
Mulai hilang semangat saat pembaca menurun.
Ehm, satu pertanyaan Author, apakah kalian bahagia akhir-akhir ini?
Semoga bahagia dan selalu bersemangat menjalani hari.
Ehem ... ehem .... Mimi cuma mau bilang makasih sama orang orang yang selalu dukung Mimi.
Terimakasih banyak-banyak buat yang udah mau berceloteh di kolom komentar.
Em, gimana ya... Rasanya tuh cenat cenut gimana gitu kalau bisa berdialog dan baca komentar kalian.
Makasih banyak buat yang mau mampir dan Jan lupa like nya juga ya.
Aish ya sudahlah tak berceloteh lama yuk kita lanjud. Begimane, sikap Jackie yang banyak berubah setelah patah hati?
...🌹🌹🌹...
" Ay, kau sudah bangun? Huft... aku cemas sekali tadi pak Bos sedari tadi mengomel tidak jelas. Sepertinya dia marah denganmu." Dita menunggui Ayana yang terbaring di ruang ganti karyawati.
" Hhhh.... Mbak Ay. Kok bisa pingsan? kenapa seperti habis melihat hantu saja." Ratih, yang merupakan sekretaris salah satu dewan direksi ikut berkomentar lantaran merasa cemas.
" Mbak Dita, Ratih.. Aku tidak apa-apa hanya pusing saja. Mungkin karena belum sarapan aja dan gula darahku sedang drop." Ayana beralasan dan memasang senyum palsunya. Senyum palsu yang berfungsi untuk menutupi segala keresahannya.
" Kau mau masuk atau pulang saja?" Dita berbicara tanpa melihat Ayana dia sibuk mengutak-atik benda pipih kesayangannya.
Ayana terlihat lesu dan lemas tapi dia terkesan memaksakan diri. " Aku masuk sajalah Kak, ini masih jam kerja. Tak enak aku dengan pak CEO baru. Ini baru hari pertamaku sebagai sekretarisnya masa iya aku sudah meminta ijin?"
Dita mendengus frustrasi, dia tak yakin dengan kondisi fisik Ayana. " Yakin? tidak pulang saja?"
Ayana menggeleng.
" Oh, ya sudah. Ini makanlah dulu. Aku tidak mau menggotongmu lagi kesini. Kau itu lumayan berat." Keluh Ratih memijit lengannya yang menandakan dia lelah setelah membawa Ayana keruang ganti.
Sebungkus nasi Padang di hidangkan di bangku panjang di tempatnya berbaring tadi. Ayana melihatnya sedikit heran. " Ratih, ini harganya berapa, biar ku ganti." Kata Ayana lirih dia tak enak hati jika asal main santap saja tanpa mengganti uangnya. Sedang dia tau gajinya dan Ratih itu sama.
" Tidak usah, lagian bukan aku yang membelinya." Jawab Ratih.
Ayana melihat Dita. Dita balas melihatnya. " Bukan aku juga. Sudahlah kau tinggal memakannya dan segera kembali bekerja. Aku tinggal, lima menit lagi ada rapat. Kau makanlah. Untuk Pak Jackie biar aku yang menghendel sampai kau selesai makan." Kata Dita berpesan sebelum meninggalkan Ayana. " Oh iya, rapikan rambutmu juga. Pak Jackie membenci sesuatu yang berantakan."
" Hem, dari sekian banyak atasan hanya dia yang menyeramkan. Yang lainnya sih kalau tidak genit pasti bawel. Tapi kalau dia, sangat menyebalkan. Apalagi tadi saat kau pingsan, katanya begini. Cepat angkat dia dari sini, mengganggu pemandangan saja. Begitu katanya." Ratih menirukan apa yang tadi Jackie katakan dengan fasih dan berlebihan dengan mulut buang mencibir.
" Astaga, aku tidak tau jika ada manusia yang tidak berperasaan seperti itu di dunia ini. Tampan sih, tapi menyesakkan dada." Ratih berkomentar sesuka hatinya. Dia ikut kesal ketika teman yang tinggal dalam satu jajaran kos yang sama dengannya ini ditindas.
