Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
42. Taman Bougenville.


__ADS_3


...🍁🍁🍁🌹🌼🌷🌺🍁🍁🍁...


Suasana cafe sedikit menenagkan Ayana yang sibuk mengarungi segala asumsinya mengenai suaminya.


Apa ini?


Apa hubungan mereka?


Itu saja yang selalu berputar dan terulang-ulang dalam kepalanya.


"Hei! ini pesanannya. Kamu melamun?" Kata Shaga si pemilik cafe yang sedang menjelma menjadi pekerja di cafe miliknya sendiri.


"Oh, tidak!" Ayana menggeleng beberapa kali lalu melemparkan senyuman.


Sekilas tatapan mereka bersiborok dan membuat Ayana menunduk setelahnya. " Ini." Ayana menyodorkan sejumlah uang.


"Tidak usah." Shaga menolak uang pembayaran dari Ayana. "Untukmu free! Kamu pelanggan pertamaku pagi ini dan dari tadi aku berujar, bila kedatangan pelanggan pertama maka akan ku gratiskan."


"Benarkah? Wah...., aku beruntung sekali. Sering-sering ah aku mampir pagi-pagi." Niat hati Ayana hanya sekedar bercanda. Tapi siapa sangka bila candaannya mendapatkan balasan serius dari si empunya Cafe.


Shaga, lelaki tinggi dan berkulit pucat itu tersenyum. Terlihat dari kilatan matanya dia teramat senang, dia tersenyum memamerkan barisan giginya yang putih. " Tentu, sering-sering menjadi pelanggan pertamaku ya. Jangan sungkan!"


"Ah, tidak-tidak. Aku hanya bercanda." Ayana menolak halus masih dengan senyuman.


" Tidak apa-apa. Aku serius, ini juga program dari bos. Juga ini, kami akan mengadakan undian akhir tahun." Kata Shaga yang kemudian mengambilkan beberapa kupon. "Ini, isilah siapa tau kamu yang menang. Hadiahnya tidak besar, tapi lumayan." Kata Shaga menyambung keterangannya.


"Benarkah?" Mata Ayana berbinar seketika kala mendengarkan kata Hadiah. Yah, walaupun dia sudah menjadi nyonya Armanto tapikan yang namanya hadiah pantang di tolak. Lagian apa salahnya berpartisipasi? siapa tau nasibnya sedang mujur.


"Em!" Shaga mengangguk yakin. Tangannya kemudian tergerak menunjuk ke rak boneka yang ada di dekat pintu masuk.


Benar saja di rak itu sudah ada beberapa tas lucu, boneka, Tumblr, dan ada juga topi. Di rak sebelahnya lagi, ada kaos, topi, dan tas selempang yang khusus untuk pria.


"Hanya hadiah kecil untuk para pelanggan kami yang sudah setia datang berkunjung dalam satu tahun ini. Cobalah siapa tau kamu beruntung." Shaga memberikan pena untuk mengisi keterangan kupon.


"Jangan lupa cantumkan nomor ponselmu. Nanti kalau terpilih, kami akan menghubungi." Kata Shaga lagi.


Tanpa ragu, Ayana mengisi kupon undian. Tak lupa dia juga mencantumkan nama Diah dan juga nomornya.


"Sudah!" Puas Ayana dan kemudian mengembangkan senyumnya.


Setelah kepergian Ayana.


"Evan!!" Seru Shaga sambil melepas apron.


"Ya Boss!!" Sahut Evan sambil tergopoh-gopoh menghampiri si Boss.


"Ambil kunci kotak kupon cepat!" Titahnya tak sabar.


Cantik,


Akhirnya aku dapat nomormu juga. Kita sudah selangkah lebih dekat. Shaga menyeringai senang.


Dalam perjalanan menuju kerumah sakit, Ayana hanya diam termangu menatap pepohonan yang seolah-olah berlarian dari kaca jendela mobil yang melaju kencang.


"Bu, ada apa? Ibu terlihat sedih." Diah menegur Ayana lembut dengan sentuhan perlahan di lengan majikannya.


Ayana menggeleng lalu menyeka air matanya. Menyembunyikan kesedihan dari perawatnya. " Tidak apa-apa mbak, hanya mengantuk saja." Menutupi kesedihannya, Ayana lalu berpura-pura menguap untuk membenarkan alibinya.


