Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
121.


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Malam hari, pernikahan selesai di gelar. Seseorang tengah menangis melihat jalannya resepsi pernikahan suaminya sendiri melalui layar kaca. Dia menangis tergugu dan tertunduk kelu.


"Semoga bahagia Tuan." Ucapnya dengan bibir yang bergetar.


Sementara itu di lain tempat.


Disebuah tempat nan mewah lagi megah, Keluarga Armanto menggelar pesta pernikahan besar besaran untuk putra mereka yaitu Alex. Hal ini memunculkan banyak pertanyaan bagi publik, dimana pernikahan yang sebelumnya untuk kedua putra yang lainnya hanya di gelar secara sederhana. Tapi mengapa kali ini sangatlah mewah dan megah?


Pernikahan ini adalah sama dengan pernikahan dua perusahaan. Oleh karena itulah maka acaranya pun harus di selenggarakan secara besar-besaran dan di saksikan oleh seantero negeri.


"Alex, bagaimana bisa ini? bukanya kamu mau menikah dengan Diah?" Cecar Gino yang saat ini mereka tengah berada di kamar hotel tepat setelah acara selesai.


Belum sempat Alex menjawab, Jackie sudah ikut memberondong Alex. " Iya, kamu ini bagaimana Kak? pria itu harus berprinsip! Kalau begini apa kamu tidak kasihan dengan Diah? dengan bayi kalian?" Ucapnya.


"Ba.. bayi?" Gino meneleng tak mengerti.


Alex masih terdiam tertunduk.


"Iya, Diah tengah hamil muda Kak. Dan dia malah menikah lagi. Tidak bisakah kita menunggu satu tahun lagi sampai bayimu lahir?" Tanya Jackie.


"Tidak! jika menunggu satu tahun maka pacarku akan mati!" Celetuk Tata yang baru masuk dan membuat ketiga kakak beradik itu terperangah.


"Apa lagi maksudnya ini?" Tanya Gino yang telah banyak tertinggal informasi juga Jackie yang hanya bisa terperangah tak percaya.


Seorang wanita yang baru saja di umumkan secara resmi menjadi istri sah dari seorang Alex Putra Armanto, Berbicara mengenai pacarnya?


Apa ini suami istri membicarakan orang ketiga diantara mereka secara terang-terangan?


"Jika mengulur waktu dan aku tidak mau menikahi Tata maka nyawa anak dan istriku yang menjadi taruhannya." Ucapnya yang membuat Kakak dan Adiknya saling bertukar pandang dalam sejuta tanya.


"Istri? Istrimu disini dan tidak dalam bahaya!" Kata Gino yang semakin kesal dan terpancing emosinya.


"Diah, istri pertamanya dan aku istri keduanya. Diah edang hamil saat ini." kata Tata dengan sangat lugas dan tidak ada kesedihan Di matanya saat mengatakan itu semua.


"Tunggu! Suami, istri, membicarakan soal pacar dan Istri pertama secara terang terangan? Rumah tangga macam apa ini?" Cibir Jackie yang sudah tidak bisa menahan lagi segala uneg uneg di hatinya tentang pernikahan Kakaknya yang tidak masuk akal.


Alex dan Tata menceritakan semuanya secara bergantian pada kedua orang tersebut.


Di waktu yang sama, selesai dari acra pernikahan, rupanya Diah sengaja memeriksakan sendiri kandungannya lantaran Dia merasa sedikit nyeri seusai lama menangisi acara pernikahan sang suami yang sudah ia restui.


Sadari meninggalkan apartemennya, Dia merasa sudah ada yang membuntutinya. Tapi, Diah tak berfikiran hal yang negatif. Saat berada di depan parkiran mini market, Diah berhenti dan menoleh secara tiba tiba. Dan benar saja ada sesosok paruh baya yang membuntutinya. Dan itu adalah mantan majikannya.


"Nyonya...?" Ucap Diah dengan suara yang bergetar.


"Diah..." kata seseorang tersebut yang kemudian dengan serta merta memeluknya.


"Maafkan Bunda sayang." Ucapnya dengan suara yang sengau akibat tangisan.


Ya, wanita itu adalah Bunda Winda sang ibu mertua yang dahulunya adalah majikan tempatnya bekerja.


"Nyonya kenapa seperti ini?" Tanya Diah.


"Apa kamu punya teh? Bunda kangen teh buatanmu sayang." Ucap Bunda winda dengan mata yang berkaca kaca.

