
...~~~~...
Siang hari dalam cuaca terik. Ayana, dia disibukkan dengan menata barang-barang di kamar barunya. Dia tidak tau harus senang atau sedih, Jackie tiba-tiba memberikan dua kunci kepadanya. Satu kunci rumah, dan satunya lagi adalah kunci sebuah toko.
"Seharusnya, bilang dulu dong kalau mau ngasih sesuatu. Biar akunya bisa siap-siap." Ujar Ayana mendumel di kamarnya dengan ponsel yang tersambung melalui panggilan video.
"Sayang, kalau bilang pasti ga jadi surprise." Jawab Jackie.
"Ya tapi harusnya di rencanakan baik-baik sayang. Apa kamu sengaja memberikan pekerjaan menumpuk begini padaku? sedangkan kamu? malah enak-enakan duduk di pinggir pantai."
Pasalnya Jackie dan kedua kakaknya sedang mengadakan acara bisnis keluar negri. Dan tinggallah Dita disana untuk membantu si adik ipar. Sebenarnya tidak bisa dikatakan membantu ya, sebab disana juga banyak pekerja yang di panggil untuk berbenah.
"Ya bukanya begitu. Ini hanya kebetulan saja. Kamu juga tau kan ini acara dadakan? hanya dua hari sayang, dan sebentar lagi juga pulang. Sebegitu kangennya ya sama aku, Sampai di tinggal sebentar udah uring-uringan?" Sengaja Jackie menggoda istrinya.
Ayana mendengus kesal. "Ih, apaan sih? Enggak juga ah. Cuman kesel aja, banyak kerjaan harusnya kamu bantuin malah pergi."
"Ish, sebegitu kangennya loh, istriku ini.." Jackie malah semakin gencar menggoda istrinya.
"Ay, ayo makan dulu ini sudah siang." Kata Dita yang berdiri di ambang pintu yang sudah terbuka sedari tadi.
"Iya Kak." Jawab Ayana di sela-sela panggilannya.
"Sayang, sudah dulu ya. Aku mau makan dulu. kamu kapan pulangnya?" Tanya Ayana yang sebenarnya tujuannya menghubungi sang suami tidak lain hanyalah ingin mengomel saja.
"Besok pagi, aku udah sampai." Jawabnya sambil tersenyum.
"Em... hati-hati ya."
Ayana yang selesai dari pekerjaannya di atas kemudian turun dan menuju ke ruang makan yang bertemakan outdoor, sungguh apa yang Jackie berikan padanya sangat tepat sasaran. Ayana paling menyukai tema taman seperti ini.
"Ruang makanmu bagus Ay." Celetuk Dita yang sudah duduk dan menyantap salad buahnya.
"Iya ya Kak. Aku juga suka, aku sama sekali tidak tau tentang hal ini. Dia yang memilihnya sendiri."
"Aku sudah berkeliling tadi, garasinya juga luas. Memang suamimu mau buka showroom?"
Ayana terkikik kecil, mana sempat suaminya membuka showroom? Mengurus pekerjaan di kantor saja akhir-akhir sudah sering pulang terlambat karena lembur. "Tidak Kak, cuman nanti di garasi juga akan di letakkan Beberapa tanaman hias artificial.
"Em, aku juga sepertinya akan segera pindah ke perumahan saja dan menjual apartemen kami." Kata Dita tiba-tiba.
__ADS_1
"Kenapa? apa kalian kesulitan dalam finansial?" Tanya Ayana yang terlihat cemas.
Dita tersenyum tipis. "Apa kau masih memiliki rasa pada suamiku? sampai kamu terlihat begitu cemas?" Taya Dita.
DEG!!
Jantung Ayana seakan berhenti berdetak saat kakak iparnya menuduhkan hal yang begitu ia hindari selama ini.
"Kak, kenapa ngomong begitu? Aku sudah tidak ingin mengungkit hal itu. Kami sudah menjalani kehidupan kami masing-masing. Hanya saja takdir yang mengikatku agar tetap disini bersama dengan adiknya. Kak, aku bersumpah sama sekali tidak pernah berhubungan dengan suamimu." Ucap Ayana yang terlihat begitu sendu.