Ayana hanya terdiam menyimak cerita Ratih dengan mimik mukanya yang di buat setenang mungkin.
Wajar bila dia membenciku. Aku yang terlebih dahulu menghianati dan merusak segala kebaikannya. Aku yang merubahnya dari malaikat menjadi iblis.
Harus ku tanggung ini. Sudah sepantasnya aku menerimanya.
" Sudah kau makan dulu. Aku pergi ya, tidak apa-apa kan kutinggal?" Ratih memastikan.
" Iya aku sudah jauh lebih baik. Terimakasih sudah menjagaku."
" Sudah seharusnya. Dah...!" Ratih melenggang pergi setelah melambaikan tangannya.
Bertepatan dengan rapat yang selesai, Ayana juga baru saja selesai makan dan bergegas menuju ke meja kerjanya yang berada tepat di depan pintu ruangan Jackie.
Jackie berjalan dengan tegap dan tanpa melihat Ayana meski Ayana seketika berdiri dan menundukkan kepalanya kala Jackie berada di depannya.
Hanya lewat saja mampu membuat jantung Ayana kembali bergemuruh.
" Aku akan mati muda jika terus bekerja disini. " Ayana bermonolog dengan suaranya yang pelan dan matanya tetap fokus menatap layar monitor.
Intercom di mejanya tiba-tiba berdering. Ayana seketika mengangkatnya. Sebelumnya dia sangat gugup.
📞.
" Halo,..." Lama Ayana menunggu beberapa detik kemudian baru terdengar suara dari seberang sana.
" Masuk keruangan saya sekarang." Jackie berbicara dengan tegas dan datar juga kasar.
" Ba.. " Belum selesai menjawabnya tapi panggilan sudah terputus.
Ayana hanya menghela nafas gusar dan menelan ludahnya dengan susah payah. Nyalinya kembali menciut kala teringat pagi tadi. Tentang bagaimana mereka bertemu lagi untuk yang pertama kalinya.
Kamu, bisa Ayana. Kamu bisa! Jadilah profesional. Gadis malang itu menyemangati dirinya sendiri.
Ayana mengetuk pintu terlebih dahulu. Hanya bersahutkan deheman dari Jackie lantas Ayana masuk.
__ADS_1
" Permisi Pak, ada apa?" Ayana tergugup dan memberanikan diri untuk bertanya. Ada apa gerangan Jackie memanggilnya.
Jackie bangkit dari kursinya lalu mendekat pada Ayana yang berdiri di depan meja kerjanya.
" Duduk!" Ketus Jackie yang kasar tak menunjukkan suasana yang bersahabat ditelinga.
Ayana duduk meski dengan ragu-ragu. Sembari memangku kedua tangannya dan pandangannya menunduk.
" Periksa kembali kelengkapan semua dokumen yang ada di mejaku. Selesaikanlah sebelum pukul 16. Juga, pesankan saya satu room karaoke di Xxxxxxx." Kata Jackie.
Jackie berharap Ayana akan mengeluh atau membuka mulutnya untuk bernegosiasi tentang tugasnya. Tapi tidak, Ayana tetap diam menyimak segala perintah yang tertuju untuknya. Termasuk saat mendengar sebuah nama tempat karaoke yang terkenal mewah yang berjajar bersebelahan dengan hotel yang Simpang siur berita yang beredar juga menyediakan jasa wanita cantik di dalamnya.
" Baik Pak. Akan saya kerjakan." Jawabnya datar tanpa ekspresi.
Suasana hening sesaat, Ayana sibuk memikirkan segala tugasnya sementara Jackie merutuki tindakannya yang tak mendapatkan respon yang di harapakannya.
" Apa ada lagi Pak?" Tanya Ayana seolah tumpukan dokumen di meja kerja Jackie itu tak ada artinya apa-apa baginya. Hanya pekerjaan kecil yang membutuhkan waktu beberapa menit pengerjaan.