Memejamkan mata adalah pilihan terbaik saat ini. Agar tiada orang lain yang tau akan kesedihannya.


"Bisa ibu tidur? padahal tadi baru habis minum kopi." Diah berfikir menelaah Ayana yang sudah memejamkan mata. Pasalnya saat ini pun, Ayana masih mendengarkan suara-suara yang ada di sekelilingnya.


Suamiku, bersama dengan mereka.

__ADS_1


MEREKA!! Tidak hanya satu wanita tapi tiga sekaligus.


Dari pakaiannya terlihat sekali wanita-wanita tadi bukan wanita baik-baik. Dan juga...., seperti tak asing. Tapi siapa?


Ah, dalam hal ini tetap saja yang bersalah itu aku. Selama 6 bulan, aku tak pernah sekalipun menjalankan peranku sebagai seorang istri. Hak nya tak pernah kupenuhi.


Tapi.... melihatnya tadi seperti itu...


INGIN RASANYA AKU MEMBUNUHMU JACK!!!! Ayana mengumpat dalam hati.


...πŸ€πŸ€πŸ›πŸ›πŸ€πŸ€...


"Gandeng tanganku!" Perintah Gino dengan wajah seriusnya.


"Eh, tapi ini di kantor Suamiku!" Dita melayangkan protesnya.


"Eh, ISTRIKU!! Aku sudah mengeluarkan banyak uang untuk......" Pembicaraan terhenti kala Dita membekap mulut suaminya. Malas saja dia bila Gino selalu membahas masalah uang pembayaran yang diterimanya berulangkali.


"Hust....! Stop! Oke iya aku paham SUAMIKU. Jangan di bahas lagi. Iya akan ku gandeng seperti ini dan menempel padamu seperti cicak. Bagaimana?" Dote menempel erat pada Gino dan membuat Gino sesak sampai susah bernafas.


"Huh, padahal dia sendiri yang membuat peraturan. DILARANG MENJALIN HUBUNGAN DI LINGKUNGAN KERJA!! tapi ini?" Dita menggerutu perlahan dengan bibir yang menye-menye.


Gantian, Gino meraup bibir Dita. "Biasa saja bibirnya! siapa Boss-nya disini? Aku yang berkuasa disini." Gino menyombongkan kepunyaannya.


Ah, Dita ini antara buffering atau sinyal lost. Bagaimana bisa lupa kalau suaminya adalah pemilik kantor besar yang sekarang sedang di pijaknya?


"Tanya sendiri, jawab sendiri." Dita mendesis kesal dengan wajah tertekuk hilang mood.


"Terus saja pasang wajah masam begitu. Kamu tau ruanganku lantai berapa?" Gino mendesak Dita yang kesal bukan kepalang.


"Lantai 35!!" Jawab Dita malas.


"Bagus, berarti kamu tau kan kamu bisa berubah wujud jika aku menjatuhkanmu dari atas sana?" Ucap Gino bercanda dan hanya menakut-nakuti istrinya yang kesal.


" Bau kebakar!" Cetus Gino berbalik arah pembicaraan.


Dita mencari dan mengendus di dalam lift. Perdebatan suami istri itu terjadi di dalam lift khusus untuk para petinggi perusahaan. "Tidak ada." Dengan polosnya dia menjawab Gino.


"Ada ini, bau istri durhaka yang mengatai suaminya gila. Taukan, dimana tempat wanita durhaka?" Kata Gino.


Oh, ayolah... Jangan seperti itu. Lagian bercanda kalian itu sama sama gila!


"Oh, terserah! Tinggal tuang kecap saja nantinya kan enak, daging bakar pakai kecap." Celetuk Dita jengah dan berbicara ngawur.


CUP!!


Gino bergerak cepat lalu mencium bibir Dita. " Asal bicara lagi ku buat makeup mu berantakan. Walaupun kita menikah secara tidak diharapkan, satu yang harus kamu camkan. Aku tidak pernah menyia-nyiakan wanita yang telah menjadi istriku. Bagiku keluarga itu jantung hatinya ada di istri. Dan kamu, walaupun kamu bukan wanita yang kumau. Tapi aku tidak pernah rela jika wanitaku menderita ataupun masuk neraka." Tegas Gino berbicara dan mengubah aura di dalam lift menjadi menegangkan.


"Tunduk patuh dan menurut padaku, maka akan kujadikan kamu ratuku." Kata Gino yang kemudian merengkuh pinggang Dita dan membawanya berjalan meninggalkan lift.


