
...🍁🍁🍁...
Di lain tempat.
"Hari ini buatkan aku bekal ya!" Kata Jackie yang sedang memakai celananya setelah mandi.
Sedangkan Ayana sedang merias diri duduk manis di meja rias. "Bekal?"
Aneh, tidak biasanya dia mau membawa bekal. Tanya Ayana dengan kening yang berkerut indah.
"Sayang, hari ini aku hanya membuat sarapan pagi saja. Siangnya ku kira akan makan di kantor?"
"Tidak, entah kenapa aku jadi sangat ingin memakan masakanmu untuk siang nanti. Tapi kalau tidak ada ya... mau bagaimana lagi?" Ucap Jackie yang menggambarkan rasa kecewa.
Ayana berdiri dan mendekatinya. "Besok, besok aku akan buatkan sarapan yang enak dan juga bekal buatmu. Oke?" Tangannya sudah bergerak lincah memakaikan dasi sang suami.
"Hum.... Oke." Ucapnya setelah menimbang nimbang. Ia mengangguk beberapa kali.
"Kiss Morning belum." Ucapnya kemudian dengan bibir yang maju beberapa centi membuat Ayana terkikik melihatnya.
"Manja sekali." Cibirnya, tapi tetap menuruti kemauan snag suami dan memberikan ciumannya.
"Lagi! buat nanti siang?" Pinta Jackie dengan wajahnya yang sudah berbinar senang.
Ayana hanya bisa menggelengkan kepalanya, apalagi yang harus di lakukan selain menurutinya? tidak ada. Penolakan hanya akan membuat kekacauan.
Satu ciuman sekilas mendarat di bibir snag suami yang sudah menahan senyumnya. " I love you!" Ucapnya di akhir kecupan.
"I Love you too!" Balas Sang suami yang juga kemudian mengecup kening sang istri.
Ayana kembali duduk dan merias diri untuk merapikan lipstiknya, sementara Jackie berbalik badan untuk bercermin. "Auh! nakalnya istriku... Untung saja aku bercermin, coba kalau tidak? bisa jadi bahan olok olokan karyawan." Kata Jackie yang segera mengambil tisu dan mengelap jejak lipstik di pipi dan bibirnya.
__ADS_1
Ayana hanya tertawa mendengar suaminya menggerutu. Dia senang saja mengerjai suaminya itu. "Tidak apa-apa kan stempel Sayang, biar pada tau kamu itu sudah bersegel resmi."
"Astaga! tanpa begini juga seluruh dunia tau sayang, kalau aku ini suamimu." Kata Jackie yang kemudian duduk di tepi ranjang menunggu sang istri selesai memakai make-up.
"Hehehe...!" Ayana terkekeh dengan menatap pantulan gambar sang suami yang cemberut melihatnya.
"Jangan lupa, nanti malam ada undangan pernikahan klienku. Bersiap-siap ya, Jam 8 kita berangkat." Kata Jackie.
"Iya, siap. Nanti aku pulang cepat untuk bersiap-siap. Kamu juga kan?" Tanya Ayana dengan melirik wajah sang suami yang tertunduk memeriksa jadual di handphone miliknya.
"Aku mungkin akan pulang jam 7. Yang penting itu kamu sayang, kamu lama sekali dandannya." Protes Jackie.
Ayana mendengus. "Namanya juga wanita, kalian itu para pria yang tidak sabaran tapi menuntut kesempurnaan. Hei sadarlah Bambank!! istrimu ini manusia, bukan jelmaan bidadari!"
"Hahaha iya, iya.. terserah mau dandan setahun juga tetep ku tungguin. Udah ayo cepat!" Jackie berdiri dan menepuk kedua bahu snag istri. "Jangan terlalu cantik dandannya, kamu cuma akan duduk di ruang atas dan tidak bertemu siapa-siapa kecuali para pekerja." Kata Jackie yang seolah tak suka jika istrinya tampil menawan tanpa dia.
"Sini aku bantu merapikan lipstiknya." Kata Jackie yang dengan cepat menyambar bibir Ayana untuk memudarkan warna merah lipstiknya.
Siapa sangka yang awalanya di kira akan menolak, malah justru menyambut baik dan malah mendominasi permainan?