Ternyata selama ini, Kakak iparnya masih memendam keraguan dan curiga yang teramat besar.
"Aku juga tidak tahu Ay, aku ingin mempercayainya. Tapi ada keraguan yang membuatku selalu meragukannya. Apalagi itu soal kamu, mantan istrinya yang masih berada di sekitarnya. Hemmh, entahlah Ay. Rasa khawatir ini semakin menjadi saat aku positif hamil. Tiba-tiba saja, aku berfikiran kalau dia masih memiliki hati denganmu."
Ayana langsung mendekat dan memeluk Dita. " Kakak hamil?" Tanyanya yang kemudian menatap lekat wajah ayu Kakak iparnya juga sekaligus mantan atasannya.
Dita mengangguk dan di sambut tawa renyah dari Ayana. " Hahahaha!" Ayana lalu duduk di dekat Dita dan mengusap perut ratanya. "Sudah berapa bulan keponakan Tante?" Tanyanya.
"Baru 4 Minggu Ay. Tapi jujur saja semenjak aku tau kalau aku hamil. Pikiranku kacau, aku sempat berpikir kalau suamiku memiliki wanita lain, lalu menjalin hubungan denganmu. Bahkan sekarang saja aku mencurigainya menyewa wanita. Oh .... aku akan gila."
"Ei... jadi bucin ya?" Ayana mentoel dagu Kakak iparnya. "Aku juga pernah merasakan seperti itu saat mengandung anak pertamaku." Kata Ayana.
"Anak pertama? itu berati anakmu dan suamiku?" Aih, tabu memang dimana mantan istri bercengkrama hangat dengan istri yang sekarang.
"Oh, kurasa memang begitu bawaan hamilnya berarti. Berarti aku normal kan?" Tanya Dita.
"Ya normal sih kak. Cuman, aku mohon padamu. Aku tidak pernah menjalin hubungan lebih dengan suamimu. Saat ini hubungan kami hanya sebatas Kakak dan adik ipar saja." Ucap Ayana.
"Semoga, semoga aku bisa memegang kata-katamu." Ucap Dita yang kemudian pergi meninggalkan Ayana sendirian di ruang makan.
Perasaannya kacau setelah perbincangan tersebut. Seharusnya memang mereka tidak berdekatan. Awalnya mungkin Dita masih bisa menahan tapi pada akhirnya kecurigaan dan kecemburuan yang bersarang. Dita sendiri tak bisa mengontrol perasaannya, rasa was-was akan perasaan suaminya yang sesungguhnya selalu ada. Siapa yang tau isi hati dari manusia?
Meski mulutnya berucap tidak, tapi siapa tau bila hatinya begitu berharap?
...~~~...
sementara itu di lain tempat.
Waktu kepergian Alex untuk berbisnis, digunakan Diah untuk pergi seorang diri menghadap pada calon mertuanya. Dan disinilah dia sekarang, duduk dalam satu ruangan yang terasa begitu pengap selah udara menipis begitu saja.
"Ada apa kamu datang kemari?" Ketus nada bicara Bunda Winda tanpa mau melihat wajah Diah.
__ADS_1
"Nyonya, maafkan saya. Sa... saya datang kemari untuk meminta restu dari anda." Ucap Diah terbata-bata. Dia begitu takut sekarang, tangannya tak bisa diam memilin ujung bajunya.
Ayah Dhani yang tadinya hanya memperhatikan, kini juga ikut duduk dan mendengarkan penuturan Diah.
"Restu? restu apa? bukankah kamu sudah menolak putraku, lalu kamu sekarang meminta restu? apa kami tidak salah dengar?" Celetuk Ayah Dhani menatap serius Diah.
Diah menunduk lesu. Katakutan bergelayut menutupi raut wajahnya yang sendu. "A.... aku dan Tuan Alex, Ka.... kami ...." Diah lidahnya bergeming kelu kala ingin mengucapkan yang sesungguhnya tentang mereka berdua.
Bunda Winda langsung menoleh ke arahnya dan menahan senyumnya. Apa putraku mengambil jalur pintas? Apa dia sekarang tengah hamil? Batinnya bergemuruh senang.