Dita masih terbengong-bengong mencerna segala ucapan suaminya.


Ouh...!


Suamiku, iya dia suamiku. Ternyata itu prinsipnya. Pantas saja, walaupun dulu menikah dengan Ayana hanya sementara dia tetap menjalankan kewajibannya secara baik.


Eh, tunggu!! tapi bukankah itu berarti dia serius dengan Ayana?


Lalu apakah dihatinya ada Ayana?


Aku bisa mempercayai lelaki ini. Sedari dulu aku menjadi sekertarisnya tak pernah ku dapati dia bermain wanita baik saat bujang, beristri ataupun saat menduda.


EmmmmπŸ€—πŸ€—πŸ€— beruntungnya akuhhhh!!!


Gino mengumumkan hubungan mereka di hadapan para karyawannya. Dan sekarang sudah jam makan siang. Dita setelah kejadian tadi tak henti-hentinya menatap takjub sosok lelaki di hadapannya.

__ADS_1



"Biasa saja, Aku tau aku tampan! Aku yang tertampan di dunia." Gino menyombongkan dirinya sendiri. Menjunjung tinggi ketampanannya sampai melambung tinggi.


Kalian tau yang di tatap?


Begini nih



Tuh, mleyot ga tuh?


Kalau Mimi sih, jujur saja ku tak mampu🎢🎢


Hilangkan senyummu~dimataku~🎢🎢🎢.


Eh, lupa masih nulis🀭🀭. Maafkan Mimi, begini nih kalau lihat gambar Mas World Wide Handsome.


...🍁🌼🌼🍁...


"Semuanya baik Bu. Anda sudah bisa kembali beraktivitas seperti biasa. Hanya saja jangan gunakan kaki anda untuk menopang sendirian berat tubuh anda. Jangan bertumpu pada satu kaki." Pesan dokter setelah hasil pemeriksaan keluar.


"Baik Dok, terimakasih!"


Ayana dan Diah berjalan beriringan.


"Mbak, karena ini hari terakhir kamu merawatku. Kamu mau ya, temani aku jalan-jalan? Aku ingin bersantai di luar rumah."


"Iya Bu, dengan senang hati. Hitung-hitung menghabiskan jam kerjaku. Bu, saya minta maaf ya, bila punya salah sama ibu." Ucap Diah dengan tulus.


"Iya. Aku juga minta maaf ya. Aku senang bisa mengenalmu. Kamu masih kecil, berumur jauh di bawahku tapi begitu dewasa."


Sampailah mereka pada sebuah taman bunga.


Ayana menarik nafasnya dalam-dalam seolah melepaskan segala bebanya ke udara. Menyejukkan mata menenagkan hati.



Baru saja Ayana dan Diah menemukan sebuah bangku, Ponsel Diah sudah berdering heboh bukan main.


"Bu, kenapa Bapak menghubungi saya?"


"Tidak tau, kan itu ponselmu." Datar Ayana menjawab Diah yang panik.


'Hallo Pak.' Diah menjawab dengan perlahan.


'Iya Hallo! Ibu dimana?' Terdengar nada bicara Jackie yang meninggi.


Perasaan Diah tidak enak, ada firasat buruk. Diah menatap lalu melambai memanggil Ayana. Tapi Ayana tetap acuh dan asik dengan bunga-bunga di sekelilingnya.


Ah, ibu ini. Pasti mereka bertengkar lagi. Batin Diah kesal.


'Ini Pak, ibu bersama saya. Kami sedang di taman.'


Ada apa bapak sampai marah-marah begitu?


"Bu, ini bapak mencari ibu." Kata Diah sopan.


'Hemm!' Deheman yang ketus meluncur dari Ayana.


'Kenapa ponselmu tidak aktif? Kamu tadi ke kantor? @**"';*:*:*:**;;;@;;@;@@;@;;@;@:;@!;$;'


Panjang lebar pasangan itu berdebat, yang satu banyak bicara yang satu hanya berdehem menjawabnya dan si perawat hanya menyimak dengan ketidak tahuannya. Menerka-nerka sebenarnya apa pokok permasalahan majikannya. Di Taman Bougenville yang seharusnya menenagkan diri malah menjadi ajang pertempuran via telepon.


Baru akur udah ada ajaπŸ˜’.

__ADS_1


__ADS_2