__ADS_1


Rupanya perpecahan tengah terjadi dalam keluarga Armanto. Bunda dengan terang terangan menolak pernikahan antara Alex dan juga Tata. Ada perasaan tertentu yang membuat Bunda Winda tak menyukai besannya itu.


Mereka berdua kemudian menuju ke apartemen Diah dan mulai mengobrol meski pada awalnya sedikit canggung. Bunda winda menceritakan semuanya pada Diah bagaimana sikap suaminya yang mulai berubah setelah semakin dekat dan akrab dengan Aya tiri Tata.


"Aku bagaikan tidak mengenali suamiku lagi sayang. Dia sudah banyak berubah."


"Nyonya, memang terkadang pengaruh teman dan lingkungan bisa merubah kepribadian seseorang. Tapi aku rasa Tuan sudah cukup bisa untuk menyikapinya mengingat beliau sudah dewasa."


"Jangan panggil kami tuan dan nyonya sayang. Panggil kami Ayah dan Bunda." Pintanya yang kemudian menyesap teh hangat buatan sang menantu.


Diah masih merasa aneh dan canggung akan semua ini. "Tapi ...Bu...ah, Bunda."


"Iya begitu, Maafkan Bunda ya sayang yang selama ini banyak merahasiakan sesuatu di belakangmu. sungguh dari awal bunda memang sangat ingin kamu menjadi menantu Bunda. Bunda mendukung Alex untuk semua yang dilakukannya."


Saat mereka tengah asyik berbincang, Alex datang bersama dengan Tata. Ruangan menjadi begitu sepi seketika mana kala Diah bertatap langsung dengan madunya. Dia sangat cantik, Suamiku perlahan pasti akan jatuh cinta padanya. Batin Diah.


gadis yang lugu, aku bisa melihat kemurnian hatinya dari matanya. Batin Tata menatap Diah.


"Bunda?" Celetuk Alex memanggil sang Bunda.


"Iya sayang," Jawabnya tanpa mau melihat ke arah Alex yang masih berdiri berdampingan dengan Tata.


Tanpa mereka semua duga, Tata seketika mendekat dan bersimpuh di kaki Diah. "Diah, aku mina maaf padamu karena telah merebut suamimu." Ucap Tata yang sudah menangis tersedu.


Sayatan itu kembali dan semakin membuat Diah tergugu. Diah tak mampu berkata-kata kata, berbagi suami bukanlah hal yang mudah.


"Sayang, jangan terlalu banyak menangis, ingat kandunganmu." Kata Bunda Winda yang menguatkan sang menantu siri.


Hati Alex menghangat saat melihat bagaimana sang ibu mengkhawatirkan kehamilan sang istri. Dia dengan serta merta mendekat dan duduk di samping Diah lalu mengecup keningnya. "Kamu kuat sayang." Ucapnya yang mengabaikan Tata yang masih bersimpuh di kaki Diah.


Ucapan Diah yang seperti itu membuat semua mata tertuju padanya. Lihat betapa Di masih memikirkan keadaan orang lain, sementara Dia mengabaikan hatinya yang terluka.


"Kamu sungguh baik, Aku berjanji padamu tidak akan pernah menyentuh suamimu Di. Pernikahan kami hanyalah sebatas di atas kertas demi menyambung nyawa pacarku." Kata Tata yang tak perduli jika disan masih ada ibu mertuanya yang mendengarkan semuanya.


"Iya aku tahu, dan aku mempercayai suamiku." Ucap Diah dengan bulir air matanya yang terus saja berjatuhan.


"Apa ini? Apa yang Bunda lewatkan?" Terang saja Dia melewatkannya. sebab dia sajabaru kabur dari rumah sakit saat tadi acara pernikahan putranya di gelar.


Tata menceritakan semuanya dan dia sekarang duduk di samping Ibu mertuanya. sementara Alex Dia menenangkan istri pertamanya yang masih berada dalam pelukannya.


"Pantas saja, selama ini Feelingku mengatakan Ayah tirimu itu tidak baik. ternyata memang tidak meleset." Ucap Bunda Winda setelah mendengarkan penuturan menantunya.


"Bukan aku membencimu Ta, hanya saja cara kalian menikah ini yang membuatku tak di anggap sebagai seorang istri. Pertama kalinya dalam sejarah pernikahan kami, suamiku mengabaikan nasihatku dan lebih memilih usulan dari Aya tirimu."


"Jadi itu alasannya bunda jatuh sakit dan semua ini diadakan tanpa sepengetahuan Bunda?" Tanya Alex yang juga baru mengetahui kabar sakitnya sang Bunda.