..."Katakan, tidak usah bertele-tele. Katakan saja berapa maumu?" Tanya Bunda Winda yang sengaja menghardik dan mengetes mental calon menantunya. ...
"Nyonya, aku tidak mau uang. Aku hanya mau anak nyonya menikahiku." Ucapnya yang sudah menangis mendengar Bunda Winda yang ingin menghargainya dengan sejumlah uang. Hal itu membuat harga dirinya tercabik.
"Anakku, menikahimu?" Sahut Ayah Dhani yang begitu emosi mendengar permintaan Diah.
"Tidak! sampai matipun, aku tidak akan mengijinkan kamu menikah dengan anakku. Dulu, aku membiarkan perjodohan itu karena aku dan Kak Agustin tidak tahu jika sebenarnya ibumu adalah pembunuh." Ucap Ayah Dhani.
"Pe... pembunuh? apa maksudnya Ayah?" Bunda Winda mulai memikirkan hal terburuk dari ucapan suaminya.
"Ibunya adalah pembunuh ayahnya. Bayangkan Bun, istri membunuh suaminya sendiri. Dan apa bunda sudah menggali informasi? Ayahnya adalah seorang pemabuk, dan penjudi. Ayahnya kerap menyiksa ibunya." Ucap Ayah Dhani menguak segala fakta.
Da... darimana Tuan Dhani bisa tahu hal ini? Bahkan tempat kejadian hal menyeramkan itu pun teramat jauh dari sini dan berada dalam pelosok.
Bunda Winda mendadak menjadi lemas. Kali ini rencananya tak berjalan sesuai dengan keinginannya. Dia juga tidak tahu bila ternyata ada sejarah mengerikan di dalam kehidupan Diah. Kini selain diam dan menurut pada kemauan suaminya, Bunda Winda tak ada pilihan lain lagi.
"Memang, aku mendidik anak-anakku untuk tidak membeda-bedakan manusia. Tapi, selalu ada pengecualian untuk hal istimewa bukan? Untuk pendamping, aku tidak ingin anakku bersama dengan orang yang buruk bibit, bebet dan bobotnya. Tidak apa-apa miskin yang penting asal usulnya adalah dari keluarga baik-baik."
JLEB!!
Habis sudah Diah kali ini. Segala daya dan upayanya sirna sudah. Pendidikannya berantakan karena ulah Alex, dan sekarang masa depannya juga ikut hancur lebur. Bagaimana jika dia nantinya hamil? Menikah tanpa restu kedua orang tua? Ahhh sudah dapat ditebak apa hasilnya.
"Sekarang, kamu katakan berapa maumu, lalu tinggalkan anakku!" Bentak Ayah Dhani.
"Sabar Yah!" Bunda Winda menenangkan dan di sudut lain hatinya dia juga merasa bersalah sekaligus tertipu akan keadaan Diah yang sesungguhnya.
Seharusnya aku lebih teliti lagi dalam hal ini. Memang sudah menjadi pedoman kami. Tak apa miskin, tapi yang terpenting adalah akhlak. Dan sifat serta watak anak itu di dapatkan dari bibitnya, yaitu ayahnya. Gen sang Ayah akan menentukan karakteristik anak, itu sudah jelas dalam biologis. Kalau Ayahnya pemabuk dan penjudi, apa Diah juga memiliki sisi buruk lainnya? Tapi ibunya adalah orang baik yang salah memilih pasangan.
Ayah Dhani bangkit dan menuju ke kamarnya. Suasana begitu tegang sekarang. Bunda Winda hanya diam dan mengamati Diah. Sedangkan Diah hanya menunduk lesu tak berani menatap wajah keduanya.
"Ini, ambil ini lalu pergilah! Jauhi anakku sejauh-jauhnya, jangan pernah muncul kemari atau menginjakkan kakimu disini." Ucap Ayah Dhani sambil meletakkan sebuah cek di atas meja.
__ADS_1
Dengan air mata bercucuran, Diah mencoba untuk memberanikan diri. "Bagaimana jika aku hamil Tuan?" Ucapnya begitu polos dan lugu.
Dia tidak berpikir jauh, Bagaimana jika Keluarga Alex akan meminta anaknya lalu membuangnya?