak antara suami dan istri itu. " Kalau begitu Bunda akan pulang ya, kau disini menjaganya. Besok gantian bunda yang akan menjaganya dan kau bisa bekerja. Kau juga harus bertanggungjawab terhadap pekerjaanmu."
Jackie mengangguk paham. " Iya, Bunda Pulanglah juga disini hanya di perbolehkan dua orang untuk menjaga pasien. Aku akan menjaganya."
Bunda Winda berpamitan lalu mengecup kening putra dan menantunya. Dia berharap menantunya akan kembali tersadar.
Selama denting waktu terus berdetak berputar dari detik, menit dan jamnya, Jackie masih tetap saja mengajak istrinya berbicara. Membahas segala kisah lalu dan juga angan mereka tentang memiliki seorang momongan.
TES!
TES!
TES!
Bulir air mata membasahi punggung tangan Ayana dan Ayana menggerakkan perlahan satu jarinya. Jackie yang melihat pergerakan kecil itu lalu memencet tombol yang berada di headboard untuk memanggil dokter.
"Sayang, kau bangun. Kau sudah sadar?" Jackie tersenyum lega dan menciumi wajah sang istri dengan sangat hati-hati. Dia begitu emosional saat ini.
"Jack.... Anak... Bayi... Bayi kita?" Hal pertama yang Ayana ingat adalah perut buncitnya. Dan kini dia merabanya terasa datar dan nyeri luar biasa.
"Husst ....! Jangan banyak bergerak. Dokter akan datang dan memeriksa keadaanmu." Jackie mengalihkan perhatian Ayana.
__ADS_1
"Bayi kita ....!" Ayana menangis histeris, dia begitu kehilangan.
Dokter datang untuk memeriksa kondisi Ayana. Semuanya stabil, hanya saja bayinya tidak bisa di tolong. Ayana harus merasakan sakit yang luar biasa.
Tidak ada hal yang lebih menyakitkan bagi orang tua daripada harus menyaksikan kematian anaknya.
Mimi lita.
Selesai dokter memeriksa kondisi Ayana, dokter lalu memberikan suntikan penenang dan mengajak Jackie untuk memberitahukan sesuatu.
"Kondisi pasien baik, semuanya baik. Hanya saja..., rahimnya..."
"Ada apa dengan rahim istri saya Dok?"
"Karena benturan dari kecelakaan, dan memang dari riwayat yang sebelumnya istri anda sudah memiliki masalah dengan rahimnya dan ditambah dengan kehamilan tanpa kesiapan rahim,....." Lama dokter terdiam. Dia seolah menimang keadaan mental keluarga pasien.
"Ada apa Dok?" Jackie Sungguh sudah bercampur aduk sekarang perasaannya.
Dokter menatap teduh Jackie. " Ini hanyalah menurut prediksi dari hasil diagnosis kami. Tapi selebihnya tetap kita serahkan pada Tuhan. Pak, istri anda karena kondisi rahim yang demikian, kami mendiagnosa akan kesulitan memiliki momongan. Saya mohon Bapak dan istri saling menguatkan."
"Saya tahu hal ini merupakan pukulan berat bagi ibu Ayana sebab saya juga yang menangani beliau dimasa kehamilannya ini. Saya tahu bagaimana beliau sangat bersemangat dan menyayangi calon bayinya. Tapi Tuhan berkehendak lain." Sang Dokter menatap serius Jackie yang sudah tertunduk dengan air mata yang mengalir deras.
"Yang terpenting, anda jangan berpura-pura kuat di hadapannya. Itu hanya akan memicu pemikiran negatif darinya. Tunjukan saja apa yang sebenarnya anda rasakan. Tunjukkan bahwa Anda juga merasa kehilangan dan bukan dia sendiri yang merasa kehilangan." Pesan dokter.
...🦢🦢🦢...
Setelah dari ruangan dokter, Jackie kembali ke kamar rawat sang istri. Di kecupnya kening Ayana dan kemudian dia ikut menaiki ranjang dan berbaring di sebelahnya. Miring menghadap wajah sang istri.
Sejauh kita bersama, hanya kau yang selalu menjadi korban keegoisanku. Maafkan aku istriku. Jackie menatap sendu Ayana lalu mengecup pipinya.
Di kamar rawat yang lain,
Seorang gadis cantik yang merasa terpaksa menjaga seorang pasien tengah melipat kedua tangannya ke dada lalu menatap jengah si pasien yang sedang tertidur dengan posisi tengkurap.
Gadis itu bernama Reizu. Dia gadis ayu keturunan darah biru. Dia merupakan kandidat terkuat sebagai calon istri dari Shaga Prayogi.
"Disini hanya aku yang mencintaimu sendirian. Dari kecil, dari sebelum kita di jodohkan." Gumam Reizu menatap wajah Shaga.
Reizu kemudian duduk dan mengusap lembut rambut Shaga. " Kau itu keras kepala sekali, sangat suka tantangan dan membuat keributan. Apa hidupmu memang hanya di takdirkan untuk itu?" Lembut dan halus Reizu berbicara.
"Iya, aku memang terlahir sebagai pembuat onar, kenapa?" Ucap Shaga dengan ketusnya saat dia pertama kali membuka matanya karena pergerakan halus di atas rambutnya.
Shaga sangat menyukai wanita yang ekspresif seperti Ayana, wanita yang ceria dan terlihat bernyawa. Sedangkan Reizu, dia tumbuh penuh dengan didikan ala keturunan darah biru, apa-apa serba pakem. Untuk sekedar tertawa saja ada aturannya, apalagi bicara. Jangan pernah mengharapkan Reizu akan tertawa lepas. Dia hanya akan tersenyum dan itupun dengan satu tangannya yang menutupi senyumnya.
" Tidak apa-apa, itu hakmu calon suamiku. Semua terserah kepadamu. Hanya saja sebaiknya kau berprilaku yang lebih baik lagi." Lembut cara Reizu bertutur kata membuat Shaga semakin malas mendengarkan suaranya.
" Jangan banyak omong dasar siput! kembalilah sana kerumahmu. Kupingku sakit mendengarmu lamban dalam berbicara, lamban dalam segala hal." Oceh Shaga yang kesal.
Shaga teramat membenci Reizu, gadis itu terlalu lemah lembut untuknya. Shaga butuh yang sedikit bertekstur dan memberikan perlawanan. Bukan yang tunduk, patuh dan mudah menyerah seperti Reizu.
"Tidak, aku tidak akan menurutimu. Aku hanya akan mengabdikan hidupku pada suamiku, aku hanya akan menurut, tunduk dan patuh pada suamiku. Itu yang mereka ajarkan padaku."
" Keluar!" Shaga berteriak mengusir Reizu.
Tapi Reizu justru duduk dengan begitu elegan dan menyilang kan kakinya lalu menatap datar Shaga.
"Tidak akan kuturuti semua ucapanmu karena kau belum menjadi suamiku." Final Reizu berbicara.
__ADS_1