" No! get out!" Titah Jackie menggema dengan suara baritonya.
Ayana kesusahan membawa tumpukan dokumen dan berjalan keluar dari ruangan Jackie. Dia bersikap datar dan sewajarnya atasan dan bawahan.
" Kacang lupa kulitnya. Mudah sekali...!" Kata Jackie bermonolog dengan sengaja mengeraskan suaranya dengan maksud Ayana akan terpancing dan berbicara kepadanya. Berbicara hal yang lalu yang agak panjang bukan hanya sekedar. Ya pak, baik pak, ada lagi Pak? Oh... Jackie sangat kesal mendengarnya.
Setidaknya minta bantuan ku untuk membukakan pintu itu. Batin Jackie berharap.
Nihil Gadis pendiam itu melakukan pekerjaannya dengan caranya tanpa bantuan siapapun.
Ayana meletakkan tumpukkan dokumen itu dilantai lalu membuka pintu kemudian mengganjalnya dengan kakinya sebelum dia melangkah keluar.
" Em maaf Pak." Ayana tergugup.
Pasti kau mau minta bantuan ku kan? Tidak akan!! Batin Jackie yang bergemuruh senang senang saja dia bisa terus-terusan mengerjai Ayana.
Jackie mendongak dan memajukan dagunya isyarat jika dia mengijinkan Ayana untuk bertanya.
" Untuk reservasi roomnya, jam berapa?" Tanya Ayana datar dan mimik wajah yang tak dapat terbaca.
" 21:30" Jawab Jackie tak kalah datar.
" Oh, baik."
" Kau juga ikut denganku, akan ku hitung sebagai lembur." Kata Jackie yang menyeringai tipis. Sedikit sudut kurva terbentuk. Dia percaya diri jika Ayana akan menolaknya sebab Ayana tidak suka dengan tempat-tempat seperti itu.
Oh, aku salah. Kau sudah banyak berubah. Aku lupa jika kau sekarang menjadi simpanan Om Om. Jackie tercenung bergelut dengan pemikirannya sendiri.
Di meja kerja Ayana.
" Kuat Ayana, kau kuat. Kau sudah berjanji pada Bu Sri kan akan membawanya jalan-jalan weekend ini." Gumamnya seorang diri mencari semangat baru.
Kau ternyata sudah banyak berubah Jack, lama menetap diluar negeri membuatmu banyak berubah. Telingamu juga sudah kau tindik. Apa kau seperti ini karena rasa sakit hatimu?
Maaf jika benar itu karenaku, aku akan menebusnya. Maafkan aku. Ayana tertunduk lesu di meja kerjanya.
Tepat pukul 16, Ayana selesai dan menghantarkan berkas-berkas tersebut keruangan Jackie.
" Permisi, Pak. Ini berkasnya sudah selesai." Kata Ayana lembut.
" Hem." Si atasan hanya berdehem tanpa melihat Ayana tapi malah melihat jam tangannya. " Telat dua menit." Protesnya dengan wajah dingin yang membuat merinding. Tatapan matanya tegas dan tanpa ada senyuman yang tercetak.
Ayana diam menunduk.
" Kau sudah makan?" Jackie berbicara lagi dengan nada datarnya tangannya sibuk menandatangani berkas yang Ayana setorkan.
" Be... belum Pak." Jawabnya jujur. Jangankan untuk makan, untuk minum saja dia tak ada waktu. Bahkan sedari tadi dia menahan panggilan alam yang dirasakannya.
Jackie melihatnya sekilas lalu menangkupkan kedua jemarinya. " Ya sudah sana keluar!" Ketusnya.
Ayana hanya tercenung, dia pikir tadi Jackie bertanya karena perduli atau ingin meminta di pesankan makanan. Nyatanya malah hanya sekedar basa-basi.
" Iya Pak." Sahut Ayana polos.