"Iya, satu minggu ini Bunda berada di kamar rawat sendirian. ayah kalian bahkan sampai menjauhkan ponsel dari bunda. Itu sebabnya Bunda tidak bisa membicarakan hal ini dengan kalian termasuk Kakak dan adikmu."


Alex hanya bisa terdiam mencerna semuanya. Pasalnya Ayahnya tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya.


Ponsel Tata bergetar dan dia segera membukanya. Pesan itu merupakan pesan dari orang suruhannya yang memantau keadaan Nando pacarnya juga sekaligus Ayah dari jabang bayinya.


Raut wajah Tata berubah seketika. Dia menangis sejadi jadinya dan meraung.


"Ada apa Ta?" Tanya Alex yang tak di jawab oleh Tata yang kemudian segera berdiri.

__ADS_1


"Mana mobilmu?" Tata meminta kunci mobil Alex


"Katakan dulu ada apa?" Tanya Alex bingung.


"Cepat berikan!" Tata memekik kencang dengan mata merah penuh amarah.


"Aku antarkan saja." Kata Alex yang merasa ada yang aneh dalam diri Tata.


"Bunda ikut!"


"aku juga!" Ucap Diah.


"Cepat! tidak ada waktu lagi!" Lagi lagi Tata memekik emosi.


Mereka melaju dengan segera menuju ke sebuah rumah sakit daerah yang bisa dilihat peralatannya belum memadai untuk sebuah penanganan besar.


"Nando!" Tata memekik dan kemudian memeluk tubuh sang kekasih yang sudah terbujur kaku.


Di berbohong padaku. Dia bilang akan membawamu ke singapura untuk mendapatkan pertolongan. Tapi nyatanya Dia menyembunyikanmu di sini sayang. Apa yang harus aku lakukan tanpamu? Batin Tata menangis sedih sampai tubuhnya merasa lemas.


Nando bukanlah anak yang beruntung. Dia hidup sebatang kara setelah kematian seluruh keluarganya dalam sebuah kecelakaan kapal motor yang karam di lautan.


Hanya Tata yang Dia punya. Menjalin hubungan dari SMA membuat keduanya selalu mencari cara untuk mendapatkan restu. Hingga cara terakhir yang ada di kepala Tata aalah dengan dia yang hamil duluan.


Semenjak kematian Ayah kandung Tata, hanya Nando lh tempat pelariannya sedangkan sang ibu hanya sibuk menikmati harta peninggalan almarhum suaminya bersama suami barunya.


Pagi harinya, pemakaman di gelar dan siapa sangka jika hal tersebut juga rupanya terendus oleh Ayah tiri Tata yang justru tertawa terbahak bahak di atas makam Nando.


"akhirnya mati juga kamu!" Ucapnya yang baru datang dan sudah membuat keributan di acara pemkaman. Untung saja tidak bnyak orang yang menghadiri acara pemakaman tersebut.


Hanya ada Diah, Alex, Bunda Winda dan Tata. Sementara tukang gali kubur sudah meninggalkan pusara. rupanya ada seseorang yang datang juga karena mencari istrinya yang hilang dari rumah sakit. Siapa lagi jika bukan Ayah Dhani.


"Jaga mulutmu brengsek! Tidak cukup kamu membunuh Ayahku? Dan sekarang kamu juga membunuhnya?" Tata berbicara dengan berderai air mata.


Dia kembali mengingat bagaimana dahulu sebenarnya ayahnya masih bisa di selamatkan saat sakit asmanya kambuh. Tapi, alih alih menyelamatkan, Ayah tirinya ini malah menendang jauh obat asma milik mendiang ayah tata.


"Ada apa ini?" Ayah dhani mendekat.


"Kamu! kamu juga turut andil dalam hal ini kan? kamu yang menyarankan agar pengobatan tidak usah di laksanakan. Aku tahu semuanya! Aku melihat semuanya!" Ucap tata berderai air mata.


Tiada yang menduga jika di dalam tas yang Tata bawa, Dia menyembunyikan sepucuk senjata api rakitan, Entah darimana dia dapatkan, tapi itu cukup ampuh untuk membunuh 5 orang saat ini juga.


"aku membencimu!" Kata Tata


DOR!!


Satu tembakan bersarang di kepala Ayah tirinya.


"Dan kamu juga!" Ia menodongkan senjata api rakitan itu kepada Ayah Dhani.


DOR!!


DOR!!


"Tidak!!!" BUnda winda dan Alex berteriak secara bersamaan. semuanya terjadi dalam sekejap mata. Beberapa orang tumbang dalam tembakan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2