Tangan Ayana pun perlahan turun dan meraba sesuatu yang sudah mengeras dan terhimpit di bawah sana. Kasihan. Begitu pikirnya.
"Bekalnya kita ganti ini saja bagaimana? mau?" Tanya Ayana lirih di telinga sang suami yang semakin menambah nafs*nya.
"Iyah...!" Sahut Jackie yang sudah terengah dengan mata yang setengah memejam dan menahan bibirnya agar tak melengkuh panjang sebab seseorang sedang berjongkok dan membuatnya merasakan kenikmatan.
Sedikit usapan, lembut dan basah berpadu dengan kenyalnya bibir juga dengan sedikit hisapan yang membuat Jackie mengerang nikmat. Ayana kini semakin pandai dalam memerankan tugasnya sebagai seorang istri, memanjakan dan memberikan kenikmatan bagi suaminya nampaknya sudah menjadi hal yang paling pokok baginya.
"Sshhhh...." Jackie mendesis ketika sasuatu itu semakin membuatnya tak terkendali.
Dalam kegiatan yang riuh dan berpeluh itu ponselnya tiba-tiba saja berdering. Sebuah panggilan masuk dari sang sekretaris, Fajar.
__ADS_1
"Hallo!" Jawabnya dengan menahan sesuatu yang membuat konsentrasinya terpecah.
Ayana tetap tak mau berhenti memainkan sesuatu yang sedang berada dalam genggamannya dan sesekali berpindah kedalam mulutnya dan memainkannya dengan menarik keluar masuk dengan tempo perlahan. Ia tahu jika dia berhenti maka akan ada kemungkinan sesuatu itu mengempis dan dia tak bisa melanjutkan misinya. Sedangkan miliknya sendiri pun sudah berdenyut merindukan kunjungan.
"……………" Kata Fajar melaporkan.
"I... iya, baik tunda satu jam saja. Saya ada sedikit urusan penting." Jawab Jackie yang kemudian mematikan ponselnya tanpa banyak berkata-kata lagi.
Dia menutup panggilan dan melemparkan ponselnya ke sofa. Tatapannya berkabut gair*h tertuju pada sang objek nakal yang masih asyik berjongkok dan menghisap sesuatu yang keras berotot.
"Kamu mulai nakal ya!" Ujar Jackie yang kemudian mengangkat tubuh sang istri dan membalik posisi.
Kini dia yang memainkan sesuatu yang sedari tadi belum terjamah. Sesuatu yang berdenyut dan menantikan kunjungan penting dari sang penguasa.
"Ah... !" Ayana mendesis dan menarik rambut sang suami yang malah menyeringai menatapnya.
Ya, permainan berganti dengan adu mulut. Adu mulut yang sedikit basah dan berkecipak Saliva. Tidak sampai di situ, nampaknya snag penguasa benar-benar mengabsen setiap daerah kekuasaannya. Tak terlewatkan dua gundukan kenyal yang kini menjadi daerah tinjauan.
Meremas dengan penuh perasaan dan lembut, membuat sang istri merasakan kenyamanan dan kenikmatan dalam satu waktu yang bersamaan.
I like this baby! Batin Ayana.
Tanda kepemilikan pun tertinggal di sana, di dua gunung yang kini berubah menjadi bernuansa polkadot merah.
Penyatuan pun terjadi. Au ah selebihnya 🙈.
...🍁🍁🍁...
"Hari ini sepertinya mood Bapak sedang baik?" Tanya Fajar yang tengah mengemudi dan melihat pantulan gambar atasannya dari spion dalam yang masih tersenyum senyum sendiri.
Jackie menunduk dan kemudian merapikan dasinya. "Ehem... ehem.....!" Dia berdehem. " Iya, soalnya tadi istriku masak sarapan enak banget." Jawabnya.
__ADS_1
"O...!" Fajar hanya bisa ber Oh ria. Dia tak mau ambil pusing dengan banyak bertanya. Banyak bertanya malah menyesal kemudian. Begitu rumusnya sebab Jackie akan memarahinya ketika sekretarisnya itu banyak menanyakan hal yang tidak semestinya.
Sarapan apanya? Saking asiknya ber hiya... hiya... keduanya sampai melupakan sarapan pagi dan malah menggantikan dengan menu utama yang lumayan berat, menguras tenaga dan membakar banyak kalori.