" Untuk nanti malam aku ingin pemandu lagu yang terbaik. Tiga." Kata Jackie yang ingin melihat reaksi Ayana apakah ada kepedulian atau rasa cemburu dimatanya.
" Baik Pak. Apakah ada permintaan lain seperti kostum mungkin?" Sungguh berani Ayana menanyakan hal yang membuat Jackie seketika menatapnya tajam.
Seolah menantang, Ayana justru memberikan ide di kepala Jackie. " Idemu bagus juga, katakan pada resepsionisnya bila aku ingin yang termuda dan terbaik dengan pakaian seminim mungkin." Kata Jackie terlihat sangat tertarik dan mengusap-usapnya dagunya seolah dia sudah tidak sabar untuk acara nanti malam.
Ayana mengangguk cepat. " Baik Pak!" Jawabnya bersemangat.
*Tiga??
Yang muda dan pakaian minim? Oh, aku saja yang terlalu polos disini. Mungkin di Italia hal semacam itu sudah lumrah.
__ADS_1
...🌹🌹🌹*...
Ayana mengekor di belakang Jackie saat mengantarnya ke tempat karaoke. Di sambut oleh tiga wanita cantik yang lebih muda dari Ayana dan juga lebih seksi dengan penempatan buah melon yang salah tempat membuat benda sintal itu terlihat lebih menonjol.
Mereka bergelayut manja dan sesekali menciumi pipi Jackie. Jackie pun terlihat menikmatinya. Tak ada rasa malu sedikitpun di hadapan Ayana mantan kekasihnya. Ayana berkali-kali hanya bisa mengatur nafasnya yang sesak. Dadanya sakit saja melihat pemandangan dimana mantan pacarnya yang dulu lugu kini telah menjadi suhu.
Tangan Jackie bahkan mulai bermain liar meraba paha dari seorang gadis yang duduk di pangkuannya. Ingin lari jauh dan menghilang, itulah kemauan Ayana. Jackie tak mengijinkan Ayana untuk pergi dan sekarang dia sedang menikmati pemandangan kotor di depan matanya. Ingin menunduk pun Jackie tak perbolehkan.
15 menit menyaksikan. Membuat Ayana merasa pusing juga sesak. kepalanya terasa hampir pecah melihat pemandangan yang menjijikan itu.
" Minumlah! aku yang bayar!!" Jackie mengangkat sebotol wiski dan mempersilahkan Ayana untuk menikmatinya.
Ayana menolaknya dan menggeleng.
" Kenapa? Oh, Om Om mu tidak sekelas denganku ya? tidak mampu membeli minuman mahal ini? Lihat ini, aku bahkan bisa membuangnya semauku. ini murah bagiku." Jackie mengguyurkan cairan wiski itu di tubuh gadis yang tadi di pangkunya.
Ayana terdiam dan menatapnya datar.
Sakit nyeri dan tertusuk tepat di ulu hati. Ayana berusaha tegar menahan bulir air mata yang siap berlinang. Entah sudah berapa kali dalam seharian ini Jackie menghinanya dan merendahkan harga dirinya.
Tak dapat menahan, air matanya mengalir begitu saja. Melihat itu Jackie berdecih. " Cih, cengeng!! Munafik!!" Sri Jackie yang lalu bangkit dan mendekat ke arahnya.
Tanpa aba-aba Jackie mencium paksa Ayana. Melu**tanya kasar tanpa perasaan. Liar lebih tepatnya. " Denganku saja dan buang Om Om mu yang lain! Aku lebih dari mereka, akan ku bayar kau lebih tinggi! Berapa hargamu?" Cecar Jackie merendahkan gadis baik-baik di hadapannya ini.
Jangankan Om Om, bahkan untuk bergaul saja dia selalu menghindari circle pertemanan dengan lelaki. Seenak mulutnya saja Jackie berbicara tanpa menimbang. Meluluhlantakkan harga diri seseorang hingga menggilasnya remuk tak berbentuk.
Ayana tergugu. Dia berpikir percuma saja membela diri. Kisah lalunya yang masih melukai Jackie membuat Jackie membangun opini tanpa bukti. Opini yang merusak harga diri wanita yang dulu dicintainya.
Ayana tak membalas dia hanya diam dan menangis. Dia meronta, tapi tenaganya tak cukup kuat untuk lepas dari cengkeraman Jackie.
" Kau itu sama dengan mereka, hanya baju ini saja yang membedakanmu dengan mereka. Selebihnya kau sama saja. Murahan!" Lagi Jackie menghinanya dengan terang-terangan.
Ayana mendorong kuat tubuh Jackie sampai Jackie tersungkur. Dia berlari meninggalkan ruang karaoke tersebut dengan rasa kesal yang luar biasa.
Jangan salahkan dia bile esok surat pengunduran diri akan ada di atas meja kerja bosnya itu.
Ayana berlari dan mencari taksi. Beruntung dia masih ada taksi yang beroperasi. Selama dalam perjalanan, dia menangis tersedu sampai si sopir taksi bingung dibuatnya. Sesampainya di kosan, Ayana tak mandi atau apapun itu. Dia mengerang membekap mulutnya dengan bantal dan menjerit sekuatnya.
Mengapa begitu sakit?
Direndahkan, dihina, tak berdaya. Tak ada upaya untuk membalas karena beban penghianatan yang dulu di buatnya.
Kau berubah, Jack!!
Kau jahat!!!
Di room karaoke.
" Awas jangan sentuh saya. Ini bayaran kalian dan terimakasih atas kerjasamanya. Kalian masih memiliki tanggungjawab untuk bekerja denganku. Kau hari Jumat, kau Sabtu, dan kau Senin." Jackie menunjuk secara bergantian wanita yang berbaris di hadapannya.
Wanita penjaja itu sih senang-senang saja. Tak perduli dengan urusan pribadi si Bos. Yang mereka tau ada upahnya.
...🌹🌹🌹...
Pagi hari.
Dengan mata sembabnya Ayana berjalan masuk kedalam ruangan kerja Jackie sebelum si empunya datang. Dia meletakkan surat pengunduran diri dimeja kerja. Saat dia memutar badannya, Jackie sudah berdiri di belakangnya dan melirik kertas putih di meja.
" Cih! kau mau mengundurkan diri?" Desis Jackie meremehkan.
Ayana hanya diam.
" Jangan mimpi!! kontrakmu dengan perusahaan ini masih 3 tahun lagi." Kata Jackie.
" Aku berhak mengundurkan diri mengingat apa yang semalam Bapak lakukan terhadap saya merupakan suatu pelecehan seksual dan itu adalah sesuatu hal yang tidak profesional dalam ruang lingkup pekerjaan. Saya bisa mengajukan laporan ke polisi atas hal semalam." Ayana membuka suara dan berbicara cukup panjang.
SREK...!! suara kertas yang di robek.
Jackie meremas lalu merobeknya dan melemparnya ke wajah Ayana.
" Polisi?" Jackie mencibikkan mulutnya mengejek.
" Ouh....! aku takut..."
Ayana menatapnya tajam penuh kemarahan. Ini kali pertama Ayana berani menatapnya seperti itu.
" Memang apa yang kulakukan padamu? Mana buktinya? Siapa saksinya? Berapa uangmu untuk membayar pengacara?" Jackie mengeluarkan Vape miliknya lalu menghisapnya dan menghembuskan asapnya ke wajah Ayana. Sungguh merendahkan.
Tak ada, tak ada apapun. Bukti, saksi, dan bekas pun tak ada, apalagi uang untuk membayar pengacara.
" Kembalilah bekerja, jika kau tak ingin ku jebloskan ke penjara karena melanggar perjanjian kerja dan merugikan perusahaan." Katanya enteng. Jackie sungguh jahat.
Ayana hanya bisa mengepalkan tangannya, tak mampu berkata dan pergi begitu saja.
__ADS_1